Iklan
My Journal

Membuat Software Sebagai Solusi

gambar diambil dari cloverleafsolutions.com

gambar diambil dari cloverleafsolutions.com

Semasa kuliah di informatika, sering kita diberikan tugas untuk membuat software dan sistem. Di tugas tersebut, nilai kita akan semakin bagus apabila software kita semakin kompleks dan menggunakan fitur-fitur tercanggih. Kasus yang dibuat pun sering kali penuh dengan asumsi dan bukan berdasarkan permasahalan real. Rupanya mindset berpikir seperti ini sering terbawa oleh kita sampai kita lulus dan cukup berbahaya jika diterapkan bagi yang ingin membuat produk atau startup. Ketika kita terjun ke dunia nyata, tidak boleh lagi menggunakan yang namanya asumsi. Teknologi canggih yang ingin kita gunakan pun harus menjawab permasalahan, bukan karena kita pikir ini keren maka kita tambahkan ke dalam software atau aplikasi buatan kita.

Saya ingat sekali dulu pernah mengerjakan sebuah sistem informasi di sebuah cafe dengan konsep perpustakaan mini. Seperti pembuatan software atau aplikasi pada umumnya, tahapan pertama yang kita lakukan adalah requirement gathering, kita mencoba mencari tahu permasalahan apa yang dialami oleh cafe tersebut dan kira-kira solusi IT apa yang bisa kita berikan untuk membantu proses bisnis mereka. Di lihat dari volume perusahaannya, bisa dibilang usaha kecil dengan jumlah pengunjung yang tidak terlalu banyak. Ketika mengobrol, secara gamblang disebutkan bahwa mereka memiliki masalah di sisi pendataan koleksi buku. Buku mereka jumlahnya sangat banyak dan cukup sulit untuk bisa menginventori koleksi buku yang mereka miliki.

Kalau dari pola pikir software untuk menjawab permasalahan, berarti yang perlu kita buat adalah sistem untuk menginventori buku-buku yang mereka miliki. Tapi namanya juga anak muda, semangat menggebu-gebu, kita kembangkan sistem yang jauh lebih besar dari scope permasalahannya. Kita kembangkan juga sistem untuk pinjam-meminjam buku, sistem untuk reminder jika ada buku yang telat dikembalikan, sistem untuk mendata buku tersebut sedang dibaca atau tidak, dan kita menggunakan teknologi RFID yang bisa mempermudah input data buku untuk berbagai proses bisnis di tempat tersebut. Lalu bagaimana dengan masalah pendataan buku? Bukankah permasalahan terbesarnya adalah belum ada database buku yang dimiliki? Sebagai mahasiswa, jawabannya adalah buku tersebut asumsinya sudah memiliki database :p Jelas aja pas habis jadi sistemnya, kita dapet nilai kurang memuaskan dari contact person di perusahaan tersebut selesai presentasi akhir.

Semakin ke sini, semakin sadar bahwa sistem yang kami tawarkan itu tidak menjawab permasalahan mereka. Lalu saya jadi melihat bahwa banyak juga tugas, skripsi, produk, atau startup di Indonesia yang dibuat berdasarkan unsur “keren” bukan berdasarkan permasalahan. Software, aplikasi, atau games yang dibuat banyak yang masih berdasarkan asumsi pribadi, tanpa data atau fakta permasalahan di lapangan, dan tanpa interaksi dengan pengguna real yang membutuhkan solusi terhadap permasalahannya. Kalau udah begitu, ketika produk mereka jadi, akhirnya gak ada yang mau memakainya. Kayak kasus di atas, harusnya saya fokus aja ke sistem untuk penginventori buku, gimana caranya membangun sistem agar bisa menginput data-data buku dengan mudah. Kesannya gampang kan, paling cuma satu modul, tapi justru PR terpentingnya adalah bagaimana kita merancang sistem yang mempermudah proses input buku tersebut. Kalau sekarang dipikir-pikir, harusnya bisa memberikan solusi yang lebih tepat sasaran, misalkan setiap buku dipasang barcode, lalu kita scan barcode tersebut untuk input ID, lalu di aplikasi kita tinggal memasukan informasi tentang buku tersebut yang dirancang dengan UX yang flawless. Atau kalau mau lebih expertnya, kita bisa menggunakan kamera untuk membaca tulisan judul buku dan pengarang bukunya yang langsung diparsing ke sistem. Yang pasti solusinya bukan membuat sistem peminjaman, reminder, pendataan anggota, dan modul lainnya yang bukan menjadi permasalahan dari perusahaan tersebut :p hehehe

Kesimpulannya, ketika kita membuat sebuah produk, aplikasi, software, pastikan kita membuat itu sebagai solusi dari permasalahan. Teknologi, fitur, konten, dan berbagai modul yang kita kembangkan harus bisa menjawab permasalahan yang ada atau membantu mempermudah agar proses bisnis yang sudah ada menjadi lebih efektif dan efisien. Lalu yang paling penting adalah hindari asumsi, apalagi asumsi dari pengembangnya sendiri. Mungkin kalau di kuliah gak papa lah yah kalau pakai asumsi, tapi kalau sudah masuk ke dunia nyata, kita harus meneliti lebih baik lagi fakta dan data yang ada di lapangan seperti apa.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1147 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Comment on Membuat Software Sebagai Solusi

  1. Setuju banget kak. Pengalaman juga, hehe…

    Istilah lebih kerennya teknologi tepat guna

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Game Sebagai Alat Untuk Memecahkan Masalah – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: