Iklan
My Journal

Google GameDevFest 2015: Bagaimana Membuat Studio Game?

Belum lama ini saya diminta untuk mengisi sebagai pembicara dalam acara Google Developer Group GameDevFest 2015. Line up speaker pada acara ini juga tidak main-main. Temen-temen gamedev dan startup senior dipanggil ke sini untuk menginspirasi dan berbagi dengan para peserta GameDevFest 2015.

Saya mendengarkan dan mencatat beberapa sesi menarik terkait GameDevFest seperti tentang publishing, crowdfunding, monetizing, dan lain-lain. Saya coba usahakan agar bisa re-share topik tersebut di blog yah. Ini kesibukan saya mengurus new born, Jenna Ardisasmita, membuat saya agak kewalahan membagi waktu :p

Gamedevfest 2015

Sharing bareng WIlson dari Mintsphere

Yang pertama ingin saya share adalah tentang sesi dimana saya dan Wilson dari Minstphere menjadi pembicara. Topiknya mungkin akan berguna bagi kamu yang baru ingin membuat studio game sendiri yakni “How to start a game studio.” Mungkin pendekatannya ada yang beberapa mirip dengan startup pada umumnya, ada yang memang berbeda domainnya dalam sisi game studio. Berikut beberapa tahapannya:

Definisikan Visi Studio Kamu

Bagian paling awal adalah mendefinisikan studio kamu. Apa visi yang ingin dikejar dari studio kamu. Hal ini cukup penting karena akan menjadi pembeda antar satu studio dengan studio lainnya. Visi dan idealisme ini yang akan menjadi nyawa dalam mengembangkan game hingga menjadi magnet bagi orang-orang untuk bergabung atau memainkan game kamu.

Fokus di Pippo :)

Fokus di Pippo 🙂

Kalau kamu lihat, beberapa studio game senior sudah memiliki warnanya masing-masing. Warna ini bisa macam-macam, bisa style game, bisa genre, bisa strategi, dan lain-lain. Contohnya, kalau Arsanesia, saat ini kita fokus mengembangkan brand Pippo. Kalau Toge Productions, fokus dengan game bergaya retro di platform steam. Tinker fokus dengan style visual Jepang. Dan masih banyak contoh lainnya yang menjadi warna dan roh dari suatu studio.

Cari Target Market Yang Spesifik

Ini merupakan langkah yang cukup urgent. Kalau kita bicara game, kita bicara sebuah spektrum yang sangat luas. Mulai dari game hardcore seperti DOTA hingga game casual seperti Flappy Bird. Ada game sosial ada juga game yang fokus dengan cerita. Ada game yang bisa dimainkan hanya dalam waktu singkat, ada yang butuh waktu lama. Jadi pilihan game yang ingin dibuat ini ada banyak sekali. Penting bagi kita untuk fokus di satu niche atau market tertentu.

Bersama Aji dari Tinker, Sesa dari Kibar, dan Wilson dari Mintsphere

Bersama Aji dari Tinker, Sesa dari Kibar, dan Wilson dari Mintsphere

Pertanyaannya, bagaimana cara memilih marketnya? Cara paling gampang adalah melihat resource yang kita miliki. Ada berapa orang di tim kita? Apa saja keahlian mereka? Berapa panjang nafas (dana) yang kita miliki untuk develop game? Ini semua akan menjadi boundary target game yang bisa dikembangkan. Yang sering terjadi adalah banyak developer pemula yang baru seorang diri, sudah ingin membuat game selevel Clash of Clans. Yang seperti itu tidak akan bisa terwujud kalau tidak memiliki resource yang cukup.

Rilis Playable Secepat Mungkin

Berikutnya adalah rilis game yang bisa dimainkan secepat mungkin. Banyak dari kita yang lama di proses pra-produksi, atau lama dinambal fitur sana-sini, atau justru lama dipolishing. Menurut saya, untuk game studio pemula, ada baiknya merilis playable game secepat mungkin. Minimal bisa untuk mendapatkan feedback hingga menaikan mental serta semangat timnya.

baca juga: Tips Mengembangkan Startup Dalam Talkshow Kummaha TV

Itu mengapa genre game, scope, dan market yang dituju sangatlah penting diawal agar timeline pengerjaan gamenya bisa dibuat dengan cepat. Kebanyakan kasus bikin konsep, akhirnya hanya jadi archive. Bikin game setengah jalan, udah harus ditutup proyeknya. Untuk mencegah hal itu, kita harus punya timeline yang jelas dan cepat untuk merilis playable, entah prototype, alfa, beta, atau versi jadinya.

Cari Publisher dan Cari Mentor

Cerita tentang publishing tentu sebuah topik sendiri. Game bagus pun belum tentu bisa sukses tanpa ada kekuatan untuk publishing. Ada dua jalur yang bisa kita kejar, jalur publisher dan jalur indie. Untuk yang mudah, cari publisher yang siap mem-backup marketing budget kita. Dari situ, game kita akan bisa lebih mudah untuk bisa terlihat oleh user dan diunduh.

Jangan Sungkan Mencari Mentor

Jangan Sungkan Mencari Mentor

Kalau mau coba jalur indie, saran saya cari mentor. Biasanya mereka sudah tahu trik-trik untuk genre game mereka agar bisa masuk ke pasar. Cari mentor yang game-gamenya setipe sehingga bisa lebih mudah untuk mendapatkan masukan yang relevan. Banya kok studio game senior yang mau jadi mentor. Kitanya aja biasa malu-malu.

baca juga: Pentingnya Bertanya dan Memiliki Mentor Dalam Membangun Startup

Kayak saya sendiri, saya selalu open untuk yang mau mentorship. Tiap selesai acara, saya selalu share email saya, bagi-bagi kartu nama saya, dan mengundang semuanya untuk berdiskusi. Tapi pada kenyataannya, hanya 1-2 orang dari puluhan atau ratusan orang yang hadir di acara tersebut yang menindaklanjutinya.


Terakhir sebagai penutup, moto saya dalam hidup untuk mengejar target-target saya adalah “Think Big, Start Small, Act Now.” Ini pun bisa diterapkan kalau kamu ingin membuat studio game sendiri. Biasanya kita mentok di think big-nya aja, gak mulai-mulai. Saran saya, mulai bikin game kecil dulu aja, yang penting mulai saat ini juga. Kalau nunggu situasi ideal, rasanya momen itu gak akan pernah datang. Hehehe Selamat mencoba.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

11 Comments on Google GameDevFest 2015: Bagaimana Membuat Studio Game?

  1. Hi Adam,

    My name is David, COO of Inmuv, a leading publisher and distributor of games and apps specialized in maximizing Android, Blackberry and JavaME revenues to our partners. We are working with operators in Europe, Africa and the Middle East.

    Today we represent more than 20 app studios such as Halfbrick (Fruit Ninja, Age of Zombies, Zeptolab, etc.) with strong business results.

    We have a very successful distribution channel in Nigeria covering more than 100M subs and generating great revenues for our partners.

    At the moment we are establishing new channels in Indonesia in all major carriers: TelkomCel (150M subs), IndoSat (70M), XL (65M) and SmartFen (15m).

    We are looking to expand our portfolio and we would like to distribute your apps in this channel for a revenues share.

    If this proposal is interesting for you, I will appreciate your feedback. We can make conference call to share more details.

    Looking forward to hear from you.

    Suka

  2. Kira-kira berapakah modal untuk membuat satu studio ?
    Terima kasih

    Suka

  3. Hi Adam …
    Ak juga salah satu orang yg bercita-cita mendirikan game developer, namun saya bingung mau mulai dr mana ….. saat ini saya sedang mendalami bahasa pemrograman C# & mempelajari Unity, itu pun masih tergolong baru. Ada saran untuk saya bagaimana memulainya ?
    trima kasih …

    Suka

  4. wahhhhh keren. saya suka bgt main game, sempet juga terlintas pengen bikin game karya sendiri.
    ada saran ga mas.. saya harus mulai dari mana?

    Streaming The Martian (2015) Bluray

    Suka

  5. Pake Unity 3D tools bisa juga gak buat platform Android ? aku rencana mau belajar engine unity kak ^^

    Download/Watch Spectre (2015)

    Suka

  6. adiriadian // 11/03/2016 pukul 11:54 am // Balas

    Hallo Adam.. blog nya sangat menginspirasi dan banyak sharing bermanfaatnya ya.
    Saya saat ini sedang mengembangkan karakter(IP) lokal juga.. setelah terbit buku cerita dan beberapa merchand, saya memang terarik untuk menjadikannya sebagai karakter dalam game. Tapi sy gak punya keahlian di bidang tersebut. Apakah ada software sederhana untuk bikin games atau apps yang mudah? Atau jika mau dikerjakan secara professional, apakah membutuhkan biaya yang sangat besar ?

    Suka

  7. halo kak Adam, salam kenal, saya mau nanya, kalo untuk mendirikan startup, struktur team apa saja yang harus ada dan minimal harus berapa orang agar bisa membangun game studio yang baik

    Suka

    • Kalau untuk game, syaratnya minimal ada dua skill set sih. Programming dan Artist. Kalau satu orang punya dua skill itu, sendiri juga bisa bikin game. Kalau gak, ya minimal berdua satu programmer satu artist. Kalau udah mau jadi studio game, harus jelas dulu studio game yang seperti apa. Bisa dengan jumlah orang sedikit sukses, bisa juga dengan jumlah orang ratusan sukses.

      Suka

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Pelajaran Menarik Dari Game Developer Jerman | Ardisaz
  2. Ketika Game Developer Ditanya Tentang Aplikasi atau Web Development | Ardisaz
  3. [GoogleForMobile2016] Peta Dunia Digital di Indonesia – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: