My Journal

Game Developer Lokal Jangan Hanya Kejar Tayang

Dengan menjadi penulis di Trenologi, saya berkewajiban untuk terus memantau game-game yang muncul dari tanah air. Jujur saya cukup bahagia melihat kuantitas game yang lahir karena semakin hari semakin banyak. Dengan jadwal post di Trenologi seminggu 3 game pun saya rasa kini saya udah jauh ketinggalan dengan jumlah game yang muncul dan harus memilih yang mana yang saya liput. Namun tak jarang juga terkadang cukup sepi game baru sehingga saya terpaksa mereview game yang kurang oke.

Salah satu fenomena yang saya perhatikan adalah semakin banyak game developer lokal yang mencoba aji mumpung. Membuat judul game yang lagi fenomenal sehingga jumlah downloadnya banyak, lalu naro banyak jebakan iklan di dalam gamenya sehingga dia dapet untung banyak. Saya gak akan sebut judul game-nya apa, tapi ada cukup banyak game yang bisa melesat naik karena judulnya entah itu provokatif, sedang trending, atau mencatut nama orang terkenal.

Sebenernya tidak ada yang salah dengan strategi membuat game yang sedang happening. Hal ini secara marketing sah-sah saja. Justru kita harus memperhatikan momen yang tepat agar game kita bisa terlihat dan menarik perhatian. Namun yang jadi masalah adalah karena ingin mengejar momen yang kadang tidak teprediksi, waktu develop game menjadi sangat minim. Akhirnya banyak yang cenderung bikinnya asal jadi, asal judulnya oke, terus dipublish dengan harapan bisa viral.

Bikin game yang simpel gak papa, tapi jangan bikin game yang asal-asalan. Flappy Bird itu kurang simpel apa coba. Bikin itu paling sehari dua hari jadi. Tapi kan gak keliatan kayak game asal-asalan kan? Visualnya sederhana, tapi dieksekusi dengan baik. Walaupun tombol-tombol dan menu tidak banyak, namun animasinya smooth. Hal-hal seperti itu yang kadang tidak diperhatikan oleh gamedev lokal yang ingin kejar tayang.

Arsanesia tempo hari bikin game dengan tema lokal berjudul Pippo Peri Cinta dengan niat mengejar momen valentine. Tapi game itu tetap kita polish agar kualitasnya secara visual, gameplay, animasi, dan lain-lainnya tetap punya standar yang baik.

Jadi sebelum industri game di Indonesia menjadi terpuruk seperti industri televisi kita, sebaiknya para pelaku industri game mulai memperhatikan kembali kualitas dari game-nya. Kita harus buat standar yang baik bagi produk-produk yang muncul di Indonesia.

Pesannya adalah untuk mencoba mengikuti tren dengan merilis game bertema populer tidak masalah. Namun perhatikan juga unsur-unsur di dalam game-nya seperti gameplay, visual, dan etika di dalam game (tidak sembarangan spam iklan). Semoga tidak hanya kuantitas game lokal yang bertambah banyak, namun juga kualitasnya bisa semakin baik lagi.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: