Iklan
My Journal

Mengenal Konsep Mental Model Dalam Merancang User Experience

Ketika membicarakan interaksi antara manusia dengan sebuah produk atau sistem, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang ada di dalam kepala manusia. Kita sebagai manusia punya yang namanya stereotype, ekspektasi, atau standar baku tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan objek yang ada di depannya. BIasanya ekspektasi ini lahir dari aktivitas sehari-harinya dan juga lingkungan di sekitarnya.

Misalnya adalah ekspektasi kita terhadap warna. Warna merah, kuning, dan hijau memiliki sebuah makna yang secara tidak sadar tertanam di benak kita. Seperti di lampu lalu lintas, ketika warna merah artinya kita harus berhenti dan lampu hijau boleh jalan. Hal ini akan membuat alam bawah sadar kita berpikir ketika berinteraksi dengan dua buah tombol, yang satu berwarna merah dan yang satu berwarna hijau, maka kita akan lebih cenderung untuk berpikir terlebih dahulu sebelum memilih warna merah.

Dalam user experience, dikenal juga istilah yang namanya mental model. Mental model mirip dengan apa yang saya bahas di atas yakni ekspektasi manusia terhadap bagaimana sebuah sistem berinteraksi dengan dia. Waktu kuliah, analogi yang dijelaskan dosen saya adalah ketika menunggu lift. Misalkan kita lagi terburu-buru, entah karena telat atau bagaimana, lalu kita menekan tombol lift agar pintu lift bisa terbuka. Lift masih jauh dari lantai kita, tapi ketika kita sedang sangat terburu-buru, kita menekan-nekan tombol lift berkali-kali dengan harapan lift-nya akan bisa sampai lebih cepat jika ditekan berulang seperti itu. Hal ini mirip kan dengan kondisi di dunia nyata dimana kalau kita nyolek orang, orangnya gak nengok-nengok, bakal kita colek-colek terus. Bedanya kalau lift digituin ya gak akan makin cepet sampai ke lantai kita :p

Mengapa mental model ini penting? Karena dengan memahami manusia, kita bisa merancang interaksi yang paling natural dengan ekspektasi pengguna sistem yang kita buat. Dengan memahami mental model, kita juga jadi bisa mengantispasi aksi dari user yang mungkin bisa mempengaruhi sistem kita. Contoh kayak tombol lift. Kalau orang lagi buru-buru, dia bakal neken tombol itu berkali-kali. Berarti kita juga harus memiliki asumsi kalau user ngeklik suatu tombol, tapi gak muncul aksi apa-apa, user pasti bakal ngeklik tombol itu berkali-kali. Jadi kita harus bisa mengatasi kondisi tersebut agar tidak mengganggu sistem ataupun membuat emosi penggunanya.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Comments on Mengenal Konsep Mental Model Dalam Merancang User Experience

  1. Evan Naratama // 18/03/2015 pukul 11:15 am // Balas

    Punya referensi buat belajar merancang UI ga bang? Thanks for sharing ya

    Suka

    • Ini dalam konteks UI design kan bukan UX design?
      Kalau UI design bisa cek2 pinterest untuk referensi UI yang keren2.
      Tapi tetep kalau mau merancang UI, tahapannya harus dimulai dari awal. Nanti saya post deh tahapan mendesain UX (UI design + Development tahap terakhir soalnya)

      Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Lima Elemen Dari User Experience Design | Ardisaz
  2. Menilai Aplikasi Berdasarkan User Experience – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: