My Journal

Ketika Teknologi, Entertainment, dan Ilmu Psikologi Bertemu

Saya ingat banget di awal-awal Arsa Kids berdiri sekitar akhir 2015, saya mencoba melakukan riset dan validasi mengenai premis Arsa Kids yakni media game apabila dirancang dengan konten yang tepat dan diberikan kepada anak dengan cara yang benar akan memberikan banyak sekali efek positif. Di momen ini saya coba mengajukan konsep Teknologi dan Entertainment dalam bentuk mobile game sebagai tools untuk membantu orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak. Di awal, yang kami buat di Arsa Kids pure based on pengalaman pribadi saya sebagai seorang ayah. Mencoba melihat topik-topik apa yang menarik untuk anak dan diubah menjadi game. Kita dulu bikin game tentang alfabet, tentang bentuk, dan lain sebagainya. Udah banyak sih memang yang bikin game yang serupa di market, tapi rasanya tidak ada salahnya apabila orang tua memiliki opsi lain.

Kemudian dalam proses riset itu, saya mencoba diskusi dengan ekspertis di area parenting dan edukasi mulai dari guru, psikolog, orang tua, dan praktisi-praktisi di pendidikan keluarga lainnya. Saya inget banget ada suatu meeting dimana ketika saya bertemu dengan teman saya yang psikolog anak, praktisi montesori, dan pemilik daycare, teman saya membawa temannya lagi yang juga pemilik daycare. Lalu ketika teman saya mengenalkan saya bahwa saya bikin game untuk anak-anak, saya langsung mendapat respon yang amat sangat negatif dari dia. Game dianggap sebagai penyebab anak-anak di daycare-nya mengalami kendala seperti speech delay hingga permasalahan lainnya. Dan sudut pandang ini ternyata tidak satu dua orang saja. Masih ada banyak sekali stigma yang menganggap game sebagai penyebab dari banyak masalah yang dialami anak. Itu mengapa saya juga merasa kesulitan untuk bisa mencari partner di dunia pendidikan atau psikologi yang bisa membantu Arsa Kids membuat konten yang baik untuk anak ketika mendengar kata game saja, sudah mendapatkan rejection.

Sampai akhirnya di awal tahun 2019 saya bertemu dengan seorang yang bergerak di bidang psikologi anak dan keluarga yang dikenalkan oleh Aziez, salah satu rekan kerja saya di kantor. Saya dikenalkan dengan Putri (yang entah kenapa sama Aziez dipanggil Puput) via WA dan setup waktu untuk ketemuan. Saya coba meeting dengan Putri yang sedang mengambil pendidikan master di psikologi UI untuk berdiskusi tentang Arsa Kids dan solusi yang kami tawarkan untuk memecahkan masalah di dunia parenting dan tumbuh kembang anak. Dan surprisingly, Putri memiliki visi yang sama. Saya inget banget Putri bilang kurang lebih gini. “Ada banyak banget riset yang menunjukan bahwa game adalah media yang bisa membantu berbagai masalah pada anak, tapi anak-anak psikologi biasanya hanya bisa sampai tahap riset dan outputnya hanya jurnal di perpustakaan. Kita punya ilmunya, tapi gak punya kemampuan untuk mewujudkannya jadi produk yang bisa digunakan masyarakat luas.” Dan saya pun berkata bahwa Arsa Kids justru kebalikannya. Kita punya visi untuk solving masalah edukasi dengan teknologi, kita bisa bikin produknya, tapi kita gak tahu ilmunya yang bener itu gimana. Dan tentu Putri juga sependapat bahwa game itu hanya media dan bukan root cause apabila ada anak yang mengalami permasalahan ketika bermain game.

Saya sendiri merupakan anak yang dari kecil sudah terpapar dengan teknologi dan game. Di umur kurang dari 2 tahun waktu bapak ibu kuliah di Perancis untuk program doktor mereka berdua, ada video rekaman saya sedang main game di komputer macintosh jaman bahela. Saya pun masih punya memory ketika saya TK, saya main Nintendo dan Sega. Lalu semenjak itu pun, rasanya kehidupan masa kecil saya gak luput dari game seperti PS 1, Nintendo 64, PS2. Baru ketika saya masuk asrama, saya ketinggalan update tentang game (era PS3 saya skip). Baru ketika kuliah saya kembali main Game baik itu game mobile maupun game MMORPG. Apakah saya kecanduan game? Apakah prestasi saya menurun? Jawabannya tidak. Bahkan saya bisa bilang sebagai anak yang cukup berprestasi. Waktu SMP selama tiga tahun salah selalu rangking 1 di sekolah. SMA pun saya masuk sekolah favorit yang persaingannya sangat ketat yaitu MAN Insan Cendekia Serpong. Pas kuliah saya bisa masuk IT ITB yang juga grade nya sangat tinggi. Lulus kuliah pun cumlaude. Jadi apakah main game membuat saya tidak berprestasi tidak terbukti selama diberikan dengan cara yang benar. 

Gimana dulu orang tua saya memberikan saya game? Yang jelas CD atau kaset apa yang mau saya beli tentu difilter oleh Bapak Ibu. Gak semua jenis game boleh dibelikan. Waktu SD, saya paling suka main Magic School Bus, game tentang ilmu pengetahuan yang dikemas dengan bagus sekali. Game-game yang berbau violence pun ada, tapi tentu ada batasannya. Saya boleh main game dragon ball Z yang walaupun itu ada berantemnya, tapi masih dalam taraf wajar. Lalu yang gak boleh ada game Mortal Combat yang isinya terlalu violence dan vulgar. Game Smackdown pun masih boleh. Lalu kalau dari sisi aturan, saya inget banget klo hari sekolah hanya boleh main game sampai magrib, abis itu harus belajar. Kalau sabtu minggu, boleh tuh main game lama-lama. Bahkan saya inget banget temen-temen komplek saya suka nginep di rumah saya begadang buat main PS bareng. Saya paling suka klo lagi momen liburan puasa, itu boleh sesekali main game dari buka puasa sampai sahur hahaha. Cuma pinternya orang tua saya tentu sering ngajak anak-anaknya beraktivitas di luar juga jadi gak melulu main PS tiap hari. 

Nah, back to story sebelumnya, akhirnya Arsa Kids punya tambahan expert di psikologi anak dan keluarga yang bisa memberikan warna dan value tambahan buat produk-produk Arsa Kids. Sepanjang tahun 2019, kami merancang game yang gak hanya menambah wawasan, tapi juga bisa solving masalah yang dialami oleh banyak keluarga. Lengkap sudah kami memiliki elemen teknologi, entertainment, dan psikologi di dalam produk kami di Arsa Kids. Produk yang kami rancang hampir setahun ini sekarang sudah rilis di Google Play dan Apple Store, namanya Pippo Brain Training. Apa sih Pippo Brain Training dan kenapa itu menurut saya sangat spesial, tunggu tulisan saya selanjutnya yah 🙂 Sementara kalian bisa coba mainin dan coba isi feedbacknya yah how do you think about it. Produknya untuk anak 4-12 tahun yah, jadi klo usianya di bawah itu masih belum bisa main. 

About Adam Ardisasmita (1150 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: