My Journal

Apakah Cloud Gaming Akan Menjadi The Future Of Gaming?

Kemarin Microsoft baru saja mengumumkan mereka habis mengakusisi perusahaan game bernama Bethesda dengan nilai 7,5 Miliar USD. Itu adalah nilai yang sama ketika Microsoft mengakuisisi Github dan lebih besar dari nilai akusisi Microsoft ke Nokia. Dengan membeli Bethesda, Microsoft turut jadi pemilik game-game populer seperti Fallout, Doom, dan Skyrim. Pembelian ini bukan tanpa arti. Ada tujuan yang ingin dikejar oleh Microsoft yakni memperkuat lini streaming service mereka.

To put in context yah teman-teman, streaming di sini bukan yang kita nonton orang main game atau kita main game distreaming. Tapi yang dimaksud dengan streaming di sini adalah kita main game bukan di perangkat milik kita seperti console, PC, atau HP, tapi di server. Game yang kita mainkan akan dijalankan di perangkat yang ada di cloud, kita bisa mengaksesnya dari semua device yang kita miliki.

Awalnya konsep ini yang digemborkan oleh Google dengan layanan Stadia. Tapi keberadaan Microsoft di battlefield cloud gaming service ini membuat peta kompetisi menjadi menarik. Google punya infrastruktur server yang sangat kuat dan raksasa, punya layanan-layanan yang menjamur seperti Google dan Android sehingga akses kepada masyarakat menjadi lebih mudah. Tapi sayangnya Google bukanlah perusahaan gaming sehingga tidak mampu memproduksi game mereka sendiri.

Berbeda dengan Microsoft. Microsoft punya console mereka sendiri yakni Xbox. Xbox sendiri punya komunitas hardcore gamer yang cukup kuat. Microsoft juga sudah punya 20-an studio game di bawahnya yang memproduksi game-gamenya sendiri. Ada cukup banyak game-game exclusive yang bisa dimainkan di Xbox. Lalu Windows yang merupakan sistem operasi milik Microsoft adalah pilihan bagi para PC gamer. Tak hanya itu, Microsoft juga punya infrastruktur internet dan cloud yang kuat. Microsoft punya Azure, lalu ada juga cloud service seperti Office 365. Sehingga starting point microsoft untuk mendominasi streaming atau cloud gaming menjadi lebih tinggi.

Yang jelas, siapapun yang menyediakan jasa cloud gaming, untuk orang-orang bisa mengonsumsinya butuh internet. Internet yang stabil dan cepat. Ini mungkin baru bisa terjawab ketika kita sudah memasuki era 5G. Akan terjadi revolusi besar-besaran seperti Youtube merevolusi TV, cloud gaming bisa jadi akan merevolusi industri game besar-besaran. Gimana tidak, game-game yang kompleks, imersif, dan kaya akan konten seperti game GTA V, Cyberpunk, Final Fantasy, dan sejenisnya yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh orang yang punya uang untuk build PC gaming dengan budget 7-10jt atau beli console + TV dengan budget serupa, nantinya akan bisa main game-game itu dengan modal HP 2jt-an saja. Selama ada koneksi internet, mereka bisa juga main game high budget.

Pertanyaannya adalah kapan 5G masuk ke Indonesia? Kapan cloud gaming masuk ke Indonesia? Siapa yang akan mendominasi pelaku cloud gaming di Indonesia? regulasi apa yang perlu disiapkan? Ini akan jadi harapan dan juga tantangan bagi para game developer. Gimana menurut mu?

Lebih dalamnya pembahasan ini bisa dicek di Youtube saya yah 🙂

About Adam Ardisasmita (1189 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: