Iklan
My Journal

Memperluas Cakrawala Dengan Pertukaran Budaya

Ketika program Game Mixer dengan game dev dari Jerman, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu rekan mengenai fenomena pengungsi di sana. Seperti yang kita ketahui, di Syria sedang terjadi perang antara pemerintah dengan opisisi yang menjadikan warga sipil korban. Akhirnya banyak dari mereka yang mencari tempat berlindung dan salah satu tempat yang paling welcome dengan pengungsi adalah Jerman.

Meskipun begitu, banyak terjadi isu dan kegaduhan internal di jerman sendiri. Ada yang takut jadi islamisasi, ada yang takut pengaruh terorisme, dan lain sebagainya. Padahal itu hanya berdasarkan asumsi dan prejudice saja. Andai mereka mengenal secara personal, mengetahui kultur mereka, pasti prasangka seperti itu akan sirna.

baca juga: Budaya Tidak Bisa Mengantri yang Kronis

Ketidaktahuan kita tentang perbedaan budaya seringkali membuat kita menghakimi atau berprasangka. Contohnya tentang minuman keras. Temen-temen dari Jerman ini sangat lumrah untuk minum bir setiap saat. Bahkan tidak jarang kami diajak mereka untuk minum bir. Mungkin bagi sebagian besar kita, ketika dapat ajakan itu, akan langsung tersinggung dan men-judge mereka tidak toleran. Tapi ini tidak lain dan tidak bukan karena hanya perbedaan kultur. Begitu mereka sudah tahu klo di Indonesia minuman keras agak tabu, mereka bisa langsung relate dan ajakan untuk ngebir diganti jadi ajakan untuk minum-minum saja. Mereka minum bir, kita minum yang lain 🙂

Masalah dengan orang Indonesia kebanyakan adalah karena kita terlalu homogen dan kurang open minded. Untuk mereka yang sudah tinggal di kota besar dan berinteraksi dengan mereka yang berbeda budaya, tentu bisa lebih memiliki toleransi terhadap perbedaan. Tapi bagi sebagian besar kita yang hidupnya terisolasi dengan kulturnya sendiri, perbedaan seperti ini bisa menimbulkan percikan dan menjadi aksi yang negatif. Sangat disayangkan sih kalau hal ini kita biarkan terjadi.

baca juga: Budaya Bertanya

Tapi memang cukup sulit sih untuk bisa menghilangkan hal ini. Perlu ada kegiatan pertukaran budaya yang cukup intensif agar bisa membuka cakrawala sebagian besar dari kita. Masyarakat kita harus mengalami berinteraksi dengan orang yang memiliki budaya yang berbeda atau pergi ke tempat dimana mereka menjadi minoritas. Dengan begitu, kita akan semakin menghargai perbedaan dan bisa memiliki toleransi yang lebih baik.

Kebetulan isu ini juga yang kami coba selesaikan dengan ide game ketika mengikuti kegiatan game mixer creative camp. Tim kami membuat virtual room dimana orang dari negara yang berbeda bisa duduk bersama (secara virtual) dan bermain board game tradisional negaranya masing-masing. Plot twistnya, di sini negara pemilik board game diminta untuk menjelaskan aturan main game mereka sehingga terjadi interaksi komunikasi antar pemain yang berbeda negara dan bisa menjadi ajang untuk membuat teman baru yang memiliki kultur berbeda 🙂 Gimana, menarik tidak game-nya 😀

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: