Iklan
My Journal

Fokus dan Eksekusi adalah Kunci Kesuksesan Spotify

Daniel Ek, Chi-Hua, gambar diambil dari http://ecorner.stanford.edu

Daniel Ek, Chi-Hua, gambar diambil dari http://ecorner.stanford.edu

Pagi ini saya mendengarkan podcast menarik dari Daniel Ek, Chi-Hua Chien (CEO Spotify) yang dibroadcast oleh Stanford University di iTunes. Judul podcastnya adalah A Playlist for Entrepreneurs. Sebelumnya, saya juga pernah share tentang founder dari Wikia di sini. Sebelumnya, sedikit share, Spotify adalah sebuah platform musik dimana kita bisa mendengarkan playlist2 lagu di seluruh dunia dengan mudah. Layanan ini sudah sangat populer dan terkenal di Eropa dan Amerika, di Asia pun sudah termasuk favorit. Sayang di Indonesia layanan ini belum masuk, tapi kita tetap dapat menarik pelajaran dari startup yang satu ini.

Daniel, CEO dari Spotify usianya masih sangat muda, tapi pengalamannya sudah sangat banyak. Di usia 14 tahun, dia sudah membuat perusahaannya sendiri yang membantu orang untuk membuat halaman web page (di tahun 1997 ketika bikin web belum semudah sekarang). Lalu di usia 22 tahun, dia juga sudah menjadi CEO dari layanan UTorrent, software untuk mendistribusikan dan mengambil data dengan paket yang sangat efisien. Daniel menjadi CEO Spotify di usianya yang 23 tahun. Saat ini, Spotify sudah punya 500 karyawan dan kantor di Stockholm, London, dan New York.

Ketika ditanya tentang apa rasanya dia menjadi enterpreneur, dia dengan lantang menjawab dia gak ngerasa dirinya enterpreneur. Dia hanyalah orang biasa, yang gatel banget klo ngeliat ada hal disekeliling dia yang annoying, yang ngeganggu dia. Dan itu cukup mengganggu dia sampai ngebuat dia ngerasa kalo harus ada seseorang yang nyelesein masalah ini dan passion terhadap masalah tersebut, yakni dia sendiri. Dia yakin, banyak juga orang lain yg ngerasa terganggu dengan masalah itu, tapi gak semuanya cukup terganggu dan cukup punya passion untuk mencari solusinya.

Kalau ngomong enterpreneur, andaikata orang tahu betapa sulitnya membangun sebuah usaha, pasti gak akan ada yang mau. Tapi karena usianya yang masih muda, pikirannya yang naif, Daniel merasa bisa melakukan semua hal itu. Walaupun ternyata pas dijalanin, susah juga. Orang mikir pas dia ngelempar ide spotify, gimana dengan permasalahan license, industri musik adalah industri yang kompleks loh, tapi pikiran naifnya bilang pasti bisa. Walaupun ketika dijalanin, dia baru tahu betapa sulitnya dan butuh waktu 2,5 tahun untuk bisa mendapatkan license2 di Amerika. Tapi poinnya adalah mindset kita harus di solusi, itulah kelebihan anak muda. Orang kalau udah tua dan berpengalaman, pasti akan jadi lebih “bijak.” Mereka yang berpengalaman akan dengan mudah bilang ide ini gak akan jalan karena X, Y, dan Z. Daniel sendiri juga gak tahu apakah ide ini akan berhasil. Ide apa yang nantinya akan berhasil. Prinsipnya adalah di eksekusi. Ide hanya 5% dari keberhasilan, sisanya adalah ekseskusi. Kita gak tau akan sukses atau enggak, tapi selama kita eksekusi terus menerus, lagi dan lagi, kita akan sampai pada titik dimana kita menemukan jawaban dari ide kita. Suatu saat kita akan figure out gimana untuk ngejual ide kita. Jadi memang eksekusilah kuncinya.

Menilik ke Spotify, konsepnya adalah saat ini mendapatkan konten ilegal lebih mudah daripada konten resmi. Spotify akan memberikan layanan yang jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan dibandingkan membajak. Spotify bertujuan juga untuk menumbuhkan kembali industri musik yang semakin lesu. Era berubah. Coba bandingkan Elvis dan Lady Gaga. Elvis butuh waktu sangat lama untuk membuat milyaran orang mengenal dia sedangkan Lady Gaga cuma butuh waktu sekian bulan hingga seluruh dunia mengenalnya. Namun, coba bandingkan penjualan CD Elvis dan Lady Gaga yang sangat drastis. Ini karena zaman berubah. Sekarang eranya musik menyebar bukan dari kepingan, tapi dari orang ke orang. Inilah momen yang dimanfaatkan spotify untuk membangkitkan industri.

Gambar Spotify diambil dari www.digitaltrends.com

Gambar Spotify diambil dari http://www.digitaltrends.com

Industri musik adalah industri yang kompleks dan besar. Industri yang seperti ini cenderung bergerak dengan sangat lambat dan sulit menerima perubahan. Ini gak gampang dan merupakan proses yang sangat sulit. Dia menceritakan, masuk ke Amerika sangatlah sulit. Meyakinkan sebuah label bukan hal yang mudah karena pembuat keputusan itu bukan hanya satu orang, tapi bisa 20-25 orang yang usianya 60-70 tahun, yang sudah terbiasa menjual CD dengan kepingan, lalu baru saja mau beradaptasi ke iTunes, ini kita menjual layanan untuk menikmati musik gratis. Tentu itu adalah tantangan yang berat. Satu-satunya penggerak Daniel untuk tetap berjuang adalah dia gatel dengan masalah yang mengganggunya ini dan dia pengen solve problem ini. Dia gak akan nyerah dan dia yakin pasti bisa. Kuncinya ada dua. Pertama, semua ini harus didasari dengan passion terlebih dahulu. Daniel punya passion yang kuat terhadap musik. Yang kedua adalah mulai dari area yang paling kita yakin, paling kita ngerti, dan paling kita kuasai. Dalam hal ini, Daniel memilih pasar Swedia tempat dia tinggal. Mulai dari yang paling kecil, fokus, dan pastikan model ini berhasil di Swedia. Kita harus buktikan bahwa ide kita valid. Setelah itu, pasar Eropa mulai menerima ide ini, baru setelah itu bisa menguasai pasar Amerika.

Saat ini kita hidup di zaman yang mudah. Teknologi telah mendukung kita dengan sangat baik dan berkembang dengan sangat cepat. Kita harus memanfaatkan ini dengan fokus membangun produk. Daniel memiliki latar belakang engineer, walaupun dia merasa adalah programmer yang buruk. Tapi yang terpenting, dia memiliki mindset problem solving, bagaimana caranya menemukan solusi terbaik untuk masalah, apa cara paling efisien dan tercepat untuk mencapai suatu tujuan, dan bagaimana mengonstruksi solusi dengan baik. Mindset yang seperti itulah yang membuat ide bisa berkembang menjadi sebuah solusi.

Bicara tentang kepemimpinan, bukan hal mudah memanage kantor di berbagai negara. Untuk itu, dia menggunakan sistem open space dimana dia bisa mendengar berbagai keluhan dan masukan. Daniel travel sesering mungkin ke berbagai negara, karena bagaimanapun, keberadaan fisik tidak bisa dikalahkan oleh teknologi pengganti. Daniel setiap seminggu sekali menyampaikan apa yang sedang dikerjakan, apa yang sedang dikejar. Dia selalu menetapkan target yang sedikit, tapi selalu dia ulang-ulang, agar semua fokus pada satu tujuan. Dia berharap agar semau orang bisa related dengan apa yang sedang dikerjakan dan apa yang ingin diraih.

Daniel bercerita, banyak sekali hal bodoh atau kesalahan yang dia lakukan sepanjang karirnya. Bahkan dia merasa semua kesalahan yang pernah di bahas di buku pasti pernah dia lakukan. Hal paling bodoh atau kesalahan yang menurut dia paling dia sesali ada tiga. Yang pertama terlalu sering berkata “iya” kepada ide baru. Sebagai perusahaan yang semakin berkembang dengan orang yang semakin banyak, tentu banyak sekali godaan untuk mencoba ide baru dan melakukan hal lain. Tapi menurut dia, kecuali itu adalah hal yang benar-benar paling tepat dilakukan dan satu-satunya hal yang harus dilakukan, katakan tidak. Kita harus fokus hanya ke satu hal dan yakin ke satu hal itu saja. Yang kedua, kesalahan dia adalah dia terlalu tidak tegaan kepada orang. Prinsipnya harusnya adalah hire fast fire fast. Kita tidak bisa membiarkan orang yang tidak perform, tapi karena dia orangnya baik, jadi kita pertahankan. Itu akan tidak baik efeknya bagi tim, sedangkan Daniel, dulu, orangnya tidak tegaan terhadap orang lain. Kesalahan ketiga yang harus dihindari adalah jangan terlalu menjanjikan sesuatu. Dulu dia menjanjikan akan masuk ke pasar Amerika dalam waktu dekat, namun ternyata butuh 2 tahun untuk bisa masuk. Dia ingat, hampir setiap saat diteror media Tech crunch karena tidak kunjung release. Prinsipnya adalah, kita haru Under Promise dan Over Delivered. Memberikan lebih dari yang kita janjikan.

Kunci utama dari kesuksesan Spotify adalah fokus. Ada satu pertanyaan yang menanyakan, kenapa hanya musik? kenapa tidak video? Sebenernya bisa saja spotify menaruh video di layanannya, tapi jadinya tidak akan fokus. Kita tidak bisa melakukan semua hal yang bisa menyenangkang semua orang. Setiap segmen punya perilakunya sendiri-sendiri dan kita harus fokus. Lebih lagi, dia menggambarkan bahwa musik dan video itu berbeda. Orang mau denger musik yang sama berulang-ulang, tapi belum tentu mau nonton film yang sama berkali-kali. Pendekatannya berbeda, designnya berbeda. Dari segi market, tentu menggoda. Tapi buat apa membuat produk yang tidak ideal untuk banyak segmen. Lebih baik fokus, membuat satu produk, yang paling mudah diakses, paling gampang dinikmati, yang menjawab masalah, dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1144 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

3 Comments on Fokus dan Eksekusi adalah Kunci Kesuksesan Spotify

  1. Saya sempat merasa naif seperti itu juga. Ada masalah dikit, bawaannya mau ngoding aja buat menyelesaikannya. Padahal ada banyak juga solusi yang orang lain udah tawarkan. Gimana tuh, kak?

    Suka

  2. Kalo katanya si Daniel, yang penting fokus sama masalah itu (jangan tiap masalah mau diselesaikan oleh kita). Lalu dia juga bilang kalau sebuah inovasi itu gak harus sesuatu yang baru. Menggabungkan beberapa model yang sudah ada bisa jadi inovasi juga. Yang penting, kita bisa memberikan solusi yang paling mudah dan bekerja dengan baik buat solving problem.

    Suka

  3. However, he wrote this book for other doctors as a guide.
    I can wrap my head around the science of it, but I am still unsure,
    despite all the digging up of stellar feedback, that the oral drops are as effective, or make any difference at all;
    perhaps it’s all in our minds. Delivery prices and times are of exceptional importance when running a business.

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Presentasi Tujuh Ide Startup Bersama Creative Hot House dan IAIF | Rumah Pikiran Ardisaz
  2. Startup yang Lahir dari Kombinasi Akademis dan Industri | Rumah Pikiran Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: