My Journal

Perlukah Startup Game Mencari Pendanaan Dari Venture Capital?

Kemarin saya menyempatkan hadir ke acara konverensi TechinAsia 2015 di Balai Kartini. Walaupun saya hanya 1,5 jam di sana karena sedang padat-padatnya kerjaan, saya mendapatkan banyak hal. Saya sempat ketemu sama teman-teman yang buka stand di sana kayak Goers, Obralindo, Qiimee, DX Microsoft, Own Games, dll. Ketemu teman-teman yang sama-sama lagi ngider di acara. Sempet ngegosip-gosip digital. Bahkan sempet wawancara singkat tapi serius dengan dua orang developer game.

Setelah menyapa Eldwin dari Own Games di boothnya, saya menyapa Indra dari Artoncode. Lalu di tengah percakapan, datanglah Tedo dari Alkemis. Kebetulan saya juga baru pertama ketemu Tedo di sini ini (inilah bagian dari “the power of accidental meeting“). Ngobrol-ngobrol singkat, sampai pada percakapan bahwa studio game bukan tempatnya untuk buka booth di TechinAsia, kecuali klo perlu fund raising. Artoncode dan Alkemis pun sedang mencoba mencari partner yang mungkin bisa untuk ke seri berikutnya. Sekedar informasi saja, Artoncode mendapat seed funding dari Emtek dan Alkemis mendapat seed funding dari East Ventures.

baca juga: Kekuatan dari Accidental Meeting

Lalu melihat kesamaan tersebut, saya jadi penasaran, sebenernya perlu gak sih game developer mencari funding ke venture capital? Seperti yang saya pernah bahas sebelumnya di blog, industri game itu beda jauh dengan eCommerce. Itung-itungannya beda. Terus apa yang ingin dikejar oleh investor.

Keduanya kompak menjawab kalau bisa survive sendiri, mending jalan sendiri. Kalau butuh dana, bisa masuk ke Kickstarter aja. Tapi kalau mau cari investor dari venture capital, harus bener-bener siap dengan pace yang akan sangat tinggi. Tedo sendiri cerita kalau hampir tiap hari dia harus mengerahkan fokus yang tinggi untuk membuat berbagai keputusan penting. Ibarat naik sepeda, sudah tidak bisa memperlambat lagi, harus terus mengayuh. Venture Capital akan terus mendorong agar perusahaan kita tumbuh pesat dengan cepat.

baca juga: Perbedaan Pola Pikir Antara Venture Capital Dengan Studio Game

Lalu terkait itung-itungan game, bagi VC di tahap seed funding, yang menjadi pertimbangan adalah foundernya. Mereka invest ke founder yang diyakini punya komitmen, punya skill, dan punya determinasi untuk menjalankan perusahaan. Dari titik itulah mereka akan diminta untuk terus mengembangkan perusahaannya, dari sisi produk, user, dan terutama revenue untuk bisa lanjut ke seri berikutnya. Yang jelas ketika bersama VC, mindsetnya adalah untuk bisa exit dalam waktu singkat. Makanya mereka akan push perusahaan memiliki kurva pertumbuhan yang eksponensial atau istilahnya hockey stick curve. Baru nanti ketika memiliki pertumbuhan dan data yang oke, dimulai lagi fund raising untuk seri A.

Makanya saya salut sama Touchten yang bisa sudah sampai seri C mulai dari funding dari Ideosource, CyberAgent, dan terakhir Gree. Artinya mereka sudah mampu menunjukan pertumbuhan yang signifikan sesuai dengan harapan para investornya. Mendengar cerita dari Indra dan Tedo tentang bagaimana pace kerja mereka ketika ada VC, gak kebayang ketika jumlah investor di perusahaan semakin banyak dengan funding yang semakin besar :p

baca juga: Perlukah Startup Mencari Investor?

Jadi perlukah Game Developer mencari Venture Capital? Hmm kayaknya jawabannya berbeda tergantung studio masing-masing. Selain VC, cara mendapatkan dana masih banyak kok. Bisa bootstrap dengan proyek, bisa private equity, bisa juga crowdfunding, dan masih banyak lainnya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Yang jelas tulisan ini mungkin bisa memberikan gambaran kelebihan dan kekurangan mendapatkan dukungan dari Venture Capital.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Comment on Perlukah Startup Game Mencari Pendanaan Dari Venture Capital?

  1. melihat pacar yang sekarang kerja di touchten… Pacenya tinggi sih, (dinilai dari sebelum jam 17 maka telp/line kemungkinan besar ndak diangkat/dibaca) (itupun kalau ndak ada meeting dsb selepasjam 17) ……….

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Mengenal Dua Aliran Dalam Membangun Startup | Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: