Iklan
My Journal

Biografi M. Syamsa Ardisasmita dari Seorang Anak

Pengukuhan gelar profesor Bapak dari LIPI

Saya cuma ingin menulis kembali sepotong kecil dari kisah ataupun pelajaran berharga yang Bapak telah tanamkan dan wariskan kepada anaknya. Ini murni dari sudut pandang saya, sebagai anak. Semoga tulisan ini bisa membuat saya tetap menjaga nilai-nilai yang telah beliau ajarkan dan bisa memberi manfaat bagi yang membacanya sehingga menjadi amal jariah untuk Bapak.

Semasa kecil, Bapak berada di lingkungan yang biasa saja, malah cenderung kurang. Bapak sudah ditinggalkan oleh ayahnya semenjak kecil, namun Bapak memiliki keluarga yang luar biasa baik dan senantiasa menemani masa kecil Bapak sehingga tidak pernah merasa kesepian. Bapak merupakan anak ke dua dari empat bersaudara, bapak juga merupakan anak kembar. Dari kecil, Bapak sudah merupakan orang yang sangat enerjik, aktif, rajin belajar, dan pekerja keras. Alhasil wajar kalau Bapak mendapatkan prestasi akademik yang sangat baik. Tak hanya itu, bapak juga terkenal berani. Ninik pernah cerita beberapa kali Bapak pulang ke rumah sudah luka-luka akibat berkelahi. Tapi ya namanya juga anak-anak. Ketika SMA, bapak selalu mendapatkan juara. Lalu bapak masuk ke UI, mengambil Fisika Nuklir dan mendapatkan beasiswa. Tak hanya itu, Bapak juga aktif dikeorganisasian. Bapak sangat sering beraktifitas di mesjid Arif Rahman Hakim dan mendapatkan banyak sahabat dari sana. Di akhir pembelajarannya di UI, Bapak mendapatkan gelar mahasiswa teladan nasional dan berkesempatan untuk bersamalaman dengan presiden Soeharto di Istana pada upacara 17 Agustus.

Bapak Versi jadul :p

Kerja keras dan semangat yang Bapak miliki akhirnya membuahkan hasil. Setelah lulus sarjana, Bapak mendapatkan beasiswa untuk kuliah ke luar negeri, Perancis. Di sanalah Bapak bertemu dengan Ibu, yang akhirnya menikah dan melahirkan saya. Saya dari kecil sudah dikenalkan dengan dunia IT oleh Bapak. Saya yang berusia 2 tahun sudah diletakan di depan komputer untuk main game balap di sebuah komputer apple jaman dulu. Gak heran kalau sekarang saya masuk jurusan IT dan mengembangkan usahapun di bidang IT. Saya juga sering dinyanyikan oleh Bapak diiringi oleh gitarnya. Lagu klasik milik Bapak adalah labamba (yang masih diwariskan hingga era yusuf kecil). Yah, nampaknya influence gitar tersebut sempat muncul di saya ketika saya SMA walaupun sekarang sudah tidak pernah memainkannya lagi. Kemudian sifatnya yang enerjik juga sepertinya menurun kepada saya yang suka melakukan tindakan impulsif secara random. Tapi nampaknya sifat-sifat Bapak lebih banyak menurun ke Yusuf.

Bapak dan eiffel

Lulus S3, mendapat gelar doktor, Bapak bisa saja kerja di perusahaan multinasional. Tapi Bapak memilih untuk mengabdi kepada negara dan tetap bekerja di Batan. Selain karena idealisme, dengan bekerja di Batan, Bapak jadi memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama anak-anaknya. Saya ingat sekali setiap Sabtu, saya selalu diajak berenang. Pulang kantor, Bapak menemani saya main PS. Biasanya kami main die hard, yang menggunakan pistol. Ketika saya TK, saya bersekolah di Jogja. Kemudian setiap Sabtu-Minggu Bapak yang bekerja di Jakarta mengunjungi saya di Jogja. Kalau Bapak lagi gak ke Jogja, saya akan diajarkan sama Ibu untuk menulis surat buat Bapak di rumah.

Selalu ada waktu untuk keluarga

Ketika saya sudah mulai besar, Ibrahim sudah mulai besar, Bapak mulai mengejar kembali karirnya dan kembali mengabdi kepada negara dengan bergabung di KPK. Namun, workload di KPK sangatlah tinggi. Tingkat stress dan beban pikiran yang ada di dalam kepala Bapak sangatlah berat. Kala itu, Bapak harus menghandle dua kedeputian dan satu kesekjenan. Bisa dikatakan, beban Bapak rangkap tiga pada kala itu. Saya baru melihat Bapak seletih ini dalam menjalankan tugasnya. Hingga puncaknya, Bapak harus masuk Rumah Sakit karena terlalu letih dan dipasangkan cincin di pembuluh darah dekat jantungnya untuk mencegah penyumbatan karena Bapak juga memiliki masalah gula dan kolestrol. Masalahnya adalah, ketika seseorang sudah dipasangkan dua cincin, harusnya lifestylenya berubah. Olahraga sudah tidak boleh terlalu berat, makanan harus dikontrol, dan masih banyak lainnya. Sayangnya Bapak kurang telaten dalam menjaga makanan, olahraga layaknya anak muda yang enerjik, dan suka susah sekali disuruh kontrol ke dokter.

Kenang2an dari KPK

Tak lama, masa jabatan bapak di KPKpun berakhir, dan kini bapak bisa menjalani hari dengan tingkat beban kerja yang lebih ringan dengan kembali bekerja di BATAN. Lalu tak lama dari itu, ada tawaran untuk memegang amanah di Kemenristek. Workloadnya tidak seberat di KPK, jadi harusnya tidak masalah. Tapi nampaknya Bapak sangat bersemangat dengan pekerjaan barunya dan melakukan semuanya juga dengan antusias tinggi. Sering sekali Bapak dinas ke luar negeri yang melelahkan, pulang beberapa hari, lalu tak lama berangkat lagi ke luar negeri. Bapak memang sangat bersemangat dalam melakukan apapun di dalam hidupnya. Mulai dari pekerjaan hingga ke urusan hiburan. Kalau karaoke, Bapak selalu nyanyi dengan semangat dan suara yang lantang. Sering kali suara Bapak diprotes oleh Yusuf sang ahli vokal. Satu hal yang saya salut adalah Bapak itu selalu ramah dengan siapa saja. Bapak tidak membedakan perlakuannya dengan anaknya, dengan supirnya, dengan kerabatnya, maupun dengan orang-orang lain. Bapak memperlakukan semua orang sama dan ramah dengan sesama. Biasanya orang kalau sudah punya jabatan tinggi kan suka jaim atau banyak protokolernya, ini Bapak menjamu tamu dari ASEAN aja masih dengan senang hati menyumbangkan nyanyiannya.

Sepanjang hidupnya, Bapak sangat tekun dalam menjalankan amanahnya untuk keluarga, negara, dan agama. Sebagai seorang ayah, Bapak tidak pernah memaksakan anaknya untuk menjadi sesuatu yang tidak disukai oleh anaknya. Saya mendapatkan dukungan untuk segala aktivitas yang ingin saya tekuni. Bapak hanya punya dua pesan untuk anak-anaknya, menjadi anak yang soleh dan menggapai cita-citanya. Tidak pernah tuh Bapak menyuruh saya menjadi dokter, arsitek, ahli fisika, atau apapun lainnya. Yang Bapak lakukan hanyalah mensupport dan bangga dengan apapun yang saya lakukan. Saya menggeluti Tak Kwon Do, beliau banggakan. Saya bermusik, beliau banggakan. Saya bermain bola, beliau belikan segala fasilitas yang dibutuhkan sebagaiman layaknya pemain bola. Bahkan saya ingat sekali sewaktu SD saya senang berkegiatan di pramuka, saya adalah anggota pramuka dengan perlengkapan paling lengkap, mulai dari topi, tali, emblem, sampai ke pisau yang bahkan tidak akan digunakan, saya pakai di seragam pramuka saya. Hingga sekarang saya berkarya di dunia IT, beliau tetap membangga-banggakan saya. Tidak hanya saya, segala prestasi yang dicapai Ibrahim dan Yusuf pun selalu ia banggakan. Dua hal itu saja yang beliau selalu nasihatkan berulang-ulang, menjadi anak yang soleh dan mencapai cita-citanya.

Bapak Semasa Muda

Bapak juga selalu meluangkan waktu bagi anak-anaknya di tengah jadwal kerja beliau yang sibuk. Semisal baru pulang dari luar negeri, besok lusa sudah ke luar negeri lagi, di waktu kosong beliau tetap menyempatkan waktu untuk menemani anaknya bermain. Lalu Bapak sebagai anak bangsa juga memberikan kontribusinya yang luar biasa besar pada pekerjaannya. Bapak terkenal sangat pekerja keras dan workaholic. Setiap hal yang dia lakukan, entah itu sebagai dosen, sebagai pegawai BATAN, sebagai deputi KPK, sebagai sekjen KPK, hingga sebagai deputi di Ristek, Bapak melakukannya dengan antusias yang tinggi. Bahkan teman-teman di diklat beliau ketika menjabat sebagai deputi di kemenristek pun bertestimoni kalau Bapak itu tiap pagi, kalau olahraga, selalu paling semangat dan berdiri di paling depan. Demikian juga kalau sedang aerobik di komplek. Yang lain pakai pemberat dengan aqua satu liter, Bapak masih nambah dengan pemberat tangan dan kaki seberat 2,5 kg. Kalo instruksinya jalan di tempat, Bapak selalu bukannya berjalan, tapi berlari di tempat. Hal tersebut merepresentasikan bagaimana attitude Bapak dalam bekerja. Pekerjaan yang padat dan seberat apapun pasti Bapak kerjakan dengan sebaik-baiknya.

Bekerja sepenuh hati

Lalu sebagai seorang hamba-Nya, Bapak merupakan ahli masjid, ahli puasa, dan ahli beribadah. Usianya sudah cukup tua, tapi masih mau menambah hafalan Al-Qur’annya walaupun berat. Pagi-pagi, bangun untuk tahajud, lalu sholat shubuh di masjid. Jika sempat, Bapak kerap kali melakukan puasa Senin-Kamis. Bapak juga sering sekali “mengejar-ngejar” anaknya untuk mau sholat berjamaah atau sholat di masjid. Tapi dasar anak-anaknya saja bandel, jadi bisa aja ngeles dari Bapaknya (maaf yah pak 🙂 ).

Bapak Syamsa dan Syamsa junior 🙂

Saya sangat bercita-cita bisa menginspirasi orang banyak. Saya pikir, melihat apa yang telah selama ini Bapak lakukan, dengan mengajar, bekerja, bersemangat, antusias, dan lain sebagainya, Bapak bisa menginspirasi orang lain. Ternyata tidak hanya itu, kepergian Bapak pun masih sanggup menginspirasi banyak orang. Bahkan mereka yang belum pernah bertemu ataupun berinteraksi langsung dengan Bapak pun bisa mendapatkan inspirasi dari apa yang Bapak tinggalkan. Nampaknya masih banyak yang harus saya lakukan untuk bisa seperti beliau.

Yah, Bapak sudah menjalani 54 tahun hidupnya dengan sangat baik sekali. Urusan dunia dan akhirat ia jalani dengan istiqomah. Semoga bekal selama 54 tahun ini cukup untuk menghantarkan Bapak ke tempat terbaik di sisi-Nya. Kebanyakan orang mengharapkan ketika lahir ia menangis dan sekitarnya tersenyum lalu ketika meninggal ia dalam keadaan tersenyum dan ditangisi oleh orang-orang disekitarnya. Tapi Bapak lahir dalam keadaan menangis dengan orang disekitarnya yang tersenyum, namun ketika meninggal Bapak dalam keadaan tersenyum dan meninggalkan orang-orang, keluarga, yang juga kuat, tersenyum bangga, dan ikhlas dengan kepergian Bapak. Satu hal yang membuat kami menjadi lebih ikhlas melepaskan Bapak adalah, karangan bunga yang datang sedemikan banyaknya serta fakta bahwa masjid Darussalam di Griya Tugu Asri mensholatkan seseorang hingga sepenuh itu. Tak ada sesal atau sedih, Bapak pergi dengan bahagia dan meninggalkan jejak yang sangat baik untuk bisa ditiru dan diteladani.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

7 Comments on Biografi M. Syamsa Ardisasmita dari Seorang Anak

  1. Hadian Iman Sasmita // 29/11/2011 pukul 11:24 pm // Balas

    Ass.. Alhamdulillah, dengan baca biografi yg singkat ini, Pak Syamsa telah mengispirasi saya untuk meniti karir di BATAN.. Saya Hadian, Murid Ibu Susiani di Biologi UI.. Salam kenal mas :)) salam untuk Ibu Susi, Ibrahim, dan Yusuf..

    Suka

  2. Ass. sy mengenal dekat p. Syamsa& keluarga skitar 10 thn, apa yg di ungkap adam adalah bnar adanya, tp sayangnya itu hanya sbagian yg di ungkap,msh banyak kbaikan yg tdk di lihat anaknya, sy adalah SAKSInya, sbg contoh dia adalah tokoh di yyasan baitul qu’ran

    Suka

  3. Salam, walaupun saya tidak mengenal dekat Bpk Syamsa, tp saya melihat Bpk orang yang pintar, ramah pada siapa saja, seru suka becanda, mmg sosok yang bijaksana. Di perayaan Ultah Bapak yg terakhir saya sempat mengabadikan video pesan2 Bpk buat semua yang hadir waktu itu. Bapak berkali2 mengingatkan kita ttg umur dan agar kita slalu mengingat Allah. Kalo belum dihapus, mungkin videonya masih ada di BB Bapak (karna saya merekam melalui BB beliau). Betapa mulianya hati Bpk Syamsa, kemuliaan yang juga mengiringi kepergian beliau. Amin..

    Suka

  4. Ass.wr.wb
    Saya turut mendoakan semoga arwah almarhum Prof. Dr. Syamsa A. DEA mendapat termpat terbaik di sisi Alloh SWT.
    Nama saya Sutrisno, teman sekelas almarhum semasa mengambil S2 (DEA) di Montpellier, Prancis. Teman sekelas lainnya adalah Prof. M. Nuh ( sekarang). Mendikbut. Bahkan ada yang menyebut kami bertiga adalah “tiga serangkai”.
    Alm. Syamsa adalah bersaudara kembar dengan Syamsi. Sebelum kenal alm. Syamsa saya sudah kenal Syamsi, karena dia adik kelas saya di jurusan Fisika ITB. Karena wajah keduanya sangat mirip, maka pada waktu pertama kali ketemu di Montpellier, saya langsung akrab se-akan2 sudah kenal lama.
    Beliau memang pekerja keras, sangat percaya diri dan ramah kepada siapapun.
    Saya dulu sering kontak melalui milis alumni Prancis, tetapi semenjak workload di KPK mungkin waktu itu terlalu berat, beliau mengundurkan diri dari milis. Saya mendengar kepergian almahum dari Prof. Djoko Wahyono, yang se almamater dengan Ibu Aniek.

    Selamat jalan saudaraku, semoga jejak langkahmu menginspirasi generasi penerus.

    wassalam
    Sutrisno

    Suka

  5. turut berduka, saya baru mengetahui beria ini. semoga almarhum diberikan tempat terbaik disisi Allah SWT aamiiin.

    Suka

  6. Catatan Biografi yang terungkap tulus dari seorang anak.. KEREN !!

    Walaupun Bapakmu telah tiada, tapi hasil jerih payah dan karya baktinya akan terus dikenang dan menginspirasi sepanjang masa.

    Salam kenal ! Saya hanya seorang mahasiswa yang sedang membuat riset dan menggunakan salah satu jurnal yang pernah ditulis oleh bapakmu saat menjabat di KPK…

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Integritas Beragama: Tribute to Bapak | Ardisaz
  2. Buat Mereka Bangga – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: