My Journal

Edukasi Gamers Lokal Terhadap Game Lokal

Kenapa sih kok gak ada game lokal yang bagus? Ini game apaan, buatan lokal tapi gambarnya kotak-kotak? Wah ada game lokal yang kualitasnya mirip triple A, tapi kok banyak bug nya! Emang orang Indonesia bisa bikin game yah?

Komentar-komentar tersebut kerap kali diluncurkan oleh gamer-gamer dari dalam negeri. Hal ini diperparah karena ada beberapa kejadian dimana janji yang dilempar oleh gamedev lokal kita tidak sesuai dengan apa yang dia deliver. Ditambah cap “karya anak bangsa” yang seolah memaksa gamers untuk mendukung game lokal apapun kualitasnya. Nah di tulisan ini, saya akan coba membahas kenapa ekspektasi gamers lokal kita dengan apa yang dibuat oleh game dev lokal kita sering tidak match. Saya akan coba bahas dari sisi game developer nya dan juga dari sisi gamer nya.

Sudut Pandang Game Developer

Dari sisi game dev, hal pertama yang paling sering terjadi adalah banyak dari game dev kita yang tidak fokus mengincar market lokal. Loh, katanya Indonesia market yang gede. Ada 15 Triliun rupiah dalam setahun yang dikeluarkan untuk beli game. Tapi kenapa gak ngincer market lokal?

Jawaban pertama, bikin game taro di google play atau taro di steam itu bisa langsung di akses seluruh dunia. Tentu jauh lebih menguntungkan bagi game dev lokal kita jika bikin game dengan tema yang global dan bahasa Inggris karena bisa diunduh lebih banyak orang. Gak hanya orang Indonesia aja. Jadi itu mengapa gak banyak gamedev lokal yang fokus ke market Indo.

Yang kedua, daya beli di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain juga beda. Satu game di global bisa dijual 20 dolar dan menurut gamers di Amerika atau Eropa itu murah, tapi buat orang Indonesia udah termasuk mahal. Jadi daripada beli game lokal 20 dolar, mending mereka nabung buat beli game triple A atau memang game yang viral.

baca juga: Melihat Project Game Ambisius

Yang ketiga, mungkin nanti akan berhubungan dengan kondisi gamer lokal kita yah, selera gaming market lokal kita cukup homogen. Mereka main game yang saat ini sedang populer dan viral, dan platform utamanya di mobile. Sedangkan game mobile itu tipikal yang komunitasnya kuat, lifetimenya panjang, dan dibacked dengan kapital yang kenceng buat marketing. Sulit bagi gamedev lokal kalau mau bersaing di market tersebut.

Yang keempat, yang paling sering terjadi, standar yang diharapkan oleh gamers lokal biasanya tinggi. Or at least seperti game-game yang mereka mainkan saat ini. Sedangkan, ekosistem game di Indonesia baik dari sisi talenta hingga investment, masih sangat jauh untuk bisa deliver game dengan scope dan budget seperti apa yang gamers lokal senangi. Jadi sulit sekali jika harus bikin game dengan scope seperti Free Fire, PUBG Mobile, Mobile Legend, Genshin Impact, etc.

Sudut Pandang Gamers

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk ngobrol bareng gamers dan content creator lokal. Ada Anak Tua, ada Republik Sultan, dan ada Pokopow. Ini momen yang menarik karena saya bisa belajar tentang padangan para gamers dan content creator, serta respon balik dari viewersnya terhadap game-game yang dibuat oleh game developer lokal.

Satu hal yang menarik, kalau saya dulu tumbuh di era game jamannya Sega dan PS. Di era itu, saya terpapar dengan banyak sekali genre game dan model grafik yang sederhana tapi seru. Generasi itu masih tetap ada sih sampai sekarang, tapi PS itu barang mewah. PC itu barang mewah. Tumbuh sih, tapi gak segitunya. Yang sangat membludak itu pertumbuhan gamers mobile kita. Mereka yang bisa memainkan game-game di handphone 1-2jt rupiah. Jadi genre yang terpapar pun menjadi sangat homogen, Moba atau Battle Royal, online multiplayer, dengan grafik yang nice. Tidak bisa kita pungkiri, casual gamers juga meningkat sih. Tapi tentu tidak semeriah genre game ini.

Hal tersebut mengakibatkan banyak genre yang dibuat oleh game developer lokal yang tidak masuk buat mereka. Genre yang cukup populer di indie game dev kita itu kayak yang narrative driven seperti Coffee Talk, When The Past Was Around, etc, itu kurang disukai. Mungkin yang berhasil masuk itu Dreadout yah, karena lebih ada game play nya. Tapi genre-genre lainnya banyak yang kurang bisa diterima di Indonesia, apalagi kalau bahasanya bukan bahasa Indonesia. Dan apalagi klo bikinnya untuk PC/Console, bukan mobile.

Jadi memang perlu diedukasi bahwa ada berbagai genre game. Dan mungkin ada gamers yang cocok dengan satu buah genre dan tidak cocok dengan genre yang lain. Dan perlu disadari juga bahwa ekosistem game development di Indonesia masih jauh dibandingkan negara-negara seperti US, Jepang, Korea, China, dll. Sehingga gamers lokal bisa lebih mengapresiasi karya-karya game lokal kita yang mungkin berbeda dengan ekspektasi mereka.

Sudut Pandang Dari Ekosistem

Peran saya di AGI adalah ekosistem builder. Ngebangun dari hulu ke hilir, dari proses talent hingga investment, dari value chain produksi, distribusi, monetisasi, aprisiasi, hingga studi. Dari menghubungkan akademisi, industri, hingga ke pemerintah. Dan saya melihat, peran gamers lokal semakin hari semakin penting bagi kesuburan ekosistem game lokal kita.

Bekraf Game Prime (sekarang Baparekraf Game Prime), dibuat dengan tujuan ajang gamedev lokal pamer game yang lagi mereka kerjain sekaligus edukasi ke masyarakat tentang game dev lokal. Selama ini saya selalu bertanya, apa manfaatnya secara bisnis buat gamedev lokal untuk buka booth di sana? Toh audience yang dateng gak akan beli game nya. Klo itu game PC/Console, kebanyakan gak punya perangkatnya. Klo itu game mobile, pasti akan kalah kuat dengan game-game mobile dari luar yang didukung dana besar untuk komunitas dan esportnya. Jadi kenapa harus ada Game Prime?

Jawabannya adalah edukasi. Game Dev lokal sekarang belum mau, or at least belum bisa melihat Indonesia sebagai market utama mereka, demikian juga gamers lokal kita masih belum tertarik memainkan game lokal. Tapi, ketika ekosistemnya membaik, nanti game dev lokal kita akan bisa lebih kuat menapakan kaki di market Indonesia, dan sebaliknya ketika ekonomi membaik, gamers-gamers juga mungkin bisa jadi memiliki PC/Console atau punya HP dengan storage yang cukup untuk menampung dan belanja game-game lokal juga. Jadi hubungan baik antara gamers dengan game dev lokal harus dibangun sejak dini. Dan itu mengapa Game Prime jadi make sense.

Hal pertama yang perlu dibangun adalah komunikasi antara game dev dengan gamers dan content creator. Hal ini untuk membangun semangat bersama bahwa ekosistem di Indonesia harus dibangun bersama-sama. Game Dev mungkin harus lebih sering share game nya ke creator lokal, creator lokal juga ketika memainkan atau mereview game nya harus turut mengedukasi juga terkait genre, scope, dan budget. Tapi tentu, harus difilter juga game yang bagus-bagus pastinya.

Hal kedua yang perlu dibangun, dukungan gamers lokal untuk kreator lokal secara tidak langsung. Oke lah klo skg gamers lokal kita belum bisa full support game-game lokal misal dari genre nya gak cocok, dari perangkatnya gak memadai, atau dari sisi uangnya belum sanggup, tapi bisa beri dukungan dalam bentuk yang berbeda. Bisa dengan membuat keramaian, mempromosikan game-game lokal di berbagai channel youtube manca negara agar mereka notice dan memainkannya, bisa dengan memberikan review positif (tentu untuk game yang bagus) di store page mereka, ataupun memberikan share di sosial media dan penyemangat buat game dev lokal kita.

Idealnya, akan ada titik dimana game dev lokal akan punya tempat di hati gamers lokal. Mungkin seperti film, kita boleh aja seneng nonton film animasi keren dari Disney, tapi kita juga sempatkan dan apresiasi animasi lokal seperti karya Si Juki. Jadi game dev kita gak perlu bersaing di level budget tingkat dewa, dengan game skala lebih kecil asal bisa deliver dengan baik, bisa juga dapat tempat di hati gamers lokal kita.

About Adam Ardisasmita (1250 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: