Iklan
My Journal

Dimulai Dulu, Kualitas akan Mengikuti Seiring Waktu

Karakter dalam film Garuda

Indonesia saat ini masih banyak ketinggalan dari negara-negara lain di berbagai sisi. Dari industri yang saya geluti, industri IT dan kreatif, kita bisa dibilang masih jauh di belakang. Padahal kalau dilihat dari kualitas sumber daya manusia yang kita miliki, sebenernya kita berpotensi untuk bisa mengejar, bahkan menyusul ketertinggalan kita dengan negara-negara lain.

Ada dua kultur yang menurut saya cukup membuat orang Indonesia susah untuk maju. Yang pertama, orang kita itu gak pede dengan idenya. Selalu malu-malu untuk maju membawa ide yang orisinil ke luar. Entah minder karena kualitasnya masih jauh di bawah negara lain, atau mungkin orang lain, tapi pada akhirnya karya tersebut hanya mendep di dalam gudang karya dan ide masing-masing.

Yang kedua, ketika ada orang Indonesia yang berusaha maju dengan karyanya, banyak sekali cibiran dan kritikan dari orang-orang yang hanya menjadi penonton. Contoh nyata, artis seperti Agnes Monica yang ingin maju ke pentas internasional, tidak sedikit orang Indonesia yang mencibir entah itu style yang dia bawa, karya dia, dan lain-lain. Atau contoh lain, ketika dunia animasi di Indonesia mau mencoba bangkit dengan membuat karya yang mungkin masih jauh kalau dibandingkan dengan hollywood,  banyak sekali sindiran yang “ngejek” kualitas yang masih dibawah studio di US.

Yang kita lupa adalah segala sesuatu itu harus di mulai, dan ketika memulai, tidak mungkin hasilnya bisa langsung bagus. Di dunia game, 3 tahun yang lalu Indonesia gak bisa tuh bikin game yang bisa bersaing dengan studio-studio besar dari luar negeri. Game-game yang dulu pertama rilis dari sisi visual masih ketinggalan, animasi masih kasar, gameplay masih jiplak, dan lain sebagainya. Tapi untungnya, iklim di dunia game di Indonesia sangat kondusif dan suportif sehingga mereka-mereka ini bisa pelan-pelan belajar, memperbaiki karyanya, dan akhirnya kini bisa menghadirkan game dengan kualitas yang bisa disejajarkan dengan buatan negara maju.

Arsanesia juga begitu, game pertama yang kami bikin tiga tahun yang lalu itu jelek banget dari berbagai sisi. Tidak ada produk yang pertama kali lahir langsung sempurna. Tapi kami selalu konsisten berusaha belajar dan memperbaiki hingga kini bisa membuat game yang saya sendiri pun puas melihatnya (walaupun tentu itu masih jauh dari target yang kami inginkan). Intinya kita harus terus mendukung karya yang berasal dari Indonesia, kalaupun masih kurang sempurna, sebaiknya kita memberi masukan dan tetap mendukung agar karya tersebut terus diperbaiki.

Produser Film yang Merintis Film Superhero Indonesia

Produser Film yang Merintis Film Superhero Indonesia

Seminggu yang lalu saya bertemu dengan seorang produser film di Indonesia. Beliau menunjukan kepada saya sebuah trailer film action dengan judul garuda. Film tersebut proses produksinya hanya hitungan minggu, lalu menggunakan CGI yang dikerjakan hanya oleh 6 orang animator dari mahasiswa yang sedang magang. Ketika melihat trailernya, saya jujur kagum bahwasannya ada yang memulai untuk membuat film action dengan nafas yang sama dengan Marvel Studio, tapi murni buatan orang Indonesia. Awalnya saya kaget, ini buatan Indonesia toh. Orang Indonesia sebenernya bisa loh. Memang gak bisa dicompare head to head 6 anak magang yg ngebuat animasi di film tersebut dengan puluhan studio yang ngegarap Guardian of Galaxy, tapi ini harus dimulai. Pelan-pelan, pasti kualitasnya akan membaik, yang penting para kreator ini konsisten untuk terus belajar dan memperbaiki karyanya.

Karya beliau ini juga sering mendapatkan kritik sana-sini, cibiran dari banyak orang, yang anehnya, orang-orang yang “berisik” ini pas ditanya udah bikin apa, jawabannya dia belum pernah bikin apa-apa, baru punya ide. Jadi memang orang Indonesia itu senengnya mimpi, sambil mencibir orang yang sedang berusaha mewujudkan impiannya. Ide itu murah, banyak sekali orang yang pasti punya ide yang sama dengan kita. Tapi yang mahal itu adalah eksekusi. Seberapa kuat kita bisa mengeksekusi ide kita.

Memang rasa percaya diri, apresiasi, dan konsistensi ini belum tumbuh dengan baik di masyarakat kita. Jadi mari kita mulai duluan untuk maju berkarya, walaupun pada awalnya hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan, kita harus mulai sekarang biar ke depan orang-orang yang ingin berkarya sudah memiliki rasa percaya diri karena sudah ada yang berhasil. Lalu ketika ada rekan kita sesama kreator yang sedang mewujudkan idenya, mari kita apresiasi, beri masukan yang konstruktif agar bisa terus berkembang. Dan yang paling susah adalah konsisten. Ini yang membedakan orang yang akhirnya bisa sukses dengan yang tidak, yakni keteguhan dan disiplin untuk terus menerus mewujudkan idenya walaupun gagal dan jatuh. Konsisten meski tidak diapresiasi, fokus meski belum menghasilkan, terus belajar dan bangkit meski banyak rintangannya, maka di ujung jalan, keberhasilan itu pasti didapatkan.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: