My Journal

Didukung Penuh Oleh Bekraf, Akhirnya Ruang Aksi Game Indonesia Bisa Terwujud

Saya ingat sekali masa-masa awal mendirikan studio, saya kesulitan untuk mencari tempat untuk bekerja. Tahun 2010 awal, Arsanesia numpang kerja di laboratorium di ITB. Lalu menjelang tahun 2012, kami mulai mencari tempat untuk kerja sendiri dan cuma sanggup menyewa sebuah garasi di area dekat pasar Sukajadi. Itu pun kami patungan dengan startup lain agar bisa lebih murah menyewa satu rumah untuk dipakai bersama. Kemudian sempat juga kami harus numpang di kantor teman karena kehabisan cash untuk perpanjang sewa kantor. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa salah satu cost yang cukup berat bagi para game developer di awal adalah modal untuk kantor dan operasionalnya.

Lalu sekitar dua tahun yang lalu, saya mendengar ada program yang bernama Bantuan Pemerintah (Banper) dimana Bekraf bisa membantu memberikan fasilitas berupa infrastruktur untuk pelaku ekonomi kreatif. Bentuk infratruktur di sini dapat berupa biaya renovasi gedung, biaya pengadaan interior dan tools pendukung, serta pengadaan perangkat TIK. Menurut saya, ini merupakan program yang sangat bagus dan bermanfaat sekali apa bila bisa dimanfaatkan untuk kepentingan teman-teman studio game di Indonesia agar bisa memudahkan mereka beraktivitas dan berkarya. Dari Asosiasi Game Indonesia kala itu mencoba mendaftarkan diri untuk mendapatkan bantuan tersebut agar bisa membuat coworking space AGI untuk diadakan di kota Surabaya dan Jogja.

Berhubung saat itu merupakan pertama kalinya AGI mengajukan diri untuk program Banper, banyak permasalahan administratif yang menghambat kami, terutama terkait perizinan dari lokasi yang ingin kami gunakan sebagai co-working space. Akhirnya di tahun 2017, kami gagal mendapatkan Banper untuk di Surabaya dan Jogja. Lalu tahun berikutnya, program Banper kembali di buka. Berbekal pengalaman di tahun 2018, akhirnya kami coba menyiapkan kembali berbagai kebutuhan untuk bisa mendapatkan Banper. Kali ini, kami mencoba untuk mengajukan Banper untuk membuat coworking space di kota Bandung. Untuk proses Banper di Bandung, kebetulan saya cukup terlibat banyak di dalamnya. AGI mempercayakan proyek coworking space AGI di kota Bandung ini kepada Cipto dan saya sebagai pengurus AGI untuk bisa terwujud.

Pencarian Lokasi Dan Penganggaran

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari spot untuk dijadikan coworking space kami dan merancang kebutuhan anggaran. Di proses ini, kebetulan saya belum banyak terlibat. Pencarian lokasi dan penganggaran dilakukan oleh Cipto. Konsep awal yang dibuat untuk coworking space ini adalah sebuah ruangan dengan kapasitas sekitar 50 orang dimana setengah kursi memiliki high end PC/Mac untuk menunjang kebutuhan rendering ataupun compiling dan sisanya untuk mereka yang sudah punya working tools sendiri dan hanya membutuhkan ruang kerja. Jadi untuk tempat, kami perlu mencari space yang bisa disewa dengan harga terjangkau atau gratis dimana sebagai imbal baliknya, proses renovasi space tersebut dan pengadaan furnitur akan dibiayai oleh Banper. Setelah pencarian, akhirnya kami mendapatkan kontak bahwa Clicksquare berencana membuat coworking space dan tertarik bekerjasama dengan AGI untuk membuat coworking space khusus game yang disupport oleh Banper. Kami sangat excited dengan tawaran dari Clicksquare yang mau memfasilitasi komunitas game di Bandung dan berharap rencana ini bisa terwujud. Proses diskusi dengan ownernya sudah dilakukan dan kami memiliki visi yang sama ingin menghidupkan komunitas. Format mall Clicksquare pun sangat community friendly dengan banyak tenant-tenant yang berasal dari komunitas dan UMKM.

Rencana lokasi di Clicksquare

Kemudian untuk hardware dan TIK, Cipto selaku hardware enthusiast meramu berbagai spek perangkat yang sekiranya pas untuk pengembangan game. Saya sendiri memang sering minta rekomendasi spec PC ke Cipto, jadi saya percayalah sama kualitas dari hardware pilihan Cipto 🙂 Di antara listnya, ada belasan High End PC untuk rendering, iMAc spec tertinggi, perangkat router canggih, laptop ROG yang ready untuk VR, hingga perangkat mobile untuk testing game kita.

Untuk mengajukan Banper, kami perlu membuat Rancangan Anggaran Belanja (RAB) untuk tiga hal yakni renovasi tempat, pengadaan furniture dan tools pendukung, dan pengadaan TIK. Kemudian ada segunung dokumen administratif yang perlu kami siapkan mulai dari administratif AGI, administratif lokasi tempat coworking spacenya nanti, dan lain-lain. Lalu kami juga perlu membuat gambar plan sitenya akan seperti apa. Ini Cipto belajar kebut semalam pakai software 3D untuk bikin gambar plan dari space yang ingin kita buat. Kami pun menamai coworking space milik AGI ini dengan nama Ruang Aksi Game Indonesia (RAGI). Nama RAGI dipilih karena Cipto suka makan roti harapannya agar coworking ini bisa menjadi seperti ragi, yang dapat membuat roti yang tadinya kecil jadi mengembang, RAGI bisa membuat studio-studio kecil di Bandung berkembang kualitasnya.

Satu lagi PR yang perlu kami siapkan adalah membuat RAGI ini sustain, artinya bisa berjalan dengan sendirinya secara operasional. Problemnya, Banper hanya membiayai renovasi dan pengadaan, tidak termasuk di dalamnya cost operasional seperti listirk, air, security, internet, maintenance, dan lain-lain. Akhirnya kami memutuskan untuk berdiksusi dengan komunitas untuk mendapatkan angka yang kira-kira reasonable buat komunitas game dev di Bandung untuk menyewa space di RAGI namun juga bisa membuat RAGI bisa running. Selain cost operational itu, kami juga memikirkan kayaknya perlu ada resepsionis untuk memberi akses keluar dan masuk pengguna RAGI agar lokasinya bisa lebih nyaman dan secure. Akhirnya keluarlah format harga untuk meja saja dan meja plus hardware dimana harga sewanya jauh di bawah standar harga sewa coworking space dimanapun karena memang tidak ada tujuan untuk profit dari coworking ini, pure untuk ngebantu temen-temen gamedev aja.

Sosialisasi RAGI ke komunitas Gamedev Bandung

Banper (Sebagian) Ditolak, What Next?

Setelah semua dokumen kami ajukan, ternyata banyak beberapa dokumen yang masih memiliki beberapa kesalahan yang cukup fatal. Kesalahan tersebut membuat kami harus menerima pil pahit dimana Banper kami ditolak lagi. Namun kabar baiknya, yang ditolak adalah pengajuan untuk renovasi dan pengadaan furniture dan tools pendukung. Untuk pengajuan TIK, kami berhasil mendapat approval dari Bekraf. Tapi kabar buruknya, dimana kami meletakan perangkat TIK tersebut kalau tidak memiliki tempat untuk bekerja?

Masalah ini harus segera kami selesaikan karena jangan sampai ketika TIK dikirim, AGI tidak memiliki tempat untuk menerimanya. Kami pun mencoba berdiskusi dengan berbagai pihak terkait hal ini dan kira-kira solusi apa yang paling mungkin dengan situasi saat ini. Karena aplikasi awal kami ditolak, kami harus mencari alternatif tempat lain yang bisa mengakomodir kondisi AGI saat ini. Akhirnya datanglah tawaran solusi dan bantuan yang sangat membantu.

Diskusi dengan Danang dari Innovation Factory untuk support RAGI

Pertama, bantuan datang dari Innovation Factory, coworking space yang baru berdiri di kota Bandung. Danang selaku hub manager Innovation Factory mengajak kami bertemu dan menyampaikan ketertarikannya untuk membantu RAGI. Kami berdiskusi untuk menemukan cara agar RAGI bisa ada di Innovation Factory dengan segala keterbatasan finansial yang AGI miliki. Saya sangat antusias dengan semangat kolaborasi dan niat baik yang ditawarkan oleh Innovation Factory untuk membantu memfasilitasi RAGI. Tapi memang cukup sulit menemukan solusi yang secara bisnis sustain dengan kondisi dimana AGI sendiri tidak punya budget untuk sewa lahan.

Lalu bantuan berikutnya kembali datang dari Bekraf. Terdapat sebuah program yang dirancang oleh Bekraf untuk mengembangkan kemampuan bisnis dan kewirausahan di sub sektor ekonomi kreatif. Program tersebut sepertinya bisa sinergi dengan RAGI dan fasilitas yang ditawarkan oleh Innovation Factory. Melalui program tersebut, RAGI bisa mendapatkan bantuan untuk menjalankan operasionalnya. Kombinasi AGI, Bekraf, dan Innovation Factory ini yang akhirnya bisa melahirkan RAGI.

RAGI, Coworking Space Khusus Game Developer Pertama di Indonesia

Akhirnya tanggal 22 Januari 2019 kemarin, setelah hampir 2 tahun perjuangan, coworking space khusus game developer pertama di Indonesia bisa teruwujud. Tak hanya itu, fasilitas di dalamnya pun sangat oke.

  • Pertama, lokasi berada di area strategi yakni di jantung kota Bandung di Dago. Ke kampus deket, ke jalan tol deket, ke pusat perbelanjaan deket, dan sepanjang jalan terdapat banyak coworking space, bahkan ada pusat RnD Bukalapak. Jadi kalau mau ngajak ketemuan client, mau bikin event atau workshop, atau sekedar naro alamat kantor di web, keliatan meyakinkan.
  • Kedua, fasilitas yang diberikan Innovation Factory bisa dinimkati oleh tenant RAGI. Fasilitas ini pun sangat top notch. Di dalam Innovation Factory, ada warung kopi upnormal. Kalau mau yang gratisan, ada free flow kopi, teh, air putih, dan ICE CREAM buat tenant. Fasilitas lainnya kayak security 24×7, area parkir, ruang kedap suara untuk telpon, meeting room (ada 5 ruang meeting), seminar room dengan kapasitas 150 orang, meja dan kursi yang nyaman, internetnya CBN, dan akses masuk ke ruang coworking pakai fingerprint scan.
  • Ketiga, fasiltas Banper. Terdapat 16 buah high end PC, 8 buah iMac, TV 75 inch, Wacoom tablet, Headset gaming, berbagai device tester mulai dari HP satu jutaan sampai iPhone X, console (XBox, PS4, dan switch ada), dan banyak lainnya bisa digunakan dengan cuma-cuma oleh tenant RAGI.
  • Keempat, akan ada program yang didesain untuk para anggota RAGI maupun yang dibuka untuk umum. Nanti akan ada event rutin untuk skill improvement, workshop game, kunjungan/networking dengan raksasa industri game/internet, dan lain sebagainya.
  • Kelima dan yang paling penting, RAGI akan jadi pusat aktivitas industri game di Indonesia. RAGI menjadi tempat berkumpulnya komunitas game, headquarter dari AGI, dan menjadi arena untuk bisa berkolaborasi, networking, bertukar pikiran, maupun curhat atau bergosip :p
Workshop Unreal oleh RAGI

Pertanyaannya, kalau mau kerja di RAGI gimana caranya? Gampang banget, kamu cukup daftar jadi Anggota AGI (diutamakan anggota Inti) lalu tinggal booked kursi dan hardware. Apakah gratis? Tentu tidak 🙂 Bukan karena AGI pengen cari profit, tapi karena RAGI masih perlu tetap bisa running operational cost. Biayanya untuk meja + hardware 1jt/bulan dan 550rb/bulan untuk mejanya aja. Dengan biaya tersebut, kamu udah gak perlu lagi mikir listrik, air, internet, office boy, hardware, device tester, dan lain-lain. Fasiltas-fasilitas di atas tadi itu bisa kamu nikmati dan manfaatkan untuk mengembangkan studio game kamu. Kalau harga segitu ternyata buat kamu juga masih berat, kamu bisa coba diskusikan dengan pengurus RAGI untuk mendapatkan keringanan. AGI akan coba mencarikan solusi entah itu mencari sponsor atau mencari bentuk lain agar kamu bisa tetap bekerja di RAGI tapi juga bisa membantu agar RAGI sustain. Intinya niat utama dan satu-satunya dari RAGI ini memang bukan profit, tapi ingin membantu temen-temen semua untuk berkarya. Spesial thanks juga buat Yodi yang sudah membantu mendesain logo RAGI dan mendesain sekat yang ada di RAGI.

Semoga RAGI bisa bermanfaat buat seluruh pelaku industri game di Indonesia. Kalau pilot project ini sukses, bukan tidak mungkin kita hadirkan RAGI-RAGI berikutnya di kota-kota lain di Indonesia. Kalau ada yang mau tanya-tanya apapun tentang RAGI, jangan sungkan langsung ditanyakan saja. Ada Mas Jan sebagai ketua harian AGI yang standby di sana dan Mas Ajie yang menjadi koordinator RAGI Bandung. Mau kerja sama, ngadain event, networking, atau apapun, langsung meluncur saja 🙂

About Adam Ardisasmita (1148 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Trackback / Pingback

  1. Peran Pemerintah Dalam Mendukung Industri Game Indonesia – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: