Iklan
My Journal

Dua Kehilangan Besar Bagi Startup di Indonesia

Beberapa hari yang lalu saya menerima undangan untuk menjadi pembicara di acara Mobile World Congress tentang ekosistem startup, terutama startup mobile di Indonesia. Salah satu poin yang diminta untuk digarisbawahi adalah peran pemerintah dan eksternal yang membantu startup di Indonesia.

Sebenernya saya belum memutuskan untuk berangkat atau enggak secara itu pas lebaran dan di Cina (kemungkinan sih enggak yah :p), tapi saya jadi mikirin isu tersebut dan saya jadi terpikirkan ada dua faktor yang menurut saya cukup berperan penting dalam perjalanan saya didunia startup yang kini telah tidak ada.

Belum lama ini saya berdiskusi dengan ketua Game Developer Bandung, Lukman Maulana, yang kini menjadi artist di Tinker Studio. Salah satu topik yang kami bicarakan adalah masalah regenerasi. Sebelum Lukman, ketua GDB adalah Gerry dari Nightspade Studio. Sudah hampir dua tahun lamanya belum ada regenerasi lagi semenjak Lukman.

Kami coba ngelist startup game di Bandung yang lebih muda ada siapa aja. Ternyata Lukman sendiri juga bingung mencari studio generasi baru. Kalau yang senior di Bandung ada Agate, lalu ada Nightspade, lalu Tinker, Arsanesia, Garuda, Own Games, dkk itu rata-rata satu angkatan (antara 2011-2012). Nah pas mencoba mencari yang “kelahiran” 2014 kok agak sulit yah?


Kehilangan Nokia Indonesia

 1925262_10152259961711797_558677885_n

Mencoba menganalisis banyak faktor, harusnya secara teknikal lebih mudah untuk membuat game mengingat tools-nya banyak yang gratis sekarang. Lalu ada satu faktor yang kita lihat ada di tahun 2012 dan gak ada sekarang, yakni Nokia Indonesia. Hubungannya apa? Dulu Nokia Indonesia adalah perusahaan yang paling getol keliling pelosok Indonesia untuk membakar semangat enterpreneur dan startup bibit-bibit muda.

Saya ingat banyak startup baru yang lahir dari acara Mobile Game Dev Wars, banyak rekan baru yang kami kenal di event Nokia Developer Community, banyak ilmu dan insight baru kami dapatkan yang semua itu motornya adalah Nokia Indonesia. Berbekal tim yang memang passionate ingin mengembangkan ekosistem di Indonesia (dan dana yang berlimpah), tahun 2011-2012 Nokia sukses menanamkan bibit game developer berkualitas tidak hanya di Bandung, tapi sampai ke pelosok daerah.

Saya ingat betul pertama kali “dijebloskan” ke dunia Mobile Application oleh Nokia Indonesia melalui program TTA yang mengantarkan saya ke Communicasia di Singapore, lalu memberikan saya kesempatan untuk bicara di ajang INAICTA, bahkan banyak sekali bantuan baik itu proyek maupun mentorship yang diberikan oleh Nokia Indonesia. Saya ingat betul sesi dengan Naren yang sengaja datang ke Bandung untuk menangani banyak “pasien” yang konsultasi startupnya dan mendapat bantuan arahan dari Naren.

Semenjak Nokia dibeli Microsoft, tim Nokia Indonesia sebagian besar memilih keluar. Ada yang masih bergabung dengan Microsoft tapi mungkin masih dalam fase transisi sehingga saya belum merasakan impact-nya sebesar tahun-tahun yang lalu. Kemudian ada juga yang memilih untuk tetap mempertahankan idealisme-nya mengembangkan startup di Indonesia dengan membuat startup bernama Dicoding (mungkin next time saya akan bahas tentang ini di blog). Tapi memang Dicoding tidak memiliki sokongan dana besar seperti Nokia Indonesia dulu sehingga masih butuh waktu untuk bisa memberikan gebrakan besar. Walaupun ada kini ada Intel Indonesia yang siap menyokong Dicoding dengan program-program yang menurut saya sangat positif.


Kehilangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

993789_399366990183697_1744577072_n

Ketika saya diskusi dengan senior-senior saya yang memiliki perusahaan di bidang IT atau industri kreatif, salah satu saran mereka adalah “jangan ngarepin pemerintah.” Saya pun dulu melihat banyak program yang tumpang tindih, tidak dikonsep/dieksekusi dengan baik, dan lain-lain sehingga banyak yang tidak tepat sasaran atau hanya menghabiskan anggaran.

Tidak banyak memang kita bisa temukan ada orang yang pintar yang mau mendengarkan apa kebutuhan startup yang ada di dalam pemerintahan. Kalau pun ada, salah satunya adalah Bu Loli di kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif tahun lalu. Bu Loli termasuk yang dekat dengan banyak pelaku startup (terutama di dunia game developer) dan sering memberikan support.

Pameran-pameran internasional yang mahal dan gak mungkin bisa dihadiri oleh startup lokal, semua jadi mungkin oleh Bu Loli. Rekan-rekan dari Digital Happiness, Tinker, Agate, dll sudah merasakan fasilitas dibayarin ke luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya.

Lalu ada program yang bernama pusat kreatif. Parekraf memberikan coworking space gratis, pembinaan, dan juga mentorship untuk startup yang masih baru. Ada junior saya yang mendirikan startup dan bermarkas di salah satu markas Pusat Kreatif. Ketika Parekraf dipisahkan antara Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, program Pusat Kreatif ini otomatis ditutup. Bu Loli juga dari kabar yang saya tahu memilih untuk pensiun.

Memang program-programnya masih jauh dari sempurna, tapi sudah terasa manfaatnya bagi beberapa rekan-rekan startup. Dengan ditutupnya pusat kreatif, efeknya pun terasa. Anak-anak yg tadinya berkantor di sana secara cuma-cuma harus cari kantor baru yang pasti gak murah.


Jadi kalau kita kembali ke topik apa sih faktor yang bisa membantu pertumbuhan startup di Indonesia, kalau saya pribadi berpendapat butuh “kompor” untuk menyalakan semangat dan api enterpreneurship di Indonesia. Lalu kemudian butuh ada dukungan berupa bimbingan, mentorship, dan akses ke pasar yang membutuhkan biaya. Dua hal yang dahulu dilakukan oleh Nokia Indonesia dan Parekraf ini harus digalakan apabila ingin ekosistem startup di Indonesia semakin berkembang.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

9 Comments on Dua Kehilangan Besar Bagi Startup di Indonesia

  1. Wah sedih juga dengar ceritanya. Ternyata merger atau dibeli pihak lain itu tidak selalu memberikan dampak baik.

    Suka

  2. Sangat menarik 🙂
    btw kami di KTI sedang jalankan StartupMengajar.com – Di Startup Mengajar kami menciptakan sebuah komunitas gerakan yang melibatkan Entrepreneurs, Developers lokal, perusahaan Startup, Freelance, dan Digital/Tech Enthusiast untuk berkontribusi dalam memajukan kualitas Industri IT di Indonesia.

    Suka

  3. ranjaniryan // 29/05/2015 pukul 12:41 pm // Balas

    Setuju banget paman, dulu yang bikin ngejeblosin saya ke mobile pun Nokia. Jadi kangen paman narenda kalo udah ngomporin startup n mahasiswa

    Suka

  4. Sedih mas kalau dengar yang seperti ini. Hiks…

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Startup Lokal: Latah atau Serius?
  2. Pemerintah Mencoba Membangun Industri Game di Indonesia Dengan IGRS | Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: