Iklan
My Journal

Tidak Ada Produk yang Lahir Sempurna

Tidak ada anak kecil yang dari lahir sudah bisa berjalan. Pasti mereka mengalami proses merangkak dan terjatuh baru bisa berjalan kemudian berlari. Demikian juga jika kita membuat suatu produk, apapun itu bentuknya. Ada dua fenomena yang sering terjadi yang membuat seseorang gagal mengembangkan produknya.

Fenomena pertama adalah kurangnya kesabaran dan ketahanan untuk terus memperbaiki produknya. Fenomena ini terjadi ketika kita pertama kali mengumumkan, meluncurkan, atau memasarkan produk kita, lalu produk kita tidak mendapat respon dari pasar yang baik. Kondisi ini membutuhkan analisis yang tinggi, evaluasi yang rutin, kesabaran untuk menerima kritik, dan kemauan yang keras untuk terus memperbaiki produknya. Jika tidak memiliki stamina untuk bertahan, sering kali seseorang memutuskan untuk mundur dan menutup produknya. Untuk menangai kondisi ini, bisa diingat kisah Alva Edison yang ratusan kali mengalami kegagalan baru bisa menemukan lampu listrik pertamanya. Ingatlah bahwa kegagalan itu adalah proses yang harus kita alami untuk menciptakan produk yang baik. Hati-hati, kalau kita berhenti di iterasi kita yang ke 72, bisa saja iterasi ke 73 adalah produk yang akan sangat booming di pasar. Jangan berhenti dan teruslah mencoba.

Fenomena kedua justru kondisi yang berkebalika dari yang pertama, yaitu terlalu fokus merancang produk agar bisa diluncurkan dengan sempurna. Ini adalah tipikal orang yang perfeksionis dan senang dengan perencanaan yang matang. Ibarat orang ingin belajar berenang, ia menghabiskan banyak sekali waktunya untuk mempelajari buku teori renang, mempelajari bagaimana caranya kalau terjadi kondisi A, kondisi B, kondisi C, dst, tapi tidak kunjung mencelupkan dirinya ke air. Pasar berubah dengan cepat. Kita dituntut untuk bisa membuka mata dan telinga kita baik-baik setiap saat. Jika kita menunggu produk kita sempurna dan jadi 100% dulu, maka kita bisa tertinggal oleh pasar. Tidak hanya itu, bisa saja produk serupa sudah terlanjur membunuh segmen pasar kita. Oleh karena itu, tidak masalah merelease produk yang setengah sempurna. Gunakan segmen pasar yang kecil dahulu untuk menguji kualitas produk dan mendapatkan feedback untuk memperbaiki produk kita. Jika kita kembalikan ke analogi berenang, mulailah masuk ke kolam yang dangkal untuk mengetahui “air” itu seperti apa.

Saya pribadi menanamkan hal ini baik-baik ke dalam proses pengembangan di Arsanesia. Dahulu kami juga pernah mengalami fenomena ke 2, dimana kami menghabiskan banyak waktu hanya untuk planing dan ragu untuk memulai memasukan produk ke pasar. Lalu kami juga pernah mengalami kondisi dimana kami berusaha membuat produk yang sempurna sehingga waktu yang dibutuhkan terlalu lama padahal kami butuh banyak pengalaman untuk belajar. Akhirnya kami memutuskan untuk terus belajar dan menerima feedback dari setiap produk yang kami luncurkan. Mumpung Arsanesia belum besar namanya, jadi kami ingin memanfaatkan periode ini untuk belajar sebanyak-banyaknya. Seperti ROVIO yang sudah mengalami 52 kali membuat games sebelum ia berhasil membuat games yang luar biasa booming. Jadi pesan pribadi saya buat semua, jangan takut untuk “nyemplung” dan terus belajar. Terus bertahan, jangan menyerah, dan kita pasti bisa melahirkan produk yang baik 🙂

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Dimulai Dulu, Kualitas akan Mengikuti Seiring Waktu | Ardisaz
  2. Konsistensi Adalah Kunci Sukses – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: