Iklan
My Journal

[Review] Meningkatkan Produktivitas Membaca Dengan Kindle Paperwhite

Sebelum menggunakan Kindle, untuk membaca satu buku (fisik/digital), saya memerlukan sekitar 1-2 bulan. Semenjak pakai Kindle, belum dua minggu, saya sudah menyelesaikan tiga buku. Saya sudah pernah beberapa kali menulis tentang Kindle, tapi baru sekarang akhirnya kesampaian untuk memiliki Kindle. Kemarin sempat menimbang apakah baca ebook pakai tablet aja atau pakai ebook reader yah. Karena klo ebook reader fungsinya hanya untuk baca saja, tidak bisa untuk kegiatan produktif lainnya. Dengan berbagai pertimbangan, diputuskanlah beli ebook reader saja dan itu merupakan keputusan yang sangat tepat. Kalau antara buku fisik dengan buku digital, saya sudah pernah bahas di tulisan saya sebelumnya yah 🙂

baca juga : Lebih Suka Baca Buku Fisik Atau Buku Digital?

Kenapa saya memilih ebook reader Amazon? Yang pertama tentu karena sumber dari berbagai buku banyaknya di Amazon. Yang kedua, produk ebook reader Amazon yang bernama Kindle ini sudah banyak direkomendasikan oleh kolega dan teman-teman saya. Alhasil jatuhlah pilihan ke Kindle.

screen-shot-2017-01-11-at-9-43-29-am

Selanjutnya, kenapa beli yang Paperwhite? Kindle itu ada yang Kindle Biasa, Kindle Paperwhite, Kindle Voyage, dan Kindle Oasis. Lebih detil komparasinya bisa dicek di Amazon aja. Yang jelas, Kindle Paperwhite ini yang paling murah yang memiliki lampu LED. Yang di bawah itu gak ada lampunya, jadi susah klo mau baca dalam kondisi agak gelap. Kalau yang Voyage ada fitur tambahan di bezelnya semacam button untuk swipe halaman. Menurut saya sih fitur itu gak segitu penting jadinya jatuhlah ke Paperwhite yang harganya 119 dolar. Saya beli pas diskon jadinya 99 dolar.

Oke, sekarang ke reviewnya Kindle Paperwhite yah. Ada beberapa hal yang menurut saya menjadi kelebihan dari Kindle Paperwite ini. Beberapa yang menurut saya patut menjadi perhatian adalah layar epaper display, berat dan ukurannya, koleksi buku amazon, daya tahan baterai, dan softwarenya.

ePaper Display

Satu hal yang menjadi penentu utama saya memilih Kindle dibandingkan beli ipad atau tablet Android adalah epaper display. Ini adalah faktor penentu yang membedakan sebuah ebook reader dengan perangkat lainnya seperti smartphone, tablet, atau PC. Keberadaan epaper display, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, membuat proses membaca menjadi lebih nyaman.

71qvognilcl-_sy500_

Kenapa nyaman? Kalau kita baca di smartphone atau monitor, komponen di layar perangkat tersebut merupakan kumpulan LED yang menyala. Tiap pixel mengeluarkan cahaya yang ditangkap ke mata kita. Itu mengapa mata kita akan terasa pegal atau capek kalau terlalu lama menatap layar yang memancarkan cahaya secara langsung ke mata kita.

Kalau ePaper display, ini mungkin gampangnya kayak tampilan kalkulator. Semacam ada “tinta” yang dituliskan di layar dan tinta itu tidak menyala. Jadinya kalau gelap, epaper display itu gak akan keliatan tulisannya. Sensasi yang sama persis kayak kalau kita baca di buku kan. Nah yang Kindle Paperwhite ini, dilengkapi dengan LED di sisi layar yang menembakan cahaya ke arah epaper displaynya, bukan ke mata kita. Jadi mirip kalo kita baca buku dengan pencahayaan lampu. Fitur inilah yang menjadi pembeda yang sangat drastis antara Kindle dengan smartphone.

Berat dan Ukurannya

51amzx2rvjl-_sl1000_

Faktor dimensi adalah salah satu yang membuat Kindle lebih unggul dari buku fisik maupun smartphone. Dengan ukuran Kindle yang kecil, baca buku dengan ribuan halaman pun tetep bisa dipegang dengan satu tangan. Ukuran bezelnya juga pas, sehingga tangan kita bisa nyaman memegangnya.

Lalu faktor beratnya yang ringan juga menjadikan Kindle praktis untuk dibawa-bawa. Dulu saya baca ebook pakai iPad. Di bawa-bawa lumayan berat dan pas bacanya pun cukup kerasa bebannya. Dengan Kindle, bisa dengan mudah dibawa tanpa menambah beban bawaan kita dan pas bacanya juga sangat enteng di tangan.

Koleksi Buku Amazon

710sxzi5qjl-_sy500_

Problem klo baca buku fisik adalah susah nyarinya di Indonesia. Buku impor harganya pun lumayan. Jadi udah barangnya langka, harganya juga gak nyantai. Sedangkan kalau di Amazon, nyari buku sesimpel gerakan jari aja. Bisa baca sampelnya dulu, bisa liat review orang-orang, dan yang penting harganya harga Kindle. Biasanya harga Kindle lebih murah 10-20 dolar loh dari versi cetak. Dan gak hanya itu, ada cukup banyak buku gratisan atau diskonan yang keren-keren di Amazon.

Selain beli buku dengan normal secara digital, ada juga layanan baca buku sepuasnya. Si Kindle Unlimited ini kita bayarnya subsriction based, 10 dolar sebulan kalau gak salah, terus kita bisa baca banyak banget koleksi buku di Amazon. Emang gak semua buku sih. Rata-rata buku yang ingin saya baca gak tersedia, tapi bagi orang lain mungkin berbeda. Dan harga segitu itu murah banget loh. Saya sebulan udah habis beli empat buku, masing-masing buku rangenya 15-20 dolar. Ini dengan harga satu buku, bisa baca sepuasnya.

Daya Tahan Baterai

61ho1qpl1al-_sl1000_

Kelebihan pakai epaper display adalah baterainya. Kindle ini kuat berhari-hari, kayaknya seminggu saya gak habis deh baterainya. Jadi klo dibawa travelling, gak akan nambah-nambahin kabel charger yang perlu kamu bawa. Klo pun mau ngecharge juga pakai mini USB yang standar kok. Jadi masalah baterai ini aman lah.

Terkait dengan baterai, jadi ada dua versi dari Kindle ini, yang ada iklannya dan yang gak ada iklannya. Klo mau gak ada iklannya kita bisa bayar lagi. Tapi iklannya sendiri gak ganggu kok. Dia muncul sebagai screensaver ketika kita lock Kindle kita. Dan iklan itu muncul di layar sampai kita unlock layar kita. Nah dengan epaper display, nampilin “tinta” digital di layar itu gak makan baterai. Jadi si gambar iklan itu nongol di layar juga gak akan berpengaruh signifikan terhadap daya tahan Kindle ini.

Software dan Konektivitas

616y1qzhetl-_sy500_

Yang terakhir adalah sofwarenya. Kindle ini tidak menggunakan OS Android ataupun iOS. Dia pakai software sendiri. Kalau dari sisi enak dipakai, tentu kalah yah dari Android atau iOS. Terutama dari sisi responsivitas. Tapi hal itu sengaja dikorbankan demi mengoptimalkan faktor-faktor di atas tadi itu. Dan menurut saya ini merupakan trade off yang sangat fair dan tidak mengganggu.

Fitur standarnya berjalan sebagaimana mestinya. Mengganti halaman, melihat kamus, menandai bagian yang menurut kamu penting (highlitght), x-ray untuk tahu isi bukunya, hingga proses rekomendasi serta beli buku yang sangat gampang. Oh ya, fitur highlights ini berguna loh untuk tahu bagian mana yang paling banyak orang tandai. Lalu ada juga fitur word building untuk menambah vocabulary kita. Jadi emang dari sisi fitur sangat lengkap, tapi interaktivitasnya emang di bawah smartphone.

Untuk konektivitas, ada versi WiFi ada versi 3G. Kata saya sih WiFi saja cukup. Download buku yang banyak di rumah, udah deh nikmatin sisanya. Paling 3G kepake klo mau share highlight ke sosmed, mau browsing buku lain, dll. Gak begitu penting.

Kesimpulan

Paling itu sih review tentang Kindle. Yang jelas ini emang alat yang didesain dengan sangat baik agar kita bisa membaca dengan nyaman. Dulu, satu buku bisa 1-2 bulan, malah kadang udah mulai baca tapi gak selesai, sekarang satu-satunya yang bisa menghentikan saya dari membaca adalah uang :p Lumayan juga harga buku kan belasan sampai puluhan dolar, jadi terpaksa saya harus batasi (budgetnya). Target saya tahun ini sebulan baca 2 buku, artinya dalam setahun 24 buku. Let’s see 🙂

Jadi kesimpulannya, kalau nyari fitur lain selain untuk membaca, Kindle ini gak cocok. Tapi klo emang mau nyari alat untuk membantu kamu baca, udahlah gak usah diragukan lagi Kindle Paperwhite ini sangat oke. Tentunya bagi kamu yang lebih suka baca ebook dibandingkan buku fisik yah 🙂

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Comments on [Review] Meningkatkan Produktivitas Membaca Dengan Kindle Paperwhite

  1. klo account kindle masih harus pake IP address US ga? trus dulu beli kindle lewat Amazon?

    Suka

  2. ganjar runtiko // 10/08/2017 pukul 7:23 am // Balas

    Mas, e-book reader seperti kindle ini repot nggak ketika harus memindah file e-book dari komputer. Terus, ukuran layarnya yang rata2 6 inci apakah nyaman membaca buku tanpa fitur reflow (misalnya baca buku yang banyak gambar atau bagan). Makasih sebelumnya. Salam.

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Resolusi 2017 dan 8 Tahun Ngeblog – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: