Iklan
My Journal

Potensi Industri Game Dan State Game Developer Indonesia Di 2018

Halo para pembaca setia. Pada postingan kali ini, saya ingin bercerita tentang industri game, terutama industri game lokal, dan lebih khususnya lagi terkait dengan pengembang game lokal. Ini sebenernya materi yang sudah lama ingin saya share di sini karena hampir di setiap kesempatan, orang-orang banyak yang bertanya kepada saya maupun Asosiasi Game Indonesia mengenai state dari industri game di Indonesia. So, langsung saja saya mulai yah šŸ™‚

Industri Game? Apa itu?

Saya ingin membahas dulu pertama dari dunia industri hiburan di dunia. Kalau kita bicara industri hiburan atau dunia entertainment, biasanya yang ada di benak kita adalah industri film. Kita kenal dengan judul-judul film yang sukses seperti Star Wars, Avatar, Marvel Avengers, dan lain sebagainya. Ketika kita bicara studio yang memproduksi film tersebut, kita langsung terbayang kesuksesan film tersebut menghasilkan uang yang sangat banyak bagi studio dan para pelakunya.

Selain industri film, jika kita mendengar kata industri hiburan, mungkin dibenak kita terbayang ada industri musik (baik itu live music maupun rekaman), industri buku, dan masih banyak lainnya. Pertanyaannya, apakah banyak yang aware tentang industri game? Kalaupun ada yang tahu tentang industri game, apakah pernah terbayang sebesar apa industri game di dunia jika dibandingkan dengan industri hiburan lainnya?

Mungkin untuk survey, kamu bisa coba iseng bayangkan ini dipikiran masing-masing yah. Andaikan kamu bilang ini ke orang tua kamu atau calon mertua kamu, “Pak, Bu, Saya kerja di Marvel Studio, saya kerjanya bikin film layar lebar” dengan “Pak, Bu, saya kerja di Rockstar Studio, saya kerjanya bikin video game”. Mungkin kalimat yang pertama akan memberikan efek bangga sedangkan kalimat yang kedua akan memberikan efek yang kurang baik. Mungkin respon yang didapat adalah “Bikin game itu ngapain?”, “Emang ada masa depannya?”, “Oh yang kerjanya jaga warnet itu yah?”, dan lain sebagainya.

Seberapa Besar Industri Game?

Respon yang kurang baik dari industri game cukup wajar, terutama di Indonesia yang industri gamenya masih tertinggal. Nah, sekarang saya ingin coba membantu mencerahkan tentang apa itu industri game dan kira-kira sebesar apa sih industri game di dunia itu. Apakah ada yang bisa mengira-ngira berapa pemasukan yang didapatkan oleh film-film berikut:

  1. Avatar
  2. Titanic
  3. Star Wards : The Force Awakens
  4. Jurassic World
  5. Marvel’s Avengers

Itu adalah film-film yang masuk top 5 film dengan pendapatan terbesar di dunia. Yang nomer satu masih dipegang oleh Avatar (bukan Avatar Aang yang, tapi Avatar yang biru-biru itu). Oh ya, ini pun data kalau tidak salah tahun 2017 yah, klo di tahun 2018 ada yang berubah chart nya boleh diinfokan ke saya šŸ™‚ Nah, di bawah ini adalah gambaran grossing yang didapat oleh kelima film tersebut.

Screen Shot 2018-09-25 at 14.16.05

Next, soal berikutnya coba tebak-tebakan lima judul game di bawah ini:

  1. World of Warcraft
  2. Crossfire
  3. Street Fighter
  4. Wii Sport
  5. Lineage

Itu adalah judul-judul video game yang datanya juga berbasis di tahun 2017. Oh ya, list ini gak menggambarkan bahwa itu top 5 game dengan pendapatan terbesar di dunia yah, ini cuma game dengan total grossing yang angkanya cukup oke untuk ukurang video game. Ada yang bisa tebak kira-kira pendapatan mereka berapa di tahun 2017? Nah coba lihat gambar di bawah ini.

Screen Shot 2018-09-25 at 14.16.14

Bisa dilihat yah dari gambar tersebut, top 1 box office film di dunia saja cuma setengahnya dari nomer lima top grossing game. Lalu bagaimana jika dibandingkan dengan industri game hiburan lainnya? Coba dilihat gambar di bawah ini.

Screen Shot 2018-09-25 at 14.16.32

Mungkin banyak yang bertanya-tanya dan terheran-heran, kok bisa yah industri game menghasilkan sebesar itu. Mungkin analisis dan jawabannya bisa ada banyak. Mungkin bisa karena penikmat game cenderung lebih royal dalam spending, mungkin karena kualitas game saat ini sudah setara, bahkan lebih immersive daripada film, dan lain sebagainya. Cuma kalau menurut saya, salah satu yang paling membuat game ini bisa memiliki nilai market yang besar adalah waktu hidupnya.

Seperti World of Warcraft, game besutan Blizzard yang sudah USD 10B++ itu, game tersebut bukanlah game baru. WoW sudah ada dari lama dan tiap tahun Blizzard meluncurkan cerita tambahan ke dalam game-nya sehingga pemain bisa terus mendapatkan konten. Lalu tak hanya membeli game-nya di awal, WoW juga memiliki layanan berbayar (subscription) tiap bulannya. Belum lagi in-game digital item yang bisa dibeli untuk dimainkan di dalam game.

Contoh game lain misalkan, GTA V besutan Rockstar Studio, mereka dilaporkan telah menjual 90 juta keping game tersebut dan meraup keuntungan hingga USD 6 Billion. Dengan production cost yang tidak jauh beda dengan Avatar, mereka bisa menggenerate revenue jauh lebih besar. Belum lagi jika mereka membeli konten-konten tambahan (DLC) untuk game ini. Jadi dengan harga tiket bioskop 50rb, kita nonton Avatar 2 jam. Dengan harga DVD GTA V 600rb, kita bisa menikmati game ini puluhan hingga ratusan jam dan terus-terusan melakukan pembelian konten digital di dalamnya selama kita merasa nyaman terhadap game ini.

Screen Shot 2018-09-25 at 14.20.17

Contoh ekstrim lainnya adalah Supercell, pengembang dari game Clash of Clans, Hay Day, Clash Royale, dll. Di tahun 2017, mereka tidak merilis satupun judul baru, tapi mereka mendapatkan profit di tahun itu sebesar USD 810 Million dengan revenue USD 2 Billion.

Screen Shot 2018-09-25 at 14.17.04

Bagaimana Potensi Industri Game di Indonesia?

Itu tadi market game di dunia, sekarang gimana dengan di Indonesia. Mungkin secara sekilas, kita akan melihat pasar di Indonesia kurang potensial. Di Indonesia masih marak orang yang game bajakan (untuk console dan PC). Lalu untuk game mobile pun, rasanya tidak banyak orang yang mau spending, maunya gratisannya aja (atau cari APK bajakannya) atau cari cheat untuk game-nya. Memang kondisi ini agak memprihatinkan sih melihat lemahnya peran pemerintah untuk menumpas pembajakan di dalam negeri.

Namun yang tidak disangka, jumlah uang yang dikeluarkan oleh masyarakat Indonesia untuk game ternyata cukup besar. Di tahun 2014, total spending masyarakat Indonesia untuk game adalah USD 180 Jt, lalu di tahun 2015 menjadi USD 350jt, kemudian di tahun 2016 adalah USD 600jt, dan data terakhir dari Newzoo pada tahun 2017 mencapai USD 880jt atau setara dengan 11 Triliun Rupiah. Angka itu adalah nominal uang secara total yang dikeluarkan oleh sekitar 44 juta gamers di Indonesia. Angka tersebut membuat Indonesia menjadi negara dengan market terbesar ke 16 di dunia untuk industri game.

Menurut saya pribadi, angka tersebut angka meningkat drastis dari tahun ke tahun. Apalag tahun ini, jumlah gamers di Indonesia saya rasa bertambah cukup banyak mengingat semakin banyaknya gamers baru yang bermain game di mobile. Game-game seperti Mobile Legend, AoV, PUBG, Fortnite, dan sejenisnya sedang jadi fenomena dan bisa mengkonvert mereka yang dulunya bukan gamer menjadi seorang gamer.

Screen Shot 2018-09-25 at 14.16.40Screen Shot 2018-09-25 at 14.16.46

Jadi dari insight data tersebut, kita bisa pastikan bahwasannya Indonesia sendiri merupakan negara yang sangat potensial untuk industri game. Tapi, saya punya kabar buruk. Dari sekitar 11 Triliun tersebut, porsi yang masuk ke kantong pengembang game lokal di Indonesia masih sangat rendah sekali. Bahkan 2%-nya saja dari total USD 880 Juta sudah termasuk angka yang optimis. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Selanjutnya saya akan membahas mengenai ekosistem game developer di Indonesia.

Ada Apa Dengan Game Developer Lokal?

Untuk membahas kondisi game developer di Indonesia, saya ingin memulai dengan sebuah cerita. Cerita ini pertama saya dengar sekitar 3-4 tahun yang lalu dan mungkin masih relevan hingga hari ini. Jadi suatu ketika, beberapa rombongan game developer dari Korea berkunjung ke Indonesia dan mengadakan meetup dengan Asosiasi Game Indonesia (kalau tidak salah di kantor Megaxus waktu itu). Di sesi santai, kita ngobrol-ngobrol dengan developer dari Korea. Ada pertanyaan yang disampaikan ke developer dari Korea, “kalau di Korea, apa reaksi orang tua mu ketika kamu bilang kamu adalah game developer?”, kira-kira seperti itu pertanyaannya. Developer dari Korea itu bilang kurang lebih seperti ini, “Saya melihat semangat kalian, game-game kalian, dan kondisi yang tadi kalian ceritakan, itu mengingatkan saya dengan kondisi di Korea 15 tahun yang lalu. Dulu kondisi kami seperti kamu saat ini, dimana seorang game developer belum dianggap menjadi sebuah profesi yang stabil.” Wah, jadi kita ketinggalan 15 tahun dong yah dari Korea. Gimana dengan negara maju lainnya seperti Jepang, Cina, atau Amerika?

Nah yang menarik, ini juga sekitar 3-4 tahun yang lalu, game developer lokal kita ada yang berkunjung ke Amerika. Mereka main ke studio game dan publisher game besar di sana. Di sana, perwakilan dari game developer lokal ditanya satu pertanyaan menarik oleh game developer dari Amerika, “Di Indonesia, siapa studio game lokal yang paling besar?”, waktu itu (dan rasanya masih sampai hari ini) yang terbesar adalah Agate Studio. Lalu mereka bertanya lagi, “Berapa jumlah karyawan yang ada di Agate?”, kala itu, jumlah karyawan Agate yang merupakan studio game lokal terbesar sekitar 60-80 orang. Kemudian secara halus mereka berkomentar kalau memang yang terbesarnya saja masih di bawah 100 orang, jangan bilang di Indonesia ada Industri Game-nya. Di Amerika, studio yang sekalanya sudah ratusan orang sudah banyak sekali. Perusahaan seperti Blizzard karyawannya 4.000-an dan EA 9.000-an. Jadi memang masih tertinggal sekali skala studio game di Indonesia.

Lalu yang semakin mengerikan adalah sekarang China pun sudah semakin mendominasi dan mendunia. Tencent sekarang merupakan perusahaan yang memiliki market game terbesar di Dunia. Bahkan perusahaan China yang tier 3 saja sudah berhasil menguasai market lokal kita (Moontoon dengan Mobile Legend-nya). Jadi dari cerita-cerita di atas, terlihat bahwa Indonesia kalah start dan harus mengejar ketertinggalan dari luar. Jadi kita harus bisa meningkatkan kapasitas industri game, terutama game dev lokal kita di Indonesia, kalau tidak ingin kita dijajah dari sisi kapital industri game Indonesia.

Apa Yang Menyebabkan Game Developer Di Indonesia Masih Tertinggal?

Selanjutnya saya ingin membreak down lebih detil lagi dari sisi apa kita tertinggal dengan negara-negara lain. Saya belum lama ini melihat sebuah presentasi dari CEO Agate pada acara Bekraf Gameprime. Ada satu slide yang menurut saya cukup menarik untuk menggambarka Indonesia Game Industry State dengan sangat sistematis. Berikut adalah slide-nya.

Screen Shot 2018-09-25 at 16.21.55

Di atas, saya sempet mention bahwa dari 880 juta dolar market kita, hanya 2% yang masuk ke kantong game developer lokal. Angka 2% itu jika kita memperhitungkan publisher game juga (yang membawa game dari luar untuk didistribusikan di Indonesia). Kalau dari data milik Agate, yang bener-bener masuk ke pengembang game lokal hanya 0,4%. Dibandingkan dengan di Jepang yang sampai 81% masuk ke game developer lokal atau Korea yang 78% ataupun China 68%, kita masih sangat jauh sekali. Pertanyaannya, kenapa kok market share lokal kita kecil?

Baris kedua, kita melihat dari sisi nilai investasi yang dikucurkan untuk industri game. Dalam setahun, di Indonesia, tidak lebih dari USD 2 Million yang diinvestasikan untuk pengembangan game. Masih kalah jauh dibandingkan China yang sampai USD 5B atau Korea yang sampai 1B. Gak usah sejauh itu lah, sama Vietnam saja kita masih kalah jauh (vietnam USD 50 Million).

Pertanyaan berikutnya, kenapa kok gak ada yang mau investasi ke game di Indonesia?Padahal, kalau kita lihat dari perbandingan antara Avatar dengan GTA V, dengan nilai investasi yang sama, game mampu menghasilkan revenue lebih besar dari film. Jawabannya adalah belum banyak studio game di Indonesia yang bisa di-invest. Di Indonesia, data dari AGI ada sekitar 135 studio game yang sifatnya tim (biasanya di bawah 10 orang satu timnya). Yang sudah jadi badan hukum pun hanya 15 orang dengan tim yang juga kecil. Di China, sutdio game ada 25 ribu yang sudah berbadan hukum dan tim yang besar. Gak usah jauh deh, di Malaysia saja sudah ada tiga studio game yang karyawannya sudah mencapai 100 orang. Di Indonesia, perusahaan lokal yang sudah lebih dari 100 orang ya baru Agate saja (klo gak salah sekarang 200-an yah). Jadi kalau ada investor mau memasukan uangnya ke Industri game juga agak sulit karena studio yang bisa di-invest pun masih belum banyak.

Kenapa kok studio game kita gak banyak? Jawabannya ada di baris keempat yakni permasalahan talent. Menurut data dari Dicoding, jumlah game developer di Indonesia total ada 1200 orang. Itu pun mungkin gak semuanya full time kerja di industri game yah. Sangat jauh dibandingkan dengan Korea yang ada sekitar 95 ribu dan vietnam yang ada sekitar 10 ribu. Jadi kondisinya saat ini kita darurat talent. Talent di sini baik dari sisi kuantitas dan yang paling perlu diisi adalah gap dari sisi kualitas.

Bagaimana Caranya Kita Mengejar?

Empat hal yang harus ditingkatkan sudah jelas, kita harus meningkatkan market share game lokal kita, kita harus meningkatkan jumlah investasi untuk pengembangan produk game, kita harus meningkatkan jumlah studio game lokal yang stabil dan sustain, dan yang terakhir kita harus meningkatkan kapasitas talent kita dalam jumlah yang masif.

Saat ini status industri game di Indonesia sedang gawat darurat. Ini kita sedang dikepung oleh game-game dan studio game dari luar yang bisa dengan bebas mengeruk market di Indonesia. Kalau kondisi ini kita biarkan saja secara natural dan organik, tanpa adanya intervensi dari pihak lain, maka siap-siap saja game developer di Indonesia tidak bisa survive. Satu-satunya cara untuk kita bisa mengejar ketertinggalan yang sampai 15 tahun bahkan lebih ini adalah dengan berkolaborasi.

Kolaborasi seperti apa yang perlu dilakukan? Kita perlu sebuah gerakan bersama antara pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, masyarakat, dan pelaku industri (game developer, game publisher, media, investor, dll). Sekitar 4 tahun yang lalu, Indonesia memiliki sebuah blueprint industri game Indonesia. Sebuah rancangan bagaimana caranya agar kita secara bertahap bisa meningkatkan market share lokal kita. Dan semenjak itu, semakin banyak kemajuan yang bisa rasakan hari ini.

Beberapa kemajuan positif yang saat ini terjadi di Indonesia contohnya adalah Indonesia saat ini memiliki Bekraf yang fokus melakukan intervensi agar proses akselerasi industri game kita bisa menjadi lebih cepat. Program-program seperti Bekraf Developer Day, Bantuan permodalan, Bantuan pemasaran keluar negeri, bantuan pengadaan TIK, hingga bantuan dalam bentuk event Bekraf Gameprime menjadi beberapa contoh intervensi positif yang sudah dilakukan pemerintah. Lalu dari sisi akademisi, sudah mulai banyak kampus-kampus yang inisiatif membuka jurusan game development. Dari sisi komunitas dan Asosiasi, saat ini semakin berperan aktif dan turut membantu dengan berbagai programnya (mungkin nanti saya ingin cerita lebih dalam terkait sepak terjang komunitas dan asosiasi dalam memajukan industri game lokal). Dan masih banyak contoh lainnya.

38260552_10156636650762700_6480581225567223808_o

Rekan-rekan pengurus Asosiasi Game Indonesia

Melihat dua tahun ke belakang, saya melihat industri game lokal kita sedang berlari cukup kencang dan mulai mengejar. Tiap tahun selalu ada kejutan-kejutan menarik dari game developer kita yang sangat membanggakan seperti kisah sukses Icon Pop Quiz yang mendunia, Tahu Bulat dan Tebak Gambar yang viral dan sukses di market lokal, game Dread Out yang menarik atensi pemain di seluruh dunia (hingga direview oleh PewDiePie), hingga tahun 2018 dimana untuk pertama kalinya dalam sejarah kita bisa melihat judul game buatan Indonesia yang akan ada di platform console PS4 ataupun Switch (Ultra Space Battle Brawl, Legrand Legacy, Fallen Legion, Valthirian Arc, dll). Belum lagi, baru saja bulan ini, game Happy Glass dari Surabaya merajai top chart di Google Play dan Apple App Store dengan total puluhan juta download.

Walaupun kabar-kabar menggembirakan terus terdengar, tidak sedikit juga kabar buruk yang terpaksa harus kita telan ketika melihat ada studio game yang tidak bisa survive atau game yang gagal diterima pasar. Untuk itulah mengapa kolaborasi itu penting. Kalau semua jalan sendiri-sendiri, yang ada kita akan semakin terjajah. Menatap ke depan, kita perlu lebih banyak lagi kolaborasi. Kemudian kita juga harus melakukan evaluasi dan pengembangan dari program atau inisiatif yang sudah ada saat ini. Semisal dari blueprint yang dulu pernah kita buat, perlu diimplementasikan lebih baik lagi dan mungkin perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan kondisi hari ini. Kolaborasi perlu diperkuat, bahkan kalau perlu lintas industri. Karena per-hari ini, kita tidak punya pilihan lain selain berkolaborasi atau mati. Jadi mari kita sama-sama merebut kemerdekaan industri game di Indonesia.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1125 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

3 Comments on Potensi Industri Game Dan State Game Developer Indonesia Di 2018

  1. Per Sept 2018, Avenger Infinity Wars masuk ke peringkat 4 dam, yg Marvel’s the Avenger turun ke peringkat 6. Sumber https://www.boxofficemojo.com/alltime/world/ untuk detailnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: