Iklan
My Journal

Tantangan Mengadopsi Novel Menjadi Film

Kita pasti mengenal film-film yang sukses menyadur dari novelnya seperti Lord of The Ring, Harry Potter, Hunger Games, dan lain-lain. Namun tidak sedikit juga film yang gagal menginterpretasikan novel ke layar lebar seperti Eragon, Divergent, Twilight, dan banyak lainnya. Memang membuat film layar lebar berbasis novel itu bukanlah hal yang mudah.

Tantangan terbesar dari mengadopsi novel menjadi layar lebar adalah durasi film layar lebar yang hanya maksimal sekitar 2 jam dibandingkan dengan tebal buku yang sudah beredar. Tentu kedalaman cerita tidak bisa disadur seluruhnya ke dalam layar lebar dan tentu flownya juga tidak bisa disamakan dengan di novel. Dalam novel, flow bisa naik dan turun, bisa berjalan paralel dengan berbagai konflik lainnya, bisa dengan mudah mengganti sudut pandang, scene, karakter, dan yang paling berat adalah menggambarkan emosi dari deskriptif menjadi sebuah act.

Kesalahan terfatal yang sering terjadi adalah mencoba menceritakan semua chapter dan memunculkan semua karakter yang ada di dalam novel ke bentuk nyata. Mengingat durasi film sangat sedikit, yang terjadi adalah film yang kita tonton menjadi tidak punya flow dan terkesan satu scene dengan scene lainnya tidak komprehensif. Contohnya divergent, saya melihat flownya tidak menarik di filmnya, lalu perpindahan scenenya terlihat terlalu drastik yang membuat saya berpikir kok tiba-tiba begini, dan lain sebagainya.

Lalu tantangan lainnya adalah memilih cast yang sesuai dengan deskripsi penulis novelnya dan juga ekspektasi para pembacanya. Karisma yang dibangun dan chemistry antar karakter harus bisa terjadi dengan natural antara aktor dan aktris di film. Menurut saya contoh casting yang paling berhasil adalah film Harry Potter dimana koneksi antara Harry, Ron, dan Hermione terbangun dengan sangat baik. Contoh buruk adalah Twilight, dimana …. sepertinya gak perlu saya jelasin semua juga udah setuju yah :p

Intinya ketika membuat film adopsi dari novel, fondasi yang harus dibangun adalah bagaimana caranya film tersebut bisa dinikmati oleh mereka yang tidak membaca novelnya namun juga sesuai dengan ekspektasi para pembaca novelnya. Tidak masalah kalau ada scene yang sedikit diubah, ada adegan yang terpaksa dipotong dan digabung, atau bahkan ada karakter minor yang tidak diikutsertakan dalam versi layar lebarnya. Yang penting garis besar cerita harus tetap sesuai dengan naskah, perubahan-perubahan minor bisa ditolerir.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Trackback / Pingback

  1. Mockingjay, Seri Terakhir dari Trilogi Hunger Games | Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: