Startup yang Lahir dari Kombinasi Akademis dan Industri
Hari ini saya ingin sharing hasil mendengarkan podcast favorit saya dari Stanford University. Saya pernah membahas beberapa kali tentang podcast tersebut seperti tentang startup spotify (link di sini), tentang founder dari Wikia yang dulu bekerja di perusahaan besar dan memutuskan untuk membuat startup (link di sini), dan masih banyak lainnya. Mungkin ada baiknya saya mulai berikan tag yah biar gampang ditracknya, tapi masih bingung buat ngasih tagnya apa :p Jadi sementara biarkan dulu apa adanya.
Pada podcast yang saya dengarkan di eCorner milik Stanford University kali ini narasumbernya adalah dua orang founder dari startup yang bernama Smule. Bagi pengguna iOS, tentu sering mendengar judul-judul aplikasi keluaran Smule seperti Ocarina, Auto Rap, Magic Piano, dan lain-lain. Satu hal yang menjadi karakter utama dari aplikasi-aplikasi dari Smule adalah berhubungan dengan musik. Smule ini didirikan oleh dua orang yang bernama Ge Wang dan Jeff Smith. Ge Wang adalah seorang asisten profesor di Stanford dan memiliki passion yang sangat tinggi terhadap musik dan teknologi sedangkan Jeff Smith adalah seorang entrepreneur sejati yang sudah memiliki pengalaman bisnis yang sukses selama 20 tahun lebih sebelum bertemu dengan Ge Wang. Saya ingin banyak membahas sudut pandang Ge Wang karena menurut saya ini adalah kasus yang paling banyak bisa kita temui di Indonesia yakni bagaimana caranya menghubungkan akademis dengan industri.
Sebelum saya sharing tentang sudut pandang Ge Wang, saya ingin sharing dulu tentang kondisi akademis di Indonesia, terutama di Universitas yang saya pernah menempuh pendidikan di dalamnya yakni ITB. Dari 4 tahun saya berkuliah di ITB, saya lihat bekal yang saya peroleh lebih banyak condong mempersiapkan saya untuk menjadi akademisi dan memperdalam ilmu di jenjang pendidikan berikutnya, atau dipersiapkan untuk mengisi lowongan kerja yang ada di industri, atau diberikan skill untuk bisa menjadi custom developer yang memberikan solusi B2B atau enterprise. Satu area yang masih kosong di lingkungan akademis kita adalah mindset product development, bagaimana mengembangkan sebuah produk, tidak sekedar software atau teknologi. Banyak sekali keluhan mengenai kesiapan lulusan mahasiswa ITB ini untuk mengembangkan produk. Untuk penelitian udah gak perlu ditanya, untuk proyekan juga jagonya, apalagi untuk terjun ke dunia kerja. Tapi untuk bisa mengembangkan produk yang langsung diterima oleh consumer, kemampuan itu masih kurang sekali. Mungkin kapan-kapan saya akan bahas tentang itu, tapi kali ini saya ingin menekankan bahwa ada solusi lain untuk membawa ilmu kita ke industri yakni dengan kolaborasi seperti yang dilakukan oleh Ge Wang dan Jeff Smith.
Di awal podcast, Ge Wang langsung menunjukan Pan Flute diagram. Pan Flute diagram itu menggambarkan diagram yang akan dilewati semua orang jika ditanya mau beli pan flute atau tidak. Sama seperti halnya dengan Startup. Ketika kita berpikir apakah kita perlu mendirikan startup? Sebagian besar orang akan berkata tidak. Ada sekelompok orang yang berpikir perlu mendirikan startup, tapi akan bertemu dengan berbagai “suara” yang meyakinkan kita untuk tidak melakukan itu. Suara itu akan banyak bermunculan dari orang bijak, orang tua, lingkungan, dan berbagai faktor yang meyakinkan kita bahwa tidak ada kondisi yang memungkinkan untuk membuat startup. Itu lah realita dan hanya yang benar-benar yakin dan seriuslah yang mampu mendirikan startup. Ge Wang sendiri dari kecil merupakan anak baik-baik yang rajin belajar. Dia memiliki passion terhadap Musik dan Teknologi. Ia berkuliah di Princeton Amerika lalu mengembangkan komputer orkestra (pertunjunkan orkestar menggunakan beberapa laptop yang berfungsi sebagai instrumennya). Pada saat itu, belum ada yang namanya Smartphone, belum ada yang namanya Apple. Lalu dia menjadi asisten profesor di Stanford dan mengembangkan lagi komputer orkestra versi stanford, lalu berkembang lagi menjadi mobile orkestra. Ketika ditanya, di titik itu, membuat perusahaan sendiri adalah hal terakhir yang akan dia lakukan. Passion dia adalah menjadi researcher, sampai dia bertemu dengan Jeff Smith.
Jeff Smith yang sudah bertualang di dunia startup, punya banyak bisnis yang berhasil, dan mengenal ekosistem startup dengan baik ini melihat ada peluang yang luar biasa. Dia melihat Ge Wang ini punya passion yang sangat besar terhadap musik dan teknologi, tapi dia tidak tahu bagaimana mengkomersilkannya sedangkan Jeff Smith adalah ahlinya di bidang tersebut. Awalnya, Ge Wang sempat ragu karena melihat kesibukannya dia yang sedang menyelesaikan disertasi di Princeton, sedang jadi asisten profesor di Stanford, punya proyek computer orchestra di dua universitas itu, dan sedang mengembangkan mobile orchestra. Lalu, Ge Wang menjadi yakin karena startup yang akan di kembangkannya adalah bagian dari nyawa mobile orchestra dan Jeff Smith bisa membawa itu ke audience yang lebih luas. Mereka berdua akhirnya mencoba mengembangkan perusahaan dengan visi bahwa semua orang itu bisa berjiwa musikal dan kreatif asal diberikan instrumen yang tepat. Nyawa itu lah yang selalu dihembuskan dan dikembangkan melalui balutan teknologi dan inovasi produk-produk Smule.
Momen itu terjadi di tahun 2008, tahun yang bersejarah bagi industri IT karena 08 ini adalah hari kelahiran Apple dan platform iTunesnya. Sebuah platform yang mengubah cara bermain di Industri IT dimana developer bisa berperan besar terhadap kemajuan industri mobile. Namun menjadi yang pertama adalah hal yang sulit. Jeff Smith membawa proposal Smule kepada berbagai venture capital yang ia kenal. Ia menunjukan bagaimana Apple sebagai smartphone dan platform bisa sangat mendukung ide Smule ini, bisa mewujudkan visi membuat semua orang menjadi musikal dan kreatif. Ia menawarkan sebuah rancangan bisnis model dimana yang akan dibangun adalah network dan akses ke konten, dimana konten tersebut nanti yang akan dimonetize. Tanggapan dari beberapa VC adalah “Apple akan menjual device selama setahun sejumlah yang Nokia jual dalam seminggu.” Waktu itu Nokia masih menjadi raja mobile phone. Bahkan di India, Nokia itu artinya adalah telepon saat itu. Tapi dengan kesungguhan Jeff dan Ge, mereka berhasil meyakinkan para investor. akhirnya mereka bisa berjalan dengan produk pertama yang bernama Ocarina. Ocarina adalah sebuah instrumen tiup yang dimainkan di Iphone, dan terhubung secara internasional. Kita bisa juga mendengarkan permainan dari pemain lain di seluruh belahan dunia. Mereka tidak menyangka responnya akan sebaik itu, bahkan ada yang memposting di Youtube tutorial memainkan lagu Zelda menggunakan Ocarina yang dapet view sebanyak 4jt orang. Artinya, visi mereka untuk membuat semua orang menjadi musikal dengan menyediakan teknologi instrumen terbukti bisa terwujud. Dari titik itu, Smule terus berkembang hingga saat ini.
Terakhir, Smule telah memiliki 70an karyawan dan telah lebih dari 1jt sales perbulan di berbagai aplikasinya (istri saya termasuk yang beli konten dari smule ini buat main magic piano). Kunci yang ingin disharing oleh Ge adalah harus punya visi, harus punya alasan yang kuat, dan ketika sudah punya semua itu, harus mengeksekusinya dengan baik dan konsisten. Kombinasi Ge Wang dan Jeff Smith merupakan sebuah contoh harmoni yang sangat baik bagi sebuah startup agar bisa memiliki kedalaman dari sisi teknologi dan juga kesiapan dari sisi bisnis sehingga bisa melahirkan produk yang siap secara komersil. Ini adalah quote yang disampaikan oleh Jeff Smith.
Best technology doesn’t win all the time. Best product win every timeNothing more important than product. Sales, marketing, finance, technology, is never enough



Tinggalkan komentar