Iklan
My Journal

Tiga Kesalahan Yang Sering Dilakukan Oleh Startup Baru

Minggu lalu saya diminta tolong oleh Erica Hanson, Developer Manager Google untuk South East Asia, untuk menjadi mentor di acara Google Launchpad Week mereka yang pertama di SEA. Saya sendiri pernah mengikuti kegiatan workshop pra-Launchpad yang sebenarnya acara yang terpisah dari Launchpad Week ini.

Google Launchpad Week merupakan workshop selama seminggu dimana akan ada startup terpilih yang mendapatkan mentoring secara intensif. Hari pertama mereka akan dibimbing terkait product, hari kedua UI/UX, hari ketiga teknologi, hari keempat marketing, dan hari kelima pitching. Yang membuat saya salut sama program ini, mentor-mentor yang dihadirkan kelasnya udah pada kaliber. Bahkan ada yang didatangkan dari Malaysia, Singapore, India, dan Australia. Mentor ini juga diseleksi oleh Google dengan ketat. Saya sendiri selain direkomendasikan oleh Google Developer Expert, masih tetap diinterview oleh Head Mentor Launchpad yang bermarkas di Perancis melalui video conference. Saya ingat betul interview ini saya lakukan ketika baby Jenna masih di Rumah Sakit :p Jadi saya interview di kamar rumah sakit hehehe (list mentor untuk Google Launchpad Jakarta bisa dilihat di sini).

baca juga: Empat Tahap Membangun Startup

Yang membuat acara ini berbeda dengan workshop lainnya adalah sesi one-on-one dengan para mentor. Jadi dalam satu hari, setiap hari, startup akan mendapatkan 3 x 2 jam sesi one-on-one dengan mentor. Menurut saya ini adalah metode yang sangat efektif dan menarik karena startup bisa mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisinya (yang mana tiap startup beda-beda) dan bisa mendapatkan pandangan dari berbagai expertis yang berbeda untuk nantinya mereka terapkan sesuai dengan kondisi dan pilihan mereka. Ada 13 startup yang diseleksi dari sekitar 140an startup. Saya mendapatkan sesi menjadi mentor tiga startup yakni Obralindo, Joobelee, dan Qiimee. Dua jam tiap startup tidak terasa karena ada banyak sekali hal yang kami diskusikan selama sesi tersebut. Di akhir sesi, para mentor dikumpulkan untuk evaluasi dan kita menemukan ada pattern yang sama dari sebagian besar startup yang cukup menjadi concern para mentor product ini.

Mentor dan Peserta Google Developer Launchpad Week Jakarta Untuk Product Day

Mentor dan Peserta Google Developer Launchpad Week Jakarta Untuk Product Day

Tidak Melakukan Validasi

Sebagian besar dari startup yang memang dipilih yang masih early stage ini, sudah memiliki produk jadi. Ada sih yang masih beta dan prototype. Tapi hampir semuanya melewatkan fase yang paling penting yaitu validasi, entah validasi masalahnya, validasi usernya, atau validasi market. Aplikasi yang dibuat kebanyakan berdasarkan asumsi, data yang dicari dari internet, atau pengalaman pribadi. Belum banyak yang sudah melakukan proses validasi dengan tatap muka bertemu langsung dengan calon pengguna aplikasi mereka.

baca juga : 8 Pelajaran Tentang Startup dari Komik One Piece

Jadi ketika mau buat startup, kita harus benar-benar memastikan baik itu masalah, user, maupun solusi yang kita berikan sesuai dengan kenyataan. Minimal 20 orang sudah kita lakukan interview atau focus group discussion untuk memastikan masalah yang kita ingin pecahkan benar-benar ada dan solusi yang ingin kita buat benar-benar tepat.

Target Market Kurang Spesifik

Ketika kita ingin membuat sebuah startup, terutama yang di area dimana sudah ada kompetitor raksasa, penting bagi kita untuk memiliki target market yang jelas. Misal ketika ingin membuat game, tidak bisa kita membuat target market hanya remaja. Remaja itu terlalu luas. Kita harus perdalam lagi remaja yang seperti apa, range usia berapa, yang behaviournya seperti apa, atau yang memiliki permasalahan apa dalam hidupnya.

baca juga: 7 Tips Startup Dari Workshop Google Launchpad

Ketika kita memiliki target market yang spesifik, maka akan memudahkan kita untuk membuat strategi lainnya ke depan. Dengan target market yang jelas, kita bisa merancang strategi marketing yang paling tepat untuk pasar tersebut. Bahkan lebih ke teknis lagi, kita bisa targeting ads dengan lebih mudah. Pengembangan fitur juga bisa lebih terarah. Nanti kalau di target market yang niche itu business model kita sudah proven, baru kita scaling grab market yang lebih luas. Jangan lupa, Facebook dulu dibuat hanya untuk mahasiswa di kampusnya Marc aja, lalu scaling ke seluruh universitas, hingga kini 1 dari 7 manusia di bumi menggunakan Facebbok. Jadi jangan terlalu ingin memburu market yang luas, mulailah dari market yang niche.

Fitur Terlalu Banyak

Terakhir yang paling banyak terjadi adalah terlalu banyak fitur yang ingin dimasukan di awal. Mengingat startup baru biasanya tidak punya sumber daya manusia dan uang yang cukup, semakin banyak fitur artinya semakin lama aplikasinya jadi. Kalau gak jadi-jadi, keburu uang tabungan habis dan startupnya malah gak jadi di-launch. Padahal kita butuh prototype dalam waktu cepat untuk bisa melakukan validasi. Jadi mulailah dengan fitur-fitur yang jadi prioritas dan unggulan.

baca juga: Perlukah Startup Mencari Investor?

Kalau kamu lihat Twitter, dulu juga cuma bisa post tulisan. Sekarang bisa post tulisan, link, gambar, video, hingga kini bahkan bisa untuk polling. Jadi mulailah dari fitur yang paling utama, klo itu berhasil, baru tambahin fitur-fitur baru. Terkadang fitur tersebut berhasil, kadang gagal. Sekelas Apple aja bisa ngeluarin fitur yang orang gak pakai kok. Jadi daripada kamu bikin 20 fitur yang bisa aja cuma 10 yang dibutuhkan user, mending bikin 3 fitur utama dan seiring waktu tambah terus satu demi satu fitur baru.


Mungkin tiga hal itu sih yang saya dengar cukup banyak disampaikan oleh para mentor. Ada juga sih isu-isu menarik lainnya seperti komitmen founder, tim yang tidak solid (atau tidak memiliki skill set yang dibutuhkan untuk develop produknya), model investor yang “aneh”, nama startup yang tidak berhubungan dengan produknya (sehingga sulit untuk branding), dan lain-lain. Tiga hal tadi ini cukup membuat sesi hari kedua, UI/UX, agak kewalahan karena product strateginya belum kuat. Saya dengar, beberapa mentor UI/UX belum bisa masuk ke teknis karena harus mempertajam lagi product strateginya.

Buat kamu yang baru mau mulai membuat startup, mungkin bisa diingat-ingat juga untuk terus melakukan validasi, grab niche market yang kamu bisa kuasai, dan jangan nunggu semua fitur jadi baru dirilis. Good luck 🙂

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Comments on Tiga Kesalahan Yang Sering Dilakukan Oleh Startup Baru

  1. Kasyful Fuadi // 17/11/2015 pukul 7:17 pm // Balas

    Mantab Adam. Sharing-nya!

    Suka

7 Trackbacks / Pingbacks

  1. Ketika Game Developer Ditanya Tentang Aplikasi atau Web Development | Ardisaz
  2. Mengenal Dua Aliran Dalam Membangun Startup | Ardisaz
  3. Program Untuk Membantu Startup Yang Sudah Ada – Ardisaz
  4. [GoogleForMobile2016] Peta Dunia Digital di Indonesia – Ardisaz
  5. Gerakan Besar Dimulai Dari Tumbukan Ide-Ide Kecil – Ardisaz
  6. Start Gerakan 1000 Startup – Ardisaz
  7. Modal Terbesar Sebuah Startup – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: