My Journal

Cara Mengenalkan Game Untuk Anak #BelajarPakaiGame

Kalau di dua tulisan terakhir saya tentang #BelajarPakaiGame saya sudah membahas hal yang sifatnya konseptual, sekarang saya akan mulai masuk ke pembahasan yang aplikatif yah. Dimulai dari tentang cara mengenalkan game untuk anak. Cara mengenalkan game yang benar ini penting sekali karena ini akan menjadi pondasi dan mindset yang akan tertanam pada anak mengenai bagaimana posisi video game di dalam kehidupan mereka nanti. Jika kita kenalkan game sebagai alat agar anak klo lagi nangis jadi anteng, maka dalam proses tumbuh besar anak akan menjadikan game sebagai pelarian ketika sedih. Tapi jika kita kenalkan game adalah salah satu media untuk kita bermain dan memiliki aturan yang jelas tentang bermain game, maka ke depan anak akan menganggap game hanya variasi aktivitas yang menyenangkan saja. Ini pun nanti efeknya akan juga berpengaruh ke apakah anak akan jadi kecanduan game atau tidak. Berikut beberapa tips untuk mengenalkan game kepada anak.

Kenalkan Literasi Digital Sedini Mungkin

Tips yang pertama adalah konsep literasi digital kepada anak harus dikenalkan semenjak kecil. Literasi digital semenjak dini ini bukan berarti kita langsung suruh anak baru lahir main handphone yah. Literasi digital ini memperkenalkan apa itu dunia digital secara bertahap kepada anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. Tahapan-tahapan seperti apa yang perlu diperkenalkan kepada anak pada masing-masing fase tumbuh kembang? Ini saya coba mengacu kepada guideline dari asosiasi dokter anak di Amerika yang mengeluarkan guide dalam konteks bagaimana anak mengonsumsi digital, baik itu di handphone maupun di layar TV.

Untuk anak usia 2 tahun ke bawah, tahapan tumbuh kembang yang sedang sangat banyak terdevelop adalah kemampuan motorik kasar dan kognitifnya. Anak usia tersebut mulai belajar mengenal suara orang tuanya, mulai belajar menggenggam, belajar merangkak, belajar berjalan, belajar merangkai kata, dan seterusnya. Di fase ini, anak butuh banyaaaakk sekali stimulus aktif dari orang tuanya. Selain karena di golden age ini fase tumbuh kembang otak sedang sangat rapid-rapidnya, usia ini adalah waktu paling krusial untuk membangun bonding dan trust antara orang tua dan anak. Jadi kalau bisa di usia ini, orang tua bener-bener memproritaskan pendampingan anak dibanding fase lainnya. Nah, karena itu, proses pengenalan literasi digital pada anak baiknya tidak terlalu intensif. Lebih banyak di pemberian informasi dan contoh yang baik.

baca juga : Agar Anak Tidak Kecanduan Game #BelajarPakaiGame

Informasi dan contoh itu seperti kalau lagi di depan anaknya, sebisa mungkin gak sambil main gadget. Kalau lagi harus pakai gadget, bilang ke anaknya “papa mau kerja sebentar yah” atau “papa mau terima telpon dulu” jadi anak kenal dengan fungsi gadget di awal sebagai sebagai tools untuk orang tuanya kerja atau untuk komunikasi. Di usia ini kalau bisa jangan dikenalkan bawah gadget adalah media bermain dulu. Kalau perlu, gunakan gadget untuk komunikasi dengan keluarga atau saudara jauh. Kita kenalkan handphone atau laptop untuk video call. Mungkin bisa juga untuk memainkan lagu-lagu. Tapi jangan sampai jadikan handphone sebagai “source of happiness” anak.

Mulai Mengenalkan Hiburan Digital Kepada Anak

Seiring waktu, kita bisa perlahan-lahan mengenalkan unsur hiburan lainnya dari gadget. Tapi bertahap dulu dari yang sifatnya pasif. Semisal dimulai dari menonton. Youtube sudah bisa diperkenalkan kepada anak. Asalkan diawali dengan pijakan yang benar. Baca juga yah tentang pijakan yang benar agar anak tidak jadi kecanduan Youtube di tulisan saya yang sebelumnya. Tips untuk mengenalkan Youtube ke anak untuk di awal-awal adalah pastikan orang tua pegang kendali. Video apa yang ditonton, berapa lama nontonnya, dan bagaimana memilih videonya. Ada kok channel2 yang emang dibuat untuk anak-anak yang cukup edukatif. Tapi jika orang tua gak ikut moderasi, hati-hati dengan recommended video-nya youtube. Bisa jadi bukan video yang bagus buat anak. Tipsnya, bisa kita buatkan playlist video yang sudah kita filter sehingga ketika mau nonton, bisa ambil playlist itu saja. Terus lebih aman lagi, nontonnya di TV, jangan di HP. Kalau di TV, anak gak bisa pilih rekomendasi berikutnya karena bisa kita antrikan atau pakai playlist. Selain itu, klo di TV, orang tua bisa lebih aware anaknya lagi nonton apa dan juga lebih bagus buat mata anak kalau nontonnya dari jauh. Kalau di handphone atau tablet kan relativf lebih dekat ke mata anak. Sama lebih the best lagi klo kita bayar Youtube premium jadi gak keluar iklan-iklan yang berbahaya untuk anak. Atau kalau enggak, bisa download Youtube Kids yang isinya udah difilter untuk anak-anak dan gak ada iklannya.

Terus kapan saatnya diperkenalkan dengan game? Gak ada usia yang pasti sih, tapi kalau kamu rasa literasi digitalnya sudah baik, sudah bisa diatur kapan harus main gadget dengan konsisten, dan sudah bisa dimoderasi dengan baik oleh orang tuanya, di situ baru bisa mulai memasukan game ke dalam kehidupan anaknya. Sebisa mungkin di delay selama mungkin yah, karena di usia 2-3 tahun tetap lebih butuh stimulasi motorik kasarnya. Tapi kalau ingin sudah diperkenalkan, sudah ada game-game yang didesain untuk anak usia 5 tahun ke bawah. Game-game ini minim interaksi dan lebih seperti cerita interaktif. Aku ingetin lagi yah, game ini didesain untuk menyenangkan. Interaksinya, animasinya, feedback audio dan visual, warnanya, dan desain gamenya memang dibuat untuk memacu hormon dopamin. Jadi pasti anak akan seneng main game. Untuk itu, ketika kita berniat mengenalkan game, kita harus juga memberikan effort lebih untuk aktivitas bermain di luar game sehingga bisa sama menyenangkannya, bahkan lebih menyenangkan buat anak.

baca juga : Mengenal Game Sebagai Media Untuk Belajar Pada Anak-Anak Dengan Literasi Digital #BelajarPakaiGame

Dengan membangun pondasi yang baik dalam memberikan gadget ke anak sedari kecil dan effort yang maksimal dari orang tua untuk memoderasi dan memberikan alternatif permainan yang super menyenangkan, akan lebih mudah bagi anak ke depannya untuk tumbuh bersama game.

Cara Moderasi Konten Video Game

Ingat, anak sampai usia 12 tahun belum waktunya untuk punya handphone atau gadget nya sendiri. Berbagai sosial media dan layanan digital mensyaratkan usia minimal 13 tahun untuk bisa bertanggung jawab dengan aktifitas di sosial media. Ini bukan tanpa sebab. Dikarenakan anak usia ini, kematangan emosionalnya belum siap. Peran orang tua masih sangat vital untuk mendampingi kegiatan anak di dunia digital, apalagi bermain game. Jadi peran moderasi orang tua harus ada di fase ini. Jangan sampai anak dibiarkan beraktivitas di dunia digital tanpa moderasi yang baik.

Untuk anak yang masih kecil banget, sebaiknya jangan biarkan bermain solo. Solo itu artinya kita berikan gadget terus kita tinggal. Orang tua klo bisa ada disampingnya, either ikut bermain sama anak atau menonton anak bermain. Ini penting untuk membangun trust bermain bersama orang tua sehingga ketika remaja nanti gak akan aneh lagi kalau berdua sama orang tuanya di dunia digital. Keberadaan orang tua di samping anak juga penting untuk memberikan konteks dan feedback dari aktivitas anak bermain. Misal ada adegan yang tidak kita duga, misal kekerasaan atau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan norma sosial yang kita pegang, kita bisa memberikan konteks bagi anak. Konteks ini penting banget untuk dibangun semenjak dini dan diberikan dengan bahasa yang logis juga. Misal, kalau ada game yang ceritanya kurang bagus buat anak-anak, kita bisa bilang “wah ini gamenya ternyata bukan untuk umur kamu nih, nanti kalau kamu sudah lebih gede, kita boleh main ini lagi. Sekarang kita main yang lain saja yuk.” Dengan mengajarkan filtering konten kepada anak semenjak dini, bahkan anak saya bisa menilai sendiri klo lagi main game atau nonton youtube yang kontennya dewasa, dia bisa bilang kalau itu bukan video untuk anak-anak dan skip ke video lain. Inget, kasih tahunya yang logis dan dengan nada yang baik yah, jangan yang tiba-tiba dimarahin. Karena di usia ini, kita perlu banget bangun trust dan keterbukaan anak untuk berani bercerita dan merasa nyaman untuk bilang apapun ke orang tua.

baca juga : Ketika Teknologi, Entertainment, dan Ilmu Psikologi Bertemu

Lalu moderasi yang kedua adalah konten. Pastikan kita pelajari dulu konten game nya sebelum diberikan kepada anak. Ideally, kita bisa membiarkan anak memilih dari pool of opsi game yang mau mereka mainkan. Tapi kan store di Google dan di Apple gak ada fitur itu yah. Makanya biasanya gerbang paling aman adalah kita klik ke sub kategori dari game yakni kategori kids. Lalu di kategori kids itu, biasanya ada range umurnya. Nah panduan itu bisa dijadikan gerbang awal untuk kita memilihkan konten. Apakah semua yang ada di kategori itu aman buat anak? Hampir sebagian besar aman yah kalau di Apple. kalau di Google, masih ada yang lolos-lolos. Cuma emang paling tricky adalah kalau kita search by topik. Misal anak lagi suka dress up, terus kita search dress up. Itu kadang ada yang ikonnya kayak game anak-anak, tapi pas dimainin, kontennya gak ramah anak atau terlalu banyak iklannya. Saya gak menyarankan mengunduh game dengan iklan yah, mending cari yang berbayar tapi bersih dari iklan. Gak mahal kok game-game begitu. Apalagi kalau yang ada unsur edukatifnya. Itung-itung beliin buku pelajaran aja buat anak.

Kemampuan moderasi ini akan menjadi modal penting juga bagi anak ketika tumbuh besar dan berinteraksi di dunia digital. Mereka jadi paham ada game untuk usia tertentu, ada konten yang sesuai dengan nilai yang di pegang di keluarga dan ada yang tidak tepat, dan yang terpenting adalah membangun trust untuk selalu bercerita dan terbuka dengan orang tua. Keterbukaan itu membuat kita sebagai orang tua bisa lebih tenang dari potensi anak terpapar konten yang bukan usianya, terpengaruh konten hoax, hingga bertemu dengan predator anak.

Komunikasi Dan Bermain Dengan Anak

Kunci dari pengenalan literasi digital yang baik sedari dini dan memoderasi aktivitas digital pada anak adalah komunikasi. Kemampuan komunikasi orang tua kepada anak ini menjadi sangat penting. Cara ngomong kita, momen ngomong kita, cara membuat aturan, nada bicara, gesture menemani anak, cara mengoreksi konten, dan banyak sekali skill-skill komunikasi yang harus kita siapkan agar proses pengenalan ini berjalan lancar. Ingat, orang tua juga perlu belajar. Kita waktu kecil gak kenal istilah literasi digital karena jaman dulu orang tua kita juga gak kenal hal itu. Literasi digital adalah barang baru nih. Oleh karenanya kita perlu memulai untuk belajar agar anak gak terjebak dalam dunia game dan digital.

Mungkin nanti kita bisa bahas di tulisan berbeda tentang komunikasi dengan anak yah. Tapi yang jelas kalau frekuensi tidak sama, pesan kita gak akan bisa ditangkap dengan baik oleh anak. Posisikan diri kita dengan baik karena tujuan kita adalah untuk mendidik dan mempersiapkan anak dengan bekal yang cukup agar lebih matang.

baca juga : Pentingnya Melatih Kemampuan Kognitif Pada Anak

Lalu yang terakhir dan gak kalah penting, dalam proses membangun jembatan komunikasi yang baik dengan anak, bermainlah bersama anak. Tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia digital. Sebagian besar game anak itu membutuhkan kita sebagai orang tua untuk “turun” ke dalam dunia anak agar bisa bermain bersama. Tapi ada juga “game” yang bisa dinikmati sekeluarga sehingga orang tua dan anak bisa sama-sama senang. Dan anak itu ngeliat loh. Dia kalau liat kita seneng mainnya, dia juga akan jadi lebih seneng. Jadi refreshing bareng dapet, kualitas bonding juga dapet. Nanti ke depan saya akan banyak kasih review game-game yang pas yah untuk bermain bareng bersama keluarga kayak game Just Dance, Mario Party, Overcooked, dan lain-lain.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat yah bagi para orang tua yang sedang ingin belajar. Video game itu punya banyaaak banget efek positif bagi anak dan keluarga. Tapi sama seperti medium lainnya, kalau tidak diberikan dengan cara yang benar, porsi yang sesuai, dan konten yang pas, tentu alih-alih bermanfaat, malah jadi destruktif. Dengan tulisan-tulisan #belajarPakaiGame ini, aku coba untuk berbagi informasi dan pengalaman agar kita bisa belajar memakaikan game untuk mendampingi tumbuh kembang anak. Sampai bertemu di tulisan berikutnya yah. Kalau ada request topik, silahkan tinggalkan di kolom komentar 🙂

About Adam Ardisasmita (1207 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: