My Journal

Mengenal Dua Aliran Dalam Membangun Startup

Belakangan lagi rame dibahas istilah startup Unicorn atau yang memiliki valuasi 1 Milyar dolar. Kemudian juga sedang heboh dibicarakan startup bodong, alias tidak monetize dan hanya bakar-bakar uang investor saja. Tentu hal ini menjadi pertanyaan bagi banyak orang awam bagaimana startup tersebut bakal sukses kalau kerjaannya hanya bakar uang saja? Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit membahas tentang dua mazhab atau aliran yang ada di dunia startup.

Pertama kali saya mendengar topik ini adalah pada presentasi Bandung Venture Night tahun 2011 silam dimana itu merupakan titik lahirnya Arsanesia. CEO Tokopedia memberikan materi sebelum para peserta startup melakukan pitching tentang dua aliran dalam startup. Ada yang mengikuti mazhab “money first” ada yang mengikuti mazhab “value first.” Tentu kala itu saya sama sekali blank apa maksudnya dari mazhab itu, maklum, nubie di dunia perstartup-an. Namun kini setelah menjalani kehidupan di industri ini, saya jadi mengerti dan melihat langsung perbedaan dua aliran tersebut.

disclaimer, ini bakal jadi tulisan yang agak panjang dan sangat kental dengan opini plus subjektivitas 🙂

Aliran “Money First” vs “Value First”

Apa sih maksud dari masing-masing aliran tersebut? Mereka yang mengikuti mazhab money first beranggapan bahwa startup harus monetize secepat mungkin. Dari awal, mereka harus sudah bisa generate revenue dan scaling sesuai dengan profit yang didapatkan. Jadi memang para investor yang menyuntik dana pun mindsetnya lebih melihat bagaimana bisa monetize, bisnis model mana yang berhasil dan mana yang gagal, dan bagaimana strategi untuk mendapatkan pendapatan lebih besasr lagi.

Lalu mereka yang menganut mazhab value first di sini fokusnya adalah untuk mendapatkan pasar sebesar mungkin. Jadi tujuan awalnya adalah memiliki pengguna yang banyak dan aktif. Kalau di mazhab pertama KPI-nya adalah pemasukan, biasanya di aliran yang kedua ini yang dilihat adalah berapa jumlah user aktif perharinya, berapa jumlah download, berapa jumlah fans di Facebook, dan lain-lain. Yang mereka lihat adalah orang yang menggunakan layanan tersebut.

baca juga : Empat Tahap Membangun Startup

Kalau di dunia startup, tokoh yang sangat kental dengan aliran “money first” adalah Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (DHH) yang merupakan pendiri startup Basecamp dan penulis buku populer berjudul Rework. Lalu tokoh yang sangat lantang dengan aliran “value first” adalah Paul Graham, co-founder dari salah satu seed capital firm terkemuka yakni Y Combinator.

Bagaimana Mazhab Tersebut Mempengaruhi Startup

Untuk kebanyakan orang, pasti paham lah dengan mazhab yang pertama. Namanya bisnis ya fokusnya adalah mendapatkan keuntungan dan scaling bisnis dari untung perusahaan. Tapi tentu banyak yang bingung bagaimana bisa ada bisnis yang besar tanpa punya pendapatan? Bagaimana bisa jumlah pengguna bisa menjadi “value” yang membuat investor mau membakar uangnya di perusahaan tersebut?

Agar lebih mudah, kita coba pakai contoh ya. Untuk yang mazhab pertama gampang yah contohnya, rata-rata bisnis konvensional seperti ini. Kalau yang di dunia startup, mungkin bisa tengok Basecamp kalau yang lokal bisa coba lihat Tiket.com. Fokus mereka bukanlah mendapatkan funding dari round-ke-round tapi gimana untuk bisa monetize secepat mungkin. Nah kalau yang mazhab kedua ini yang banyak bingung yah.

Jadi di mazhab value first, startup dan investor percaya bahwa jika punya user yang banyak, maka cara monetisasi sangatlah mudah. Jika dimonetize dari awal, khawatir user akan pindah ke layanan lain yang menghadirkan paket yang lebih ekonomis atau nyaman bagi pengguna. Untuk itu mereka berusaha membuat banyak pengguna merasa nyaman menggunakan layanan mereka. Contohnya adalah perusahaan seperti Facebook, Twitter, dan Google. Kalau di Indonesia mungkin bisa dilihat Gojek atau Traveloka.

baca juga : 7 Tips Startup Dari Workshop Google Launchpad

Dengan banyak user, maka “potensi” untuk diuangkan semakin besar. Nah “potensi” inilah yang dijadikan valuasi sebuah startup mengapa startup yang belum monetize bisa dapet investasi dengan angka yang super besar. Karena asalkan punya user, pasti bisa ditemukan cara untuk menguangkannya. Yang penting sekarang user “lengket” dulu dengan layanan tersebut. Memang benar, Facebook, Twitter, dan Google akhirnya monetize. Tapi apakah sudah balik model? Lalu apakah startup dengan model “value first” lainnya berhasil monetize? Banyak juga kan yang akhirnya “roboh” dan harus diakuisisi atau tutup.

Mazhab Mana Yang Paling Benar?

Yang menjadi isu adalah kondisi dimana ada startup yang hanya menjual value, founder mendapatkan uang dari satu round-ke-round lain. Investor seri A exit dari seri B. Dan seterusnya. Contohnya Secret yang akhirnya tutup dengan kondisi foundernya sudah hidup foya-foya memanfaatkan “value” tersebut. Startup bodong ini yang dikhawatirkan oleh investor dan publik (jika mereka IPO).

Jadi apakah mazhab “money first” yang lebih baik? Belum tentu juga. Kita lihat saja layanan yang akhirnya harus tutup karena kalah “bahan bakar” dengan startup besar yang diinject oleh investor yang mengejar “value first.” Misalkan kamu bikin eCommerce khusus perkakas rumah tangga, mencoba untuk fokus di revenue dulu, terus tiba-tiba ada startup saingan dengan modal jutaan dolar dan budget iklan tak terhingga, maka layanan kamu akan langsung sepi. Atau contoh lain kalau membangun startup yang sifatnya “vitamin” atau berupa sosial media, orang tentu tidak akan mau kalau belum apa-apa sudah harus bayar atau banyak iklan dimana-mana. Facebook dan Twitter juga tidak akan sebesar sekarang kalau dari awal sudah banyak iklan atau mereka berbayar.

baca juga : Tiga Kesalahan Yang Sering Dilakukan Oleh Startup Baru

Tapi namanya “politik digital,” setiap tokoh berusaha frontal menyampaikan pikirannya bahwa mazhab mereka yang paling benar. Mereka yang menganut money first beranggapan kalau startup tidak monetize itu delusional. Para founder dipaksa untuk mengejar exit dalam waktu dekat yang tidak sewajarnya menjadi target. Biasa para VC yang mengantu mazhab value first ini akan menargetkan 4-5 tahun harus sudah exit (akusisi atau IPO). Setiap tahun harus bisa fund raising mencari seri berikutnya. dst. Lalu untuk yang penganut mazhab “value first” akan menganggap kalau startup tidak scaling dengan cepat dan mengakuisis market dengan agresif, itu bukan startup. Itu cuma bisnis biasa. Mindsetnya startup itu 2 dari 10 pasti gagal, jadi harus bisa cepat mengejar target atau mati di dalam proses tersebut (lalu buat startup baru lagi atau pivot).

Pendapat Saya Tentang Kedua Mazhab

Nah, ini saatnya sedikit berfilosofi dan beropini. Bagi saya, kedua mazhab tersebut tidak ada yang salah dan kembali kepada jalan hidup masing-masing founder yang ingin berkarya. Arsanesia sendiri menganut mazhab “money first” tapi tidak menutup kemungkinan ada produk atau lini bisnis yang akan diperlakukan untuk “value first.” Tapi core bisnisnya tidak untuk exit dalam waktu cepat dan ingin bisa long lasting. Jadi cenderung memang ke sayap kiri.

Memang potensi “keberhasilan” dan “kekayaan” yang bisa dikejar jika menganut aliran kanan akan lebih besar. Tapi tentu pressure dan fokus bisnis yang dikembangkan berbeda. Saya membandingkan dengan teman-teman saya (yang di dunia game) yang saat ini sedang fokus fund raising, cari investor, fokus menguasai market di seluruh dunia, dll. Jika memang itu yang mereka nikmati untuk dijalani dan menjadi definisi sukses mereka, maka itu adalah mazhab yang tepat untuk mereka.

baca juga : Perlukah Startup Game Mencari Pendanaan Dari Venture Capital?

Kalau sudah bicara sukses dan bahagia, maka kita sudah bicara subjektivitas tiap orang yang berbeda-beda. Ada yang ingin membuat perusahaan untuk jadi the next Facebook, ada yang membuat perusahaan dengan tujuan ingin membantu petani. Dengan definisi bahagia yang berbeda, maka jalur yang perlu diambil juga tentu berbeda. Yang penting visi dan filosofi hidup kita jangan sampai bertentangan dengan aliran dalam membangun startup yang kita ambil.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

5 Comments on Mengenal Dua Aliran Dalam Membangun Startup

  1. Uang vs value. Hahahaha. susah nih mas untuk dijawab. 😀

    Suka

  2. kedua aliran sih oke semua.
    tapi klo saya pribadi ya money first. karna kita bisa lihat indikator start up memang layak monetasi or not.
    buat apa ngerintis startup fallue besar tapi giliran di monetisasi merosot ussernya . trus pindah ke ranah startup lain yang gratissss…..
    selain itu saya pribadi yakin klo memamang dari awal sudah monetisasi dan lolos dalam artian berkembang dan lancar. pasti vc ngk bakal banyak mikir tuk infest ke startup. soo pasti tu barang ( startup ) soo good. ibarat kata ngk di infest aja beranak apalagi di infest wuiiihhhh jadi kayak apa tuhhh pasti bakal makin banyak beranaknya….
    thanks roomnya…
    semoga succes

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. [GoogleForMobile2016] Peta Dunia Digital di Indonesia – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: