My Journal

Melihat Project Game Ambisius

Sudah 10 tahun berkecimpung di industri game, saya sudah banyak melihat teaser, atau trailer, atau announcement dari para game dev. Bahkan dulu saya sempat jadi penulis di Trenologi (sister company Dailysocial untuk game) dan Techinasia yang memang kerjaannya memantau berita-berita game lokal. Ada grup FB namanya GameDev ID Promo yang isinya kumpulan promosi game-game lokal. Lalu ketika di AGI pun saya menajamkan radar game baru dari Indonesia agar bisa mensupportnya.

Dari mungkin ratusan teaser dan trailer yang saya lihat, sebagian besar tidak ada yang rilis. Dan yang rilis, hanya persetase kecil yang game nya sukses. Saya pribadi pun mengalami hal yang serupa. Punya trailer yang tidak dirilis-rilis. Ada yang sudah akhirnya dibunuh projectnya. Ada yang masih dilanjutkan. Dan ada juga yang dirilis dan gagal. Dari tiap mencoba siklus tersebut dan mengamati yang teman-teman di Indonesia lakukan, saya jagi menangkap sebuah pola. Saking clearnya pola tersebut, hanya dari melihat teaser atau trailernya aja, saya bisa menerka “wah sayang nih gamenya kayaknya gak akan launch” atau “duh, project kayak gini lagi, bakal gagal nih.” Dan hampir jarang dugaan tersebut meleset.

Apa sih penyebabnya? Kalau menurut 101 startup postmoterm, pembunuh terbesar startup adalah produknya tidak dibutuhkan oleh user dan yang kedua adalah kehabisan “bensin.” Nah kesalahan fatal yang biasanya terjadi di Indonesia pun sama. Bikin game tanpa melakukan product-market fit research dan membuat game yang scopenya gak bisa mereka eksekusi sehingga kehabisan uang untuk developnya. Cuma case kapal tenggelam sebelum berlayar ini yang memang paling sering terjadi yah. Kalau gamenya sudah rilis dan gagal, at least developernya dapet lesson learned dan bisa level up untuk bikin game lagi dengan bekal pengalaman yang lebih baik. Tapi yang kejadian gamenya harus mati di tengah development ini yang saya suka sedih ngeliatnya.

Biasanya, game-game yang akan mengalami lingkaran setan bingung deliver gamenya adalah game-game yang tidak punya direction yang jelas. Proses concepting dan pre-production yang baik suka kelewat sehingga tahu-tahu udah buat demo atau vertikal slice yang memanjakan mata dari sisi visual. Harusnya, proses penentuan target user, demografik, genre, visi dari game, experience yang mau diberikan, core loop, dan art style sudah matang dulu sebelum mulai development. Visi game itu di kunci dan dijadikan pedoman untuk menambahkan atau mengurangi fitur dan koten selama perjalanan. Musuh besar project game development adalah scope creeping. Tanpa direction yang jelas, game tersebut akan terus melebar ke arah yang tidak koheren. Akan ada fitur dan konten yang rasanya ingin terus ditambahkan, tapi tidak selalu memberikan experience yang lebih menyenangkan.

Jadi kalau liat ada game developer lokal yang baru pertama kali bikin game dan trailer pertamanya hanya menghighlight keindahan visualnya saja, ini udah tanda-tanda bahaya. Harusnya di trailer itu yang dijual premis gamenya. Apa core mekaniknya, seperti apa genrenya, baru story dan konten menjadi pendukung fondasi game design yang matang. Kalau dari visualnya, bisa dapet premis gamenya. That’s good. Tapi kalau hanya jual visual dari environment dan character, agak sulit. Karena kalau kita mau flexing di art yang bagus, orang akan langsung compare kita ke game-game yang budgetnya puluhan juta dolar. Jadi kita harus masuk dari area lain yang lebih unik selain dari artnya.

Lalu yang berikutnya adalah banyak dari game developer di Indonesia yang belum tahu “harga” yang harus dibayar untuk menyelesaikan game dengan art yang tinggi. Apalagi, di Indonesia masing langka sekali technical artist. Kalau 3D artist dan concept artist yang jago di Indonesia sih banyak yah. Tapi yang bisa mentranslasi karya seni tersebut menjadi bentuk digital yang optimize, itu yang susah. Apalagi kalau pengen bersaing sama game triple A dengan efek grafis terdepan. Manage pipeline developmentnya harus bener-bener bagus kalau mau gak buang-buang uang dan resources. Mulai dari menjaga frame rate, mempertahankan installer size dan memory consume, animasinya, dan lain sebagainya. Jadi semakin ambisius suatu art direction, harga yang harus dibayarnya akan semakin mahal. Dan sedihnya lagi, udah bayar mahal pun, kalau game design dan technicalnya gak matang, tetep orang gak akan beli.

Perasaan saya cukup terbelah kalau lagi liat di FB atau di Media ada yang share teaser atau trailer dengan scope yang ambisius. Di satu sisi saya seneng banget game kita semakin mencoba untuk push the limit dan deliver something yang gamedev lokal kita gak pernah bikin sebelumnya. Di sisi lain, saya khawatir kalau-kalau di balik trailer tersebut ada product yang belum memiliki market fit yang jelas, game yang belum punya visi yang kongkrit, gameplay dan core mechanic yang masih kurang matang, dan tidak punya pengalaman produksi sehingga tidak bisa menjaga pipeline development. Rasanya pengen banget bisa melihat game ambisius tersebut take off dan sukses, menjadi kebanggaan Indonesia, sehingga bisa ikut menumbuhkan ekosistem game industri di Indonesia. Rasanya pengen banget bisa coba ngecek apakah mereka bikin trailer itu, PR-PR lainnya juga sudah dikerjakan atau belum? Kalau belum, apakah masih bisa dikejer?

Fenomena game seperti ini gak cuma saya yang rasakan. Tempo hari sempet ada networking dengan member AGI dan hal serupa juga muncul ke obrolan. Dan concern saya juga saya sampaikan dan tanyakan. Ada gak sih cara untuk memastikan game-game ambisius ini bisa dibantu agar bisa sukses. Ada yang bilang gak bisa. Karena bikin game itu ada faktor emosional. Dan biasanya orang harus gagal dulu untuk baru mau dengerin apa kata orang lain. Kalau di fase tersebut diinterupsi, yang ada malah penolakan. Jadi yah terpaksa untuk sekarang, saya cuma berdoa aja semoga game-game ambisius tersebut bisa rilis dan sukses.

About Adam Ardisasmita (1242 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Comment on Melihat Project Game Ambisius

  1. Sepakat dengan yang abang tulis. Niat awal Saya dulu ingin membuat game platformer tapi coba dulu buat game puzzle sederhana. Eh ternyata untuk dunia per-puzzle-an pun banyak yang bisa digali secara teknis maupun konsep. Yah hingga sekarang tidak benar-benar membuat game penuh tapi lebih ke tech demo terutama untuk dijual sebagai template.

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Edukasi Gamers Lokal Terhadap Game Lokal – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: