My Journal

Nominasi The Game Awards 2020 Sudah Diumumkan

The Game Awards merupakan salah satu ajang penghargaan game yang paling bergengsi di dunia. Mungkin skalanya bisa dibilang kayak Oscar kali yah. Ajang ini didirikan oleh Geoff Keighley, jurnalis dan produser yang cukup kondang di industri game. Advisory boardnya juga industri giant dan nama-nama besar kayak Sony, Valve, Nintendo, Microsoft, Google, Rockstar, Riot. Juri-jurinya pun berbagai media dari seluruh dunia (list lengkap di sini). Jadi secara integritas, tim organize dan jurinya sangat bisa dipercaya lah.

Saat ini nominasi The Game Awards sudah dirilis. Ada banyak banget kategori dalam award ini mulai dari yang paling prestisius yakni Game Of The Year, Best Role Playing, Best VR/AR, Best Fighting, sampai ke Best Content Creator, Best Esport Team, malah ada juga Best Esport Coach, dan salah satu kategori yang bikin heboh adalah best Indie Game. Seperti tulisan saya tentang game ekosistem, apresiasi adalah elemen penting sekali. Dan sayangnya, award seperti ini belum banyak di Indonesia. Yang ada saat ini tinggal Gameprime Awards. Rasanya ke depan kita perlu menggalakan lagi apresiasi agar menggairahkan industri game lokal kita.

baca juga : Peta Ekosistem Industri Game Development

Kategori yang pertama yang paling ditunggu-tunggu adalah Game of The Year. Ada Animal Crossing, ada Doom Eternal, ada FFVII Remake, Ghost of Tsushima, Hades, dan The Last of US part II. Poin pertama yang menarik adalah game of the year tidak harus yang berbudget besar. Game seperti FFVII Remake, Ghost of Tsushima, dan Last of Us part II itu mungkin game yang skala budgetnya udah ratusan juta USD mungkin. Tapi game selevel hades yang masih dalam skala indie pun bisa masuk kategori game of the year. Ini memberikan dampak yang bagus banget sih bahwa game bagus tidak sama dengan game mahal. Game dengan budget yang kecil pun bisa dieksekusi dengan baik dan jadi game bagus. Dan bisa dilihat game of the year juga bukan diliat dari jumlah salesnya. Karena pasti Hades gak akan bisa dikomparasi dengan salesnya Animal Crossing.

Kalau saya pribadi, pemain yang cukup banyak menghabiskan hours di Animal Crossing. FFVII cuma main demonya. Ghost of Tsushima pengen main tapi kalah prioritas sama main Assassisn’s Creed. Hades mungkin nanti mau mainin. Klo Last of Us gak akan main sih hahaha Doom Eternal juga buka tipe game saya. Jadi klo saya berharap sih yang menang Animal Crossing yah 🙂 Ini predesen positif juga kalau game relaxing juga bisa jadi game of the year.

Kemudian yang menarik lagi adalah kategori best Indie game. Actually saya cuma mainin Fall Guys diantara semua game di situ. Mungkin saya kurang adventurous yah untuk keliling game indie. Tapi pengen juga sih klo ada waktu mainin title-title yang ada di situ. Cuma yang jadi perdebatan adalah apakah Fall Guys masuk kategori Indie? Mereka itu timnya 200-an orang loh. Jadi sebenernya dunia internasional sendiri masih banyak yang belum sepaham dengan definisi indie. Apakah dari size companynya, size teamnya, atau investor, atau publisher, dll. Ini mirip kayak Bekraf Gameprime 2020 ketika Agate menang. Banyak perdebatan juga apakah Agate itu Indie? Kalau temen-temen tahu studio game Bungie, bikin game triple A, itu mereka masuk kategori Indie juga loh semenjak lepas dari Microsoft dan berhenti dipublish Activision. Jadi apa itu Indie? hahaha

Cuma kalau saya lihat impact secara kultural, Fall Guys ini sempat viral banget. Bahkan sama impactnya kayak Among Us. Tapi saya juga melihat Hades punya potensi. Tiga lainnya saya belum lihat hahaha. Jadi kalau saya vote, paling antara Fall Guys sama Hades yah untuk kategori ini.

Poin terakhir yang ingin saya garis bawahi tentang award ini adalah kategori mobile. Ada sih kategori mobile di dalam nominasi ini, tapi hanya satu di antara sekian banyak game yang dinominasikan. Sisanya yang dapet award dari best on their genre, banyakan yang PC/Console semua. Ini menarik. Apakah karena di Eropa dan Amerika culture gaming mereka adalah PC/Console sehingga mobile jadi tidak menarik? Apakah mereka menganggap genre mobile yang seperti Idle Game, Puzzle Game, Simulation game, dll itu tidak dianggap sebagai sebuah game? Apakah mereka tidak memandang casual gamers sebagai gamer?

Game Mobile yang punya presensi cukup kuat di dalam The game Awards menurut saya hanya ada dua, Fortnite dan Gensin Impact. Itu pun keduanya sebenernya ada juga di PC/Console. Padahal banyak loh game mobile yang juga inovatif seperti game-game nya Supercell. Atau kalau tahun lalu yang sempet masuk award ini ada game Florence. Tapi presence game mobile di award ini masih kurang dapat spotlight. Dan ini mungkin dipengaruhi juga oleh culture gaming di negara-negara yang industri gamenya sudah lebih dulu mature.

So, how do you think? Apakah ada game favorit kamu di dalam list game awards ini? Dan kalau Indonesia mau punya award sendiri, kategori apa saja yang perlu ada? Mengingat Indonesia ini kan mobile first country yah 🙂

About Adam Ardisasmita (1207 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: