Iklan
My Journal

Kenapa Katanya Alumni ITB Sombong?

gambar diambil dari http://marmeeraz.blogspot.com

Di lingkungan profesional, terdapat paradigma yang mengatakan bahwa tiap universitas memiliki karakteristik lulusan tersendiri. Alumni ITB memang banyak dikenal memiliki sifat yang kaku, sombong, dan sulit bergaul. Berikut adalah tulisan yang saya ambil dari http://thriea.blogspot.com/2012/01/kata-mereka-tentang-itb.html?m=1 yang saat ini sedang heboh dibicarakan di dunia maya. Tulisan tersebut dibuat oleh seorang headhunter bernama Satrio Madigondo yang pekerjaannya adalah menyeleksi dan mewawancarai calon pegawai diperusahaan miliknya. Saya coba tampilkan tulisannya buat yang malas membuka link di atas, seperti ini tulisan beliau :

 “Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!

Adalah sebuah rahasia umum di mana terdapat berbagai tipe pekerja berdasarkan tempat belajarnya. Anak UGM dikenal lugu, tidak neko-neko, dan rendah hati. Anak UI dikenal fleksibel dan cepat belajar. Anak ITB dikenal sebagai ‘pemikir makro’, besar omong, dan kaku luar biasa. Apakah stereotipe ini benar adanya? Saya tidak berani mengamini dengan sepenuh hati karena belum melakukan penelitian secara ilmiah. Dari pengamatan yang saya lakukan selama rentang 4 tahun belakangan (dalam kapasitas sebagai head-hunter, pastinya), beberapa karakteristik dapat saya verifikasi. Anak UGM memang terbukti lugu, tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan kekakuan dan kesombongannya. Hal terakhir ini yang ingin saya angkat. Kenapa? Karena karakteristik ini sangat menonjol dan sangat mengganggu proses rekrutmen.

Tidak hanya ITB junior, tapi para senior ITB juga terjangkit virus kaku dan sombong ini. Kekakuan yang mereka tunjukkan dapat saya maklumi karena mereka adalah orang-orang teknik. Secara ilmiah, sudah pernah dibuktikan bahwa ilmu-ilmu eksak, terutama teknik memang membentuk pribadi yang kaku. Selanjutnya, virus sombong. Pernah dengar cerita Narcissus? Saya yakin pernah. Dan inilah penyakit akut yang menjangkiti (hampir) seluruh anak ITB.

Hampir semua anak ITB yang saya temui memiliki gejala self-oriented yang begitu tinggi. Bukan sekali atau dua kali saya menemui anak ITB yang berbicara tentang prestasi dan mimpi mereka. Mimpi atau cita-cita biasanya diskalakan dalam ukuran makro: “Proyek….Nasional,” “Se-Indonesia.” adalah kata-kata yang sering saya dengar. Diucapkan dengan mimik muka luar biasa yakin dan nada tinggi. Ketika bicara soal jejaring, mereka selalu mau menjadi “yang kenal dengan…” (Biasanya orang-orang terkenal, minimal menteri). Mereka juga bukan anggota tim yang baik karena selalu mau menang sendiri. Hal ini biasanya terjadi dalam lingkungan kerja non-ITB. Yang terakhir, mereka adalah pemuja diri sendiri.

Appraisal bagaimana yang mereka lakukan? Begini kira-kira contohnya:
Jumat lalu saya menemui seorang kandidat, lulusan ITB. Ketika saya tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:
(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5 tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3 kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali)

Dan hal-hal tersebut diceritakan berulang-ulang, dengan berulang kali penghentian kalimat pada bagian2 tertentu. Hal ini untuk memberi efek penekanan dan pujian (Serius, dia mengharapkan itu). Perilaku yang ia tunjukkan selama wawancara adalah “You listen to me, and answer my questions. dedicate your time for me. You need me.” Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang “Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?” (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.

Baiklah, saya tidak ada masalah dengan kandidat yang menceritakan prestasi kerja. Saya malah senang. Soalnya orang Indonesia cenderung menggunakan “Kami” dan malu-malu jika saya minta cerita soal prestasi kerja. Tapi ketika hal tersebut diceritakan dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut jadi memuakkan. Kandidat lain yang juga adalah alumni ITB dengan kepercayaan diri luar biasa menjual gelar S2 yang ia dapatkan di Jerman untuk meminta gaji tinggi. Tidak tanggung-tanggung, cukup EUR 5,000. Iya, EURO, bukan Dollar. Per tahun? Tidak, per bulan. Katanya, standar gaji S2 di Jerman segitu. Oh, Tuan Pintar, sebaiknya kamu ke Jerman aja, jangan di sini.

Teman saya yang lulusan ITB lain lagi, nggak mau kerja. Mau wirausaha. Sayangnya, karena tidak memiliki pengalaman, ia berulang kali gagal. Ia tidak mau belajar dari pengusaha yang sudah maju, memilih produk2 jualan yang kurang komersil, dan tidak memiliki jejaring yang mendukung. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi sombongnya luar biasa. Hmmm.Ini adalah hal lain yang masuk virus Narsisus, menghargai diri begitu tinggi sampai tidak memperhatikan standar yang ada. Tidak hanya soal gaji, soal kerjaan pun mereka sangat pemilih. Hanya mau perusahaan A, B, atau C. Kalau tidak, mau kerja sendiri karena mereka terlalu ‘bagus’, over-standard untuk bekerja dalam sebuah organisasi.

Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini? Apa sebenarnya yang diajarkan di ITB? Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan terprogram – yang secara kolektif terjadi?. Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari ‘cuci otak’ pada masa plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti.

Jika ada yang membaca ini dan termasuk alumni ITB yang menyangkal, ya nggak papa juga. Kan di awal sudah dikatakan bahwa ini adalah hasil observasi saya selama bekerja sebagai Head Hunter. Saya cuma mau berpesan: Janganlah jadi Narsisus. Kami sudah tahu anda hebat, tetapi tidak perlu membesar-besarkan kehebatan anda. Kami tahu persis anda pintar, dan mungkin terpintar se-Indonesia. biarkan prestasi anda yang bicara. Kalau tidak bisa se-Indonesia, jadi paling pintar se-Bandung saja masih oke kok. Jangan biarkan imej yang melekat di ITB adalah Produser Narsisus. Sudah cukup banyak Narsisus di negeri ini.

Salam,
Satrio Madigondo.-“

Setelah saya membaca tulisan di atas, saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang sesama anak ITB dan mencoba menyimpulkan apa sih penyebab alumni ITB memiliki karakter seperti itu. Dari hasil diskusi, berikut adalah poin-poin yang berhasil saya dapatkan:

  1. Ketika SMA, anak SMA sudah mendapat pandangan bahwa masuk ITB itu sulit. Yang bisa masuk ITB berarti hebat,
  2. Ketika penyambutan awal, mahasiswa ITB sudah disambut dengan kata-kata seperti “Selamat datang siswa-siswa terbaik bangsa” ,
  3. Lingkungan kuliah membentuk para mahasiswa untuk bersaing dengan orang-orang yang hebat dan berprestasi tinggi,
  4. Dosen ada yang menanamkan kebanggaan tersendiri atau tanggung jawab yang lebih dengan menjadi mahasiswa ITB,
  5. Tugas-tugas kuliah dan soal ujian dengan tingkat kesulitan yang super tinggi,
  6. dan masih banyak poin lainnya.

Poin-poin tersebut secara sadar maupun tak sadar telah membangun mental dengan rasa percaya diri yang tinggi apalagi dengan segudang prestasi yang telah didapatkan oleh mahasiswa ITB secara historis. Namun yang kurang adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan menyampaikan pikirannya dengan baik. Sesungguhnya kalau menurut saya, yang dibutuhkan anak ITB adalah communication skill dan empati yang harus dilatih lebih banyak lagi. Saya yakin poin-poin di atas juga dimiliki oleh universitas besar lainnya seperti UGM atau UI, tapi bedanya, mereka memiliki lingkungan yang membangun unsur humaniora dan sosial mereka dengan baik. Berbeda sekali dengan anak ITB yang lebih banyak aktifitas di kelas, laboratorium, atau di dalam kampus dibandingkan waktu mereka untuk bersosialisasi dengan teman-teman yang lain sehingga anak ITB kurang bisa menempatkan diri dengan baik di lingkungan yang heterogen.

Tapi kalau melihat pola kemahasiswaan yang semakin baik dari waktu ke waktu, saya rasa unsur sosial yang kurang dimiliki oleh anak ITB mulai ditambal perlahan-lahan oleh himpunan, unit, dan kabinet. Program-program kemahasiswaan dibuat selaras dengan keprofesian namun tetap menyentuh nilai sosial sehingga bisa menanamkan kemampuan empati, komunikasi, kepekaan, dan kerendahaan hati pada seluruh mahasiswa. Memang agak utopis dan tidak realistis, tapi semoga sentilan tulisan di atas bisa menyadarkan lulusan ITB untuk menjadi semakin pandai dalam bersikap, bertutur kata, dan menempatkan diri sehingga rasa percaya diri tersebut dibungkus juga dengan kemampuan komunikasi yang baik dan etika yang tepat.

” Punya percaya diri yang tinggi itu perlu, tapi jika tidak disertai dengan sikap yang baik, yang muncul adalah kesombongan”

buat yang ingin voucher sepatu sepatu, klik di sini: Voucher diskon sepatu Brodo

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

353 Comments on Kenapa Katanya Alumni ITB Sombong?

  1. nice ! 🙂

    Suka

    • Waahh jempol unk kakak…hebat 🙂

      Suka

    • pandangan pribadi penulis,terlalu lebay dan yg gue lihat lo sendiri yang meng-ekslusifkan diri lo karna alumni itb.
      tugas yang terlalu sulit?gue rasa gak
      persaingan diantara mahasiswa?
      ada beberapa hal gue setuju
      Lingkungan yang kurang humoris?
      himpunan lo kali yang serius serius amat
      kesimpulannya lo sok tau dan gue yakin lo sombong

      Suka

  2. Pendapat yang menarik kak.

    Jika universitas lain memilki lingkungan yang membangun yang membangun humaniora mahasiswa, apakah bisa disimpulkan lingkungan mereka tidak mempunyai tugas sebanyak mahasiswa ITB yang membuat mahasiswa ITB lebih banyak beraktivitas di kampus?

    Menurut kakak berapa jumlah mahasiswa ITB yang sombong ini?

    Terakhir, menurut kakak mahasiswa ITB yang tidak mempunyai segudan prestasi mempunyai mental percaya diri layaknya mahasiswa yang mempunyai segudang prestasi?

    Suka

  3. Halo redi,

    lingkungan ini luas klo menurut saya, bukan hanya masalah tugas saja, tapi juga aktifitas mahasiswa dengan lingkungan sekitar, interaksi mahasiswa dengan dosen, interaksi mahasiswa dengan mahasiswa, lingkungan demografis ITB, jurusan yang ada di ITB, dan masih banyak lainnya.

    Pernah nonton film social network? liat bagaimana karakter Mark di film itu yang arogan, kurang rasa empati, dsb. Ato the big bang theory, bagaimana sheldon sangat kurang peka terhadap lingkungan dan tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik? menurut dosen BK ITB, sebagian besar anak yang masuk ITB memang berkarakter seperti itu (dari hasil psikotesnya)

    Hmmm… segudang prestasi historis itu hanyalah salah satu faktor dari pembentuk karakter dan budaya. Input dan lingkungan di ITB (dengan berbagai variabelnya) yang membuat output dari anak ITB sebagian besar seperti itu.

    Suka

  4. “Kenapa Alumni ITB Sombong?

    Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!”

    judulna sudah mengeneralisasi … ahahahahhah…
    kalo mau dibuat judulnya ” “Kenapa beberapa Alumni ITB Sombong?”

    tapi kalo lebih bagus kalo dibuatkan polling, biar tidak jadi fitnah. karena setau saya tidak sombong kok. cuma mungkin beda pengertian dalam hal penyampaian.

    Suka

    • “Kenapa Alumni ITB Sombong? —> Ya, judulnya memang sudah meng-generalisasi, oleh karena itulah penulis menekankan bahwa JANGAN DIGENERALISASI

      Kalau dibikin “Kenapa beberapa Alumni ITB Sombong?” —> Lha menariknya apa? Ente jalan keluar rumah kira2 100 meter juga bisa kok ketemu beberapa orang sombong.

      Suka

  5. hirapriyono // 25/01/2012 pukul 7:53 pm // Balas

    “Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir.”
    Baru empat tahun…. :p

    Suka

  6. saya akui sejak diterima di ITB, saya langsung mendapatkan rasa percaya diri yang tinggi…tapi setelah mengalami beberapa kali kesulitan dalam proses belajar disana, saya semakin merasa paling hebat karena mampu melewati dengan cukup baik..dan dengan alasan tersebut saya selalu membandingkan nilai IPK lulusan ITB tidak bisa disejajarkan dengan lulusan lain yang bukan termasuk universitas negeri terbaik….

    apakah itu salah?

    ini juga diakibatkan oleh rekruitmen yang kejam yang hanya menerima lulusan dengan IPK yang bagus, sedangkan lulusan ITB yang kurang bagus belum tentu tidak sebanding dengan mereka…maka dari itu saya pun mendeskreditkan diri saya dengan IPK pas2an tapi jauh lebih baik dari lulusan lain dengan IPK sangat bagus..

    Suka

  7. Saya rasa pengamatan anda terlalu sempiit kacamatanya. Mungkin anda perlu mempertimbangkan kembali integritas anda bekerja sebagai headhunter setelah merilis blog ini. saya bukan lulusan ITB, tetapi prejudice berdasarkan pengamatan dengan asumsi dan opini bebas tanpa tujuan ini bukan cara berpikir yg membangun. Red : picik. Jd sebaiknya pisahkan antara uneg2 dan suatu tulisan ilmiah.

    Suka

  8. Halo robert, wah iya terima kasih masukannya. Judulnya sudah diganti biar tidak terkesan menggeneralisir. 🙂

    neneng, iya saya sepakat, faktor tersebut juga turut mempengaruhi mental dan karakter lulusannya

    wah, mas ferdi nampaknya salah baca nih. Yang headhunter bukan saya, saya cuma mengutip tulisan yang dipublish oleh seorang headhunter. Link artikelnya juga saya cantumkan kok di atas 🙂

    Suka

  9. Saya sangat setuju dengan pendapat saudara, saya dulu adalah siswa ipa dan memiliki beberapa prestasi di bidang ipa. Saya dulu sangat memandang rendah orang-orang dari ips atau jurusan sosial lain. Tetapi setelah saya kuliah di bidang sosial dan humaniora sekarang saya bisa lebih rendah hati. Kemungkinan yang terjadi pada anak itb sama seperti yang saya alami, mereka arogan karena menurut mereka IQ anak ips dibawah mereka, tetapi faktanya yang akan menjadi leader dan disenangi banyak adalah orang dengan EQ yang tinggi bukan IQ

    Suka

  10. orang itb memandang rendah lulusan lain karena merasa ilmu2 yang mereka pelajari tidak sesulit yang mereka pelajari. Tidak terima dengan pandangan seperti itu, lulusan lain menganggap lulusan ITB sombong.

    hanya kejadian sebab akibat yang biasa. tidak ada yang istimewa.

    Suka

  11. kucingmanyun // 05/02/2012 pukul 7:36 pm // Balas

    Yah, namanya juga berpandangan. Mungkin ada observasi tandingan? Dari sudut pandang lain? Poin-poin lain?

    Pengalaman saya turun ke jalan sih, anak ITB kalah luwes untuk berkomunikasi dengan rakyat kelas ekonomi menengah kebawah. Bahasanya terlalu “dewa”. Saya sendiri butuh adaptasi luar biasa agar tidak terkesan sombong di depan mereka (rakyat).

    Adakah yang tau apa soft-skill dan empati mahasiswa ITB baik? You decide, saya sudah tau sendiri jawabannya.

    Disukai oleh 1 orang

  12. di ITB sendiri setiap jurusan punya profile/karakter/tipikal/stereotipe mahasiswa yang berbeda-beda.

    Coba deh sesekali ente main ke teknik lingkungan, planologi, arsi, SBM, farmasi,,, bikin hati adeeem….

    Kalau ente mainnya ke timur jauh ya wajar, mereka agak arogan… karena nanti lingkungan kerjanya keras…

    Tapi, sekali lagi itu cuma profile/karakter/tipikal/stereotipe, selanjutnya tergantung masing-masing pribadi. CMIIW

    Suka

  13. masterapot // 18/02/2012 pukul 10:49 pm // Balas

    wkwkwkwkwkk…saya baru ngalamin nih…
    masuk itb ternyata ipk saya tertinggi di kelas en jadi semacam dewa di kelas..
    untung ada tulisan ini ngingetin…
    semester depan ane mau nyantai sajalah…
    tapi emang soal ujian di itebeh itu berat…
    kondisi persaingan terasa banget

    Suka

  14. Halo Adam
    Sebenarnya gw udah beberapa kali baca tulisan Mr Satrio Madigondo itu

    Dan, well, pas baca post terbaru lo tentang Start Up, gw kembali menemukan tulisan itu, dan, kali ini gw tertarik menanggapi

    Dam, menurut gw satu hal yang perlu disoroti
    Kesombongan itu relatif

    Mengapa?
    Toh, yang benar-benar mengetahui apakah kita sombong atau tidak itu Allah sebenernya

    Saat seseorang membicarakan “hal-hal makro” seperti yang disebut Pak Satrio, atau membanggakan prestasinya, atau menekankan beberapa kelebihannya, belum tentu dia sombong

    1) Bisa saja dia orang yang kurang kepercayaan diri sehingga dia merasa perlu bercerita untuk membangkitkan kepercayaan dirinya

    2) Bisa saja dia berniat memotivasi / menginspirasi lawan bicaranya

    3) Bisa saja dia memang tidak berpikir apa-apa, dan berbicara apa adanya

    Apalagi, masalah “mimpi besar”. Gw cukup terbakar emosinya nih pas baca bagian ini. Beberapa buku motivasi yang sudah terkenal di dunia, membahas bahwa membicarakan mimpi adalah salah satu cara meraih mimpi tersebut, terlepas benar atau salah

    Maka saat Pak Satrio menyinggung mereka yang bermimpi besar atau punya tujuan yang tinggi dengan predikat sombong, menurut gw itu salah, dan itu merupakan kesempitan sudut pandang Pak Satrio. Mengapa, orang-orang yang dianugerahi mimpi besar, malah disebut sombong? Bukankah mereka justru menginspirasi kita semua agar bermimpi lebih besar untuk mencapai lebih tinggi?

    Menurut gw, justru Pak Satrio lah yang mungkin terlalu sentimen sehingga tidak bisa melihat secara lebih bijaksana

    Karena itu gw bilang kesombongan relatif. Cuma Allah yang tau kita sombong atau tidak. Orang boleh saja berkomentar, tapi mereka pada dasarnya tidak tahu apa-apa

    Seandainya, Pak Satrio bisa membaca komentar gw ini, gw harap Pak Satrio sadar, dan belajar untuk melihat segala sesuatu lebih luas, dan lebih bijaksana.

    Kritik yang membangun bagi anak ITB? Mungkin. Tapi pada saat bersamaan tulisan yang dibuat di dunia maya dan dibaca banyak orang juga bisa berefek buruk. Apa yang Pak Satrio lakukan dengan menulis tulisan tsb adalah membuat streotipe tidak baik mengenai anak ITB

    Disukai oleh 2 orang

  15. Percaya diri kok dibilang sombong, dasar orang Indonesia :))

    Suka

  16. Pendapat yang menunjukan kedangkalan berfikir penulisnya, picik, dan bodoh, pendapat anda ga lebih dari pembunuhan karakter mahasiswa ITB, kalo dengan format diskusi seperti ini berarti boleh saya katakan sifat anak UGM yang lugu,rendah hati sebenarnya adalah sebuah kemunafikan dan tak lebih dari seorang penjilat, sifat anak ITB yang kata orang sombong, sebenarnya adalah sebuah keberanian untuk mengutarakan pemikiran apa adanya, lurus dan jujur, …………..trimakasih atas topik pembicaraan yang tidak membangun ini

    Suka

    • socialeconomic // 14/06/2014 pukul 4:00 pm // Balas

      emang anak ITb itu sombong,pacar ku dua kali anak ITB,yang satu sekarang di ITB s2 jurusan matematika
      pacaran itu serasa debatt…
      adu kehebatan masing masing

      Suka

      • “Jgn mmbiasakn untuk mmbnggakan dr karna itu mmbuatmu mnjd sombong”
        Prnh dngr pepatah itu g…trkl prcya dr it ujung2ny sombong…huhu

        Suka

  17. “anak ITB kurang bisa menempatkan diri dengan baik di lingkungan yang heterogen.” –> Ini iya banget 🙂

    Suka

  18. jimmy sihar tampubolon // 01/10/2012 pukul 4:18 pm // Balas

    Dear all…

    Yang pasti, semua bersaing ketika di lapangan, siapa yang lebih unggul. Bukan hanya IQ yang menentukan sukses atau perbandingan jurusan ipa atau ips, jurusan ipa lebih unggul atau macem alasan lainnya.

    Yang pasti kenyataannya bahwa kita jauh tertinggal dibidang sains dan tehnologi, dgn malaysia ajeeeh kita keok…mungkin 15thn lagi dengan timor leste juga kita keok….

    Kita terlalu bangga dgn institusi atau lembaga, semua dept. ngaku bersih dari korupsi…semua tukang olah perkara….yg sederhana dibuat seolah olah sulit, jaga wibawa yg luar biasa untuk menutupi korupsi …birokrasi yang bobrok…..

    Jadi jgn sok hebat…tamat dari universitas/institut yang hebat…ntar juga jadi maling berdasi,,,,he….he.,,,,he…..

    Maaf agak keras dikit, tapi ndaakk apa-apa lah spy kita saling menasehati dan punya tekad yg sama…untuk menhancur kan korupsi….habis uang negara…..orang tak mau lagi jadi sainstis, tunjangan minim, jaminan kesejahteraan tidak ada, dana riset juga sedikit…..yang banyak dana pelesiran…mark up proyek…pegawai pajak yang tukang tilep…..buat macem-macem proyek……yang penting uang cair…

    Negara kita ini dihancur kan oleh kumpulan orang-orang pintar yg suka ngibul…., telmi…etc…

    Maaf kalo ada kata-kata yang tidak berkenan…tapi semua itu tujuannya positive spy kalo pun kita mau kaya jgn lah dgn cara instant atau menghalalkan segala cara…..jangan rampas hak orang lain………………

    Selamat hari kesaktian pancasila….

    Disukai oleh 1 orang

    • Apalahp kehebatan unversitas di Indonesia?hebat dikandang aja…apalagi ngomong ttg ITB… Menang teori aja klo praktek ya biasa2 aja. Saya mmg bukan alumni dari universitas terkemuka di indonesia. Tapi saya sekarang bisa kerja dengan alumni harvard university S3, dia org nya biasa2 aja gak ada sombong dan selalu rendah diri walaupun ilmu dan skill tekniknya selangit. Jadi klo dibamding dengan alumni Itb yg sombong. Muak lah aku sama kalian semua……

      Disukai oleh 1 orang

  19. Opini yang cenderung dilebih-lebihkan, dan terkesan ada unsur sentimentil. Bagaimana kalau S-1 nya UI, S-3 nya ambil di ITB, atau D3 ITB ambil S-1 nya di UI ? Saya pun boleh beropini bahwa lulusan UI cenderung menggampangkan masalah, tidak serius, dan pengin cepat kaya tanpa mau bekerja keras ?

    Suka

  20. Joko Satrio // 30/11/2012 pukul 7:21 am // Balas

    Apakah semua yang dibesar-besarkan alumi ITB tidak terbukti?
    Apakah alumni ITB tidak mempunyai prestasi, dan mempunyai mental percaya diri layaknya mahasiswa yang mempunyai prestasi?. Sombong itu jika kemampuan yang dibesar-besarkan dan tidak terbukti (alias omong kosong), tapi jika yang dibesar-besarkan itu terbukti namanya bukan sombong tapi hebat dan percaya diri alias tidak tidak minder (wajar jika memang kemampuannya ada). Itu Artinya, mau menunjukan bahwa tempatkan orang yang layak pada tempat yang layak (sifat manusiawi jika kemampuannya ada, dibalas dengan yang layak), dan itu artinya juga mau menunjukan dan memanfaatkan kemampuanya kepada orang lain. Ini mungkin akibat salah menempatkan dan menilai orang, begini jadinya salah kaprah. Apakah itu menurut ua yang dikatakan sombong?. Memang mungkin beberapa ada yang sombong, tapi banyak juga yang tidak sombong jangan digeneralisir, itu biasa, namanya juga manusia….

    Disukai oleh 1 orang

  21. Reblogged this on SEMANGKA HANGAT…!!! and commented:
    UGM Lugu UI Fleksibel ITB Sombong 😄

    Suka

  22. Maaf, Saya mau sampaikan sesuatu kepada P. Satrio, Menurut pengamatan saya, tulisan di atas memang lebih didasarkan pada selimut pandangan negatif, sehingga dalam penyampainnya lebih ke arah uneg-uneg yang sudah terkumpul terlalu lama.

    Suka

  23. confidence is inspiring while arrogance is annoying.

    thus people with confident may result as a leader, and the other with arrogance will ALWAYS end up as the royal highness of douchebaggery 🙂

    Suka

  24. Themaz_jogja // 26/02/2013 pukul 11:36 am // Balas

    Tdak pantas jdi pejabat negara

    Suka

  25. Ini adalah fakta, saya sendiri sebagai HRD recruit sudah mencoret alumni ITB untuk karyawan kami. Sebagai leading company otomotif, kami sebenarnya bisa saja memenuhi permintaan gaji mereka pas interview.

    Tapi penilaian interview bukan melulu berdasarkan prestasi tapi kami sering menggunakan hati.

    Lulusan ITB yang sombong sudah sering dibahas di forum HR dan mayoritas memang setuju.

    Disukai oleh 2 orang

    • TOLAK OSPEK BERORIENTASI FISIK // 04/07/2014 pukul 12:22 pm // Balas

      tapi masih banyak kok perusahaan2 yang besar dan juga perusahaan internasional yang rebutan merekrut lulusan itb 🙂

      Suka

  26. Di dalam ITB saja sudah pada arogansi antarprogram studi, antarhimpunan. Memang sudah default-nya anak ITB seperti yang dibahas.

    Disukai oleh 1 orang

  27. menanggapi komen mas ardhian yg bilang “kesombongan itu relatif” dan yg tau hanya ALLOH,,tunggu dulu mas,,anda komentar seperti itu atas dasar apa? kesombongan tu dalam islam udah disebutkan bahwa sombong itu “menolak kebenaran dan meremehkan manusia” itu jelas,,soal percaya diri itu tidak masalah asal jangan terlalu over sehingga menimbulkan perasaan narsis dan meremehkan orang lain

    penulis hanya ingin menyampaikan unek2 nya sebagai head hunter,,jadi wajar bila responden alumni ITB yg ditemui terbatas sehingga menyebabkan hipotesis kurang relevan,,tetapi ambil positifnya aja bahwa penulis ingin memberikan saran agar alumni ITB memperbaiki akhlak dan karakter merkea untuk menjadi pemimpin di masa mendatang

    tentang alumni ITB yg di cap sombong saya kurang setuju,,coz temen saya banyak dari alumni ITB,,mereka memang saklek dalam ranah ilmu mereka,,tetapi kalo diluar ranah keahlian mereka,mereka tetep low profile kok,,anak ITB memang orang2 yg terpilih yg cerdas secara ilmu,,semoga mereka melengkapi kesempurnaan ilmu mereka dengan akhlak yg baik,,maju terus alumni ITB,,we proud of u

    terima kasih

    Disukai oleh 2 orang

  28. Reblogged this on Selamat datang di mata kuliah "kehidupan" kebomandi!! and commented:
    Jadi, bahan evaluasi diri 🙂

    Suka

  29. mungkin judulnya bagus jadi bahan renungan masing-masing
    tapi kontennya bener-bener gak valid, ya mungkin sang recruiter bisa baca perasaan, tapi mungkin saja memang yang diwawancara gugup atau mengertinya kalo diwawancara tuh ngomong lantang pede dan menjual kelebihan-kelebihannya, setau saya sih memang pas wawancara harus confidence

    Suka

  30. tantudiden // 29/04/2013 pukul 7:42 am // Balas

    kalo menurut saya sih, yang ngerecruit nya merasa KALAH SAING ma anak ITB. biasalah, manusia……

    Suka

  31. Dailynomous // 29/04/2013 pukul 7:55 am // Balas

    tapi ada yang perlu diketahui untuk seluruh mahasiswa dan pelajar di indonesia, apa yang ada di jalanan dan hikmah perjuangan hidup, belum tentu ada di bangku sekolah……

    Suka

  32. Emmm….,jadi bahan evaluasi diri masing-masing aja deh…,hehehehe

    Suka

  33. hidup berak

    Suka

  34. Saya rasa opini ini bisa kita bawa secara positif saja. Bahwa setiap orang punya karakter berbeda sejak kecil. Peran lingkungan, keseharian, dan pencapaian hidup sehari-hari jg berpengaruh dalam pembentukan karakter tiap orang.

    Terlebih ketika seseorang berada dalam bangku kuliah. sehari-hari pulang sore, mondar-mandir cari bahan belajar dan tugas di perpustakaan, 2 jam sehari pake jaket laboratorium, seminggu sekali baru bisa ketemu pacar, sebulan terakhir tiap semester selalu nginap utk belajar kelompok di rumah teman. Awal semester sibuk ngurusin sks yg harus diulang krn dapat nilai E. Itu hanya segelintir kisah pas kuliah doang.

    Ketika SMA pun kita sudah tau bahwa kita akan semakin dekat dengan mimpi kita kalau bisa terlebih dahulu menaklukkan saringan masuk di ITB, UI, UGM, UNSRI, UNAIR, USU, ITS, dll. Maka selama 3 tahun di SMA kita jg kebut2an cari nilai bagus, kursus sana-sini, dsb.

    Jadi totalnya 3 tahun di SMA + 4 tahun di kuliah. Ketika suatu saat Recruiter suruh kita jelasin tentang diri kita dan perjuangan kita dalam durasi waktu 1 jam. Kira-kira harus mulai dari mana?

    Untuk menceritakan prestasi tiap orang, 1 jam pasti kurang. Mulai dari prestasi di bangku kuliah, prestasi di olahraga, di organisasi kampus, ketika SMA, dsb.

    Semakin banyak prestasi wajar semakin besar jg gaya bahasa seseorang.
    Seorang Veteran perang yg sudah melewati banyak peperangan dan berhasil hidup pasti menceritakan kisahnya secara antusias kepada cucu-cucunya secara berulang-ulang.

    Saya harap ini jd tantangan untuk bang Satrio, dkk. Apakah bisa membentuk sistem yg baik dan berpartisipasi mengarahkan orang – orang besar mulut namun haus prestasi seperti lulusan dari kampus yang anda maksud untuk bisa membawa kemajuan bagi perusahaan anda?

    Kalau tidak bisa, mending jangan deh. Biar recruiter yg lebih pengalaman saja..

    Disukai oleh 1 orang

    • Kireinadien // 14/05/2015 pukul 7:37 pm // Balas

      Antara Sombong dan Visioner ITU terlihat dari pemilihan kata dalam berbicara dan intonasi berbicara dan gaya tubuh saat berbicara.

      Saya rasa semua orang bisa membedakan mana yg bicaranya halus tetapi padat ilmu/informasi. Dengan yang bicara tegas berlebihan.

      Dalam interview kerja wajib memberikan keterangan keunggulan diri, tapi ingat jaman sekarang tidak ada kerja sendiri (pasti punya team). Karena itu communication skill lah harus diperbaiki supaya dapat MENYAMPAIKAN informasi dengan TEPAT.
      Seunggul apapun diri sendiri, tetapi tidak bisa “menyatu dengan team” maka hasil kerjanya tidak optimal. Sebenarnya itu maksud dari tulisan posting. Ingat saja 1 lidi dengan 1 sapu lidi.

      Ambisius itu bagus. TAPI sampaikan dengan bahasa yg halus/baik.
      Bagaimanapun orang lain lebih senang MENDENGAR pembicaraan yg teduh. Kecuali anda/kita bekerja hanya dengan robot/komputer 🙂

      Suka

  35. Nambahin komentar #eh

    Suka

  36. Sebagai alumni itb jg saya selalu mencoba rendah hati. Tapi ada beberapa pengalaman yang malah terlalu meninggi2kan alumni ITB
    1. waktu saya negosiasi ke suatu BUMN utk dealing project, orang telkom sendiri (bukan alumni itb) malah bilang, “kalau dg alumni itb saya percaya, ipk 3 di itb itu sama dg ipk 3,5 di univ negeri lain”
    2. waktu ngobrol dg kenalan baru yg mau kerjasama bisnis, kami masing2 cerita bisnis kami, di akhirnya dia bilang,” alumni itb memang keren, kreatif2″
    3. klo kenalan dg orang baru trus tanya kampusnya mana, saat saya jawab itb, hampir semua bilang, “wah pinter berarti dong, gampang dapat kerjaan”
    dan masih ada beberapa pengalaman lain yg intinya, banyak sekali orang2 diluar itb yg menganggap alumni itb terlalu berlebihan, jadinya wajar klo akhirnya banyak alumni itb yg terlalu PD.

    Saya sendiri punya mindset sendiri ttg rasa percaya diri ini. Menurut saya, seharusnya tidak langsung di judge sombong, tapi penting untuk menilai kapasitas pribadi sehingga memang langkah yg ditempuh sesuai kapasitas dan passion. Saya pernah menolak kerja di sebuah perusahaan farmasi multinasional dg gaji 5-6 juta di awal, saat lulus, banyak juga perusahaan yg dateng ke kampus utk rekrutmen, ada pt. novel, kimia farma, kalbe farma dsb, tapi saya sama sekali ga daftar satupun. Bukan krn saya sombong, tp karena saya punya pilihan lain yang menurut saya lebih baik dan sesuai dg kapasitas & passion saya

    Ya intinya, bedakan antara sombong dengan menempatkan diri sesuai kapasitas dan passion pribadi

    Suka

    • socialeconomic // 14/06/2014 pukul 4:05 pm // Balas

      kata kata anda sombong

      Suka

    • Kireinadien // 14/05/2015 pukul 7:49 pm // Balas

      Memang pasti yg bisa masuk ITB dianggap lebih pintar. Kalau dipuji ya diterima saja penghargaan hasil belajar mas.
      Tapi seunggul-unggulnya manusia adalah yg bisa lebih banyak memberikan manfaat kepada orang banyak 🙂

      Memilih milih pekerjaan itu harus, sesuai dengan pengorbanan belajar ketika kuliah dan minat. Tetapi mengganggap rendah itu tidak baik.
      Warren buffet manusia terkaya tidak menjadikan kalimatnya sombong ketika menyampaikan/sharing ke orang lain.

      Walaupun mungkin mas sudah berusaha menyampaikan pembicaraan dengan teduh, tetapi masih dianggap sombong oleh orang lain ya memang impossible menyenangkan semua orang.

      Suka

  37. saya juga recruiter, di sini ada beberapa dari ITB, tapi sikapnya beda2, ada yg sombong ada juga yang polos2 aja gk neko-neko, yang penting bagi kita recruiter adalah bagaimana menempatkan kandidat sesuai dengan tipe user dan tipe pekerjaan..kadang kita butuh orang2 yg sombong dan ‘saklek’ apalagi kalau pekerjaannya bersifat teknik..

    Terimakasih artikel ini jadi bahan evaluasi juga bagi para recruiter..

    salam

    Ade Murti

    Suka

  38. sombong atau rendah hati, baik atau jahat itu tergantung dari segi mana anda memandang, sebuah gelas yang di tuang air setengah penuh bisa saja dikatakan setengah penuh atau setengah habis. yang penting adalah bagaimana anda dapat membanggakan negara ini bukan diri sendiri dan jangan menjual diri kalian ke perusahaan luar negri.

    nambahin aja pendapat sebagai mahasiswa

    1 mahasiswa jaman sekarang (apa lagi itb karena saya mahasiswa itb) terlalu enak, sudah hidup berkecukupan dan ditawarkan pekerjaan yang menarik oleh perusahaan luar negri setelah lulus, tidak tanggung-tanggung bahkan ada yang menawarkan langsung dengan dua dijit angka.
    2 karena pandangan nomor 1 mahasiswa jaman sekarang banyak yang lebih memilih untuk bekerja diperusahaan-perusahaan luar dalam arti kata lain “cari aman” siapa sih yang ga mau susah
    3 Padahal mahasiswa adalah waktunya untuk berpikir liar dan mencoba untuk memulai bisnis, dosen saya pernah berkata bisnis anak teknik itu bisnis gerobak (pasar menengah kebawah). ya meskipun bisnis gerobak setidaknya saya tidak menjual diri saya keluar negri karena sudah terlalu banyak sumber daya kita yang diambil oleh negri asing, mengapa saya harus menjual diri saya sendiri?

    Suka

  39. Sama kaya beberapa komen di atas, kita harus berterima kasih sama Pak Satrio yang udah mau berbagi pengalaman. Semoga tulisannya bisa menjadi bahan evaluasi untuk mahasiswa dan alumni ITB.

    Alumni UGM dikenal lugu dan rendah hati karena UGM sejak pertama kali berdiri dikenal sebagai kampus rakyat. Beda halnya dengan ITB yang sejak OSPEK sudah ditanamkan kebanggaan terhadap kampus secara sistematis.

    Suka

  40. Kok banyak yang ngomongin “Pak Satrio” yah? Prasaan yang buat artikel ini bukan dia, yang buat artikel ini cuma ngutip dari artikelnya pak satrio kan? Kalau kritik pak satrio jgn disini, kalau mau kritik yang nulis artikel baru disini. Kritiknya membangun dong jgn langsung “merendahkan” penulis gitu kayak beberapa comment diatas ( bukan bener2 diatas gw ). Kan bisa buat pembelajaran kita bersama nih. CMIIW

    Suka

  41. Oalah, bermimpi besar kok dikira sombong, saya bukan ITB, tapi saya menyebut orang yg bermimpi makro itu adalah orang VISIONER bkn sombong

    Suka

  42. Sudah mendengar kampus teknik sebelah kak?
    –> ITS <–

    Suka

  43. zaenal arifin // 30/04/2013 pukul 1:02 pm // Balas

    ilmu padi, makin merunduk makin berisi.. 🙂

    Suka

  44. azkiya2008 // 30/04/2013 pukul 1:06 pm // Balas

    wah komentarnya sudah ‘sombong’.. hahaha.
    alangkah baiknya kalo berfokus dengan “apakah saya seperti itu juga”, daripada berfokus dengan “ni orang baru 4 tahun jadi head hunter udah sok observasi”..
    however, head hunter berat tugasnya utk memilih karyawan yg mampu bekerja tim. & saya rasa 4 thn waktu yg cukup banyak utk menimba cukup banyak pengalaman. dibandingkan 4 thn kuliah yg ga seberapa.
    mari dikembalikan ke diri kita sendiri, semoga tidak ada yg seperti itu lg. interview bkn ajang sombong, krn status pekerjaan pelamar bergantung pd yg meng-interview. & krn head hunter paham betul karyawan macam apa yg dia butuhkan utk perusahaannya. tunjukkan bahwa diri kita layak & mampu, tp benar.. jgn jd narcissus.

    Suka

  45. Untuk mas Arya yang bilang “Beda halnya dengan ITB yang sejak OSPEK sudah ditanamkan kebanggaan terhadap kampus secara sistematis.” Maaf mas, saya rasa tidak ada penanaman kebanggaan berlebih terhadap kampus selama masa OSPEK. Di masa ospek justru kami lebih banyak diajarkan untuk bersatu sebagai sebuah angkatan yang solid dan ditekankan untuk berkontribusi ke negara. Jadi dari pengalaman saya, pas OSPEK nggak ditanamkan kebanggaan yang berlebihan. Yah ini cuma pengalaman saya, kalau ada yang punya pendapat / pengalaman lain mungkin bisa di share 🙂

    Suka

  46. sebagus apapun ITB, indonesia tetap miskin dan terbelakang
    karena itb hanya penghasil buruh dan kuli bagi perusahaan asing

    salam ganesha !!!
    salam buruh

    alumni Institut terbaik (untuk) buruh
    1999

    Suka

  47. apapun jadinya diri kita, kaya, pintar, dan nomer satu tidak sepantasnya merasa sombong, karena sombong hanya milik Allah saja. tidak akan mencium bau surga bagi seseorang yang dalam hatinya ada sifat sombong dan angkuh. jadi beberapa alumni ITB itu sombong bukan salah siapa2, tapi yang salah adalah Aqidahnya terlalu lemah.

    Suka

  48. Yang ITB harap sangat wajib DIRUBAH yang non-ITB jangan minder juga,tidak ada bedanya apapun univnya toh sisanya semua tergantung semangat dan kerja keras pribadi kan? sekarang tinggal buktikan kerja keras dan bungkam mulut-mulut sombong itu!

    Suka

  49. Keknya Betul jg kata penulis. Beberapa komment alumnus ITB di sini juga pada kaku2. Malah ada yang sombong dengan pamer ditawari gaji 5-6jt habis lulus maksudnya apa coba? Harusnya mereka2 tuh malah instropeksi diri dg tulisan seperti ini. Wong ini sebenarnya masukan, coba aja bayangkan udah pinter dan tidak sombong apa ndak wuahhh yang seperti itu.

    Suka

  50. assalamualaikum wr wb smoga kita semua menjadi orang2 yg bersyukur atas nikmat yg telah diberikan oleh Allah SWT sesuai karakter dan sifat kita masing2. fitrahnya kita diciptakan oleh Allah SWT antar individu berbeda-beda dan tidak bisa disamakan, ada yg baik dan ada yg belum baik. Mungkin “penulis diatas” hanya menemukan mreka yg belum baik saja dan yg baiknya belum bertemu atau tidak bertemu sama sekali. Karena ada beberapa lulusan dari ITB yg lulus menjadi motivator2, kemudian ada juga yg berkecimpung dari organisasi Salman ITB yg insyaallah tahu benar ttg agama dan perilaku sosial. Anda tahu kan Salman ITB? saya rasa lulusan ITB yg prnah berkecimpung d Salman sdh dididik berkarakter sosial dan peduli sesama dimana setiap tahunnya Salman merekrut dan memberikan beasiswa bagi mreka yg kurang mampu. Insyaallah mreka yg kurang mampu akan lebih care thp lingkungan sktar krena latar blakang mreka
    smoga bisa membuka pemikiran dan saran saya agar yg menulis di atas meminta MA’AF kpd Alumni ITB yg sudah senior, karena saya rasa ANDA belum penah mewawancarai mereka, bahkan ANDA belum lahir mereka sdh duluan ada. Dan anda yg tidak tahu dg mreka kmudian mengklaim mreka yg jg tidak tahu ttg hal tersebut…mari kita perbaiki

    Suka

  51. “Beberapa komment alumnus ITB di sini juga pada kaku2. Malah ada yang sombong dengan pamer ditawari gaji 5-6jt habis lulus maksudnya apa coba? ” haha to the point sekali
    Menurut saya penulis tidak harus minta maaf karena menurut saya dia hanya membuka ruang diskusi,sekarang permasalahannya pihak ITB yang mau menerima atau tidak,is it hard to live in harmony?

    Suka

  52. Hmmm… how should i put this… ada benernya sih emang, tapi nggak semua anak ITB sombong dan pongah, banyak juga yang humble dan nggak neko2. Kalau dibilang pengaruh kaderisasi bisa juga sih, cuman itu hanya buat mereka yang salah mengartikan kaderisasi dan “gagal” dalam proses tersebut. Orang2 yang “gagal” dalam kaderisasi tersebut kemudian mengkader para junior di bawahnya, begitu seterusnya hingga jumlahnya semakin banyak. Nah… hal yang kayak begini yang menimbulkan pola pemikiran bahwa yang banyak itu yang benar. Sistem kaderisasi perlu dirombak ulang. Perpeloncoan bukan lagi menjadi pola kaderisasi yang efektif, yang ada hanya membuat para kader melakukan hal yang sama ataupun menjadi apatis. Saya juga mengakui bahwa memang masih banyak pola kaderisasi yang nggak jelas dan nggak ada gunanya, yang ada cuman jadi alat pelampiasan para senior berkedok kaderisas

    Suka

  53. itb mah sampe satpamnya aja sombong kok mas hahaha

    Suka

  54. Assalamualaikum wr wb
    Selamat pagi buat temen-temen selain beragama muslim.. 🙂

    wah, sangat seru sekali membaca koment2 diatas, jujur saya setuju pendapatnya dari saudara wahyuewmuslim, setiap orang punya kapasitas sendiri, tapi bukan berarti merendahkan, percaya diri memang harus dibutuhkan setiap orang, orang berilmu dan berkarya terkadang butuh percaya diri,, taaapiiii.. #masih ada tapinya ini..
    orang bijak yang berilmu, lebih bersikap santun terhadap lingkungan sekitar, bisa menempatkan diri… #maaf ini saya juga masih koreksi diri

    alumni ITB, UGM, ITS, UI, UNAIR, dan kampus seluruh Indonesia lebih baik kerjasama untuk memajukan masyarakat Indonesia, karena kalian juga termasuk masyarakat Indonesia, apalagi ini tuntutan buat yang muslim-muslimah 🙂

    Di luar masih banyak tantangan yang harus dihadapi..
    terima kasih dan mohon maaf jikalau ada perkataan yang menyinggun 🙂
    Wassalamualaikum 🙂

    Suka

  55. dari beberapa komen dari anak ITB diatas, kebanyakan malah membuktikan hasil observasi mas ardisaz.

    Suka

  56. Definisi sombong apa dulu ? kalo minta UER 6000 /month gara2 lulusan Jerman di bilang sombong, itu mah bukan menurut saya. Indonesia itu harus memandang tinggi bangsanya sendiri. Seringnya malah recruiter dari Indonesia meng-under estimate bangsa sendiri. Coba aja tu, kalo ikut recruitment ke oil company di Middle East, i.e. Qatar dsb.. Trus kalo minta nego gaji, dia akan bilang Pak .. ini dah bagus, bersyukur2 hahahhahah salah konteks menurut saya.. Tetap percaya diri !!!!

    Suka

    • Kireinadien // 14/05/2015 pukul 7:59 pm // Balas

      Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
      Bener gak ya peribahasanya?

      Minta 6000 euro tapi di indonesia ??? Saran saya mending daftar di negara eropa atau middle east, malah probabilitas dapat 6000 euro bisa sampai 100%.

      Jangan melakukan hal sia sia yg kemungkinan tidak mungkin terjadi. Don’t waste your time doing the impossible 🙂

      Suka

  57. urun rembug mas (baru baca artikelnya)
    yang saya lihat, proses “rekrutmen” murid nya lah yang membuat mahasiswa ITB jadi demikian. sama seperti istilah SMA & SMP favorit. anak SMA 8 jakarta atau 70 jakarta pasti punya kebanggaan tersendiri. cuma berhubung cari kerja butuh ijasah sarjana, bukan SMA, ga ada yang bilang lulusan SMA X sombong. bayangkan, SNMPTN passing grade atas rata-rata diisi ITB.

    lalu ada USM (yang kontroversial, yang sekarang dihapus). menurut saya, sebagian besar teman-teman yang masuk lewat jalur ini adalah orang-orang yang komunikatif, fleksibel, cenderung tidak memikirkan kuliah, rata-rata telat lulus, mengulang beberapa mata kuliah.
    ntah kenapa rata-rata karirnya baik akademik maupun profesional lebih unggul daripada yang SNMPTN dan ber-IP bagus. saya bisa berkata demikian karena saya ada di antara mereka. saya alumni ITB, masuk lewat USM, sukses mengulang 2 mata kuliah. bagi saya, sepertinya soal ujian yang bener seperti itu (jangan lihat uang masuknya ya, itu sebenarnya terobosan bapak rektor untuk mendapatkan uang lebih tanpa mengurangi mutu)

    jadi? yang salah sistem pendidikannya. contoh di US, alumninya gemar menggunakan sweater almamater. di Swedia atau Finland dengan sistem pendidikan berbasis moral? ga pernah liat tu. Indonesia? bisa disimpulkan sendiri.
    saya si kadang cuma ketawa dalam hati liat mahasiswa baru ITB yang naik kereta dengan jaket himpunan (dari jurusan gahar, yang os jurusannya gahar). lebih konyol lagi, bikin pengen jungkir balik dalam hati, waktu lihat anak ITB dengan jaket almamater naik kereta (jaket tipis yang ga ada anget-angetnya untuk dikenakan di kereta yang ACnya suka ajaib). yaaa…mungkin setelah lulus nanti dia akan naik kereta dengan toga & map ijasah ITB 😀

    overall, saya ingin menyampaikan, tidak semua burung bisa terbang. masih banyak anak ITB yang fleksibel, tidak melulu memikirkan gaji. saran bagi rekruter, mungkin jika masih ingin mendapatkan lulusan ITB bisa melihat transkrip nilainya. bisa dicari yang nilainya warna warni, tidak melulu A & B. saran untuk ITB, USM bisa digunakan untuk menjaring mahasiswa yang bukan penghafal soal, mengapa dihapuskan? (yang ini oot)

    Disukai oleh 1 orang

  58. mo numpang komen….

    sepertinya arah tulisan ini udah cenderung subyektif, pake perasaan pribadi, tanpa dasar yang menguatkan (hitam diatas putih), tetapi ditutupi dengan kata maaf bahwa ini dilakukan tanpa penelitian ilmiah, hanya pengamatan sebagai headhunter selama 4 tahun. Entah karena ada sentimen pribadi, ato hal lain yang membuat pak satrio menulis hal2 tersebut.

    Hal tersebut (pengamatan) tidak bisa dijadikan dasar secara ilmiah, karena seperti yang telah saya sampaikan diatas, tidak ada bukti yang kongkret, yang bisa ditunjukkan sebagai dasar penulisan, bahkan bisa sekali untuk ditambah2i atau dibumbui karena sentimen pribadi pada suatu pihak. Misal saja seseorang menyampaikan A, diterima B, dipahami C, disampaikan ke orang lain jadi D. Terlebih lagi yang disampaikan berupa kejelekan. Kalo dengan “katanya si A…” , “katanya si B..” ato “yang saya lihat…” itu lebih bisa dikategorikan pada GOSIP. Padahal di TV acara gosip2 saja masih ada dasarnya, misal rekaman video, rekaman percakapan, rekaman SMS, dll. Yang saya tanyakan kenapa bisa2nya dan berani2nya dipublish lewat web

    Suka

  59. Percuma saling kritik, karena yang diberi kritik akan selalu mencari alasan dan yang memberi kritik akan selalu mencari celah.

    Intropeksi diri masing2 aja.

    Suka

  60. Faktor humanisme kah? Mengingat ITB didominasi oleh ilmu pasti yang berkaitan dengan sains dan ilmu alam. Kurang hal-hal yang menuntut kontak dengan manusia atau pemahaman tentang manusia barangkali? Ini menurut pendapat saya saja sih, silakan dikoreksi jika ada masukan lain.

    Suka

    • Kireinadien // 14/05/2015 pukul 8:11 pm // Balas

      Communication skill yg harus diperbaiki.
      Mungkin anak teknik kurang bisa menyampaikan dengan “bahasa manusia”.
      Sy anak ipa tapi kecimpung di sosial, merasa banget sy kurang supel kurang bisa berbicara karena menurut logika sy seharusnya begini begitu ….. Masalahnya dalam kehidupan sehari-hari banyak yg “melenceng dari logika” hehhehe…
      Makanya dibilang anak ITB kaku, mungkin.

      Suka

  61. Klo menurut sya hasil pengamatan seorang head hunter ini kurang objektif. Ini seperti hanya kekecewaan mereka gagal merekrut mahasiswa ITB yg punya prestasi karena gaji yg diminta tinggi. Pola pikir head hunter kemungkinan sudah dipengaruhi bisnis dengan menerapkan prinsip ekonomi dimana dengan menekan gaji sekecil-kecilnya diharapkan mendapatkan pegawai yg berkompeten. Pola pikir macam ini yg menyebabkan orang berprestasi tidak hanya dari ITB merasa tidak mendapatkan penghargaan yg layak. Sebenarnya maksud dari artikel itu klo menurut sya tidak lebih dari “Lo pinter, tp jgn minta gaji tinggi2 dong! Gaji gw nanti kalah tinggi jadinya. Laba gw juga jd pas-pasan nih”.

    Suka

  62. hahahaha, tiap orang punya pendapat, tapi jangan sampe pendapat kita bisa mempengaruhi orang lain.

    Suka

  63. Memperbaiki diri memang tidak pernah ada habisnya. Saya lebih tertarik membahas tentang budaya lingkungan kerja di Indonesia yang terasa kurang egaliter dan terbuka antara atasan dan bawahan. Kebebasan berpendapat yang rendah, dan terlalu mudahnya orang tersinggung membuat orang-orang ambisius dan berbakat jadi enggan gabung di perusahaan kecil yang sebetulnya potensial.

    Suka

  64. mungkin tulisan yang terus menerus di share di sosmed ini membuat beberapa alumni itb yang sombong ataupun yang masih kuliah di itb lebih berhati-hati dalam menunjukkan kapabilitasnya karena mindset indonesia masih gotong royong dalam hal apapun termasuk dalam menunjukkan kapabilitasnya walaupun kalau di luar negri itu akan sangat di hargai, tapi tulisan yang terus di share ini mepunyai dampak buruk pembaca yang belum mengetahui itb dan asal baca judul akan megecap semua anak itb itu sombong dan akan menjadi general mindset di masayarakat bahwa semua alumni itb itu sombong, jadi begitu tau di lingkungan ada anak itb otomatis dia langsung di cap ‘wah ni orang pasti sombong, kaku, gak bisa komunikasi, gak bisa membaur’. kasihan juga kan, padahal dia belum ngapa-ngapain tapi yang lainnya udah ngecap yang enggak bener soalnya pikiran orang itb sombong udah melekat duluan di benak masyarakat , setau saya para pejabat2 negara yang korupsi belum ada yang dari itb (mudah-mudahan tidak). Anyway entah itu lulusan univ ataupun institut ataupun sekolah manapun mari berbondong-bondong membangun bangsa.

    Suka

    • Kireinadien // 14/05/2015 pukul 8:17 pm // Balas

      Huum sy setuju.
      Karena ada juga kelompok orang yg menerima “informasi mentah mentah”.
      Tetapi tidak semua manusia indonesia seperti yg mas takutkan.
      Justru yg beginilah ruang diskusi yg terbuka sebagai wadah pembelajaran manusia indonesia untuk menerima informasi dan memilah informasi.

      Suka

  65. Reblogged this on gleanings.

    Suka

  66. self-confident itu syarat lulus loh di kampus cap gajah 😀 seriously, itu benar-benar syarat lulus…karena di sidang Tugas Akhir itu kalau aura percaya diri kita ga keliatan, dosen-dosen penguji akan melibas habis dan bikin si mahasiswa nelongso….itu aturan main tidak tertulis 🙂 persoalannya, yaaaa buat orang lain yang non-itb, self confident ini jadi terkesan sombong…

    Suka

  67. Sifat narsis dan confident yg sangat tinggi seperti ini justru sangat disukai oleh headhunter di luar indonesia..

    Di kita entah kenapa disalahartikan oleh sebagian orang sebagai sombong, mungkin karena kultur..

    Di europe atau middle east mereka justru cari orang seperti itu dan sangat respect, bahkan saya pernah dimarahin bos saat kerja di timteng karena terkesan terlalu merendah saat assessment,dia bilang harus show off dan bangga dengan prestasi gausah pikirin kesan negatif dari orang..setidaknya itu yg pernah saya alami..

    Point lainnya, meskipun ada headhunter yg muak dengan alumni itb, toh para alumni yg “sombong” ini masih dicari headhunter lainnya,jadi gausah kuatir,hehehe

    Suka

  68. yang UI, UGM dan universitas lainnya gimana ceritanya?

    Suka

  69. Assalamua’laikum. Saya dari sekolah tinggi teknik yang cuma satu di asia tenggara yang mengkhususkan diri memabahas benda2 dan zat terkecil bisa berinteraksi. Dulu juga bercita-cita masuk SBM ITB. Masih sangat sulit menerima kekalahan tak bisa masuk dalam rantai salah satu pendidikan terbaik negeri ini. Tapi semakin kesini saya sadar bahwa ilmu dan keterampilan penting, tapi sangat penting kualitas diri ini. Universitas ternama sekalipun akan kecil dibandingkan dengan “Universitas Kehidupan”. IPK universitas kehidupan mungkin tak berstandar 4 ataupun 5. Jika anda pintar bersyukurlah, karena tak semua orang ingin dan berkesempatan menjadi itu. Jika anda pintar cobalah cerdas dengan orang disekitar anda. Karena berkah adalah situasi kebaikan melahirkan kebaikan. Bukan melahirkan kejengkelan dan ekspetasi aneh seperti di atas. Salam Bodoh, karena kita selalu bodoh !

    Suka

  70. pempekgoreng // 03/05/2013 pukul 7:08 am // Balas

    zzzz.. cacad ngapain si debat kusir kek gini,,
    membenarkan opini masing2..

    Suka

  71. LOL what the post dude! Amak UGM lugu ya? hahaha sebenernya kita cuma ngerasa geli aja ngeliat kebodohan mereka yang bertingkah sombong, saya juga gak yakin itu bener” Instiusi mengenai ilmu Tehnik… Buktinya ada banyak fakultas selain tehnik di sana LOL hahaha… Jujur sebenarnya dengan comment di blog ini saya juga merasa sombong dan bodoh, malu maaf…

    Suka

  72. Ane anak ITB // 03/05/2013 pukul 11:45 am // Balas

    Ah itu hanya oknum gan

    Suka

  73. si bapak itu kasih aja contoh UTS pertama kali saat TPB. terus kasih tanggapan deh. kadangkala mereka mencari orang yang “sesuai” dengan kriteria mereka. jadi hiraukan saja, kalau mau diperhatikan juga lebih bagus. hehe.

    Suka

  74. anak ITB suruh KKN ke komunitas adat terasing aja gan biar jadi sedikit humble..

    Suka

  75. anak itb di suruh ikut indonesia mengajar sajalah, di taruh di daerah pedalaman, itu projek nasional yang keren banget

    Suka

  76. Dalam tautan blog asal yang ditulis oleh Satrio Madigondo yang ngakunya seorang Headhunter nampak jelas bahwa tulisannya hanya dongeng semata, tapi dibuat seolah-olah pengalaman pribadi si Satrio..

    Baik yang punya blog ini, pembaca, maupun komentator.. smuanya tertipu sama tulisannya. Analisisnya mudah; si Satrio ini tentu seorang laki-laki, tapi dalam tulisannya kenapa berubah menjadi ibu? berikut petikannya: “Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?”

    Sangat mudah mengetahui si Satrio (kalo seorang laki2) hanya ada dua kemungkinan:
    1. Seorang pembual dari barisan sakit hati, karena ga lulus itb 😀 atau
    2. Seorang plagiat, yang beraninya ngambil tulisan orang lain tanpa referensi

    Klo si Satrio seorang plagiat dan kebetulan menjabat Headhunter, bisa dipastikan perusahaan tempatnya bekerja ga bonafit. Saya sarankan alumni ITB ga usah melamar ke perusahaan dimana satrio bekerja hehehe..

    Salam alumni itb yang katanya sombong

    (kami ga sombong koq, hanya lebih teliti melihat permasalahan dibanding yang lain :D)

    Suka

  77. sombong? ah gak juga.
    setelah membaca komen diatas. bisa jadi bahan introspeksi dir nih.

    berpendapat boleh. tapi jangan asal.
    salam ganesha

    Suka

  78. dita auriliand // 03/05/2013 pukul 8:02 pm // Balas

    sepertinya recruiter/ penulis originalnya trlalu subjektif..survei sih survei tp gk boleh overjudge 1 lembaga atau institut gtu.. Orng teknik itu emg kdg gk bnyak komunikasi krn trlalu fokus dgn krjaannya jd apapn yg d paparkn saat wawancra bs aja btl n dia gk maksd smbong hny skdar confident aja

    Suka

  79. Dari tahun 1957 sampai skrg, lulusan itb juga banyak yg rendah hati, tidak sombong, rajin menabung. Coba observasinya dibuat lebih intelek. Bukan dari persepsi hasil observasi 4 tahun.
    Silahkan hubungi IA ITB, minta ijin observasi anggotanya. Pake metode statistik yg bener. Baru dipublikasikan.
    Dengan begitu ga akan memicu diskusi yg ga jelas dasarnya apa. Kalau sekedar komen2 sih sama aja pepesan kosong. Mendingan mikirin hal2 yg lebih produktif.

    Atas nama alumni yg baik hati dan tidak sombong.

    Suka

  80. alumni2 kebakaran jenggot hahaha.
    coba dong dibaca ulang disclaimer di atas. jangan belom apa-apa udah ribut2 karena (mantan) institusi disindir.

    tentu saja itu pendapat pribadi. ada yang mau ngongkosin bikin penelitian? buat apa? apa cuma karena ingin membuktikan alumni ITB bukan seperti itu?

    saya rasa ga penting lah. kenapa ga anggep aja jadi masukan. toh sebagian juga merasa ada karakteristik tertentu yang muncul setelah lulus dari institusi-institusi tertentu.

    bukan generalisasi, hanya pengalaman pribadi.

    Suka

  81. agus mulyakin bratawijaya, ST, MM (alumni ITB 1994) // 03/05/2013 pukul 9:18 pm // Balas

    coba sebaiknya anda menyimak buku karya Cardiyan H.I.S yang judulnya ITB dan manusia ITB untuk Indonesia incorporate. biar anda lebih paham karaktristik orang yang lulusan ITB

    Suka

  82. Asalkan tetep jaga iman dan jaga shalat 5 waktu, insya Allah lulusan mana saja baik. Toh nanti setelah mati tidak ditanya “kamu lulusan mana?” , IPK kamu berapa? .

    Yang jelas cepat atau lambat kita semua akan mati.. dan belum tentu lulus kuliah.

    Suka

  83. Mahasiswa Cupu ITB // 04/05/2013 pukul 9:28 am // Balas

    ==

    astagfirullah..
    saya baru kuliah 3 tahun di ITB, tapi jujur, selama ini saya bersyukur karena bisa bergaul dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan artikel ini. yah, saya bukan anak yang aktif berhimpunan, ataupun organisasi. tetapi saya tahu disini bukan lingkungan biasa, orang-orang disini (apalagi dosen2 super) memang memacu semangat untuk belajar dan belajar lagi. ada sedikit harga diri karena kalo dapet nilai rendah kadang ada rasa malu, biarpun ini tidak pernah tersebut oleh kata-kata

    sayang sekali karena pendapat artikel yang dikutip sangat subjektif, atau mungkin ketemu orang yang tidak tepat?
    atau bapak satrio yang dikutip di sini sakit hati? ah, menarik sekali..

    untuk penulis artikel ini, kami di ospek ga diajarin kebanggaan. serius, malah disuruh berkelompok dan diajarkan bagaimana caranya bisa kerjasama.
    memang ITB bukan kampus yang seprestigius UI atau merakyat seperti UGM. dan kami memang selalu dituntut untuk objektif dengan tugas kami yaitu belajar, tetapi kami bukan berarti tidak fleksibel dan tidak bisa bergabung dengan komunitas heterogen. banyak lho unit atau himpunan di ITB yang bekerja sama dengan unit atau himpunan diluar ITB.

    Suka

  84. sombong terlihat dr kata-kata ” kalau dia yg maju pasti masuk ke perusahaan it ” itu merendahakan pelamar yg lain dg kata pasti
    ( sombong adalah mengangap diri hebat dan merendahkan orang lain )
    ini mungkin hanya perorangan saja bukan sifat secara general

    Suka

  85. tulisan dan opini yang bagus (mengundang pro dan kontra) ini ciri-ciri tulisan yang sehat, yang nggak sehat adalah yg menilai segala sesuatu hny berdasarkan perasaan…sy setuju dengan kata sebagian mhs ITB sombong, lagipula tdk smua mhs univ. lain rendah hati.kalem aja kawan…

    Suka

  86. Alumni ITB2012 // 04/05/2013 pukul 2:18 pm // Balas

    rancu sih.. bedakan antara sombong dan percaya diri. lagi pula itu kan interview, bukan gambaran bagaimana dia bekerja. gw pun kalo di interview pasti akan menjawab dengan pasti kalo gw bisa dan gw percaya sama kemampuan gw dengan referensi apa apa saja yg pernah gw dapatkan. beda dengan sombong dalam bekerja. keras kepala, tidak mau menerima saran orang lain, merendahkan orang lain, nah itu baru indikasi orang-orang sombong.

    dan selama ini gw merasa fine fine aja bekerja dalam team.

    Suka

  87. UNPAD dong masukin ke pembahasan ga adil nih ~

    Suka

  88. Observasinya menarik. Cap-cap yang melekat di masing-masing alumni seperti ini memang hasil pengamatan di dunia kerja.

    Suka

  89. Pertama-tama, selamat buat ardisaz yg sukses bikin heboh sehingga blog nya laris manis.

    Buat Aji, saya yakin ini bukan karena ‘kebakaran jenggot’. Tp karena hipotesa yg ga kuat dasarnya dari sang Head Hunter. Coba tengok pelajaran SMP yg mana hipotesa harus ada dasar yg jelas, sehingga pendapat (meskipun cuma pendapat pribadi) itu bisa dipertanggungjawabkan.

    Mengenai masalah dijadikan riset? Bisa banget…. coba pikir lebih smart, ini bisa jadi penelitian luar biasa. Bisa jadi tesis or disertasi. Nih gw kasih contoh. Ganti aja topiknya: Pengaruh pembinaan di perguruan tinggi dalam membentuk karakter lulusannya dan impactnya terhadap pembangunan. Trus ambil sample beberapa PT. Teliti alumninya yg jadi presiden, menteri, pejabat2, biz owner dll. Trus ambil sample lagi lulusan2 yg kerja di swasta. Trus ambil sample lg mahasiswa2nya. Kalo ini sukses, bisa jadi rekomendasi buat pemerintah (mendiknas, bappenas, universitas2, LIPI, dll.) Bagaimana format perguruan tinggi yg benar dan bermanfaat buat negara. So, ini bukan hal sepele. Issue yg bisa ngelahirin Master atau Doktor baru.

    Nah kalo dah gitu, dijamin banyak sponsor yg mendanai.
    Jadi penelitiannya bukan buat membuktikaanak ITB tidak seperti itu. Yg pasti kalo data pendukung pak head hunter yg dipangil ‘bu’ ini kuat, ga akan ada debat kusir. Kecuali pendapat pribadinya buat konsumsi sendiri, bukan dipublikasikan ke media apapun.

    Think smart bro!!!

    Suka

  90. Arsitek ItEbeh // 04/05/2013 pukul 5:58 pm // Balas

    Yaaa namanya juga interview kerja …pasti semua orang ingin MENJUAL kehebatan dia…Lagipula si headhunter ini kan BUTUH info mengenai KEHEBATAN orang yg dia interview kan?? masak kita interview kerja malah menyembunyikan kemampuan kita hanya karena takut dianggap “rendah hati dan tidak sombong?” Gak tercapai dong tujuan si headhunter ini kalo orang2 gak mengungkapkan keunggulannya.

    Ini sih masalah budaya aja, cara pengungkapan, orang timur / indonesia / terutama orang di pulau jawa sih……memang menilai orang yg merendahkan diri itu BAGUS..yg menonjolkan kehebatan itu SOMBONG….

    Coba kalo di amerika…Arsitek Terkenal, Ridwan Kamil pernah cerita, dulu dia ngelamar kerja di amerika dan menjawab interview dengan cara orang timur (halus nya orang sunda)…merendah..rendah hati ceritanya…EHHH..malah gak diterima-terima..dianggapnya gak yakin, gak PD, gak kompeten….akhirnya dia rubah caranya….PD, still yakin, menonjolkan kehebatannya…baru deh keterima..dan sukses sampai sekarang ini.

    Gpp lah kita dibilang sombong, yang penting kita standarnya internasional hehhehehe……….

    Anak ugm rendah hati gak neko-neko..memang itu yg diinginkan perusahaan!!!, karyawan yg manut, gak berani minta naik gaji, di kasih gaji kecil mau aja, disuruh2 mau aja …gak pernah minta macem2….heheh…mana mau perusahaan menerima karyawan yg minta gaji gede, apalagi yg punya prinsip kuat susah diatur seenaknya….seperti anak ITB….saran saya, anak ITB tetaplah pada karakternya, jangan mau disuruh ngikut2 karakternya anak UGM, UI dll…kita memang beda kok 😀

    Buat anak ITB, kami pernah dapat pesan bagus dari salah satu dosen kita, beliau alumni ITB pernah menyelesaikan pendidikan di MIT, Bpk.Arie Mochtar Pedju, saat beliau kuliah di MIT dikatakan bahwa lulusan MIT kelak akan menjadi THE LEADER of ENGINEERS. Dan beliau juga menginginkan alumni ITB juga menjadi The Leader of engineers juga..dan memang sudah banyak terbukti di banyak perusahaan2, jabatan leader, manager, GM dan direktur diisi oleh alumni ITB.

    Masalah karakter kepemimpinan yang baik itu bisa dipelajari, kebijaksanaan mengambil keputusan serta tegas dalam membuat aturan itu bisa dikembankan…tapi..sifat DASAR yang KUKUH terhadap PENDIRIAN, serta gak mau gampang diatur orang lain, itu harus tetep jadi karakter anak ITB..jangan mau dimanfaatin sama perusahaan yg nyarinya yg gak neko-neko….heheeh…

    Akhir kata, anak ITB nglamar kerja ke perusahaan asing aja, karakter kalian akan diterima di sana..PD, “menyombongkan kemampuan”…dll….atau kalau kerja di indo jangan lama-lama, 2-3 tahun max..udah gitu keluar…..jadi pengusaha…..malah banyak teman saya jangan kerja sekalian…jadi pengusaha..jadilah the leader of enterpreneurs…..dijamin gak akan ada yg komplain sama sifat kalian yg “dianggap” menyombongkan kemampuan…kalian dianggap sombong belum tentu juga karena kalian sombong, malah yg saya alami sering kali alumni lain yg gak mampu mengikuti ritme kerja dan kualitas kerja anak ITB :D…….akhirnya kita deh yg dianggap sombong ….Fokus berkarya aja semaksimal mungkin 🙂

    Suka

  91. Edo Kandaswari // 04/05/2013 pukul 9:28 pm // Balas

    Intinya sesuatu yang berlebihan itu nggak baik,, proporsional saja bro..

    Yakin deh,,,, kata-kata lu bakal lebih terasa enak buat didenger orang laen kalau kita proporsional.

    Suka

  92. Edo Kandaswari // 04/05/2013 pukul 9:31 pm // Balas

    masalahnya habis lu kok kita. ini contoh yang tidak proporsional.

    Suka

  93. ada rasa over confident mungkin juga.. dulu penulis pernah kuliah di IKIP Jogja yang bersebelah dengan UGM, dalam hubungan mahasiswa kedua universitas tidak harmonis .. ada rasa superioritas

    Universitas hebat nyetak manusia robot, seperti ayam petelur, banyak mahasiswanya yang berasal dari sekolah percepatan.. dari pagi sampai sore hanya sekolah, les, belajar dan belajar… sedikit sekali bersosialisasi dengan lingkungan , sehingga jadi orangpun cerdas secara akademik tetapi kurang mempunyai kecerdasan sosial. Orang hasil didikan industri pendidikan bisanya dalam pergaulan bisanya sangat wagu, atos , kurang tahu sopan satun, karena tidak apa yang terjadi di masyarakat

    Suka

  94. banyak jg produk ITB yg gagal…..saya ngetes dan ada junior ITB…gagal banget…bego…

    Suka

  95. arsitek ItEbE // 05/05/2013 pukul 12:20 am // Balas

    @Doni..lha yg sampeyan tes junior..ya jelas lebih bego dari sampeyan lah, kalah pengalaman dan jam terbang. Hadepin dong yang setara, jangan juniorrr…dijamin sampeyan jauh ke mana-mana.

    Banyak produk gagal? Berapa banyak? jumlahnya? bandingin sama yg berhasil…masih banyakan yg gagal dari alumni sampeyan kali…

    Suka

  96. Mas arsitek itebeh & yg lain..

    Rasanya dah cukup lah komen2nya. Saya yakin semua yg komen disini sudak ok2 semua, menurut diri masing2. Ndak perlu diterusin.
    Kalo itb itu TOP ya sudah sewajarnya lah. UI pinter, ya pasti, UGM ya ndak kalah juga.
    Bisa jadi di univ swasta lain, juga ada orang2 yg tokcer. Cuma ga sempet dpt kesempatan kuliah di ITB, UI, UGM, ITS dll.

    Ga perlu dibuktikan juga kalo cuma buat diri sendiri. Tp kalo buat improvement pendidikan, why not.

    Disukai oleh 1 orang

  97. Tulisan yg bagus…semoga ada riset berkelanjutan.baik atau buruk data tersebut akan membantu perusahaan dalam menyeleksi calon karyawanya sesuai dengan karakter perusahaan tersebut

    Suka

  98. Iyah memang kita masih kurang komunikasi, itu saja, tapi jangan membuat anak-anak ITB terkucil, sudah sepantasnya memang begitu, wong memang dia cerdas, jangan membuat cerita2 yang aneh-aneh, kita butuh orang2 percaya diri untuk menembus barikade, yang mempertahankan negara ini emang siapa? emang kampus2 lain? Coba berpikir dengan baik2, kampus kita, kampus ITB yang memperjuangkan banyak2, mengenai kesombongan itu, yah itu banyak, tapi lihat dari apa yang telah dilakukan oleh senior2 kita, coba lihat pak Budi Rahardjo, coba lihat pak Onno W Purbo, coba lihat kak Ridwan Kamil, coba lihat yang ada di luar negeri dst, coba lihat kak Arief Widiyasa (CEO Agate Studio) yang berhasil menciptakan industri game besar2an dalam tahun terakhir ini skala makro, coba lihat itu, coba lihat itu semua, gak usahlah, Anda sok-sok tahu mengenai kampus kami, atau apapun itu yang jelas sy cinta dan sy bangga dengan almamater sy, disana sy belajar dengan sungguh-sungguh, banyak yang kita pelajari, sayangnya negara yang tidak sanggup mengakomodir kita, akibatnya banyak yang menjadi budak-budak bangsa asing, terus mengenai menjadi teknokrat itu hal lain, itu sudah talent, jangan bercerita hal2 yang tidak sinkron, yang penting kampus itu telah berhasil menanamkan pikiran yang besar, mengenai terwujud atau tidak, itu bagian dari revolusi…dan sedikit demi sedikit akan terus terbukti, camkan itu

    sekian salam

    Suka

  99. @diandaningeyil Halo , anak UGM yah? daripada debat kusir gini mending kita ngopi aja bareng haha.
    jurusan apa anyway? aku angkatan 2010 dari kampus yang lagi didebatkusir di atas. reply ya..

    *tuh kan, gak kaku kan? kata siapa kita kaku?

    Suka

  100. Awalnya pas baca artikel di atas saya ngerasa biasa aja. Mungkin cuma beda cara pandang. Tapi setelah baca komentar” anak ITB di atas saya jadi tahu seberapa sombong mereka 🙂

    Suka

  101. hihihihi… lucu2 komennya.. Gitu aja dibahas heboh.. Mari membangun negara bersama dgn kemampuan masing2 kita sbg bangsa Indonesia! (pesan ini hanya untuk yg cerdas:D)

    Suka

  102. Miss Karra // 06/05/2013 pukul 5:34 pm // Balas

    There is this phenomenon called confidence…

    And instead of being put to use according to what sourced it. It gets applied to things you have no business sticking your nose in.

    There is a reason they call this over-confidence.

    Because you’re intelligent in one area, does not make you intelligent in another. You can probably make very good educated guesses (and you may even be right), but you should never forget to question yourself, because when you’re wrong and still confident, you look like a stupid..

    And when you insist that you’re right, you look even more like a stupid..

    Then you begin pissing people off..

    This concludes todays lesson 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  103. Ini adalah satu tulisan yang sangat saya nikmati. Habis membaca tulisannya, langsung bisa baca contohnya di bagian komentar. Mantap gan! Eksperimentasi sosial yang menarik.

    Suka

  104. Almamater tidak berpengaruh besar pada kualitas lulusan….semuanya bergantung pada pribadi masing- masing bro..Apa sih yang bisa dibanggain dr kampus2 yg disebutin di atas,,,klo emg katanya jago mustinya Indonesia udh maju dari dlu kali….Bukankah dari dlu ampe skrg yang menjalankan roda pembangunan berasal dari alumni kampus2 di atas ….mana buktinya katanya agent of change?? Yg jago teknik ,Industri apa yg bisa dibanggakan? Yg jago hukum, ekonomi n lain2 gmn bangsa ini???

    Suka

  105. yang penting jangan cuma “omdo” buktikan saja..

    Suka

  106. komen komennya yang malah bisa mendukung observasi pribadi tulisan diatas…
    hahahhaha…

    Suka

  107. Bukan terjadi di Perkuliahan aja bang, bahkan mulai dari SMP aja udah banyak yang besar kepala cuma gegara masuk sekolah “favorit”. haduh haduh

    Suka

  108. Setuju sama nih article… 🙂

    Suka

  109. ITB itu kan ada dua (2).. teknik dan FSRD.. yang mana maksudnya ya?..

    Suka

  110. Waaah, baru baca artikel ini. Dari kemaren juga banyak banget artikel semacam ini.
    Waktu baru baca sih biasa-biasa aja. Tapi setelah baca komen-komen-nya mungkin judulnya ada benarnya juga yah… 😀

    Menurut pengalaman pribadi yang pernah sekantor dengan alumni universitas tersebut diatas, alumni yang mengaku jam terbang tinggi, bergaji tinggi dan nggak mau kerja bareng dengan tim lain dari lain universitas karena universitas lain dianggap nggak mampu berfikir seperti mereka. Apalagi saat itu saya bukan berasal dari Bandung, yang bikin semakin diremehkan. Tapi setelah lama kerja sekantor, walaupun tidak setim, koq ya saya rasa sama aja ya. Sama-sama dari Fakultas Teknik, tentunya literaturnya dan ilmunya sama kan? mungkin SPP aja yang beda. SPP anda mahal, sedangkan universitas saya standard.. ^_^

    Yang bener tuh kalo menurut saya, sesama orang teknik jangan lah saling meremehkan. Entah it ITB, UGM, ITS, Brawijaya, Airlangga, UI ataupun universitas yang lain, menurut saya sama hebatnya. Toh kita sama sama belum jadi orang hebat, buktinya masih kerja ngikut orang. Harusnya sesama orang teknik kita berjuang untuk membangun negeri Indonesia..

    Salam ^_^

    Disukai oleh 1 orang

  111. banyak komen yang mewek, justru itu malah membuktikan tulisan diatas kan?? wkwkwk

    Suka

  112. ranonimous // 08/05/2013 pukul 9:13 pm // Balas

    “Tugas-tugas kuliah dan soal ujian dengan tingkat kesulitan yang super tinggi,”
    Ayolah… kuliah macam apa yang gak banyak tugasnya? gak susah soal ujian nya??? kalau emang kampusnya bener, semua uniiversitas itu pasti susah tugas dan ujianya.
    Tapi ayolah, jangan jadikan itu alasan buat OC (kalo gak mau dibilang sombong) apalagi didunia kerja dan ‘dagang’ zaman sekarang.
    mau gaji tinggi dengan modal ‘alumni’ kampus terkenal??? jangan mimpi!

    Suka

  113. artikel yang biasa saja, hanya karena beliau tidak “melihat” dari sisi yang berbeda, makanya beliau mengira alumni itb sombong, apalagi pakai kata: “katanya” (nah, ini katanya siapa??), yang paling mungkin adalah katanya penulis sendiri, tapi mohon pak penulis -ardisaz, tolong anda bisa menulisnya dengan lebih objective dunks, kan situ ahli psikologi nih, apalagi meng-claim sudah melakukan observasi sedemikian jauh, crosscheck donk dengan pihak yang mau situ sudutkan itu…dengan “takaran” yang sama, lalu bandingkan dengan pihak lain, lagi2 dengan “takaran” yang sama, baru deh anda simpulkan. share hasil penelitian anda di surat kabar, biar semua orang bisa menilai. kalau cuma artikel begini namanya “curhat” boss…tapi ya sudah gpp, kami yang anda sudutkan bisa memahami mengapa anda sedemikian memprihatinkannya begitu benci dengan alumni itu. sabar yah mas…

    Suka

  114. selamatpagi

    saya salah satu mahasiswa ITB yang sedang aktif.

    jujur saja, sebagai mahasiswa ITB, saya rasa artikel di atas ada benarnya. Saya sendiri cukup merasakan.

    dimulai dari dosen, salah satu dosen saya pernah bliang gini, “kalian sebagai mahasiswa ITB itu harus bisa jual mahal di luar sana.”
    dosen” lain pun demikian adanya, cuma dengan diksi yang berbeda.
    “di luar sana” bisa saja berarti di kancah internasional, memang paradigma seperti ini tidak sesuai dengan kultur di Indonesia.
    saya pribadi jujur tidak begitu sekiblat dengan paradigma yang demikian.
    enaknya apa” itu mulai dari 0 aja gitu, biar kerasa perjuangannya.

    mungkin karena bagi sebagian anak-anak ITB, “0” nya itu pas tingkat satu kali ya hahaha …

    “saya pribadi sih gak begitu peduli dengan gaji besar, harus bermewah-mewahan, yang penting cukuplah buat hidup anak-bini.”
    nah saya sempat cerita seperti ini ke salah satu teman saya, anak ITB juga, apa responnya,
    “wah bro, kita anak ITB,bro. gaji pas-pasan mah mending jangan kuliah di sini”

    nah, menaggapi respon seperti ini, saya sebagai anak ITB bisa melihat dari dua persfektif,
    1. “wah, bener juga, saya susah-susah belajar, masuk susah, lulus susah, gajinya sama dengan lulusan univ. lain, percuma banget. effort saya selama ini dianggap sama aja dengan anak” univ lain”
    atau
    2. “sombong banget nih orang. kok bisa ya gua temenan sama org kayak bgini”

    jujur saja, saya orang yang memutuskan dengan porsi perasaan lebih dari pikiran, jadi apabila ada teman saya yang merespon demikian, saya jengkelnya bukan main (2)

    analoginya mungkin kayak begini,

    ada seorang pengemis di jalanan. fisiknya lumayan fit.
    ada anak itb lewat nih, ngeliat ke pengemis, terus bilang “kerja dong! sehat gitu kok!”
    mungkin anak itb ini terkesan sombong, tapi mungkin maksud anak itb ini baik. mungkin saja si anak itb berpikir, kalo si pengemis bekerja, penghasilannya akan jauuh lebih banyak drpd ia mengemis saja.
    ada anak non-itb lewat, ngeliat ke pengemis, terus ngasih duit.
    anak non-itb ini baik hati. punya perasaan. tapi anak itb akan melihat ini sebagai tindakan sia-sia dan bodoh, karena si pengemis akan tergantung dengan hasil ngemisnya, padahal kalau kerja dapatnya lebih banyak

    tergantung dari mana kita memandang, kalo saya cenderung memandang anak itb (kolega saya) itu masih terlalu bangga (angkuh) akan status ITB yang melekat di dirinya.mereka memandang sebelah mata orang-orang di luar sana. saya sendiri merasakan dan saya mengajak teman”, adik”, dan kakak” untuk instropeksi lagi. kalau kalian merasa sudah rendah hati,sudah bijaksana, saya rasa kalian belum berinstropeksi sepenuhnya.

    Disukai oleh 1 orang

  115. Mau lulusan universitas mana pun kalau sudah mati cuma jasad yang dibawa. Manusia itu cuma objek standar dari sebuah mite sisifus.

    Suka

  116. gerrygumilar // 09/05/2013 pukul 1:47 pm // Balas

    lulusan itb yang saya hormati hanya 1 : Ir. Soekarno

    Suka

  117. puanjang banget… banyak yang comment jg~ awkkawkawawk

    pertama begini, itu UI jurusan apa? UGM jurusan apa?? (kalau ITB sudah pasti teknik)

    kalau dari guru saya SMA dlu, dia berbicara: “kalau km jadi orang teknik, berpikirlah untuk mengalahkan sekitarmu.” –> kenapa?? karena dengan berpikir seperti itu, kita bisa berpacu untuk menjadi lebih maju, soalnya dengan memikirkan tujuan utama uang, maka kita akan lebih memeras otak kita untuk membuat inovasi2.

    lalu beliau juga berbicara,”kalau kamu masuk jadi dokter (FK), berpikirlah jangan tujuan utama adalah uang, tapi berpikirlah untuk membantu orang” –> kenapa?? kalau kita jadi dokter, tapi tujuan utama adalah uang, nanti suatu saat bila ada orang miskin yang sakit, dia tentu g akan mengobatinya.

    lalu ada pertanyaan, kenapa ITB dengan IPK lebih kecil dibanding IPK dari univ lain (dengan yg jurusan sama), lebih “mudah” diterima?? kalau menurut saya, untuk mendapat IP yang bagus di ITB itu sangat sulit.

    Suka

  118. Sigit Wirawan // 09/05/2013 pukul 5:37 pm // Balas

    Lha saya keterima di itb, kuliah di ITB, lulus dari itb. Saya jadi ketularan dong penyakit sombong yang katanya menyerang mayoritas anak itb ini.

    Coba saya diberitahu dari awal, saya kan ga akan nyoba ke itb.

    Salam dari alumni itb yang harus kerja sampe ke tengah laut demi sesuap nasi (di Indonesia susah nyari kerja, mungkin karena saya sudah di cap jelek kali ya sebagai jebolan dari PTN yang menghasilkan sarjana yang sombong)

    😀

    Salam Indonesia Raya, Salam Ganesha (klo salam ganesha di sini sombong ga?)

    Suka

  119. this is interesting because, see, those “angry” comments from the alumni or the students. one point that made me believe those people are actually cocky. c’mon, you can’t be mad because people criticized you.

    my dad was an alumnus too, and he died because his “idealism/cockiness” killed him.

    tapi, ga bisa main generalisasi. banyak kok yang nggak sombong juga.

    Suka

  120. Pd bbrp kasus yg lbh sombong itu anak itb yg ikut program percepatan S1 lgsung S2.. Dalam waktu 4.5 tahun. Anak2 pilihan ini merasa lbh dr yg lain, krn utk masuk program itu emg dbutuhin ip yg tinggi. Dikelas ga mau kalah pendapat ma org lain, nada bicara tinggi dll.. #yah hasil observ aja sih..

    Suka

  121. kl sombong apa enggak ya tergantung orang nya aja sih… ada juga kok anak itb yg gak sombong di tempat kerja gw… dan mau kerja sama sm gw biarpun beda universitas, gw anak ITS… kl liat banyak komen dibawah yg bilang tugas2x di itb itu sangat2x susah… itu mah lebay biasa aja kali… sama aja kyk di universitas lain gak beda jauh… gw sering liat tugas2x anak itb perasaan sama aja kyk gw wktu di ITS….

    Suka

  122. Dear Mas Ardisaz dan pembaca artikel ini..

    Saya sudah membaca artikel ini begitu juga dengan artikel asli milik Pak Satrio Mardigondo beserta komentar-komentarnya.

    Membaca profile singkat mas Ardisaz di artikel “salam kenal”,, sepertinya si penulis (bukan Pak Satrio Mardigondo) adalah alumni ITB (atau mungkin masih menuntut ilmu di ITB). Terlihat juga dari isi artikel “salam kenal” tersebut. Apakah saya salah? 🙂

    Sementara dari artikel Pak Satrio Mardigondo disebutkan bahwa beliau juga alumni ITB dan beliau mengutip cerita tersebut dari cerita teman beliau di facebook yang seorang headhunter. Hanya ingin meluruskan saja (saya tidak bermaksud membenarkan atau membela pernyataan Pak Satrio atau penulis cerita asli). Pak Satrio (dan juga mas Ardisaz) berniat ingin memberi masukan, kritik, dan saran yang membangun kepada semua alumni ITB, bukan untuk menjatuhkan tentunya. Jadi mengapa tidak kita ambil sisi positifnya saja dari cerita tersebut?

    Saya seorang alumni jurusan teknik. Saya bukan alumni ITB. Ada beberapa teman saya yang pintar sekali. Beliau-beliau hebat di bidangnya. Dan (maaf) beliau-beliau juga terkesan cenderung arogan. Orang sombong atau arogan memang biasanya orang yang hebat sekali. Tapi apakah karena hebat itu lantas kita jadi boleh sombong? 🙂

    Tidak ada salahnya kita bangga dengan prestasi-prestasi kita, tetapi ada baiknya juga kita mau mendengarkan saran dan kritik dari orang lain demi kebaikan kita sendiri. Seperti ilmu padi,, semakin berisi semakin merunduk.

    Salam Kenal.

    Suka

  123. Wuih banyak komentar orang2 pinter… maaf, rakyat mau lewat, mau kembali jadi kuli… monggo dilanjutin diskusi mubal2nya…

    Suka

  124. ChildishCamel // 18/05/2013 pukul 6:59 am // Balas

    Maaf, saya sendiri masih berkuliah di ITB, jujur saja saya sedih mendengar ini. Saya sendiri merasa senang dengan berkuliah di ITB karena banyak opportunity juga dalam bidang sosial, itu di fakultas saya. Dan saya sendiri yang ikut serta dalam acara ini membaur dengan anak-anakdan masyarakat yang kurang mampu, berusaha membantu mereka dengan yang kami bisa, yang kami pelajari, dan saya sendiri melihat keprihatinan teman2 saya dengan mereka menjadi valounteer.
    Tetapi, banyak juga memang yang tidak ikut serta, karena anak-anak kuliah di ITB semakin individualis, banyak juga yang hanya mementingkan IPK, seperti yang dikutip dari artikel berupa pengulangan IPK bagus, Mungkin ya memang prestasi terbaiknya itu. Kalau saya pribadi lebih senang bercerita tentang bagaimana suasana ketika saya bersama masyarakat luar.
    Lucunya, yang saya rasa banyak disalah persepsikan ialah ploncoan/ saya sebut kaderisasi karena menurut saya itu banyak manfaatnya. Justru saya mendapat banyak kegiatan sosial dari sana, saya tidak tahu juga ya bagaimana detailnya kaderisasi di fakultas atau jurusan yang lain, tapi selalu ditekankan “pengabdian masyarakat” di setiap kaderisasi, bahkan di pembukaan di ITB juga kami selalu ditekankan “pengabdian masyarakat”. Tetapi ya cara orang menangkap beda-beda, karena mungkin kesombongan terjadi ketika ia hanya mendengar kata “mahasiswa terbaik bangsa”.

    Disukai oleh 1 orang

  125. Kenapa kita masih mempersoalkan rasa kebanggan diri kita masing-masing. Yang harus dibanggakan dari kita itu bukan dari mana kita berasal, mau dari ITB,ITS, UGM, UNMU-malang, UNMER-malang, UNEJ, dan banyak lagi ( capek mau nyebutin satu-satu) itu semuanya omongkosong yang jika tidak dibuktikan secara nyata. Kenapa sih ..kita itu ko’ merasa paling wah…diantara kita sendiri , kenapa sih kita gak pernah berdiri tegap, lantang berbicara dan berjalan dengan gagah pada saat kita di remehkan kedaulatan kita oleh negara lain?? mana…mana…yang katanya kesombongan ( percaya diri, kaku , yang tidak lain hanya kata-kata pemanis) hanya dimiliki oleh anak ITB. toh negara kita ya…tetap miskin ( miskin moral, miskin hati). dan diremehkan oleh negara lain ( apalagi dengan negara malaysia…kita gak bisa berkutik..mati kutu ) ..harusnya kita introspeksi diri masing-masing, tidak perlu menilai orang dari sudut kepentingan pribadi.

    Semua yang nulis dan mengomentari tulisan ini adalah orang-orang bodoh. Bodoh…bodoh bodoh

    Suka

  126. Sebagai tulisan blog lepas, tulisan berisi uneg-uneg semacam ini sah-sah saja. Toh hak menyampaikan pendapat dijamin koq (gak semua negara sih, tapi setidaknya Indonesia, insya Allah).

    Saja juga mau ngasih jempol buat penulis (baik artikel asli maupun tulisan ini) bahwa ruang lingkup pengamatannya pun sudah dijelaskan secara gamblang: observasi sebagai head-hunter selama 4 tahun. Apakah 4 tahun ini cukup atau tidak, itu tentu topik di lain hari.

    Secara pribadi, saya melihatnya sebagai pengingat bagi kita semua, terutama saya, terlepas dari lulusan universitas mana, bahwa skill sosial itu sama pentingnya, kalau tidak bisa dikatakan lebih penting, daripada skill keilmuan.

    Saya dirujukkan kepada tulisan ini oleh seorang kawan yang memberi masukan kepada saya bahwa saya itu agak terlalu self-centered. Mungkin karena ini juga saya menganggap tulisan ini adalah kritikan pribadi kepada saya (walaupun saya bukan lulusan ITB, tapi sifat2 kandidat pegawai yg dicontohkan itu ada pada saya).

    Oleh karenanya saya sangat berterima kasih kepada penulis (baik asli maupun tulisan ini), atas tulisan ini.

    Namun begitu, karena ini sudah menyangkut nama beberapa institusi, alangkah eloknya kalau tulisan ini (ataupun yang asli) juga dibarengi dengan semacam pertanggungjawaban yang lebih akurat. Bukan cuma untuk klarifikasi, tapi bisa jadi follow up bagi institusi2 yang terkait,

    jadi bukan cuma ngedumel asal ngedumel, tapi nanti ada follow up-nya. Ntah itu perbaikan kurikulum, sistem, dlsb.

    Yang benar dari Allah, yang salah dari saya.

    Wassalam,

    Ismail Fahmi

    Suka

  127. Saya tidak ingin berkomentar secara khusus mengenai tulisan di atas. bangga dengan almamater menurut saya wajar, namun jgn kelewat batas. apalagi memandang remeh PT lain (klo pun meremehkan ya silahkan saja, itu penilaian pribadi anda). dari beberapa pengalaman saya bekerja ternyata ada yg lebih penting dari sekedar IPK atau lulusan PT tertentu, yaitu kejujuran dan kepedulian. saya lebih memilih orang yg biasa2 saja namun jujur drpd org yg pintar dengan IPK 3,9 namun terkesan oportunis dan tidak jujur dalam bekerja. negara kita sudah memiliki byk org pintar, namun ttp saja miskin. kekayaan negara dinikmati negara lain, mngk sebagian dr kita ikut merasakan dan rata2 mereka yg berpendidikan. namun pernahkah terpikir mereka yg tidak pernah mengenyam pendidikan? saya pernah bekerja di bidang survey batubara di kalimantan. berjuta2 ton batubara diangkut keluar negeri setiap hari, gunung dan hutan dikeruk unt mencari batubara. namun apa yg terjadi pada penduduk lokal? untuk menikmati batubara di tanah mereka sendiri mereka harus mencuri dari tongkang2 bermuatan dgn menggunakan klothok (sejenis perahu sederhana yg terbuat dari kayu). miris rasanya memikirkan apa yg terjadi setelah “pesta batubara” ini selesai. rakyat hanya mewarisi kerusakan lingkungan dan banjir.

    Hidup bukan cuma soal IPK atau lulusan mana, manusia diberi akal dan hati. mgk hati kita yg belum byk dipakai. kita msh mementingkan pribadi (termasuk saya juga)

    Saya ingat tulisan seorang tmn, “IPK hanya bisa mengantar kita pada interview namun tidak menjamin kita survive dr tantangan dan ujian kehidupan”.

    —-saya alumni sebuah PT di Surabaya——

    Disukai oleh 1 orang

  128. almamater, ipk hanya membantu pada saat ada melamar pekerjaan/awal bekerja tapi tantangan sesungguhnya ada saat anda bekerja di perusahaan/ menjalankan bisnis sendiri, itu yg saya alami stlh 15 tahun bekerja

    Suka

  129. Anita Putri // 28/05/2013 pukul 12:33 pm // Balas

    menyimak dan komennya yang beragam… terima kasih sudah memberikan sharingnya…ikutan senyum-senyum..hihihii

    Suka

  130. borgentong // 20/06/2013 pukul 8:07 pm // Balas

    Astaghfirullah.. saling judge
    Serang ga karuan
    Ada yg malah ngomporin

    Emang bagus sharing opini ginian biar muncul introspeksi bua diri sendiri, baik yg jadi permasalahan *mahasisawa/alumni itb* ataupun orang diluar konteks artikel ini. Tapi gini2 malah bisa menimbulkan dosa, yaa taulah gimana maksudnya

    Hidup sih emang tujuannya belajar dan bekerja setinggi2nya karena Allah SWT sendiri menyukai kerja keras. Tapi ya tujuan utama hidup itu ngumpulin dan nabung amal buat ongkos ke surga
    Emang kita mati mau ditanya di alam kubur sama Munkar dan Nankir “lulusan mana? Ipk berapa? Kerja dimana? Berapa gajimu?”
    Nggak toh..?
    Yaa sebaiknya bahan artikel diatas dijadikan bahan introspeksi bagi siswa itb untuk lebih humble lagi.. emang bagus punya high self confident.. tapi hal seperti itu yang terlalu over sama saja denhan riak dan menimbulkan kesombongan dilain sudut pandang. Anak itb emang ga disangsikan lagi kehebatannya dibidang ilmu, jadi wajar bila mereka ada kepercayaan diri yang tinggi karenaa mereka mendapatkan hal itu dengan susah jadi wajar bila mereka harus bangga, tapi balik lagi, tidak dengan yang over yang menganggap diri paling baik!
    Nah untuk yg nonITB.. ini malah jangan jadi ajang ngeJudge gitu dong. Biarlah mereka berkarya dengan apa yang mereka kuasai, ya kalaupun memang ada sifat sombong ada ya diem aja.. biarkan mereka seperti itu toh Allah yang tau.. malah kalau kita sibuk ngejudgenya kita yang bikin dosanya..

    Suka

  131. buat apa pada ngomongin IPK?
    nikmatilah masa kuliah mu, Masih begitu banyak hal yang lebih menarik dan indah untuk dikejar, dilakukan, dan dinikmati ketimbang hanya mencari angka range 0-4.
    kepedulian, sosial, man for and with others, kebersamaan, dll, adalah beberapa contoh yang dapat kita kejar..
    Sudah tidak jaman lagi mengejar nilai sebaik2na, tapi kejarlah kebersamaan menjadi baik dengan sahabat2mu kuliah dan bekerja..

    Suka

  132. Assalamualaikum warrohamtullahi wabarokatuh..

    Untuk saudaraq se-iman…
    Sebagai muhasabah saat ini..

    20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
    QS-Al-Hadid ayat 20..

    Wassalamualaikum warrohamtullahiwabarokatuh..

    Hanif..
    Univ.@Jakarta

    Suka

  133. Wah… Klo memang tidak mau merekrut alumni ITB krn sombong (baca: PD), ya sudah…. Saya selama ini sebagai alumni ITB yg sudh bbrp kali pindah tempat kerja (baca: hijrah ke tempat yg lebih baik) tdk pernah memiliki masalah dengan recruiternya berkaitan dengan kepribadian saya. Klo memang ada alumni ITB yang membesar2kan prestasinya, itu hanya karena prestasinya ya itu aja, sedikit.

    Biasanya alumni yg sudah banyak prestasinya cenderung lebih rendah hati dan tidak membesar2kan pencapaian, karena memang sudah merasa perlu untuk menutupi kesombongan dengan bersikap lebih rendah hati dan luwes, keliatan lah dr cara berbicara dan bersikapnya.

    Happy head hunting, keep observing us.

    Suka

  134. Buat yang sedang kuliah ataupun alumni ITB, kalo emang tulisan diatas dianggap tidak merepresentasikan lulusan Itb ya sudah.. Ngapain repot membela diri bahkan sampai menyerang si penulis.. Semakin anda menyerang, semakin terbukti bahwa anda memang seperti itu… Kalau ingin meberi argumen silahkan tunjukkan saat sedang mencari kerja, ngomong doang disini juga ga akan ngaruh..

    Suka

  135. ITB memang top, itu harus diakui coy!

    Suka

  136. untuk Newbie :, “setau saya para pejabat2 negara yang korupsi belum ada yang dari itb (mudah-mudahan tidak).” sayang harapan anda tidak terpenuhi, kasus pa rudi rubiandini sedang hangat2nya.Yang menjelek2an alumni itb dan yang memujinya juga kan sama2 menurut pendapat pribadi. Intinya sih sama sama introspeksi diri aja, lulusan mana pun asal bermanfaat bagi keluarga, agama, bahkan negeri ini kalo bisa dan tetap rendah hati. .

    Suka

  137. Kesimpulannya….

    “Jadilah orang yang berguna untuk masyarakat”.

    hehehe…

    Suka

  138. orang miskin yg gak sombong // 06/10/2013 pukul 3:32 am // Balas

    ITB ?…. Kebanyakan isinya dari SMAN 3 Bandung dan SMAN 8 Jakarta.
    ?..Waktu SMA sih manis manis……pas masuk ITB jadi SOMBONG
    GPP laaahhh……PINTER SOMBONG………drpd MISKIN SOMBONG….
    or BLOON SOMBONG………hehehehhehehehheheheheh

    Suka

  139. Kalau saya pribadi berpikir, wajar-lah ITB kaku dan terkesan sulit bekerja sama. Namanya juga anak teknik, dimana-mana begitu. Tapi mereka orang-orang cerdas, di kemudian hari, mereka beradaptasi dan akhirnya menyadari, dalam dunia bisnis dan profesional, yang lebih penting dari kemampuan teknis adalah kemampuan sosial.

    Lulusan ITB memang banyak yang menjadi Technical Leader. Tapi yang lebih banyak menjadi CEO dan pemimpin negara adalah lulusan universitas, karena biasanya lulusan universitas lebih well-rounded dari lulusan institut teknologi.

    Sama halnya di USA, lulusan MIT/MIT Caltech banyak yang menjadi technical leader, tapi pemimpin negara dan perusahaan tetap dari universitas, seperti Harvard, Princeton, NYU, UPenn, Columbia, Yale dsb.

    Suka

  140. Ember. Emang Bener……..tp wkt gw kerja vice president gw lbh suka or ngeliat gw SMA nya dimana kok…..ketimbang ITB nya.
    Katanya SMA gw berbobot lebih kompetitif…..dan terkenal sgt bagus di Indonesia. SMAN terbaik di Indonesia katanya…..alhamdulillaaaaahhhh

    Suka

  141. kenapa ya hrus melihat dr lulusan mana mana? tdk melihat pribadinya dan kemampuanya sj….. ask why?

    try to think out of the box

    Suka

  142. Dodot Prasodjo // 11/11/2013 pukul 11:33 pm // Balas

    Saya seorang manager, “cuma” lulusan S1 dari Unair dan magister manajemen teknologi dari ITS. Beberapa anak buah saya lulusan ITB. Mereka memang cerdas dan agak superior. Sebagai atasan mereka, tugas saya membuat mereka lebih superior lagi, lebih sombong lagi, lebih bekerja keras lagi. Cukup dengan menyindir masak anak itb cuma bisa begitu saja. Dan saya menikmati hasilnya.

    Suka

  143. I’d like to share something here 😀 hehe. Maaf ya, karena kebetulan kakak saya juga lulusan ITB, dan sepupu2 saya jebolan jurusan favorite ITB, saya ingin menyampaikan bahwa stereotype yang begitu melekat tersebut memang sudah jadi stigma masyarakat. Well, ketika dirumah pun, acapkali terjadi perhelatan luar biasa mengenai kemana saya akan berakhir menjatuhkan pilihan kuliah–yang notabene selalu dicekoki doktrine ITB-minded. Dan ketika end-up di perguruan tinggi UPI, alih2 mendapat selamat, saya hanya mendapatkan komentar ‘well, not bad’ ahahhaha. Dan tambahan pula, teman2 saya yang kuliah di ITB pun selalu meng-underestimate saya yang hanya seorang lulusan fakultas sastra inggris, do u wanna know, inilah kalimat yang selalu terngiang ditelinga saya ‘apa? Kuliah bahasa? Ga salah lo de? Gue aja bisa kali kalo cuma speaking2 english mah’ *hehee..tanpa bermaksud melontarkan sebuah pledoi, komentar saya disini hanya ingin menggarisbawahi bahwasanya stigma ‘the over-narsisus of ITB’ itu benar adanya, namun masih ada kok teman2 saya lainnya yang kuliah di ITB yang masih memiliki rasa hormat terhadap kami (saya dan para mahasiswa non-itb). Hihii, semoga sekilas komentar yang saya buat ini tidak menyinggung siapapun. Anyway, that’s called a life, ada aja kok peristiwa seperti ini.

    Suka

  144. Berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun bekerja di berbagai perusahaan dengan posisi manager hingga VP, jika saya harus merekrut seseorang, saya lebih cenderung untuk merekrut lulusan UI, UGM, ITS atau IPB daripada lulusan ITB.

    Mungkin terkesan menggeneralisasi, tapi menurut saya, walaupun kemampuan teknis-nya lulusan ITB bagus, di dunia pekerjaan, tidak semua hal bisa diselesaikan secara teknis.

    Untuk urusan non-teknis yang lebih penting, seperti kecakapan berkomunikasi, kepemimpinan, kemampuan me-motivasi dan kecakapan-kecakapan strategis di lapangan, terus terang saya banyak dikecewakan oleh lulusan ITB.

    Lulusan ITB kebanyakan terlalu self-centered, coba berbicara dengan seseorang yang baru kita kenal dan lulusan ITB, dalam waktu kurang dari 15 menit, kalimat “ITB” pasti akan terlontar dari mulut orang tersebut.

    Sangat sulit untuk bekerjasama dengan lulusan ITB, mereka sepertinya hanya bisa berkomunikasi dengan sesama lulusan ITB. Dan di perusahaan-pun, mereka seperti mengelompokkan diri sendiri dan enggan berbaur dengan lulusan lain.

    Suka

  145. kuda ganes // 27/11/2013 pukul 2:25 am // Balas

    Sy sangat setuju dg pndpt bung Wangsa, Sy merasakan sendiri persis sprt yg dikatakan diatas. Sampai wkt trkhir, stiap kli saya bekerja dengan org lain ketika msh bekerja di Indonesia, sy tdk pernah mrasakan cocok ataupun bisa satu pikiran dengan alumni2 lain, sy hnya merasa bisa berkomunikasi dan berdiskusi nyambung dgn alumni ITB. Selama 3.5 thun sy bkerja di Indonesia hal ini sy rasakan, blm lg pola pikir dan pola kerja mereka yg sy jg heran sangat tidak pernah bs sy trima dg pkirn sy, tp knp ketika sy berdiskusi atau apapun itu dg alumni ITB br sy bisa ada interaksi positif. Sy bebrpkli bekrj dg non ITB dan hasilnya berkli2 sy dimakan dr belakang..ini fakta bukan mendiskreditkan. sekarang sy bekerja di Russia, dan bertemu dgn hanya rekan2 ITB disana serta dengan pekerja asing sy mmg bkerja dg sangat profesional sy tdk mendapatkan masalah, kami tdk mendapatkan masalah. Selam 8 tahun saya bekerja dinegeri orang, berkeliling eropa, afrika, asia..kami tidak pernah perduli dgn hal2 yang berkaitan komunikasi, kepemimpinan….motivasi…krn kita disana tidak dibayar untuk itu…tdk dibayar untuk berkomunikasi…membentuk komunitas….. Silakan coba bung Warsa bekerja dg orang dri negara lain, dinegara orang….hal2 sprt yg anda sebutkan diatas…tdk akan pernah anda dapati, yg ada justru ketika sering bersitegang..sampai sangat tinggi…tp kemudian secara profesional..menghargai siapa yang benar. Saran saya kpd bung Wangsa, mungkin alumni ITB itu bukannya self oriented, tp mmg fakta yg sy alami sendiri bahwa sangat sulit utk bisa bcra nyambung dg orglain…klu mmg itu sebuah tingkat pemikiran..apakah salah jika kmudian kita malas utk berdiskusi..?. sy persilahkan contoh, jika bung Wangsa berdiskusi dengan supir angkot…dengan level pmikiran yg berbeda…apakah bung Wangsa akan betah utk ngobrol lama2..????, silahkan dicerna sendiri bung Wangsa..

    Suka

  146. kuda ganes // 27/11/2013 pukul 2:52 am // Balas

    Seperti yg saya alami, memang iklim bkerja di Indonesia sngat sarat dengan Komuni, karena dlam proses rekruitmenpun lebih ditekankan kpd hal kemampuan bersosialisasi lebih dri kemampuan individu….mmg ad perbedaan. sementara disana…hal yg pling pnting adlah kemampuan bkerja individu. sebaik apapun anda…seramah apapun anda…jika anda tdk bisa bekerja…detik itupun anda akan dipulangkan…tp sebaliknya..mau seperti apapun ada tdk bergaul..tp selama mampu bekerja….anda akan tetap dipertahankan. tp berbeda dgn kondisi di indonesia…klu kita tdk bisa bekerja..tp mampu bergaul…maka kita akn dipertahankan..tp sebaliknya…sebaik apapun kemampuan kita…tp kita tidak bisa bergaul” menjilat”..kita akan dicampakan dari lingkungan perusahaan. Sy bertemu dg ratusan alumni ITB hingga saat ini sy bekerja diluar dan mmg mungkin ini karena disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja yg lebih sesuai dengan keadaan yg seperti anda katakan “self-centre”.

    Suka

    • well, semoga kemampuan individual anda sanggup menguburkan diri anda sendiri saat tiba waktunya..
      ane sih lebih milih berkomuni dan dikuburkan orang lain dari komuni apapun itu..

      Suka

  147. komen2 anak2 ITB diatas sudah membuktikan tulisan anda mas 🙂

    Suka

  148. Dear All

    Saya cuma iseng googling mengenai alumni dari almamater saya sendiri, tiba2 ketemu blog ini. Menurut saya alrtikel nya menarik, banyak komen pro dan kontra dan semakin menarik baca komen2 nya.
    Saya sendiri bukan alumni ITB tapi background saya memang dari fakultas teknik di universitas daerah depok ( boleh tebak tebak sendiri hehehe)

    Yang saya prihatin kadang2 adalah stereotip masyarakat Indonesia tentang alumni universitas top di Indonesia. Mereka terlalu menganggap alumni macam UI, UGM, ITB dll itu punya kemampuan diatas rata2 dibandingkan mahasiswa universitas lainnya. Padahal sih kalo dari skill belum tentu, skill yang saya maksud disiini adalah skill kerja bukan kemampuan akademis sewaktu kuliah. Karena yang saya rasakan dari 3 bulan kerja ini benar2 beda dengan dunia kuliah (welcome to the real world). Maksud saya adalah, ketika kita baru lulus dari kuliah dimanapun universitas nya, kita mulai dari “0”, bener2 harus belajar dari awal dan menyesuaikan sama basic ilmu yang kita dapat. Saya pun ngerasa masih kurang banget deh skill kerja saya, padahal waktu kuliah ya termasuk top student (sombong dong saya hehee). Penting bagi semua alumni freshgrad atau senior, dalam the real word adalah kemampuan komunikasi dan adaptasi. Jangan pernah mengkotak kotakan golongan, dia lulusan mana, nyambung nya komunikasi dengan siapa. Kalo sesama orang ITB nyaman sama orang ITB, atau UI sama UI dst, kapan maju nya kita. Yang perlu diperhatikan sesama masyarakat Indonesia harus saling membantu dan membagi ilmu. Jadi menurut saya yang penting bagaimana kita harus beradaptasi dan komunikasi, bukan malah menjunjung nepotisme.

    Maaf untuk paragraf kedua agak gak nyambung hehe.
    Menurut saya lagi, wajar jika komen2 dari alumni ITB bernada membela dan mengklarifikasi, wajar banget malah jadi yg non ITB jangan tersinggung atau malah men-judge berlebihan. Saya percaya alumni ITB punya bekal keteknikan yang mumpuni dan basic kecerdasan yang baik, wajar juga untuk punya rasa percaya diri yang tinggi, malah bagus kok itu. Anggap aja positif nya bagi alumni ITB dan alumni lain, bahwa percaya diri itu baik asal jangan terkesan arogan.Penyampaian dalam berkomunikasi harus disesuaikan dengan lawan bicara, supaya kesan yang ditangkap positif dan sesuai.

    Mungkin untuk menutup komen saya yang agak gak nyambung ini, sebagai masyarakat Indonesia atau yang gampang nya sebagai tenaga terdidik, kita juga harus punya dedikasi. Itu aja sih, mau kerja dimana, dengan siapa dan sebagai apa harus punya dedikasi dan tanggung jawab aja. Penting 2 sikap itu, jadinya kalo kita udah ada di posisi yg strategis dan dikatakan udah mapan, kita bisa selalu ingat tujuan kita bekerja itu apa dan kepada siapa saya harus tanggung jawab.

    Semoga semua mahasiswa Indonesia bisa bersatu membangun negeri, menjadi tenaga terdidik yang berdedikasi.

    Terima Kasih

    Suka

  149. Lulusan Universitas Swasta di Jakarta // 07/12/2013 pukul 12:53 am // Balas

    ITB ?….. Gak penting !!
    yg penting gw kerja, rejeki Halal, dan berguna bagi agama, keluarga, masyarakat dan negara

    Suka

  150. Yaah,, bagi yang tersindir silakan intropeksi diri anda, bagi yang ga ngrasa ya sudahlah, tetap fokus sama tujuan anda selama ini berkuliah di masing-masing Perguruan tinggi saja. Beres.

    Suka

  151. kayaknya mas Satrio Madigondo mwancarai anak ITB non SBM aj. hehe. kalau SBM, insy Allah gak sombong dan work team. krn kuliahnya diajarin work team, banyak tugas dikerjain syndicatan. bagi anak SBM, bisnis bakal susah jalan baik klo gak kerja tim

    Suka

  152. Setuju sekali dengan judul dan isi artikel. Banyak contoh di perusahaan BUMN terkemuka yg mem punyai pekerja dan manajemennya alumni ITB…sombong dan arogan ciri khas yg unggul

    Suka

  153. tante hasya // 28/12/2013 pukul 7:21 pm // Balas

    cuma orang minder yang bilang lulusan ITB sombong…hehehe

    Suka

  154. Orang Biasa // 29/12/2013 pukul 1:41 am // Balas

    Apakah pernah ada lulusan ITB yang berhasil meraih Nobel?
    Apakah pernah ada inovasi produk oleh lulusan ITB yang produknya berhasil mendunia dan menghasilkan jutaan atau miliaran dolar bagi perekonomian Indonesia?
    Seharusnya sudah pernah ada supaya lulusan ITB memang layak disebut benar-benar pintar, jenius atau superjenius.

    Suka

  155. Keliatan yah, cara mengomunikasikannya dan cara bertuturnya dari masing2 universitas atau institusi mana 🙂
    Dan tebakan saya, mba haureta pasti anak UI. Cerdas, hummble, ga pamer almamater mana dia berasal, fleksibel, santai.

    Jika saya perhatikan dari beberapa almamater tersebut, mereka memang memiliki keunikan masing2. Itb yg lantang dengan arogansi institusinya. Dan “sibuk sendiri”. Mereka memang anak dengan basis pendidikan sains, tapi seharusnya bukan menjadi alasan untuk tidak melatih soft-skill termasuk komunikasi didalamnya. Cerdas. Dalam hal tertentu dapat diandalkan.
    UI anak2nya pintar2. Tapi selalu malu menyandang gelar almamaternya. Biasanya mereka vokal terhadap sesuatu, aktif, cepat-tanggap, dan ramah juga. Kalau ditanya sebelumnya kuliah dimana, biasanya mereka cukup menjawab, “kuliah di depok”. Jarang ada yang langsung menjawab cukup dengan sekali bertanya. Mereka bilang memang kuliah di UI membanggakan, tapi memiliki beban tersendiri akibat nama besarnya. Padahal saya rasa prestasi2 mereka sangat dan lebih dari cukup untuk dapat di banggakan, tapi mereka tidak. itu bukan sesuatu yang pantas di banggakan jika niatnya hanya untuk pamer atau agar lebih “dianggap” oleh lingkungannya.
    UI memang banyak kasusnya. Tapi saya salut, mereka mau dan terbuka menghadapi dan menyelesaikan kasus2 mereka. Bukti bahwa mereka vokal, dan tidak mau menutupi “bobroknya” sendiri.
    Mungkin kampus lain baik2 saja, karena memang penghuninya yang tidak peduli, ataupun beramai2 menutupi agar namanya tidak tercemar.
    Ugm kampus yang menghasikan alumni yang kompeten. Memang polos, ga neko2, manut2 aja.
    Mungkin karena faktor geografisnya yang berada dengan kultur jawa kental yang menjujung tinggi keramah-tamahan.

    Suka

  156. Orang Kampung // 29/12/2013 pukul 11:08 pm // Balas

    Wow ITB…… Kebanyakan isinya anak SMAN 8 Jakarta dan SMAN 3 bandung tuh… Apalagi anak SMAN 8 Jakarta. Otaknya gila-gila kalo Belajar.
    Tapi Gak apa apa kok…………
    Pinter Sombong gak apa-apa….
    Yg susah kan udah BEGOK, MISKIN, SOMBONG pula. Mampus aja deh org kayak gitu

    Suka

  157. Reblogged this on akhrei.

    Suka

  158. Tergelitik untuk berkomentar. Sebenarnya judul di atas bukan hal baru, sudah terlalu sering aku dengar. Bahkan istriku sendiri sebel sama lulusan ITB, meskipun toh dia jodohnya ma lulusan ITB juga hehehe.

    Kalau menurutku sih sederhana, lulusan ITB sombong-sombong, karena sejak masuk ITB mereka sudah sombong. Setidaknya ini yang kau amati selama kuliah. Sejak awal mereka sudah punya “pede” tinggi, jadi tidak ada hubungan dengan waktu lulus, wong dasarnya aja sudah begitu. Beberapa rekan yang sejak awal lugu dan rendah hati, setelah luluspun aku masih menemukan sifat mereka tidak berubah jadi sombong.

    — dari lulusan ITB yg dianggap nyleneh oleh sesama lulusan ITB 🙂

    Suka

  159. ironisnya setelah lulus berkarya di negeri orang. negeri ini tetap kekurangan sdm dan semakin jauh tertinggal.

    Suka

  160. nih kalo anak it telkom gimana yah -____- hehehe #coment gak boleh marah kalo marah pulang aja sana hehehe

    Suka

  161. Sumpah ini lucu loh. Gue anak UI, dan temen kantor gue banyak anak ITB. Sejauh ini mereka baik2 aja kok. Dibilang sombong, pada ga sombong, baik2 aja. Dibilang kaku, gak juga, mereka lawak2, seru, communication skill nya juga bagus2 aja.

    i personally disagree with this post. Kayaknya kalo mau ngomong ya g sombong dan kaku, di UI juga ada orang2 kayak gitu, di kampus2 lain juga ada. Itu tipikal orang pribadi aja mungkin, bukan per kampusnya. Tapi kalo emang anak ITB merasa lebih “wah” karena dia anak ITB. ya menurut gue wajar aja sih hal itu dibanggain, asal jangan disombongin aja. Sekian komen gue 🙂

    Suka

  162. yg nulis artikel ini pasti anak UI (Unlucky ITB)..
    We are not arogant just better
    Riza, M97

    Suka

  163. ashma nadia // 31/12/2013 pukul 10:02 am // Balas

    “Semua yang nulis dan mengomentari tulisan ini adalah orang-orang bodoh. Bodoh…bodoh bodoh” <—– termasuk yang nulis ini?

    Suka

  164. Dear All

    Ini pengalaman pribadi, waktu itu kami berlima membantu satu perusahaan untuk mengembangkan system informasi, saya hanya D3 swasta dan yang lain ITB,

    Setiap malam saya berdiskusi dengan mereka, dan mengajarkan mereka pengetahuan yang lebih dahulu saya ketahui. satu malam satu teman saya curhat, karena salah satu rekannya berkata kenapa sih kamu mau belajar dengan anak D3 upsssss ( Arogan kah ini ), kenapa tidak kalau yang mengajari mengusai pengetahuan yang sesuai di lapangan.

    Satu orang lagi di complain sama customer, sumurnya sudah kering katanya

    Ya kalau dilihat tidak semua anak ITB arogan , Dan mohon maaf tidak semua juga anak ITB pintar karena banyak juga yang hampir DO akhirnya lulus, dan ada juga yang menghargai partner kerjanya.

    BTW

    10 tahun jadi recruiter ini hasil evaluasi saya

    1. Anak ITB ( Tipe Anak Mandiri ), Pintar, kebanyakan akan jadi pengusaha walaupun jatuh bangun.

    2. ITS , bener – bener tidak pernah neko neko, starter yang hebat
    3. UGM, Mirip dengan ITS tapi tidak semua

    Kalau masalah meminta gaji tinggi, saya lebih suka orang yang berani meminta gaji tinggi, karena ybs bisa menghargai dirinya, disitulah peran recruiter bisa tidak meyakinkan mereka untuk bekerja dengan kita sesuai dengan budget yang diminta.

    Terima Kasih

    Suka

  165. ORANG JAKARTA nih NGOMONG // 01/01/2014 pukul 6:31 pm // Balas

    Adik saya masuk ITB pemalu….. anaknya pendiam. teman2nya juga diam2.

    Emang bawa annya Diam. dari SMA juga diam. Kasihan kan nanti kalo di bilang sombong

    Oh ya teman dia di SMAN 8 Bukit Duri Jakarta Selatan tahun 2013 kemarin ada 115 anak yg masuk ITB.

    Lulusan 2013 ya…..

    Suka

  166. ORANG JAKARTA nih NGOMONG // 01/01/2014 pukul 6:32 pm // Balas

    .
    .
    Jangan gitu dong. sesama Indonesia Anti Pertengkaran

    Suka

  167. lightofheaven // 01/01/2014 pukul 9:13 pm // Balas

    Ijin komen

    Saya bekerja di perusahaan pelat merah,LQ 45. Perusahaan ini dari DNA awal ya memang sudah terkode untuk memberi prioritas kepada lulusan kampus gajah duduk (note:im NOT,alhamdulillah cukup lulusan Depok hehe).

    Suatu hari perusahaan saya memutuskan untuk mengadakan pelatihan in house untuk para staf engineer. Dari semua unit di Indonesia, terkumpullah sekitar 2/3 peserta gajah duduk, dan 1/3 makara dll. Semua staf pengajar in house merupakan dosen2 gajah duduk.
    Berikut

    Suka

  168. lightofheaven // 01/01/2014 pukul 9:27 pm // Balas

    Ijin komen

    Saya bekerja di perusahaan pelat merah,LQ 45. Perusahaan ini dari DNA awal ya memang sudah terkode untuk memberi prioritas kepada lulusan kampus gajah duduk (note:im NOT,alhamdulillah cukup lulusan Depok hehe).

    Suatu hari perusahaan saya memutuskan untuk mengadakan pelatihan in house untuk para staf engineer. Dari semua unit di Indonesia, terkumpullah sekitar 2/3 peserta gajah duduk, dan 1/3 makara dll. Semua staf pengajar in house merupakan dosen2 gajah duduk.

    Berikut merupakan salah satu kejadian yg masih berkenan dalam benak saya. Dalam pelatihan tersebut,ada salah satu materinya yang menggunakan tools statistik untuk membantu mendapatkan+analisa data. Tiba2 entah darimana salah satu dosen senior pengajar berkata seperti ini kepada kelas :
    “Kalau di “kampus si gajah duduk” sih diajarkan kuliah STATISTIK,gimana kalo di yang LAIN?

    I KID YOU NOT.

    Semua orang liat2an, baik kampus biru,kampus kuning, maupun kampus cokelat hehe.

    Dengan penuh pede saya menjawab “hmm,,biasa ya sih di kampus saya sering ya menggunting dan menggambar pak”.(SARCASM. Because punching people in the face is illegal.). Dosen ya merah padam tapi segera sadar kalo ini bukan kuliah,ini pelatihan perusahaan. My Company Paid Him.

    Yah akhir dari kisah some guys are cool some are not. Tidak semua orang ITB itu sombong sama kayak tidak semua orang ITB itu pintar. Berlaku ke semua manusia pada umumnya dan kampus pada khususnya.

    Saya beruntung karena dari awal saya masuk kampus saya tidak pernah “dibesarkan” oleh obsesi rektor,dekan, dan senior mindset bahwa “kamilah kampus terbaik di Indonesia Raya. All Hail the King!” hehe.

    Tks!

    Suka

  169. Wajar saja mereka sombong, toh sudah di uji di ITB dan IPB, makanya mereka jadi yakin…haks haks

    Ane lagi kuliah di kampus yang katanya alumninya sombong2, iya nih banyak yang tengil anak2nye, apalagi ni adek tingkat ane, pada tengil2

    Sebelumnya ane kuliah di intitut teknik saudaranye gajah duduk yang di surabaya, sama aja, ni adek tingkat pada sombong and tengil semua

    tapi tunggu dulu, ini sebenernya mereka yang tengil, atau ane yang terlalu berharap mereka merendahkan diri mereka??

    ah mungkin dua2nya….mereka sombong, sesombong orang yang melihatnya

    Suka

  170. Junior Prambudi // 02/01/2014 pukul 11:18 am // Balas

    BISA DILIHAT DARI BEBERAPA KOMENTAR DI ATAS TERDAPAT BEBERAPA KESOMBONGAN TERSEBUT.

    MENURUT SAYA TULISAN INI KAN HANYA BERSIFAT PENDAPAT DARI SANG HEAD HUNTER YANG MELIHAT BEBERAPA CALON PEGAWAINYA SAAT DI WAWANCARA. APAKAH SEMUA ANAK ITB IKUT SERTA DALAM WAWANCARA TERSEBUT?
    TENTU TIDAK BUKAN?

    JADI BISA JADI BENAR ADANYA BAHWA SEMUA ALUMNI ITB YANG “IKUT DALAM PROSES REKRUTMEN” DI PERUSAHAAN SANG HEAD HUNTER TERSEBUT SOMBONG. KARENA DIA MENEMUKAN HAL-HAL TERSEBUT.

    JADI MUNGKIN BAGI ALUMNI-ALUMNI ITB LAINNYA DAN JUGA MUNGKIN ALUMNI UNIVERSITAS LAINNYA BISA MENJADI BAHAN INSTROPEKSI DIRI SAJA. TIDAK LANTAS MALAH MELUAPKAN EMOSINYA KARENA TERSINGGUNG DIKATAKAN SEPERTI ITU.

    BUKTIKAN DONG APA YANG DIKATAKAN DITULISAN ITU TIDAK BENER.

    *UNTUK JUDULNYA, MENURUT SAYA ITU HAL YANG WAJAR KETIKA KITA MEMBUAT SEBUAH JUDUL UNTUK LEBIH MENARIK ORANG LAIN, MISAL SEPERTI
    “KENAPA ALUMNI IT SOMBONG”
    TOH DIDALAMNYA SUDAH DIJELASKAN, DAN DAPAT KITA LIHAT TERNYATA HANYA SEGELINTIR ALUMNI ATAU HANYA ALUMNI YANG IKUT PROSES REKRUTMEN DI PERUSAHAAN SANG HEAD HUNTER.

    TERIMAKASIH

    Suka

  171. semua tegantung dari sudut mana kita memandang.
    saya bukan org pintar tp saya bersyukur bisa merasakan bagaimana kuliah di ITB. masuk ke ITB memang susah, kuliah di ITB juga susah. saat ujian sering kali saya bercanda (dosen ini mau ngalah2in Tuhan apa ….buat soal sesulit dan serumit ini..Tuhan saja akan memberi ujian didalam batas kemampuan umat-Nya) jangankan soal tes..tugas aja susahnya minta ampun…..sampai2 saya hanya bisa berharap yang penting bisa lulus walaupun dengan IPK pas2an…

    mau kuliah dan sekolah dimanapun kalau terlanjur merasa sombong silahkan berubah

    membanggakan almamater…no problemo…tapi
    ingat almamatermu tidak akan membantu setelah kita meninggal

    Suka

  172. Numpang nyampah dikit :

    Berpendapat itu boleh, tapi jangan subyektif plis.. mungkin saja anda sebagai head hunter kurang berkompeten dalam melakukan seleksi, sehingga semua alumni ITB terlihat arogan di depan anda. Karena dari awal persepsi anda mengenai ITB seperti itu, ya jadi susah juga sih..

    Beberapa alumni ITB seperti itu, tapi ga semuanya.. Jadi kalau mau buat komen, berdasarkan penelitian secara ilmiah yah.. polling or kuisioner juga ok

    thanks

    Suka

  173. tante hasya // 02/01/2014 pukul 3:14 pm // Balas

    banyak yg komen jelek ttg ITB ato lulusannya, mungkin sakit hati dulu gak bisa masuk ITB…hehehe

    Suka

  174. Mirza Hartman // 02/01/2014 pukul 3:50 pm // Balas

    In my humblest of opinions, sebagai salah satu alumnus ITB satu hal yang saya pelajari ketika pertama kali menjejakkan kaki di kampus adalah, “I am nothing.” Boleh tanya ke teman2 satu almamater.. Bisa lulus saja rasanya sudah ajaib. Masuknya susah, didalamnya tambah susah, keluarnya (lulusnya) ini yang paling susah..
    Setelah lulus pun (karena ada stigma yg melekat bahwa kami ini sombong-sombong – konspirasi jigana ieu mah) cari kerja pun sama susahnya kok.. heu..

    but I love it nevertheless.

    Cheers,

    Suka

  175. coba bang nulis tentang alumni ITS. karena kami juga anak teknik. dan setuju, temen2 ITS yang pernah berhubungan dengan anak ITB juga merasakan hal yang serupa, tapi semoga saja tidak semuanya

    Suka

  176. ITB number 1 // 03/01/2014 pukul 12:25 am // Balas

    ITB sombong? saya dan teman2 dikantor saya yang ITB humble2 aja perasaan. Justru disini dari kampus rendahan kayak Itenas, IPB, dsb yg pada sombong 😛

    Suka

  177. Lulusan dr mana pun itu sama, krn waktu kita kuliah pun meliki tujuan yg sm kan?. Ingin menjadi lebih baik. namanya manusia ada plus dan minus nya. Lebih baik kita saling menutupi aib kita. Saling memberi semangat. Jgn memberikan penilaian kepada seseorang tanpa melihat diri kita sendiri. Apa yakin kita lebih baik dr mereka?.

    Suka

  178. Karena kami sudah cukup tahan dengan persaingan neraka disini B)

    Suka

  179. lol.. semua yg komen anak ITB .. kalo pada ansos ya ngaku aja gak usah belagu jago banget dah.. masih banyak yang lebih jago dari elu pada.. kalo kalian emang jago “banget” gw gk pernah tuh denger ITB juara kejuaraan nasional maupun int.. jarang banget coi

    Suka

  180. Mimin min semuanyaaaaa, saya searching nama Satrio Marigondo kok gak ada ya di Google ?
    Biasanya selalu ada, ini artikel memang valid atau enggak ?
    Saya khawatir artikel ini malah dibuat-buat. Nama headhunter nya saja saya tidak tahu sama sekali.

    Maaf ya kalo saya agak sotoy, hehe

    Suka

  181. krn nila setitik rusak susu sebelanga 😀

    Suka

  182. Itu siapa yg yg bilang kampus itenas, IPB rendahan? Tolong diralat omongannya bro

    Suka

  183. Mahasiswa Baru 2013/2014 // 03/01/2014 pukul 9:40 pm // Balas

    .
    .
    Sombong ? wajarlahh….SKOR nya kudu tinggi masuk ITB.
    Jadi yg masuk lebih pinter2…..
    Buktinya gw kelempar Brawijaya pilihan ke 2. ‘n cewek gw Nyangsang Unsoed.
    ITB gw kagak keterima alias ketendang semua kami.
    Padahal SMA gw top….. SMA Negerinya peringkat ke 2 di Jakarta

    Suka

  184. alumni IPB // 03/01/2014 pukul 10:38 pm // Balas

    IPB kampus rendahan? Tolong diralat ya mas/mbak. Akreditasi BAN-PT tahun ini aja IPB lebih baik ko dari ITB.
    Alumni ITB kok ngomongnya ngawur gitu. Gak malu apa jadi alumni ITB? Kalo saya jadi anda saya malu deh bawa-bawa nama ITB buat ngerendahin kampus lain…

    Suka

  185. Anak BINUS nih // 04/01/2014 pukul 12:50 pm // Balas

    *************************************************************************************************
    Hahahaaa…. Gw ketendang dari ITB. Ketendang juga dari UI. *UI pilihan I aja gw udah ketendang….tembus di Jawa tp gak gw ambil….males. Swasta Jakarta ajaaaahhhh.
    Biarin lahh pendapat org ” I DON’T CARE WHAT ABOUT THE PEOPLE JIGONG SAY”

    Suka

  186. yang suka ngehujat itb, tapi kalo anaknya masuk itb, mungkin jadi lebih sombong daripada anaknya

    Suka

  187. Knapa cuma alumni ITB yang sombong? Knapa alumni lain ga sombong?
    Sederhana jawabannya. “Karena alumni lain ga punya apa-apa untuk disombongin”. Ya ga bray? sadar diri coy!

    Suka

  188. Saya non-ITB. Sekarang memimpin divisi teknik di sebuah perusahaan multinasional.

    Pengalaman saya sih anak buah saya sih anak ITB nggak ada yang sombong ya. Biasanya iya minggu pertama kerja biasanya, terutama yang Fresh Grad masih tersisa sampah-sampah cuci otak dari kampusnya, Tapi seminggu-dua minggu baru mereka nyadar bahwa performance di tempat kerja itu tidak ada hubungannya dengan almamater.

    Anak buah saya ada yang lulusan ITB, UI, STT Telkom, TU Delft, Michigan tech, Aachen, Monash hingga yang D3 Swasta juga ada, semuanya high performer dan merupakan yang terbaik di bidangnya. Disini semuanya dinilai berdasar kompetensi bukan almamater dan tingkat pendidikan.

    Sebagai atasan, saya tidak pernah mengistimewakan seseorang karena dia lulusan mana. Sepanjang karir saya di tiga benua (Asia, Eropa, Amerika), saya sudah melihat hampir semua lulusan perguruan tinggi dari seluruh dunia.

    Dari semua engineer saya, yang terbaik yang saya miliki adalah lulusan Mercubuana (sudah resign) dan satu lagi dari Drexel university. Menurut saya performa dan almamater benar-benar tidak ada korelasinya.

    Suka

  189. yatogami-kun // 05/01/2014 pukul 8:44 pm // Balas

    kenapa saya prihatin banget baca komen2 diatas ya..
    saya juga mahasiswa itb dan jujur saya ngerasa jijik kalo liat ada alumni itb yang bersifat seperti yang disebutkan diatas. tapi, hey, nggak semuanya kayak gitu juga kali.. saya sering banget ketemu sama alumni yang ramah2 dan nggak arrogant kaya yang orang2 bicarain. entah dulu mereka pernah congak kemudian tobat nasuha atau apapun itu yang terjadi,tapi saya bisa menjamin sifat sombong congak angkuh itu sebenernya cuma dimiliki oleh mereka yang emang punya potensi untuk terjangkit. singkat kata, kalo orang itu dari oroknya emang sombong ya sombong sampe kapanpun,nggak peduli mau dari itb ui ugm its dan blablabla.. sama aje bro..
    judge orang biasanya emang kagak mikir2 dulu,jadi yang baik pun sampe diikut-ikutin jadi jelek gara2 dianya kalap sama yang kelihatan dimatanya jelek orz

    Suka

  190. ah yang nulis ngiri aja kali, pake ngatain org yang sekolah di jerman sgala. namanya juga interview, masa nggak komplit ceritanya? yang jujur lah, prestasinya apa ya ngomongnya apa, simple. kalo nggak ngerti mereka ngomong apa ya mungkin bapak harus blajar dulu bukannya insecure dan bilang orang sombong. gw bukan anak ITB aj bacanya geli.

    Suka

  191. Hallo2, cuma mau komen sedikit. Standar gaji jerman utk lulusan master teknik itu sekitar 4500€ per bulan (kotor), bersih berarti sekitar 2250€ per bulan. Kalau ada alumni yang minta 5000€ per bulan, hmm, lebay banget sih tapi harap maklum deh, mungkin pengetahuan jermannya terbatas. Cuma 2 tahun kan di Jermannya.

    Suka

  192. Ga gitu jg kali. Anak itb baik2 ko. Lebay ah ini mah

    Suka

  193. Hmm, saya sudah sering baca tentang artikel ini sih tapi ga nyangka sampai sekarang masih dibahas. Saya alumni ITB, dan menurut saya, memiliki mimpi tinggi dan cita-cita tinggi tidaklah salah dan tidak bisa disebut sombong.

    Untuk lulusan s2 Jerman ya wajar saja meminta gaji tinggi kan namanya juga sudah investment. S2 nya merupakan investment. Kalau nanti nya tidak ingin menggaji segitu, ya sudah tidak usah hire orang tersebut. Ya memang perlu dilihat bahwa pajak di Jerman juga sangat tinggi hampir 40% dan biaya sewa yg mahal.

    Well, ada juga loh perusahaan tertentu yang menggaji lulusan S2 misal Jerman, Belanda, atau USA dengan gaji segitu 5000 USD per bulan (beberapa teman yang saya tahu), tergantung perusahaan dan orang nya lah.. 🙂

    Untuk lulusan lain, ya sebenarnya sama saja, bergantung pada orangnya. Tidak bisa disama-ratakan dilihat dari Alumni mana, harus dilihat orang per orang untuk keahlian, psikologi dll. Dengan kata lain, tidak bisa generalisasi orang. Hal ini termasuk pejabat yang korupsi (dari ITB mungkin ada, dari Uni lain juga mungkin ada).. 🙂

    Hanya mengutarakan pendapat saja. Peace!

    Suka

  194. mahasiswaDropOut // 07/01/2014 pukul 6:18 pm // Balas

    dari komentar di blog seperti ini aja sudah terlihat 🙂
    bagaimana di tempat kerja?
    smart people solve the problem, wise people avoid the problem.

    Suka

  195. ITB HATER'S // 07/01/2014 pukul 10:29 pm // Balas

    .
    EMBEERRRR….. EMANG BENERRR.
    Alumni ITB itu BUKAN SOMBONG…. SONGONG Kaleeeeeee… !!!
    alias SONGONG Abiiissssss….. SOK MERASA PALING PINTER.
    Sering NYEPELEIN Orang dari Kampus lain.

    Suka

  196. untung saya lulusan UGM……(eh sombong ya) …. maksudnya Universitas Gamping Mengulon……

    Suka

  197. ya itulah sifat manusia.. mungkin karena dia menyandang gelar “anak ITB” yg semua orang gak bisa dapetin, jadi orng yang masuk ITB punya gejolak didirinya untk mengatakan bahwa “SAYA ANAK ITB”.

    Suka

  198. Gang Potlot B Sebelangnye Slank // 08/01/2014 pukul 5:56 pm // Balas

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Alumni ITB terkenal sombong…. ckckckckkkk
    Udah dasarnya kali. Watak merasa paling di atas dari yg lain.
    Kharakter mah susah dirobah. Spt merasa terbaik….paling pintar dsb dsb
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Suka

  199. Menurut saya anak – anak ITB itu lebih tepat dibilang percaya diri, walaupun ada beberapa yang “SANGAT Percaya diri”, yang sering dikatakan Sombong.

    Menurut saya ini sebenarnya bisa dilihat menjadi hal positif, karena dengan begitu seseorang yang percaya diri itu tidak minder, yang merupakan salah satu tipikal orang Indonesia, apalagi ketika disandingkan dengan kompetitor lain di panggung Internasional.

    Saya banyak bergaul dengan lulusan – lulusan universitas top dunia, saya tidak usah sebut, silahkan sebut satu nama yang Anda pikirkan…. Insya Allah saya kenal. (*Harvard?*, *MIT?*, *Oxford?*, *Cambridge?* hehehehe *hayo ini bercanda lho bukan sombong…*). Kebanyakan dari mereka memiliki sifat yang mungkin beberapa orang namakan dengan “Sombong”. Namun saya dan komunitas saya tidak menangkapnya seperti itu. Kita namakan itu pride and dignity dari masing – masing universitas. Budaya ini merupakan hal yang umum mereka miliki dan lestarikan di masing-masing universitas agar mendorong lulusannya untuk melakukan yang terbaik di bidangnya. Sejauh ini yang saya lihat lulusan – lulusan di Indonesia yang memiliki hal ini hanya di perguruan tinggi – perguruan tinggi terbaiknya saja, seperti ITB, UGM, UI.

    Mungkin perlu direnungkan korelasi mengapa hanya lulusan universitas-universitas ini saja yang saya lihat memiliki karakteristik tersebut dan fakta bahwa universitas – universitas ini merupakan yang terbaik di Indonesia? 😉

    Saya pikir, ada baiknya sebelum menyuplik tulisan orang, penulis blog melihat juga latar belakang yang menulis tulisan tersebut (Bapak Satrio Madigondo). Banyak lho, apalagi di jaman personal blog seperti sekarang, yang tulisannya sangat subjektif. Selain sebaiknya penulis blog juga menulis dari dua sisi.

    Setahu saya sih, tulisan ini sudah pernah ramai dibicarakan sebelumnya. Hmm… Mungkin saya perlu melihat latar belakang mengapa Anda mengangkat topik ini? 🙂

    Suka

  200. wkkwkkkkk…
    anak ITB pada sibuk reply, adu argumentasi, show off.. tetep! Udah bawaan sih ya
    kalau kalian emang pinter beneran,… ga akan lah kalian buang2 waktu writing respons that long. Nanti juga orang2 tau sendiri kualitas kalian. Bukannya kalian harusnya sibuk.

    Suka

    • Mbak/mas Tari komenya “keren” sekali, semoga anda lebih baik dan lebih banyak kontribusinya dari orang2 yg anda komentari.. 🙂

      Suka

  201. dalam dunia kerja jika anak itb menjadi boss maka dia akan rekrut semua anak itb. Slogannya adalah siapa saja asal itb.
    Mengapa? Karena dia sombong dan orang sombong hanya memikirkan kepentingan golongannya saja.

    beruntunglah si satriyo user dan boss nya bukan alumni itb. Coba kalau alumni itb pasti sudah stress dia karena dipaksa memilih memasukkan orang orang itb saja.

    Di swasta maupun negeri sama saja. Kalau sudah jadi boss pasti dia recruit orang orang itb saja.

    Oleh karena itu berhati hatilah dengan orang orang itb. Karena mereka sombong dan orang sombong hanya memilih orang orang sombong, satu karakter supaya jadi orang sombong berjamaah.

    Orang sombong tidak suka plurarisme dan cenderung ekslusive, coba aja liat betapa bangganya ini yang punya blog kasih counter comment terhadap tulisannya satriyo.

    Orang sombong sebenarnya tidak pintar. Mereka bodoh dan sembunyi dibalik kesombongannya. Menutupi kelemahannya dengan kesombongan dan mereka cenderung mencari teman orang orang sombong pula.

    Kenapa mereka sombong, sudah pernah lihat dan ketemu dosen dosennya? Murid kencing berlari, guru kencing …

    Suka

  202. Kalo Bisa Buktikan Anda Bisa Masuk ITB // 10/01/2014 pukul 6:47 pm // Balas


    Sirik aja !

    ITB = Institut Terbaik Bumi

    Kalo Bisa, Buktikan Anda Bisa Masuk ITB

    Suka

  203. Good day! I know this is kinda off topic nevertheless I’d figured I’d ask.
    Would you be interested in trading links or maybe guest writing a blog post or vice-versa?

    My website discusses a lot of the same topics as yours and
    I think we could greatly benefit from each other.
    If you are interested feel free to shoot me an email.
    I look forward to hearing from you! Great blog
    by the way!

    Suka

  204. Pantesan sy ga cocok di Itb.. dan ga bangga pamer ijazah ganesha. Sy ga suka memang dengan aura kesombongannya.. org2 bilang sy aneh.. tp sy pikir kenapa juga harus sombong hanya bawa itb? Biasa aja kali. Yg penting itu prestasi, bukan cap gajah 😉

    Suka

  205. saya skarang kelas 3 sma, mau masuk PTN, memang incaran pertama saya nggak ITB sih tapi tmen2 saya banyak yang mau ITB, saya udah share ke temen2 saya juga ni kritik, dan insyaAllah saya percaya mereka udah tahu apa yang akan mereka hadapi dan yang harus mereka rubah tentang opini orang luar ntaran jauh hari. jadi masa depan ntar alumni ITB akan tambah lebih baik, itukan tujuan kritik ini 😀 hahaha

    Suka

  206. masih jaman ya bangga dan tidak bangga dengan kampus sendiri 🙂 masih jaman juga generalisasi seperti ini ? kuliah dimana saja sama saja.

    Suka

  207. Ganesha Sakti // 12/01/2014 pukul 2:26 pm // Balas

    ITB=Institut Terbaik Bumi.

    Kita yang terbaik di Indonesia bahkan di dunia !!

    ITB lebih baik daripada Nanyang, MIT, Harvard, IIT, Tokyo Institute of Technology !!

    Lulusan ITB boleh diadu dengan lulusan manapun !!

    Suka

  208. Tontowi Prasetyo // 12/01/2014 pukul 5:51 pm // Balas

    bagi semuanya…
    Bukan berarti tulisan ini membuat atau menjatuhkan ITB

    sesuatu itu pasti ada baik dan buruknya
    kita tidak bisa menghilangkan buruknya, tapi kita bisa meminimalisir keburukannya

    ITB, UI, ataupun Universitas lain sudah berjuang yang terbaik buat bangsa. yang terpenting, ingat

    bangsa Indonesia adalah bangsa yang satu, utuh dan kuat.
    kita seharusnya bisa bekerja sama dan menjalin ikatan yang kuat

    jika ada yang merasa sombong, tolong diingatkan
    jika ada yang merasa kurang pandai, tolong dibantu

    kita beda, tapi kita harus tetep menjadi satu
    bhinneka tunggal ika

    Suka

  209. mungkin harus ditambah dengan pendidikan moral seperti Kur 13 🙂 karna pintar saja kalau moralnya jelek, tidak akan membuat keadaan bangsa ini menjadi lebih baik 🙂

    Suka

  210. Fernando Jakarta // 13/01/2014 pukul 6:11 pm // Balas

    .
    Kalo gw sih : Pinter sombong gak apa2.
    …………………yg parah tuh kalo udah miskin, begok, sombong

    Suka

  211. Its not my first time to visit this web page, i am
    visiting this website dailly and take pleasant facts from here every day.

    Suka

  212. Maaf, apa tidak curiga kalau yg nulis comment2 yg berkesan menyombongkan ITB itu adalah orang2 yg bukan anak ITB? Masa iya mahasiswa komentarnya sombongnya minta ampun. Misal:

    ”ITB=Institut Terbaik Bumi.
    Kita yang terbaik di Indonesia bahkan di dunia !!
    ITB lebih baik daripada Nanyang, MIT, Harvard, IIT, Tokyo Institute of Technology !!
    Lulusan ITB boleh diadu dengan lulusan manapun !!”

    sangat berlebihan saya rasa, dan mungkin yg nulis2 seperti yg saya kutip di atas malah bukan anak ITB beneran, hanya orang yg ngaku anak ITB biar ITB terkesan memang benar2 sombong.

    Suka

  213. Pejabat alias Pengangguran Jawa Barat // 16/01/2014 pukul 12:35 am // Balas

    Ckckckk
    Banjiiiiiirrrrrrrr…. !! Cacad nie org2. Debatin hal sampah ky ginian.
    #SESAMA_INDONESIA_ANTI_PERTENGKARAN

    Suka

  214. Pejabat alias Pengangguran Jawa Barat // 16/01/2014 pukul 12:39 am // Balas

    Udah pd sarapp kaliii. Gw sampe kesel baca na. Edan euy, dasar blegug

    Suka

  215. respon saya setelah baca tulisan ini beserta komen2nya saya langsung ngakak.. tertawa lepas.. hahaaaa… :))

    hey, kalian ini semua pada kenapa?? hahahaaa…
    coba deh kalian bertukar posisi..
    yg komen anak ITB sombong ato apalah itu ternyata dulu masuk ITB dan yang sudah di ITB ternyata kemaren gagal masuk.. hahahaa,, :))

    kalian pasti akan melakukan hal yg sama.. hahaaa… :p

    itu juga si pak satrio aneh.. itu bapak2 kan ya?
    trus masa ditulisannnya :

    ” Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang “Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?” (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.”

    dia itu ibu ato bapak ato apa? itu pengalaman dia sendiri ato pengalaman ibunya siapa itu? hahaaaa… :))

    tulisan itu juga gtw bener apa ga informasinya, itu juga nyeritain cuma 3 orang, kenapa kalian ributnya sampe kemana2… hahahaa…

    sudah lah ya,, apapun almamaternya kita tuh 1 Indonesia.. selama punya keahlian, maka bangunlah indonesia ini..
    jadi kalo ada yg punya mimpi buat indonesia jangan dijatuhkan..
    ketika dia gagal jangan di cemooh..
    jangan hanya memuji ketika sukses.. 🙂

    kita kan ga tau orang2 sukses itu pernah jatuh berapa kali sebelum dia sukses.. ^_^

    Suka

  216. yang pasti jika ada suatu perusahaan yang banyak alumni itb nya, maka karyawan2 baru disana pasti itb semua..
    Lamaran dari universitas lain cuma singgah di tong sampah gak dibaca sama hrdnya..
    Mau bukti?? Tu Schlumberger dan sebangsanya..
    Padahal kalau netral mah belum tentu juga lulusan universitas lain kalah sama lulusan itb..hehe

    Suka

  217. Aneh..pendapat kok dhujat, ya sudah biarkan sajalah ..kalo merasa silahkan mengoreksi diri, klo tdk ya udh, klo tidak setuju so…itu hanya pendapat…

    Suka

  218. ITB kamilah yang terbaik // 25/01/2014 pukul 4:19 pm // Balas

    …………………………
    Yah namanya juga ITB. Intsitut Terbaik Bumi………yaaa paling baik lah di Bumi ini…heheheheh

    Suka

  219. SAMPAH……..sirik aje. Gak bisa tembus ITB aja dah sombong. Nge judge. Gimana kalo lo tembus ITB nanti…..
    Hidup jokowi

    Suka

  220. Udah lah jangan dipikirin, buat yang masih kuliah, kuliah aja yang bener. Itu cuma “keliatannya” kok .

    ” Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang “Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?” (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.” Jadi dia bapak atau Ibu hayo?

    Gue maba itb dan pernah kuliah di ptn lain, gue akuin atmosfernya beda. sangat berbeda. Wajar sih dengan seleksi yang ketat dan persaingan di kampusnya sendiri ketat ngebuat mereka ngerasa percaya diri. Tapi bukan sombong.

    Suka

  221. Mahasiswa dan alumni S1 ITB itu mayoritas Cerdas Otaknya (IQ tinggi) dan Cerdas Emosional dan Spiritualnya (ESQ), IQ dan ESQ-nya relatif sngt tinggi. Shga sngt tdk mungkin ada siswa bodoh (sdh bodoh sombong lg sprti sang penulis/pewancara) bisa diterima masuk S1 ITB. Yg komentar mhs dan alumni ITB itu sombong mrpkan suatu pertanda orang tsb sangat dangkal daya nalarnya (krn hati dan pikirannya dipenuhi iri dengki kpd civitas academica ITB). Kasihan deh dia …

    Suka

    • Ga juga. Saya salah satu contoh yang IQ nya bawah rata2 di itb dulu. Tapi determinasi sama kerja keras lain soal ya.

      Suka

  222. Menarik Dam.. tapi kalo gue pribadi ko malah mikir dua kali ya kalo ucuk2 ada orang nanya gue lulusan mana? Ga nyaman aja ngejawabnya. Kalo bisa di CV kaga usah pasang almamater, gue lebih suka ga mencantumkannya. Bukan karena ga bangga.. tapi, tiap kali gue nyebut darimana gue lulus, gue semacam mendapatkan cap ato label tak tertulis di jidat gue…bahwa gue harus sempurna dalam bekerja ato apa pun, sementara bisa jadi, gue hanyalah rata2 di antara lulusan tersebut, yang masih perlu banyak belajar dan dibimbing… bukannya dianggap serba bisa hanya gara2 nama almamater gue.

    Sometimes that could be a pain in the ass. Just my five cents.

    Suka

  223. Kirana Syalsabila // 20/02/2014 pukul 1:10 am // Balas

    Wajarlah ITB sombong. Masuk kesana aja persaingannya gak jujur. Lebih di utamakan (dibanyakin yg Jawa Barat)…. Gubernurnya yg minta loh. Gw pernah baca !….

    Coba kalo FAIR……..diborong JAGO-JAGO SMA jakarta tuh. !!!… Buktinya OSN tuan rumah aja Bandung & JABAR tuh SANGAT LEMAH….Gampang di kalahin…..Jakarta, Jateng dan Banten

    Suka

  224. Anti Monopoli // 24/02/2014 pukul 12:59 pm // Balas

    ITB ……….. ? Wow Makanannya anak SMAN ******* Bdg
    ITB sekedar pindah kelas aja bagi mereka… Pretttt !!

    Dari situ juga sudah keliatan pernyataan sombong. Merasa Unggul. Ya iyalah Jabar lebih di utamain… Jatah minta di banyakin.

    Coba kalo fair…. sama Banten aja tumbang kaleee…. Tangsel

    Maaf ITB punya Jabar atau Pemerintah R.I (Kemendiknas R.I) sihh ???… Punya sapaaa !!!…..

    Suka

  225. WALAH WALAH….KITA SEMUA ORANG INDONESIA MASIH GOBLOK…BARU LULUSAN ITB AJA BELAGU….SEMUANYA LULUSAN INDONESIA MASIH GOBLOK…JIWANYA MASIH KULI….KALAU NGAKU HEBAT…CIPTAKAN LAPANGAN KERJA DONG…JANGAN BARU LULUS BELUM BISA APA-APA MINTA GAJI TINGGI…

    SIAPAPUN ITU ENTAH ALUMNI ITB UI ATAU UGM, ALUMNI LUAR NEGERI ATAU ENGGAK KULIAH….ASAL MAMPU MEMBUKA USAHA DGN MODAL SEADANYA…..ITU BARU HEBAT….

    SEKOLAH DAN KULIAH HANYA JEMBATAN UNTUK SUKSES……

    BAGI KALIAN SEMUA YG MASIH TERIMA GAJI….JANGAN SOMBONG DULU….KELUAR DARI PERUSAHAANMU SRKG JUGA LALU BIKIN USAHA SENDIRI……CIPTAKAN LAPANGAN KERJA ….ITU BARU HEBAT…

    (DARI ALUMNI ITS DAN UI, SKRG SUDAH BUKA USAHA SENDIRI)

    Suka

  226. KEPADA SELURUH ALUMNI PERGURUAN TINGGI INDONESIA YG KATANYA HEBAT-HEBAT ITU….

    MARILAH KITA RUBAH TOTAL CARA BERPIKIR KITA TENTANG LULUSAN YG SUKSES….

    BUAT APA KALIAN PINTAR KALAU HASILNYA UNTUK KEMAJUAN ORANG/PERUSAHAAN ASING…..JANGAN PERNAH BANGGA MENJADI KULI….

    ANDA YG MERASA PINTAR ITU…DI GAJI BERAPA SEH SETELAH 5 TAHUN JADI KULI? 10 JT ATAU 20 JT ATAU 30 JT SEBULAN……KETAHUILAH…ITU ANGGKA YG KECIL SEKALI….. ORANG HEBAT DAN PINTAR BISA MENDAPATKAN JAUH DARI ITU……

    KALIAN KULIAH KATANYA SUDAH DIBERI SOAL UJIAN BERAT-BERAT DAN MAMPU MENYELESAIKANNYA……! COBA SEKARANG PIKIRKAN CARA MEMULAI USAHA DENGAN MODAL 1JT RUPIAH AJA….! DALAM 5 TAHUN MINIMAL UDAH JADI 2 MILYAR AJA…..ANDA SUDAH BISA DIBILANG HEBAT!

    JANGAN MENJADIKAN ALASAN KETIADAAN MODAL UNTUK MEMULAI USAHA! KALAU UDAH ADA MODAL BESAR (1 MILYAR)….. ENGGAK PERLU LULUSAN ITB, UI ATAU UGM, SEMUA JUGA BISA MEMULAI USAHA DENGAN MUDAH.

    JADI INGAT…KALIAN KULIAH DI PERGURUAN TINGGI YG KATANYA HEBAT (UI, ITB, UGM) BUKAN UNTUK MENJADI KULI…..TAPI MELATIH MENTAL DAN CARA BERPIKIR DENGAN TINGKAT KESULITAN TINGGI, AGAR NANTI SETELAH LULUS OTAK KALIAN MAMPU BERADAPTASI DENGAN TINGKAT KESULITAN YG SUPER TINGGI….YAITU BERTAHAN DAN BAHKAN TUMBUH KEMBANG DI DUNIA NYATA…YAITU DUNIA USAHA YG KEJAM……

    Suka

    • Gini ya masbro.. kalo kadar ke”sukses”an orang itu hanya dinilai dari uang, maka Qarun dan Fir’aun yang terkenal kaya sepanjang sejarah manusia itu termasuk kategori orang sukses. Cara berpikir sempit anda itu kalau diwariskan pada generasi selanjutnya akan mencelakakan kita semua sebagai umat manusia.

      Apa anda pikir para pemikir, filsuf, pelopor, dan inovator itu baru bisa dibilang sukses kalau bisa menyulap 1 JUTA JADI 1 MILYAR?

      Berapa milyar harta yang ditinggalkan Rasul?
      Berapa banyak pundi emas yang dimiliki Tesla?
      Berapa digit nominal uang di rekening para guru kita yang mengabdi di pedalaman?

      Tidak semua orang menganggap uang itu ukuran sukses, Bung.
      Ada diantara kita yang sibuk menggali ilmu sampai ke dasar bumi.
      Menengadah langit membaca ilmu pergerakan alam semesta.
      ada pula yang mengajarkan ilmu, membuka dunia sampai ke pojok archipelago,

      Bagi saya sukses adalah menorehkan buah pikiran dan kebajikan dalam lembar sejarah. Bukan hanya nekat jadi pengusaha, membandingkan rezeki yang sudah ditentukan sebelum kita lahir, lalu mengerdilkan para pencari ilmu.

      Sifat arogan apapun bentuknya adalah kepandiran.

      Suka

  227. Hmm…
    Suatu hari bapak saya pulang kerja dan cerita soal anak kuliah yang kalau gak salah semacem magang gitu lah.. terus dia cerita soal mahasiswa dari salah satu uni di jawa tengah, muji-muji gitu. Mereka tuh sopan banget dan hormat sama yang lebih tua. Contoh kecilnya aja pas pulang itu mereka salaman dan ngucapin makasih dulu. Dan sedihnya, sementara itu kata bapakku anak ITB sih langsung ngeloyor aja pas udah selese…
    Bapakku juga lulusan ITB dan mengakui mayoritas anak ITB memang gitu. Ya pantas mereka begitu, ya mungkin mereka merasa yah… begitu lah. Tapi mungkin attitudenya harus lebih diperbaiki lagi.
    Emang gak semua mahasiswa atau lulusan ITB sombong, tapi terimalah kenyataannya mayoritas yang kita lihat (sebagai orang luar) sekarang seperti itu.
    Saya sebagai calon mahasiswa ITB (amin banget), ya sayang sih keadaannya begitu. Saya SMA sekarang, dan kagum baget sama ilmunya ITB, dan pengen masuk sana.. mau banget malah…. iya…

    Ini sih ga ada hubungannya sama anak mana-mana, cuma bapak saya pernah nasehatin: bodoh itu bisa dibentuk lah asalkan rajin, tapi kalau pinter dan seenaknya mana ada orang yang mau hormat.

    Ya intinya begitu lah, saya nemu tulisan ini karena pengen masuk ITB. Doakan saya

    Suka

  228. HEHEHE MAS HARTAMAN PUNYA OTAK CUKUP PINTER….TIDAK MATERIALISTIS….BAGUS ITU MAS…LANJUTKAN..

    SAYA MEMBACA BERAYA TULISAN DIATAS , BANYAK YG ORIENTASINYA UANG….JADI TULISAN SAYA SEBELUMNYA ITU KHUSUS BUAT MEREKA…..

    BUAT ANDA SUKSES ADALAH MENOREHKAN BUAH PIKIRAN BAIK….PERSIS SEPERTI CARA PIKIR SAYA ITU MAS…SETUJU ..

    COBA MARI KITA LIHAT….SIAPA ALUMNI PERGURUAN TINGGI INDONESIA YANG PIKIRANNYA MENDUNIA?…..ADA FILSUF INDONESIA YG MENDUNIA? ATAU PRODUK PIKIRAN LAIN DEH…..SORRY…..SAYA BILANG TIDAK ADA…

    ENGGAK USAH JUGA NYEBUT NABI SEGALA…KEJAUHAN MAS….

    SEKARANG SEBAIKNYA KITA KENYATAAN DIDEPAN MATA AJA DEH…. DILAPANGAN….PEREKONOMIAN KITA SEKARANG INI “NYUNGSEP”….YG DIBUTUHKAN SKRG BUKAN FILSAFAT (SAYA PECINTA FILSAFAT)….TAPI KESEJAHTERAAN BANGSA PADA TATARAN MENDASAR….YAITU SANDANG PANGAN PAPAN……ITU DULU YG MESTI DISELESAIKAN PARA ALUMNI PERGURUAN TINGGI HEBAT NEGERI INI…

    BANGSA INI BISA APA SEH?…..SEMUA IMPOR….JGN BILANG TEKNOLOGI LAH…ITU SUDAH PASTI IMPOR…KALAU ITB KATANYA THE BEST DI INDONESIA…MESTINYA MALU DGN KEADAAN INI…KATANYA BISA BUAT PESAWAT TERBANG…TAPI ENGGAK LAKU DIJUAL…BUAT APA?

    KITA KEDELAI, DAGING BERAS AJA MASIH IMPOR……

    INI KENYATAAN…JANGAN MARAH JIKA DI BILANG ALUMNI INDONESIA GOBLOK….LA KENYATAANNYA NEGARA INI SAMPAI SEKARANG MASIH “NYUNGSEP”….SIAPA YG BERTANGGUNG JAWAB?….

    SAYA CUMA INGIN MEMBANGUNKAN KALIAN SEMUA PARA ALUMNI PERGURUAN TINGGI HEBAT NEGERI INI….BAHWA KALIAN LAH DI LINI DEPAN PERMASALAHAN BANGSA….TIDAK USAH BICARA DI AWANG-AWANG….YG REAL-REAL AJA…

    Suka

  229. Tidak semua anak ITB begitu. masih ada 20-30% nya yang BENER.
    Tapi yang saya rasakan skr juga begitu, saya punya rekan kerja anak ITB. dan tingkah lakunya persis banget yang artikel tersebut ceritakan.
    Sombong + Narsisnya minta ampun. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi sombongnya luar biasa.

    Suka

  230. Ah sekarang juga banyak alumni itb yang nganggur, biarin aja kali mereka sombong juga, giliran nganggur sih dia pasti malu sendiri juga, #Akpol

    Suka

  231. menurut saya sih lulusan IeTe Be setelah lulus jadi pekerja mungkin cukup bisalah diandalkan diperusahaan2 top, saya belum pernah dengar lulusanya pemilik suatu perusahaan yang go internasional, masih lebih banyak yang memiliki lulusan tapi bisa bisa mempekerjakan lululusan Ie Te Be, walaupun banyak mendapatkan penghargaan dalam berbagai kontes,,kalau hanya sekedar pajangan buat apa,,

    Suka

    • against_ignorance // 08/04/2014 pukul 1:15 am // Balas

      Belum pernah denger lulusan itb punya perusahaan dan mampu go internasional?
      Anda ini hidup di dalam tempurung, Media?

      Ir.Soekarno
      Prof.DR (Ing)., BJ Habibie
      Ir. Djuanda Kartawidjaja
      Iskandar Alisjahbana
      Wimar Witoelar
      Aburizal Bakrie
      Hatta Rajasa
      Arifin Panigoro,
      Ciputra
      TP Rachmat
      Benny Subianto
      Iman Taufik
      Abdul Hamid Batubara
      Marjolijn Wajong
      Joko Anwar
      Purwacaraka
      Rizal Ramli
      Ridwan Kamil
      A.D Pirous
      Danton Sihombing
      Yolanda Santosa
      Lucia C Dambies
      Henricus Kusbiantoro
      Melissa Sunjaya
      Christiawan Lie
      Jerry Aurum
      and the list goes on.. and on..

      ini thread maksudnya apa sih??

      Suka

      • Buaya Darat // 12/09/2014 pukul 11:31 am // Balas

        eh, eke engak masuk?
        padahal eke yang membunuh sugiyono nya si prabowo.sugiyono lulusan norwich tumbang sama eke, bisa mudahnya ditipu sama eke.sampai sugiyono percaya alamat palsu eke di fb buat kirim obor rakyat ke alamat yang ane sebutkan di fb, wkwkwk.

        Suka

    • TOLAK OSPEK BERORIENTASI FISIK // 04/07/2014 pukul 12:26 pm // Balas

      yah in ga ad pengetahuan berani ngomong, cek dong bos bos perusahaan besar itu siapa, ciputra, wilmar(perusahaan yang sudah merambah ke berbagai negara ) ga cukup?

      Suka

  232. Sebenarnya yang nggak mengatakan anak ITB sombong, karena nggak mengerti anak ITB saja. Makanya yang nulis seharusnya bergaul lagi lebih banyak dengan mereka dan amati dengan lebih detil. Saya adalah lulusan tahun 1995 dari ITB, saya tidak pernah bermasalah berkomunikasi dengan lulusan ITB juga baik yang senior ataupun junior. Umumnya anak ITB menyukai hal hal yang berbau tantangan. Dan kalau saya share tentang pengalaman, mereka juga mendengar. Begitu juga kalau saya pengen mendengar pengalaman dari orang yang lebih senior dari saya. Sejujurnya, mereka orang orang yang tidak mudah percaya dari apa yang disebutkan orang lain, kecuali mereka sudah tahu bahwa itu benar.

    Suka

  233. Anak anak ITB itu, seperti yang juga dibahas di artikel ini, utk masalah teknik dan logic sangat kuat. Saya berani mengatakan, mereka memang dibentuk dengan kondisi berat selama perkuliahan, sehingga membuat kemampuan belajar cepat (fast learner) muncul, dan logika juga sangat kuat. Dan rata rata memang resource yang masuk ITB memang sudah saringan. Perkuliahan yang berat, bahkan dosen juga kadang hanya cuma menjelaskan sedikti saja, atau mungkin hanya bolak balik lembar di hal pertama didalam suatu perkuliahan. Tetapi saat ujian, harus mempelajari semua buku. Belajar dengan waktu yang sering bentrok dengan perkuliahan. Tugas tugas yang banyak, sampai kebaisaan begadang kurang tidur. Seringkali dibuat kuiz, ujian open book yang meski bisa buka buku tapi nggak akan ada soalnya di buku. Semua itu membuat kemampuan mereka teruji ke limit. Bahkan, walaupun dulunya saat SMA adalah juara, kutu buku, mahasiswa cerdas. Saat mahasiswa banyak yang stress dengan tekanan perkuliahan seperti itu. So, kalau ketemu anak ITB, pasti dalam pikiran mereka nggak akan ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Kemampuan fast learner mereka utk hal yang berbau logic dan teknis cukup kuat.

    Kekurangannya, mereka kadang sering lupa, bahwa di alam ini masih banyak pengetahuan pengetahuan diluar teknik. Misalnya, social, psychologi, communication skill yang berguna dalam presentasi. Kemampuan membuat hal yang sulit jadi mudah (simplicity) sehingga mudah dipahami oleh khalayak. Saya juga sering mengalami kegagalan. Tapi setelah direnung renung kembali, umumnya bukanlah masalah teknis, kebanyakan faktor non teknis yang lupa saya perhatikan.

    Suka

  234. gak semua anak ITB seperti itu….tapi kita ambil sisi positipnya dan pembelajaran.dari artikel ini…bahwa dalam dunia kerja atau apapun bidangnya..disamping skill technical diperlukan…tapi comunication dan softskill juga berperan besar….

    Suka

  235. Saya alumni ITB dan dah kerja, dan memang hal tersebut ada benernya juga… Dari pengalaman kerja saya hampir 4 tahun kok anehnya saya lebih enak bekerjasama dan membentuk tim kerja yang solid, hangat dan kompak dengan orang-orang non ITB yaa…. ya dari UGM, UNDIP, ITS, bahkan dengan univ swasta dsb lebih saling menghargai dan support satu sama lain dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan sesama anak ITB wuih kaku n cuek beud, ada kesan jaga jarak, bingung juga saya….. Saya baru menemukan kenikmatan kerja teamwork justru setelah masuk dunia kerja, jadi wajar kalo muncul artikel seperti diatas…

    Dulu memang saya bukan mahasiswa ITB yg luar biasa, tahun pertama nilai TPB saya anjlok IPK cuma 2,2, biasalah anak rantau dari kampung biasa hidup tertib ama ortu, tau2 hidup bebas n sendiri di Bandung, ya kebanyakan main, buang waktu gajelas gitulah… Butuh kerja keras buat memperbaiki statistik IPK sehingga ketika wisuda Alhamdulillah bisa diatas 3 koma hahahahaha Mungkin itu juga yang membentuk sikap agar ga terlalu jumawa dalam hidup… humble gitu lah, karena dulu pas kuliah jadinya ga bisa sombong hahahaha

    Suka

  236. Sebenarnya lucu kalau anak ITB sombong. Seperti kata prof Hiskia Ahmad almarhum, dosen kimia ITB yang legendaris : “mahasiswa ITB itu yang terbaik dari yang terjelek”

    Saya pribadi ketika kuliah dengan beasiswa di luar negeri bergaul dengan banyak anak ITB dan rata-rata tidak sombong kok.,.

    Anak ITB yang sombong itu biasanya katak dalam tempurung yang belum pernah studi atau bekerja di luar negeri.

    Suka

  237. doni hermawan // 25/08/2014 pukul 12:47 pm // Balas

    ah menurut saya itu kebetulan yg digeneralisir… saya pernah ketemu mahswa s2 lulusan its, datang ke kantor saya, belagu banget seakan yg paling pintar, ngajari saya ini itu seakan cuma yg di pikirannya itu aja yg paling hebat dan paling benar…. dulu pernah jg alumnus its gitu juga, kalo ngomong sok jenius, kayak cuma dia yg paling bisa mikirin hal2 yg dia asumsikan sendiri org lain gak akan pernah kepikiran…. tp di banyak hal lain, saya juga ketemu alumni its yg baik….. yg santun…. dg hal yg sama saya juga ketemu lulusan itb yg baik dan yg gak baik…. juga pernah saya ketemu beberapa alumni australia, jepang, kanada, amerika, uni eropa, masya Allah beberapa dari mrk sombong amat, tp saya tahu ini orgnya…bukan darimana dia lulus…. sama saya bilang saya ketemu berbagai macam suku, bangsa, ada yg baik dan ada yg gak baik….

    Suka

  238. yuliansyah // 25/08/2014 pukul 1:00 pm // Balas

    dulu ada kenalan lulusan sebuah univ di malang, benci banget dg lulusan itb, ternyata krn dia pingin masuk itb tp gagal… eh ndilalah dia dpt kesempatan s2 di itb, pandangannya langsung berubah total ha..ha.. muji2 itb, tp yg dia cela org2 lulusan luar negeri.. eh gak lama dia dpt kesempatan lanjutkan s3 di LN, entah apa dia mau cela org2 yg lulusan planet lain ‘kali ya… tp denger2 kenalan tsb ckp beruntung sekalgs apes…. dia s3 sebanyak 2 x di LN tp gak ada yg lulus, bentungnya bisa dpt beasiswa LN sampe 2 x…. tp kok gagal selesaikan pulang tanpa gelar S3….

    Suka

  239. Saya masuk ITB karena dari lahir dan dari kecil tumbuh berkembang di Bandung. Otomatis saya kejar habis2an passing grade ITB daripada harus keluar kota, jauh dari ortu, bayar kost, keluar uang, dll, dll. Setelah saya sadari sekarang ketika udah bekerja, karakter kerja keras ketika mengejar passing grade ITB itu yg bikin saya berbeda dengan beberapa teman2 di SMA yg gagal masuk tujuan yg sama. Padahal mereka berasal dari SMP yang jauh lebih baik daripada saya. Saran saya ga usah ngoyo ngejelek2in ITB. Kerja keras lah yg bagus, apapun kampus nya, hasil mah ekivalen kok.

    Suka

  240. Maria Imelda Yohannes // 30/08/2014 pukul 5:25 am // Balas

    Alhamdulillah aku enggak pilih ITB. Tadinya mau STEI ITB ………. tapi gak jadi……….. Pilih T. Elektro UI ajaah.
    Welcome UI ‘2014/2015…. alhamdulillaaahhhhh …..

    Suka

  241. Buaya Darat // 12/09/2014 pukul 11:25 am // Balas

    ah masa sih?
    ente belum pernah gaul sama eke kali di itb.
    wkwkwk

    Suka

  242. Head hunter Ini membuka forum diskusi yang mendiskriminasikan lulusan tertentu,Itb,Ugm,Ui. Menurut saya kesannya uneg2 pribadi,tetapi curhatnya menyudutkan pihak tertentu,menurut saya data tidak valid dan terkesan sempit..Bagaimana tidak di generalisasi,Ini kan celotehan di dunia maya,hati2 loh kena UU psl 27 ITE..

    Suka

  243. berdamailah kawan,
    jangan saling menjelekkan.
    itu tidak baik.

    Suka

  244. Jangan gitulah….UI, ITB semua sama saja. Masuknya sulit.
    Hanya orang2 iri saja yg slalu menjelek2-an mereka. Krn masuknya mmg sulit. Lum tentu kalian keterima di sana kan.
    Persaingannya itu loh, peminatnya banyak, pendaftaran berjibun tapi daya tampung alias yg keterima cuma se emprit alias sedikit sekali.
    Ga usah nulis kaya gini.
    Sesama Indonesia anti pertengkaran
    #Hidup Mahasiswa

    Suka

  245. Halo, halo, halo!

    Begitu baca tulisan ini, hal pertama yang saya pikirkan adalah “Ya, bisa dinyatakan seperti itu.” Kemudian saya baca komentar di bawah-bawahnya, kemudian saya berpikir “Ya, argumen kalian tepat.” Kemudian saya lihat ada komentar yang mendukung artikel, “Ya, saya rasa itu benar juga.” Kemudian saya lihat ada komentar netral tapi sangat membangun, “Ya, saya juga masih harus introspeksi diri.”

    Hal yang menurut saya menyebabkan seseorang sombong itu berasal dari 3 hal yang paling utama: 1) Pencapaian, 2) Kepemilikan, 3) Pengetahuan. Manusia memiliki self-confidence jika sudah memiliki minimal satu di antaranya, dan self confidence ini selalu menjadi pedang bermata dua karena jika terlalu banyak maka hanya akan menimbulkan kesombongan.

    Kemudian timbul pertanyaan, apakah jika seseorang sering mengatakan dengan percaya diri tinggi bahwa dia adalah seseorang yang tampan/cantik, kenapa dia tidak lebih dibenci dibanding orang yang percaya diri mengatakan bahwa dia orang yang hebat?

    Jawabannya sederhana: Tong kosong yang berbunyi nyaring selalu membuat kita gemas dan ingin segera melempar sampah ke tong itu.

    Suka

  246. Eeh_ anak ITB. Menurut. Gw, jdi. Inspirasi bangeet buat gw hahaha. Gw.pacaran. Ama anak ITB. Gw. Mangfaatin ilmu Ϟўª‎​. Alhamdulillah kebawa, pinteer IPK. Gw. Jdi paling tinggi. Di kampus

    Suka

  247. sebetulnya apa yg di tulis, saya seperti merasakan itu jg…temen2 yg 1 profesi,tp almamaternya beda akan ‘beda gaya’….hehehe…
    sykur saya alumni dr kampus yg memang sprt yg di sampaikan di atas dan memang kebanyakan saya lihat memang begitu…ini obyektif loh…alumni UGM ga neko2,lugu dan ga ambisius…konsen pada pekerjaannya….
    mungkin klau saya lihat dr unsur psikologis, kl ITB kebanyakan di minati oleh pria…pria itu identik dg superior….beda dg kampus yg bercampur dg humaniora…tehnik iudentik dg laki2…

    Suka

    • ITB kebanyakan bidang tehnik tnp fakultas humaniora…laki2 itu ‘superior’ jadilah lingkungan yg terbentuk itu kaku dan superior krn kebanyakan pria….

      Suka

  248. BungaBeracun // 29/10/2014 pukul 6:30 am // Balas

    dari pak menjadi bu…oke…thats weird, hahahaha

    Suka

  249. Kacruuttth // 31/10/2014 pukul 8:04 pm // Balas

    KULIAH ?…. BSI aja (Obama)

    Suka

  250. Saya mahasiswa ITS. Maaf banget tapi saya agak menyesal tidak memilih ITB saat ujian ptn kemarin. Waktu saya bilang ke guru saya saya mau milih ITS, dia ngoceh, “Yah, dimotivasi dong dirnya… kamu itu sanggup masuk ITB.” Di benak saya, saya langsung mikir kalau pandangan guru saya salah, ITS kalah dari ITB pasti cuma karena masalah nama saja.

    Setelah beberapa bulan kuliah di ITS saya mulai tidak semangat. Tidak ada yang terasa spesial disini, mulai dari suasana pembelajaran yang kurang persaingan sampai kehidupan sosialnya yang menjemukan, ditambah lagi kualitas event-event ajang kreativitasnya juga masih jauh dari yang diharapkan (untuk tingkat universitas). Yang bikin saya semakin down adalah karena kebanyakan teman-teman yang masuk disini bukan karena ingin masuk ITS, tapi karena tau masuk ITB sulit/gagal masuk ITB sehingga kuliahnya juga tidak sungguh-sungguh.

    Sampai kapanpun ITS tidak akan berkembang kalau mentalnya cuma jadi cadangan kalau gak masuk ITB. Kalau disuruh jujur, saya yakin 70 persen lebih anak ITS ingin masuk ITB. Makanya saya rasa munafik kalau ada yang menjelek-jelekkan ITB atau menyandingkan diri dengan ITB. Memang ada sebagian mahasiswa ITS yang hebat (salah satunya dalam organisasi), tapi secara umum mahasiswa ITS masih kurang motivasi.

    Mohon maaf buat teman-teman ITS, kita memang masih dibawah ITB, tapi saya harap akan ada waktunya ketika orang-orang akan berebut untuk masuk ITS, ketika orang-orang menempatkan ITS di pilihan pertama, ketika orang-orang bingung ingin masuk ITS atau ITB.

    Salam,
    Mahasiswa galau ITS

    Suka

    • ane alumni ITS deka
      jurusan mana dulu, yang kurang menantang…
      kalau perkapalan keren tuh…
      tapi kamu baru semester awal, nantilah gregetnya belum muncul, kalau menjelang tugas akhir nanti muncul

      btw, di dunia internasional, karyawan lulusan ITS banyak juga melanglang buana loh sama seperti ITB
      di Chevron juga banyak, umumnya hobi di BUMN sih (semen gresik – langganan anak ITS)

      Suka

  251. Anak UI Depok // 04/12/2014 pukul 6:11 am // Balas

    Temen2 ITB baik2 kok. Temen gw banyak yg masuk ITB. anaknya baik2. Ramah & friendly.
    Kakak2 Alumni SMA gw dari Alumni ITB juga baik2 kok. Tidak sombong spt yg di tuliskan ini. Dulu sering kasih motivasi ke adik2 kelasnya yg masih SMA.
    Emang sih rata2 temen2 gw rata2 masuknya UI & ITB. Tiap tahun sampai Ratusan yg masuk UI or ITB

    Suka

  252. Hmm..mengomentari tulisan Mas Satrio…Semoga anda tidak mengeneralisir by one case..bener kata komen yang paling atas, karakter lulusan ITB sangat berbeda antara jurusan yang berbeda karena memiliki pola rutinitas yang berbeda. di ITB itu setau saya kehidupannya dirancang untuk bisa berkompetisi internasional, mungkin sama seperti Univ negeri yang lain, jadi profesionalisme sangat dijunjung tinggi dengan tentunya ada kelemahan dalan social responsobility dan mungkin kelemahan yang lainnya, yang sangat mungkin pula dimiliki oleh lulusan lainnya. Saya dari SITH biologi, yaaa…selama kuliah disana tidak 100% anak-anaknya seperti itu, paling hanya 40-50%, apalagi klo qt bergaul di dunia organisasi, sangat mudah menemukan orang yang sangat sosialis. Hanya saja, biasanya orang-orang sosialis jarang melamar pekerjaan swasta yang dengan ekspektasi gaji besar, mungkin punya preferensi yang lain, sperti dunia enterpreneur dan pendidikan. Sehingga Mas Satrio akan jarang menemukan pelamar lulusan ITB dengan tipe sosialis jika Anda berada pada perusahaan swasta dengan standar gaji tinggi.

    Kita semua juga perlu mengetahui lulusan-lulusan ITB yang berhasil menjadi tokoh masyarakat di Jawa maupun Pulau Jawa, ada yang mengabdikan diri di daerah terpencil untuk dunia pendidikan (seperti teman saya), ada yang berusaha menciptakan lapangan kerja di sektor real untuk membantu bangkitnya dunia sektor real Indonesia walaupun dengan sedikit kontribusi, dan aktivitas mereka yang lainnya. Begitu banyak anak ITB, mungkin sekitar MIPA yang bergulat di dunia pendidikan.

    Adalah pemikiran yang sempit jika Mas Satrio menulis tulisan tersbut lalu menyebarluaskan di sosial media, sehingga semakin menambah beban generasi penerus khususnya lulusan ITB untuk mendapatkan pekerjaan. Jika kasus alumni ITB lulusan Jerman itu membuat Anda tidak suka, coba Anda fikirkan mungkin memamng kalo di luar negeri kita harus MENJUAL DIRI ketika melamar suatu pekerjaan, itu adalah profesionalisme, lalu mengungkapkan ekspekstasi gaji yang selanjutnya adalah wewenang perusahaan untuk menerapkan kebijakan.

    Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan memperbaiki image anak ITB..kasian loh…tdk sedikit anak ITB yang akhirnya tidak mendapat pekerjaan karena isu-isu seperti ini..
    Semoga teman-teman dari universitas lain juga dapat saling bekerjasama membangun negeri ini..dengan segala keragaman karakter dan latarbelakang kita..Thanx for all.

    Suka

  253. Kalau boleh men-specified, diskusi ini bersifat umum yang coba diinterpretasikan menurut persepsi masing-masing orang dengan trade off Perfeksionis vs. Sosialis, ITB vs. Non-ITB, Percaya Diri-Rendah Hati, Berpikir Makro vs.Mikro. Mungkin kita bisa merenungkan kembali mana yang lebih baik? Menurut saya semuanya baik tergantung cara orang memandang. Hanya saya disini lebih ditekankan kedewasaan buat kita dalam menyikapi trade off tersebut. Saya berharap jangan ada niat untuk mengeneralisir atau mendeskriditkan kelompok tertentu.

    sebagai alumni ITB juga, saya berharap ide dan gagasan yang membangun itu sangat perlu tapi jangan sampai merugikan teman2 yang punya karakter Perfeksionis, Percaya Diri, Berpikir Makro dll. Jadi ga ada yang salah dengan itu semua, semuanya pilihan.

    Suka

  254. setidaknya ada satu univ yg selalu berada di bayang2 itb , telkom university…. setiap masuk klas dan dosen menasehati, patokannya selalu itb … “jadilah seperti mereka” … sedangkan prestasi2 yg di dapat kurang di share untuk motivasi, http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/02/17473433/ITB.dan.Unikom.Genapi.Kemenangan.IT.Telkom

    aku bahakan tak pernah tahu kabar diatas jika tidak ikut mengumpulkan info presentasi road show… bahkan ada segudang prestasi lainnya .. tapi bgitulah kenyataannya

    Suka

  255. Miris melihat para sarjana dan mahasiswa seperti ini.

    Pantas saja bang iwan dlm lagunya menuliskan “sarjana begini banyaklah di negeri ini, tak ada bedanya dengan roti”

    Buat masukkan aja nih:
    “Ga ada manusia yg pintar, yg ada hanya manusia yg lebih dulu tahu”

    Suka

  256. Gw anak UI. Temn gw di ITB baik2 kok. Tdk spt yg dituliskan. Ini fitnah.

    Suka

  257. Saya sependapat dengan Satrio, di tempat saya bekerja Suzuki Indomobil, mental lulusan ITB persis seperti yg dituliskan yaitu sering merasa superior dari lulusan ptn lainnya. Bahkan teman sy di perusahaan Migas swasta nasional akhirnya lebih prefer ke lulusan teknik UGM dan ITS daripada seleksi ke kampus ITB.

    Tapi untungnya bagi lulusan ITB adalah alumni-alumninya selalu menjadi prmotor agar si anak ITB yang mendaftar dapat dterima di perusahaan. Jadi menurut saya tidak ada fitnah ttg karakter anak ITB seperti itu semua, tidak semua, tapi MAYORITAS.

    Disukai oleh 1 orang

  258. Byantoro (UI Angkatan 2014) // 07/02/2015 pukul 10:35 pm // Balas

    Gw anak Jakarta kuliah di UI tp krn teman2 SMA gw byk yg di ITB….Ya gw gak setuju. Temen2 SMA gw yg masuk ITB itu baik2. dan rendah hati.. Mungkin Angkatan tua kali ya, yg dimaksud.

    Suka

  259. Kalau bener2 pintar dan berprestasi ya agak dimaklumi. Yang aneh itu yang pas2an (hampir DO)di ITB tapi ikut2an sombong sambil sesumbar ke anak kampus lain”di kampus elo gue bisa dapat IPK 4″.biasa aja keles.sejak tidak adanya saringan tunggal macam sipenmaru, umptn dll ditambah lagi wacana gubernur jabar minta jatah yg banyak buat putra daerah, kualitas mahasiswa baru ITB sekarang seperti apa?ITB mah mainnya harusnya dunia minimal juara Indonesia. Kalau jatah2an putra daerah mah sebuah kemunduran yang teramat dalam. Sok wae mau tenggelam dibawah Unpad. Lagian gubernurnya mah lulusan antah berantah, jangan dituruti kalau malah bikin ITB dan Unpad mundur.

    Suka

  260. S1 saya jalani di Unisba, S2 saya mendapat beasiswa dari kementrian pu untuk mengambil Prodi Studi Pembangunan, apa yang dibicarakan artikel diatas sy tdk rasakan di lingkungan saya belajar bahkan sangat humanis, mulai dari staf TU, dosen, aisten bahkan dekan yang sempat mengajar pun sangat hangat, bahkan kami yang berasal dari pemda di seluruh Indonesia diharuskan melepaskan diri dari bayang bayang sebagai pejabat di lingkungan pemdanya masing masing, kami belajar konstruksi sosial masyarakat dalam pembangunan, pemberdayaan masyarakat (berhubungan dengan prodi), mungkin ada beberapa masiswa/i dan para alumni yang kurang dalam bersosialisasi, sehingga terkesan kaku dan pada akhirnya dinilai sombong, saya yakin mungkin ada lagi penelitan yang memandang dari sudut lain, mungkin dari nilai nilai yang ada pada masyarakat pun tdk dapat dilepaskan. Ada beberapa (banyak) yang menginginkan anaknya masuk perguruan tinggi yang baik, bergengsi (menurut norma yg ada di masyarakat), dsb, jadi dari lingkungan keluarga pun sudah ditanmakan bahwa masuk perguruan tinggi terkemuka di Indonesia (UI, ITB, UGM, UNHAS, PADJADJARAN, IPB, ITS, dsb) adalah sebuah capaian yang bisa membanggakan orangtua dan keluarganya. Sy hanya ingin berbagi pengalaman saja (hanya contoh kecil, dan bukan mengenarilasisi), setelah sy kembali ke daerah sy bertugas (pemda) ternyata banyak teman teman juga yg sdh menyelesaikan S2 di perguruan tinggi lainnya yang kebetulan disinggung oleh tulisan diatas (UGM), dalam mengembang amanah sebagai PNS beberara teman lulusan UGM (kebetulan) pernah berpekara di area pelanggaran penggunaan anggaran dan kegiatan dan masuk catatan Inspektorat, BPK, bahkan diadukan masyarakat ke kepolisian dan kejaksaan, sy pribadi (kebetulan) alumni UNISBA dan ITB sangat ingin dan berusaha untuk mengemban tugas sebagai abdi negara, sy tdk terpengaruh teman teman sudah punya rumah mewah, kendaraan mobil, ambisius (bangga lulusan kampus terbaik) mengejar ngejar jabatan dan menjadi penjilat (Astagfirrullah…), sy puas dengan kehidupan sy sebagai PNS yang wajar, rumah masih ngontrak, kendaraan motor (1) dimana suami yg antar jemput atau naik ojek, mempunyai staf yang baik dan bekerja untuk melayani masyarakat, dan terutama ingin membangun daerah dimana sy mengabdi…….dan Alhamdulillah ada teman di kantor juga lulusan S2 UNHAS ingin mebangun desa binaan sekaligus mengamalkan ilmu yang kami peroleh….kesimpulan apakah betul UI itu fleksibel, UGM itu lugu dan ITB itu sombong…..Wallahualam…

    Suka

  261. Temen sma gw di Jakarta byk banget yg itb. Pinter2 n baik2. Anaknya jg asyik2….jd ga percaya klo mreka nantinya sampai sombong2.
    La kita saja msh srg telpon2an. Klo libur di jkt msh pd saling kontak. Rata2 tmn2 SMAN gw dulu paling byk di jkt yg masuk ITB dan UI. Udh kyk langganan. Anaknya ambis ambis

    Suka

  262. tulisan seperti yang diutarakan pak satrio sebaiknya tidak disebarluaskan di dunia maya. kalau konteks nya forum diskusi saya rasa boleh” saja. sebab apa? hal semacam ini dapat menurunkan minat siswa” yang berkeinginan dan bermimpi besar untuk bersekolah disana. oleh sebab itu saya harap dikemudian hari tidak terjadi hal semacam ini lagi

    Suka

  263. Ya…ya…
    Banyak yg bner sih dr coment2 sblmya…
    tp ada jg loh yg blm lngkp pertmbngnya…
    Msh ada unsur rasa dlm analisisnya….

    Mngenai sy,Sy ini orng yg biasa nyangkul sawah dan cari rumput untuk kmbing sy…
    Dr umur 9th sy dah ternak kmbing dan ayam petelur, yah tentu apa2 dah sndri sbg pngusaha kcil untuk tetap hdup dan bs skolah ,sy jg mimpi masuk ITB loh.
    Krn ga pinter ya skolah sdptnya..smpat kuliah di fak. Teknik disalah satu univ. Tertua di indonesia…
    Lulusnya lama krn smbil cr uang untuk 7 adik sy yg jg skolah…
    Ketika Blm lulus sarjana, sy hrs hjrah ke jkt mngais rjeki krn trkena dampak krisis mntr 1997..
    Jd tkang ft copy..sopir..stlh lulus sarjana teknik dr jogya,..mulai krja kantoran jd dosen ekonomi di univ.yg jmlh mhswnya trbesar di asia tnggara..
    Ga la,a kmudian Lalu hjrah lg ke ngara dgn 4 musim..
    Bljar bhs enggris lg tuk bs brtahan disana sbgai kuli kasar..dampe jd staf prusahaan..di ngara yg sy rasakan sperti surga itu..dan celakanya sy mlihat indonesia dr sana..waduh..
    Sy mnangis , krn tampak sprti tong sa,pah dan sodaraku pada tidur di antra sampah itu..
    Sambil mcari ilmu lg di sana sy brniat plang walau sbnrnya sdh sngat enak di sana..
    Thn 2004 sy sampe tnh air kmbali..dan nganggur lama krn memang sdh tua bnyk prushaan mnolak lmran sy dgn alasan umur jg pngalaman krja yg berbda beda..
    Jd ga pnya keahlian mnrut mereka..
    Sampe suatu saat sy krja di bdng lain lg..broker index..tukang bangunan gedung..dll sampe ke teknologi tinggi yaitu ngurusi perbaikan mesin psawat boeing dan helicopter..
    Tp ga lama sy hrs resign dr sana..dan plng ke kampung..yah jd Nganggur lg..
    Krn perlu maem..
    Ya krja apa aja deh..nguras wc, tkang batu, merakit komputer, broker tanah, cuci mobil dll…
    Thn 2011 sy dipercaya kerja formal lg di sbuah prusahaan mkanan dan minuman yg sngat bsar dan trnama di indonesia, di tugaskan dpartement teknik..3thn disana tampaknya rekan2 krja snang dgn sy krn dlm wkt singkat lgkungan kerja progresif 180 drjad brubah mmbaik..
    Dgn gaji sy yg sampe hari ini msh hampir umr..yah tentu jauh dr yg sy trima wktu di ngara lain dulu, yg sebulan aja dah bs kebeli sedan..
    Tp sy tetap brtahan..walau mkan seadan dan kos yg bareng sm orang yg profesinya tukang topeng monyet..
    Sy msh brsyukur..krn tuhan masih mngirim rejeki ke sy..

    Pertanyaan sy:

    Apakah sy harus minta gaji yg lbh tinggi ?

    Sy dah tua dan pngin memiliki kluarga jg lloh..tentu perlu uang tambahan..apa sy hrs pergi lg cari pkerjaan lain?

    Misi sy lbh ke arah. Kerja adlh ibadah di sisa umur sy ini agar msh bermanfaat bg org lain..apa ini salah ?

    Apakah teman2 yg lulusan harvard university jg sombong2 ?

    Sy kira mnusia itu sama..saat otak kiri yg slalu di asah maka otak kanan ketinggalan..dan sbaliknya..tentu di pengaruhi jg dgn budaya lingkungan dimana dia tinggal, budaya disana yg kuat membentuk pribadi selain budaya didikan ayah ibu dirmh , jg hal2 yg dialami smasa hidupnya dr kcil..
    Jd tentu mnurut pikiran sy, memang perlu adanya perhatian khusus oleh pemerintah kita mngenai bagaimana regulasi sidtem pendidikan nasional untuk mngasah otak kecil rakyatnya krn otak kcil tugasnya adalah mnyeimbangkan agar otak kanan dan kiri bkerja seimbang , tentu jg seijin hati kecil suara tuhan..( Iq, eq, sq )..apakah pndapat sy ini salah ?

    Sy terbentuk dgn pola pikir exacta..jd kadang sy jg merasa sngat jengkel dgn orng di lingkungan skitar sy yg ga paham paham dgn hal yg sy sampekan..jd kadang sy ga mau krja bareng sm mrk krn lmbat gak ngerti2 jd wkt sy hbis cuma buat skdar bikin mrk mngerti…mding kerjain sendiri dan selesai hal ini sering di lakukan oleh orng cerdas yg suka praktis.
    Atau kata orang pola pikirnya to the point ga brtele-tele..jd tentu terkesan kaku dan sombong..
    Untuk itu yg sy lakukan adalah ajaran agama aja, sabar menahan diri dan memaafkan..
    mnghargai mreka yg lbih kuat otak kananya..dlm sbuah team kerja.
    Krn mrk itu sebenernya jg di anugerahi kelebihan tersendiri oleh tuhan…krn tuhan itu maha adil..ini yg membuat saya mampu bertahan di lingkungan yg berbeda2..apakah sikap dan prinsip sy ini salah ?…krn sy blm kaya uang jg smpe hari ini ?

    Sy jd bingung, sy pernah beberapa kali dialog sama prof. Isya setiasah ko beliau tdak tampak sombong Ya..? ( maaf kl tulisan nama salah : beliau adl pngajar tetap fak Tek industri ITB waktu itu. Thn 2002 )..
    Ah udah ngantuk …mat mlm mksih ya…

    Suka

    • pak, engginer itu pola pikirnya tidak terlalu mengarah ke uang,
      tapi lebih kearah engginering, ilmu inilah yang membuat hajat hidup orang banyak menjadi lebih baik.
      contoh : Pabrik Semen Gresik, siapalagi kalau bukan insinyur dan engginer yang buat.
      dari semen, bisa buat banyak bangunan, yang bisa menjalankan banyak perusahaan.
      ilmu – ilmu khusus ini hanya didapat dari institut teknik bergengsi, yang rata2 pengajarnya profesor maupun doktor yg sudah berpengalaman.
      otodidak sangat tidak mungkin, kecuali ilmu wirausaha, IT, atau ilmu sosial lainnya

      Suka

  264. Saya lulusan S1 ITB, dan inipun saya rasakan.

    yg sebaiknya dilakukan mahasiswa ITB:

    – Mengedepankan agama lebih dari apapun

    – Berkegiatan dengan anak kampus lain saat masih kuliah

    – Menyadari bahwa kelebihan kemampuan lebih bukan untuk melumpuhkan yg lemah, tetapi untuk membantu sesama

    Mau ITB kek, mau gak kuliah juga, kita semua manusia, 1 dilebihkan untuk menolong 10 yg lain..

    Suka

  265. Najis tralalA. Komentar panjang2 amirr. Lebay. Jijaiy…aanjiiir

    Suka

  266. makanya kuliah yang bener, biasanya kuliah selain negeri banyak mainnya, buang2 waktu ga jelas
    gantian posisi si niat lebih tinggi, dan ilmunya lebih pintar
    malah sewot,

    makan tuh waktu, kacian deh yang tertinggal. (karma : kuliah dibayarin ortu 4 tahun dibuat main – main)

    Suka

  267. rizal kurniady // 01/07/2015 pukul 10:39 pm // Balas

    Saya Alumni ITB.. namun Alhamdulillah setelah lulus saya jadi turun derajat jadi Tukang Cuci Motor.. utk dapetin uang 10rb satu hari aja susah saat itu.. kejadian ini setelah gagal beberapa mulai Usaha.. Namun sekarang saya jadi Penjual Nasi Uduk di Pontianak.. alhamdulillah.. berkat kuliah di ITB juga banyak Ilmu yang bermanfaat utk alat penyambung hidup saya.. lumayan lah semenjak jadi penjual Nasi Uduk 🙂

    Suka

  268. Saya gagal masuk ITB, dan akhirnya harus rela menjadi supir saja.
    InsyaAlloh saya tidak sombong dan berusaha untuk rajin menabung 🙂

    Suka

  269. Bima Satria // 13/07/2015 pukul 2:13 pm // Balas

    Masnya bermasalah ama bermimpi makro, besar, dan skala indonesia ya?
    bayangin mas, kalo soekarno dan pahlawan2 lainnya ga bermimpi besar dan tinggi, mungkin sampeyan masih jadi budak jajahan.

    Suka

  270. ada ulasan dari tempo edisi khusus tentang klasterisasi alumni beberapa lulusan perguruan tinggi. Ini cerita teman saya (mungkin sebagian agan menganggap bhw sebenarnya inilah cerita pribadi ane, tp krn faktor ga PD). saat temen ane kerja praktek di sebuah perusahaan kontraktor saat itu menangani proyek SenCity, dia ditanya oleh pembimbing lapangan dr pihak kontraktor dlm ruangan kerjanya tentang asal dr PTN mana, temen ane menjawab dr UNDIP ya tepatnya Teknik Sipil, sejenak sang pembimbing tertawa kecil dan menjelaskan bahwa di dlm ruangan ini ga ada yg dr Undip, adanya dr UI, UGM, ITB sambil menunjukan beberapa orang dlm kantor itu. ya di “dalam” ruangan ini. kl yg dr Undip itu adek liat keluar di lapangan, itu yg pake helm proyek yg lagi pegang gulungan kertas itu dr Undip, ada bebrapa lg diantara mereka. Tau knp dek, tanya si pembimbing, karakter kuat, struggle lah yg bisa membuat mereka ada di luar ruangan (alias lebih kasar). tapi biasanya orang lapangan akan memiliki pengalaman yg lebih byk dibanding mereka yg duduk di dlm ruangan yg ber AC, mereka lebih byk berhubungan dengan segala lapisan orang dan karakter yg kuat makin terbentuk.

    Suka

  271. *pengalaman pribadi
    (perbandingan dengan univ lain dengan fakultas/jurusan/program yang sama)
    padahal ujian masuk lebih susah, ujian belum tentu lulus (lainnya 90% pasti lulus), ngak lulus ngulang semester depan… gini susah nya masih juga dihina orang2,
    sampai bertengkar ama pacar gara2 dibilang kayak robot
    tapi sebagian orang memuji2 “wah itb”
    heran ya
    itb jelek/bagus?
    tapi semua tantangan itu saya sukuri karena dapat membangun diri saya lebih maju lagi
    terkadang orang yang tidak turut merasakan hanya bisa berkomentar
    ayo jangan saling menghina

    Suka

  272. mungkin gimana orang nya mas, ga semuanya gtu kok

    Suka

  273. argumen apapun ga seaneh fakta yang kamu lihat tapi kamu menyetarakan sebuah sikap yang sebenarnya sikap setiap manusia itu berbeda – beda pada hakikatnya. analisa itu gak 100% valid… kalo sombong mungkin karna potensi diri itu wajar… kita pemenang… tapi kalo gak menang posting2 spt ini yang bertebaran di dunia maya… coba kalian analisa posting2 sejenis pasti itu marak adanya…

    Suka

  274. Saya tidak mengikuti komentar satu-satu. So, saya mau menanggapi tulisan Mas Ardi saja.
    Kesimpulannnya masuk akal. Dalam pembelajaran di Universitas ataupun di institusi pendidikan ada yang dikenal dengan istilah “hidden curriculum”. Sebuah atmosphere yang didesain dalam lingkungan kampus untuk mendukung proses akademik. Biasanya, hidden curriculum ini lah yang membentuk karakter dan identitas lulusan tersebut. Dan tentu saja tidak bisa digeneralisir, manusia lahir dan tumbuh dengan keunikannya masing-masing.

    Hidden curriculum ini terrefleksi dalam kegiatan ekstrakurikuler, lay out fasilitas fisik kampus, jadwal kuliah, materi-materi kuliah umum, dan general rules atau norma yang berlaku dinkampus tersebut. Dalam perspektif sejarah, sejarah berdirinya ITB dan UGM misalnya berbeda. UGM didirikan sebagai liberal art university, dimana kampus tersebut dari awal tertarik untuk mengembangkan keilmuan umum, seni, dan budaya menjadi fondasi kurikulumnya. It was the first liberal art university establieshed in the country. Dia tidak didirikan dengan tujuan semata-mata untuk mencetak tenaga kerja. So, nilai-nilai kemanuasiaan, empathy, dsb menjadi dasar. Beberapa kampus sejarahnya didirikan sebagai tempat untuk mempersiapkan calon ambtenar dan dokter ketika negara ini baru berdiri. Terlebih lagi, UGM berada di salah satu pusat budaya Jawa. Pengaruh budaya tersebut tentu saja kuat.

    Suka

  275. nda usah jauh2 contohnya, smua anak kos dikos ku anak ITB, dibukakan pintu pagar nyelonong kaya kucing dapur nda bilang trimakasih atau permisih!!! jorong pagar sampai kena kepalaku benjol juga nda minta maaf malah blongo kaya sapi!! mau masuk kos sama2 eh pagar dia tutup dikunci, padahal saya di belakangnya dan dia liat saya!! ini bukan 1 atau 2, tapi semuanya sama ratah,!!!!!>> pantas jika orang melihat itu semua dengan nyata, bukan menjelek-jelekan ITB, kalo cerita juga aduh bahasanya setinggi langit macam orang baru belajar ngomong, tidak bisa mengontrol nadanya apakah dia berbicara dengan orang tua atau sesamanya, apakah dia berbicara dengan orang berpendidikan atau tidak, jadi semua dihantam ratah, juniornya juga ketularan baru datang dari solo pindah ke itb pertama2nya baik, sering menyapa, eh beberapa bulan kemudian ketularan sombong dan anehnya!! pokonya aneh dah anak2nya, unik2 dan berbagay macam ragam, tapi songongnya sama ratah… REAL bukan Fiktif

    Suka

    • mohammad alfiyan nafis // 07/10/2015 pukul 8:22 am // Balas

      huss huss ini rame-rame apa ya?? ya kalo lulusan ITB kayak gtu, yg bukan lulusan ITB jangan kayak gtu, kalo d sini ada yg lulusan ITB ya jangan kayak gtu jg, gtu aja kok repot… ane masih ingat tagline milik UNAIR nih “excellent with morality”, yg namanya mahasiswa itu udah MAHA jadi lulusannya d harapkan bisa MAHA d akademik, juga d perilaku masyarakat, entah temen kampus atau orang luar..

      kalo nggak ya udah pasti belum lulus tuh bocah, kebanyakan belajar science, mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam. hahahahahaha

      salam kenal bro ane anak surabaya kampus UNTAG nih..

      Suka

      • anak itb gak pernah maen gan, belajar mulu mpe malem.. hahahahaha..
        jangankan yg anak teknik, yg anak fsrd aja songong-songong..
        padahal mereka mah enak kuliahnya, kalo nilai jelek, masi bisa ngulang..
        lah ane, kalo nilai jelek langsung DO, hahahah..

        Suka

  276. Hahaha, kata kata seperti “selamat datang siswa siswi terbaik bangsa” sampai sekarang masih digunakan, bahkan “calon pemimpin dunia”
    Di itb ada penekanan utk tidak sombong dan harus bisa komunikasi tp masih aja statement mahasiswa terbaik diulang ulang menciptakan kesombongan sy jd bingung

    Suka

  277. I do consider all of the concepts you’ve offered
    in your post. They’re really convincing and will definitely
    work. Still, the posts are too brief for beginners.
    May you please prolong them a bit from next time? Thank you for the post.

    Suka

  278. Asep bachtiar kusumanagara // 17/09/2015 pukul 8:37 pm // Balas

    bekerja samalah sama mahasiswa/mahasiswi manapun..jangan silih arogan..gimana bangsa ini mau maju???

    Suka

  279. AMEL ALVIAN // 13/10/2015 pukul 3:06 am // Balas

    ITB kan bedol desanya anak2 SMAN 3 Bandung.
    Apalagi klo dari Snmptn undangan. Di jamiiinnnnn.
    Klo dari SBMPTN…..keokk

    Suka

  280. Artike ini profokatif dan tidak bertanggung jawab.
    Pada awal cerita sudah mendiskreditkan lulusan itb.
    Yg sudah pasti jumlahnya banyak dan bakalan banyak yg ga suka.

    Di akhir cerita anda baru bilang bahws tdk mengeneralisir.
    Bagaimana td dr awal sudah bikin opini negatif.

    Alhasil ada yg pro dan kontra. Yg pro jd menghujat sementara yg kontra marah atau kesal. Sementara yg bikin artikel santai2 mengamati(bahasa kerennya observasi). Yg lain tepuk tangan liat kita begitu mudah di profokasi atas tulisan yg dibuat tanpa ada observasi hanya berdasarkan sentimen pribadi.

    Seharusnya penulis lebih bertanggung jawab dlm membuat artikel.

    Yg pasti penulis berhasil mendapatkan komentar yg banyak sekali de thn 2012 sd sekarang 2015. Selamat ya

    Suka

  281. arman sagiwandi suseno // 09/11/2015 pukul 2:15 pm // Balas

    saya sebenernya setuju sih lulusan itb sombong2 tapi gak semuanya. setelah pernah berkuliah selama 5 tahun di itb dan sudah kerja di dunia kerja menurut saya yang sombong itu biasanya orang2 yg dulunya semasa kuliah selalu mulus jalannya (ip nya bagus ga pernah nyuci dll) ditambah terlalu percaya sama paham2 yg diberikan disana dan bergaulnya pilih2. Maaf aja yah tapi menurut saya paham2 saat diberikan saat oskm kalo kalian putra putri terbaik bangsa dan harus melakukan sesuatu yg besar untuk mengubah bangsa ini dan lalalalanya itulah yg secara enggak sadar membuat anak2nya jadi idealis. Dari idealisnya itulah nanti di dunia kerja kerasa kaya yang sombong soalnya kalo udah kerja terutama kerja tim pasti ngotot dan sesuai artikel di atas ,berpikir terkadang terlalu luas yang ga bisa direalisasikan. Pergaulan sesama anak itb yg berprestasi juga makin membuat dia selalu melihat ke atas dan bersaing, tapi lupa dangan dibawah. Kalo orang2 yg biasanya bersusah payah lulusnya ipnya pas pasan dan juga ga terlalu mendewakan paham himpunan atau kemahiswaan pusat sih biasanya yang saya temui jauh lebih humble dan menyenangkan. Dan kalau udah di dunia kerja, biasanya anak itb merasa hebat sehingga suka cabut, seperti di tempat saya kerja, atasan sudah makin tidak percaya saja sama anak itb, udah dikasih duit maunya lebih terus cabut (padahal belom juga 4 bulan). Hehe cuman pendapat saya aja yah.

    Suka

  282. MAu ITB ??? Ya masuk SMAN 3 Bandung. Dijamin BEDOL SEKOLAH (“katanya”)

    Suka

  283. kalau upn yogyakarta pie mas?

    Suka

  284. Balas Dendam // 26/12/2015 pukul 6:52 pm // Balas

    ITB … WOW .. itu kampusnya SMAN 3 Bandung. Tdk terkalahkaannn !

    Suka

  285. Fauwaz Ahmad Raihan // 21/01/2016 pukul 2:20 pm // Balas

    berbicara tentang percaya diri atau sombong itu ibarat melihat 2 sisi yang berbeda dalam 1 benda,contohnya apa?uang loga/koin,tergantung dari sudut mana kita melihat sesuatu,bisa saja si A seorang alumnus ITB yang sedikit arogan sombong karna dia telah melewati ujian sedemikian mungkin dan si A dapat prestasi yang terbaik dari seluruh angkatan.

    dalam kasus ini mungkin siA menggangap itu adalah sebagian dari rasa percaya dirinya karna dia telah melewati berbagai macam ujian tetapi berbeda dengan pandangan siB yang menggangap itu adalah kesombongan.

    jadi kesimpulannya adalah banyak faktor termasuk yang disebutkan diatas baik lingkungan dll tetapi dari faktor eksternalnya pun setiap individu memiliki perspektif yang berbeda.hal yang kita dapat ambil juga bahwa manusia memiliki karakter yang berbeda-beda jadi kita hanya bisa memfilter itu dan mencari potensi-potensi anak ITB yang memiliki integritas dan etos kerja yang baik.

    Suka

  286. Kacruth Kolor Kecuth // 31/01/2016 pukul 6:48 pm // Balas

    ITB mah kampusnya anak SMAN 3 Bdg.
    Lo jgn pada iri yaaa

    Suka

  287. Lebai deh, gitu aja di bilang sombong…temen gue lebih parah dari itu dan gw biasa aja,, lagian lebih asik punya temen kayak mereka..mereka tuh lebih positif dari pada anak2 sosial sok gahool..kalo ada waktu mereka gunain buat hal yang bermanfaat…bukan buat nongkrong2 gk jelas dengerin orang ngegosip….

    Suka

  288. Menurut saya, nggak ada gunanya pada ribut di sini. Semua orang bisa menjadi pribadi yang sombong, Bahkan kita sendiri seringkali sombong dengan diri kita kan? nggak baik namanya kalau kita bilang seseorang itu sombong, namun kita nggak ‘ngaca’ ke diri kita sendiri.
    Semuanya kembali pada diri sendiri. Jika kita ingin sombong, ingat, apa tugas kita setelah lulus dan masuk dunia kerja nanti? membahagiakan ortu, membangun negeri, berbagi dengan sesama, dan tolong menolong demi kesejahteraan bersama 🙂 Ingat, tujuan yang seharusnya adalah untuk kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untuk diri sendiri. 🙂 kita nggak hidup sendirian, kita hidup bersama orang lain. bangun komunikasi, saling bantu satu sama lain 😉 nggak ada istilah lebih pintar atau lebih hebat, karena setiap orang punya kemampuan masing-masing 😉
    saya sendiri belum kuliah kakak-kakak :’D doakan diterima ya tahun depan 😉

    Suka

  289. Orang Kota // 28/02/2016 pukul 9:47 pm // Balas

    Susah orang kampung @!!.
    Mmg hebat koq dibilang sombong.
    Institut Terbaik Bumi

    Suka

    • ya betul sirik biasanya sudah jadi sifat dasar manusia indonesia, karna memang culturenya sudah begitu mungkin sejak zaman dahulu..

      Suka

  290. Saya sebagai Admin ( AR ) Izin berkomentar, biarlah alumni ITB seperti itu, karena dengan era Globalisasi seperti ini Type orang macam apapun bebas berkreasi.. ( Proses Hidup )

    Suka

  291. Jd memang ada benarnya,org itb belagu & sombong.Tetangga Kos Gw Waktu sekolah S2 di BDG–tdk perlu disebut kampusnya–anak itb yg anti-sosial..Gw sebenarnya Tdk masalah dg yg anti-sosial.Problemnya ktk dia suka merendahkan org lain..Gw ini S2 tp Gw Tdk prnh sok hebat di depan dia yg baru masuk S1.Jd inget jg kejadian Waktu ibu Susi diangkat Jd mentri kelautan,ada pakar kelautan itb mnghina beliau yg cuma lulusan smp..lalu inget jg Waktu th 2010,ada MHS itb hina org Papua dg kata2 rasis..entah apa yg ada di benak para penghina itu..semoga Allah Swt.,mennjukkan hidayah..amin

    Suka

  292. Sedih sekali baca artikel dan komen-komen negatif yang ada di atas. Jangan hanya menilai seseorang dari luar/bungkusnya saja. Kalau tidak kenal dengan orang tersebut, bagaimana bisa tahu kepribadiannya seperti apa?

    Suka

  293. Gajah Jingkrak // 08/05/2016 pukul 5:20 pm // Balas

    ITB adalah universitas teknik di Indonesia yang sudah memperoleh akreditasi ABET untuk 9 jurusan. Akreditasi ini adalah yg juga dimiliki oleh MIT, Stanford, NTU, dsb. IPB punya 1 jurusan yg memperoleh akreditasi ini. UI belum.
    DIknas menetapkan tahun lalu ITB pada posisi ranking 1 dan UI ranking 4. Data2 membuktikan. Dr Khoirul Anwar alumni ITB yg sekarang dosen di Universitas Nara Jepang, misalnya adalah salah satu kontributor dalam penetapan standar 4G LTE dengan dual fourrier transform algorithmnya. Helman Sitohang misalnya adalah salah satu anggota dewan direksi Credit Suisse, a global investment bank, satu2nya orang Indonesia yg berada dalam posisi itu di dunia pada saat ini. Kalau cuma jadi menteri di Indonesia sih jauh lebih gampang.

    Suka

  294. Apapun universitasnya, matinya pasti dikubur juga. Gak dibawa kemana2 kok itu. hehe

    Suka

  295. Penyesalan Jakarta // 03/06/2016 pukul 3:53 am // Balas

    Kakek gw ITB. Geologi. Bokap UGM, Nyokap UI. Tp gw UI. Tadinya gw pengen ITB tp ragu2.
    Nyesel kuga sih gw UI gak jadi ITB

    Suka

  296. ujian bisa datang disetiap waktu, dulu ketika dlu lum bsa apa2x dianggap biasa2x sja. skrang yg sdah berada di puncak, mreka dihdang ujian juga, yaitu rasa angkuh/sombong. itu sudah pasti ada, tpi ada baiknya kita menginstropkesi diri kita & bertindak sebgaimana seharusnya. bisa prestasi sih ok, asalkan tau bgamna harus bertindak. jngan lupakan kawan. karena sejatinya kita tdak bisa hdup dlam sndri. apalah arti prestasi tanpa adanya rasa solidaritas. smuany itu kembali pda niat dan tujuan sebenarnya.

    Suka

  297. Beberapa hal yang ingin saya tanggapi adalah:

    1. Argumen yang disampaikan Satrio Madigondo terlalu bias dan subjektif

    Karena membandingkan dengan beberapa nama universitas (UGM & UI)
    “Anak UGM memang terbukti lugu, tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan kekakuan dan kesombongannya”

    Memang terbukti? tau darimana? apakah memang bisa/ sudah dibuktikan? padahal lugu sendiri adalah kata yang sifatnya relatif (tergantung perspektif masing-masing orang)

    Kemungkinan penyebab: (bisa lebih/kurang, dan ini relatif)
    a. Benar berdasarkan pengalaman
    b. Meletakkan perasaan benci yang dalam pada satu/lebih alumni ITB (karena pengalamannya itu) lalu penulis menarik kesimpulan (Alumni ITB sombong)
    c. Rasa iri pada prestasi alumni-alumni yang mungkin tidak pernah dicapai si penulis
    d. Atau memang alumni ITB sombong

    2. Bisa dikategorikan menjelekkan nama baik universitas
    Jika artikel ini dapat merugikan universitas yang dicantumkan, bisa di banned
    Tapi ya namanya artikel, pasti dari pandangan si penulis

    3. Pembukaannya sih bilangnya ‘jangan digeneralisasi’ tapi dia sendiri mengeneralisasi
    muke gile. lucu lo.

    4. Sebenarnya maksud artikel ini bagus: Mengingatkan untuk tidak sombong dan narsis, mengetahui perspektif si perekrut dan jadi tolok ukur yang sebaiknya tidak perlu dilakukan ketika melamar kerja.

    Saran: Kalo mau buat tanggapan, sebaiknya tidak bawa nama-nama universitas, karena pesan artikel hilang dan malah membawa kontroversi.

    Suka

  298. Saya alumni UGM. Gaya, gaul dan gengsi alumni sudah bawaan dari sono-nya. Kalau memang pondasinya sdh kokoh, ditambah gelar akademis, tetap akan biasa-biasa saja. Kata pribahasa “padi yang berisi akan menunduk”, “tong kosong nyaring bunyinya”, dkk.

    Suka

  299. alumni ITB katanya “SOMBONG”?? uuumasasi ?? coba deh liat WALI KOTA TERCINTA BANDUNG RIDWAN KAMIL. Dia lulusan SMAN 3 BDG (SMA TER-FAV di BDG) dan kuliah di ITB (Arsitek) Tapi dia berjiwa sosial ko , malah humoris haha 😀

    Suka

  300. Saya Alumni IPB,
    brp komen tentang judul tsb di atas saya baca dengan cermat dan santai. Komentar saya, seolah penulis ingin membenarkan dugaan tsb tetapi “minta tolong” orang lain dgn cara upload artikel mas head hunter tsb. Sayang nya hanya meng upload dari 1 sumebr saja, jadi terkesan subyektif.

    Dalam rangka mencarikan sekolah untuk anak, sayapun pernah dolan ke ITB, di antar oleh rekan yg saat itu menjadi petinggi di salah satu fakultas unggulan ( alumni nya sdh bergaji besar di saat awal karirnya). First impression, lingkungan kampus terlalu ngampus banget, tdk terlihat banyak kantin/gazebo tempat nongkrong mahasiswa bertebaran di dlm kampus, mungkin karakter kaku terbentuk dari lingkungan kampus yg sehari hari selalu di jumpai.
    Hal lain, Rekan petinggi ITB tsb jg mengeluh, sulit rekruit / kader dosen, krn tawaran kerja di luar lbh menjanjikan. Lha trus bgmn strateginya? lama2 jurusan tsb bs tutup krn kekurangan dosen? begitu pertanyaan saya, dia menjawab iya, betul , sekarang sy rekruit dosen dari luar fakultas. Itu yg sy tahu di internal ITB nya.

    Bagaimana dg Faktor external?

    Saat sy msh di IPB, bbrp kali sy dolan ke Bandung,kok kondisi nya tdk jauh berbeda dg masa lalu?? macet dan tdk byk jalan baru yg di bangun?. Iseng2 sy tanya ke sopir taxi ” Pak, kok Bandung msh macet gini ya? tdk banyak perubahan? kan di ITB banyak org pintar, knp kok mrk nggak kasih saran pengembangan wilayah Bandung? Airport nya..masya Allah…kumuh dan maceeet ceet???. Sopir taxi hanya menjawab ” Org2 yg kuliah di ITB itu begitu lulus lgs kabur dari Bandung Neng..jadi Bandung hanya sebagai tempat belajar doang”….

    Suka

    • kurang setuju sih, di ITB berlimpah tempat nongkrong kok. Gazebonya banyak juga. Mungkin Anda ngga tau aja 🙂

      Suka

  301. Reblogged this on rifkarahmasari and commented:
    Semoga jadi renungan biar bisa jaga sikap dan aware sama diri sendiri :’) great post! (y)

    Suka

  302. fabetaworks // 31/10/2016 pukul 11:48 am // Balas

    huehehe..

    di ITB ga cuma akademiknya yang keras.
    ospeknya juga keras. (meski beda-beda, teknik umumnya keras, sbm lebih ke manage, sr lebih ke mental dan menyenangkan)
    yang pasti doktrin jurusan sangat kuat.
    di jaman saya, ospek 1 tahun. selama 1 tahun klo ketemu senior itu segan banget.
    maka nanti bisa dilihat karakter per jurusan sangat spesifik.

    nah, ospek itu (buat yang ikut) sebenarnya yang mendewasakan, mencerahkan, dan menjadikan kita punya networking; antar angkatan – ke junior – dan terutama ke senior. sehingga kita kenal di dunia kerja istilah “itb connection” terutama di tambang / minyak.

    nah, sombong atau tidak saya pikir itu relatif ya. mungkin masyarakatnya saja yang terstigma duluan.
    dari filter pertama yang sudah sangat ketat, masuk didoktrin, masuk lagi ketatnya ospek setahun dan lingkup akademik jurusan.
    outpunya pun saya yakin bukan menyengaja sombok, tapi begitulah kurang lebih kami dididik.

    klo buat saya, itu semua menyenangkan.

    Suka

  303. Mr Fredrick // 07/11/2016 pukul 2:59 am // Balas

    Apakah Anda mencari pinjaman bisnis? pinjaman pribadi, pinjaman rumah, kredit mobil, pinjaman mahasiswa, pinjaman konsolidasi utang, pinjaman tanpa jaminan, modal ventura, dll .. Atau anda telah menolak pinjaman oleh bank atau lembaga keuangan untuk alasan apapun. Kami adalah pemberi pinjaman swasta, pinjaman untuk bisnis dan individu dalam tingkat bunga rendah dan terjangkau suku bunga 2%. jika Tertarik? Hubungi kami hari ini di (fredrickpetersonloan@gmail.com) dan mendapatkan pinjaman Anda hari ini
    Salam,
    Tim investasi Fredrick Peterson

    Suka

  304. Lulus dari ITB ngapain ngendon di Bandung.
    Cari duitlah yg banyak.
    Ke Jakarta. Sukur2 ke Kalimantan atau Sulawesi & Papua.
    Duit udh kekumpul separo, baru dah kapan2 balik lagi ke Bdg buat liburan cuiyyy … !! Enjoy life.

    Suka

  305. .. itb, institut tikungan boromeus…..temenQu, gara ga dapt menyelesaikan kuliah di itb karena gangguan ekonomi, menyebut: itb kependekan dari…….; jadinya qu trenyuh, prihatin, jadi tambah sayang kpd temenqu tadi…….
    Inget ITB inget BungKarno, yang ngga kaku

    Suka

14 Trackbacks / Pingbacks

  1. Tulisan Lama Bersemi Kembali | Rumah Pikiran Ardisaz
  2. Coba perhatikan lulusan diperguruan tinggi kenapa tidak memiliki keunggulan KOMPETITIF | Mahreza Rezqy Bahtiar Gunadarma University *Akuntansi*
  3. Kenapa Katanya Alumni ITB sombong?! | Lentera Jiwaku (Kehidupanku)
  4. Catatan Kaki atau Catatan Akhir? (plus hasil browsing januari) | Ya? Apa?
  5. 10 Alasan Kenapa Harus Langsing | Traveling IndonesiaTraveling Indonesia
  6. pendaftaran mahasiswa baru universitas bsi tahun 2015Download Materi Presentasi | Free PDF Files, eBook, and Document Sharing | Download Materi Presentasi | Free PDF Files, eBook, and Document Sharing
  7. meme lucu gue mah gitu orangnya | Gambar Lucu | Meme Lucu | DP BBM
  8. meme lucu wisuda | Gambar Lucu | Meme Lucu | DP BBM
  9. Sbmptn Itb Fsrd 2016 | Berita Terbaru Terkini Hari Ini
  10. Pendidikan Anak Hatta Rajasa | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku
  11. Beasiswa S2 Qatar 2014 | Info Beasiswa Kuliah
  12. Beasiswa S2 Fisioterapi Di Luar Negeri | Info Beasiswa Kuliah
  13. Beasiswa S2 Qatar 2016 | Info Beasiswa Kuliah
  14. Beasiswa S1 Chevron 2016 | Info Beasiswa Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: