Iklan
My Journal

[QnA] Awal dari Arsanesia dan Permasalahan yang Dihadapi

Postingan kali ini saya ingin menjawab pertanyaan dari pembaca di blog saya di sesi [QnA]. Kalau ada temen-temen yang mau nanya, bisa langsung aja tinggalkan comment di bawah atau mention saya saja di twitter @ardisaz. Kalau pertanyaannya menarik, nanti akan saya jadikan postingan blog di sesi [QnA]. Oke, untuk yg sekarang pertanyaannya bisa di baca di bawah ini, mengenai awal mula berdirinya arsanesia dan permasalahan di arsanesia (gaji dan kantor). Akan saya coba jawab satu persatu.Screen Shot 2013-02-05 at 5.28.07 PM

Awal arsanesia dimulai dari sebuah mata kuliah di Sistem dan Teknologi Informasi ITB yang berjudul pengembangan aplikasi mobile (PAM). Mata kuliah tersebut mewajibkan masing-masing dari kita membuat sebuah aplikasi mobile. Saya berdua dengan Dana, Annas berdua dengan Hazki. Lalu di suatu hari, setelah kelas tersebut berakhir, kami berempat masih duduk di kelas. Kami ngobrol-ngobrol sampai pada ajakan oleh Annas untuk membuat game bareng-bareng, ya itung-itung proyek kecil-kecilan buat nambah uang saku. Obrolan semakin meluas sampai ke pembicaraan mengenai license iOS, Android, BB, Nokia, dan kawan-kawannya, bagaimana ngemanage uangnya (padahal belum bikin game tapi udah mikir manage uang -_-), dan lain-lain. Mengingat ada kebutuhan itu, akhirnya kita berempat memutuskan untuk mengajak Dera bergabung. Kami keluar dari kelas dan langsung nyamperin Dera. Ternyata, tanpa pikir panjang, Dera langsung mengiyakan. Akhirnya jadilah kami berlima akan membuat project game dengan tema budaya Indonesia ๐Ÿ™‚ Obrolan demi obrolan berlalu sampai tiba-tiba ada kompetisi bisnis yang diadakan oleh East Venture terdengar di telinga kami. Kami pikir, wah lumayan nih kesempatan. Game bertema budaya Indonesia belum ada yang bikin dan dunia game berpotensi jadi bisnis yang besar, kita sempet menimbang-nimbang apakah akan ikut atau tidak. Akhirnya kami berkonsultasi dengan Pak Budi Rahardjo, dosen kami yang juga merupakan serial enterpreneur mengenai niat kami ikut kompetisi tersebut. Beliau mengatakan “Tidak apa-apa belum ada produknya, ikut saja walaupun masih ide. Kalau pun toh kalian gak menang atau gak diinvest, kalian bakal dapet pengalaman berharga yang tak ternilai.” Akhirnya tanggal 2 April 2011 kami berlima kumpul bareng untuk merancang business plan project kami. Tanggal itu pula lah lahir nama Arsanesia, langsung bikin logo, langsung bikin twitter, facebook, dan segala atribut perusahaan lainnya. Besoknya langsung kami submit Business Plan, tanggal 7 dikasih tau klo kita lolos 10 besar ๐Ÿ˜€ Akhirnya Arsanesia pada tanggal 8 April 2011 go public di event tersebut dengan hanya modal ide dan nekat :p (saya pernah nulis tentang Bandung venture night di sini). Jadi deh Arsanesia ๐Ÿ™‚

Pitching Pertama Arsanesia

Pitching Pertama Arsanesia

Lalu kalau mau bicara masalah, wah itu rasanya tidak terhitung banyaknya dan masalah demi masalah silih berganti. Menurut saya memang itulah proses menuju sukses dan dinamika kehidupan. Kita menjadi besar dengan melalui satu tantangan demi satu tantangan. Karena sudah hampir dua tahun kami melewati itu, rasanya jadi sudah biasa ketemu masalah dan bisa dengan mudah move on dari masalah itu (tentu dengan mengambil pelajaran yah). Sebelum saya cerita masalah apa saja yang pernah terjadi, saya ingin menegaskan lagi bahwa yang penting itu bukan masalah apa yang datang ke kita, tapi bagaimana kita menghadapinya. Masalah yang datang ke saya pasti berbeda dengan masalah yang datang ke orang lain dan pasti penanganannya beda-beda, oleh karena itu yang terpenting bagi kita ketika menemui masalah adalah sikap kita. Bagaimana kita menyikapi masalah tersebut dengan positif, semangat, dan cerdas ๐Ÿ™‚ Oke sekarang ke pertanyaan mengenai masalah-masalah yang tadi yah.

Pertama tentang kantor dulu, ketika Arsanesia belum memiliki kantor, kami kerja di Lab milik kampus. Lumayan tempatnya enak dan sepi jadi buat kerja bisa fokus. Namun kerja di kampus juga ada kendala, jadwal kuliah kami beda-beda, kesibukan kami beda-beda, dan bisa aja lagi di kampus tiba-tiba ada yang harus kemana mengerjakan tugas, dipanggil dosen, dan lain sebagainya. Jadi kami kesulitan untuk fokus bekerja di kampus. Akhirnya tiba pada satu titik kita merasa harus cari kantor nih nanti kalau sudah lulus. Sambil nabung deh, soalnya produk belum ada berarti pemasukan belum ada. Eh tiba-tiba di bulan Desember, rekan kami sesama anak informatika ITB, namanya Aqsath dari NoLimit, menelpon kami. Aqsath nanya katanya arsanesia lagi cari kantor yah, terus mau diajakin nyewa kantor bareng-bareng di suatu rumah di daerah sukajadi. Katanya posisinya premium, di tengah kota bandung, di antara ciwalk dan PVJ, terus harganya juga udah yang paling best deal lah di daerah Bandung. Klo mau bareng, patungan setengah-setengah, mau bayar klo bisa secepatnya, bahkan kalo perlu besok, soalnya itu daerah premium dengan harga murah. Akhirnya kami langsung rapat, memikirkan apakah kami mau ambil kantor tersebut atau tidak. Setelah rapat singkat, kami putuskan kami akan ambil! Langsung Dea dan Hazki survey lokasi, ngasih liat foto-fotonya ke kita, dan emang tempatnya oke buat kerja. Karena sudah deal, akhirnya kami harus cari uang puluhan juta dalam waktu singkat. Inilah arti dari pepatah dimana ada kemauan yang keras, di sana pasti ada jalan. Kami berlima cari pinjaman sana-sini dan akhirnya terkumpulah uang untuk bayar kantor yang harus lunas untuk dua tahun. Tapi belum selesai sampai situ, kami juga harus cari pinjaman sana-sini untuk merenovasi garasi agar bisa jadi ruang kerja, beli meja, kursi, dan lain-lain. Hutang itu yang menjadi salah satu pemicu dan motivasi kami untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya dan untuk bisa lebih fokus bekerja di kantor. Akhirnya, kami berhasil mengembalikan semua utang-utang tersebut dan bisa bekerja di kantor dengan senang ๐Ÿ™‚

Yeay punya kantor :)

Yeay punya kantor ๐Ÿ™‚

Lalu untuk masalah gaji, nah ini yang emang agak pelik. Beruntung kami memulai usaha ini ketika kami masih duduk di bangku kuliah sehingga ketika Arsanesia berada di fase inisiasi dan puasa, kami masih bisa mendapatkan bantuan dari orang tua masing-masing. Jadi pada awalnya memang tidak ada di antara kami yang digaji sama sekali. Tapi kondisi mulai berubah ketika kami mulai pada lulus dan mulai perlu merekrut kru baru atau melakukan outsourcing. Nah ini mulai menjadi tantangan nih, pada prinsipnya klo buat para founder, kita kalau harus puasa dan kencangkan iket pinggang (hampir semuanya masih) bisa lah yah. Tapi buat kru yang lain dan buat para outsource tentu tidak bisa begitu. Tapi ya itu, kami selalu menemukan cara untuk mengatasi masalah kami selama kami terus positif thinking, berusaha keras, dan yakin bahwa masalah apapun pasti bisa kita lalui. Saya akan ceritakan dua contoh kasus dimana kami berada nyaris di ujung tanduk tapi kami selalu diberikan jalan keluar.

Yang pertama adalah uang operasional kantor. Kantor pasti butuh uang operasional dong, untuk air, listrik, minum, kebersihan rumah, dan lain-lain. Pernah suatu ketika kas kami bener-bener nol dan kami sudah harus bayar uang operasional kantor beberapa hari lagi. Lalu tiba-tiba kami ditelpon oleh suatu stasion TV nasional untuk jadi narasumber. Saya inget dulu pernah mengisi di acara TV nasional tak lama dari itu, narasumber mendapatkan semacam uang transport lah yang cukup lumayan. Akhirnya berdasarkan pengalaman itu, pertanyaan pertama saya adalah “maximal narasumbernya berapa?” Karena semakin banyak narasumbernya, amplopnya makin banyak. Pihak TV tersebut bilang maximal tiga orang, saya langsung bilang kami kirim tiga orang :p Akhirnya dengan uang tersebut, kami bisa menafkahi operasional kantor untuk 2 bulan ๐Ÿ™‚

Kisah kedua adalah tentang membayar hak rekan-rekan yang kami minat bantuan untuk outsource project arsanesia. Kalau tidak salah minggu depan kami harus membayar teman-teman tersebut yang totalnya sekitar sepuluh juta rupiah, dan lagi-lagi saat itu kas kami kosong karena ada invoice yang sekian lama tidak cair-cari -_- Bahkan kami sempet anniversary-an sama si invoice itu. Project-project kami lainnya yang sudah selesai pun invoicenya masih belum bisa dicairkan karena masalah administrasi. CFO kami, Dera, sudah nanya ke saya kalau kita lagi gak ada uang minggu depan musti bayar segitu. Saya pun cuma jawab tenang aja, nanti kita cari uangnya. Sekitar H-3 gak cuma CFO, COO kami, Dana, juga nanyain buat pembayaran itu gimana. Saya juga cuma bilang nanti kita cari deh kalo udah kepepet. H-1 masih belum ada invoice yang cair, besok musti memenuhi kewajiban kami, dan hari sudah mulai malam. Di kantor lagi-lagi saya ditanyain tuh tentang keperluan untuk pembayaran. Saya sudah ngetik SMS tuh buat minjem duit ke beberapa orang yang menurut saya memiliki kemampuan finansial yang oke untuk pinjam sebentar sampai invoice itu cair, tinggal nunggu saya send to list aja. Menjelang pembayaran itu memang hampir tiap hari saya pantengin invoice terlama kami yang tak pernah kunjung cair itu berharap keajaiban terjadi. Pas sebelum saya send, saya cek sekali lagi. Lah kok tiba-tiba sudah masuk rekening :’) Rasanya lega bukan main. Hehehe

Itu tadi sebenernya dua contoh ekstrem aja sih ketika kami tiba-tiba mendapat keajaiban. Momen-momen ketika gak ada yang ajaib terjadi juga banyak sih, tapi selalu bisa kita lalui, pelajari, lalu terlupakan begitu saja :p paling sekarang cuma bisa ketawa-ketawa aja kalau inget dulu pernah begini-begitu. Tapi, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Saya yakin habis ini, besok, minggu depan, dan hari-hari berikutnya, tantangan pasti ada dan akan selalu ada. Tidak hanya itu, dia akan semakin besar dan semakin berat. Oleh karena itu, mental kita dalam menghadapi kegagalan, kekuatan untuk bisa bangun dari jatuh, kembali berdiri, dan terus melangkah itulah yang menentukan siapa yang bisa berdiri di puncak.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

4 Comments on [QnA] Awal dari Arsanesia dan Permasalahan yang Dihadapi

  1. Hampir PRS kelas PAM, melihat posting ini menjadi lebih semangat kembali :))
    Keep posting kak Adam, sukses selalu!

    Suka

  2. ternyata di buat posting pertanyaan saya
    terima makasi kak adam ๐Ÿ˜€
    inspirasi banget *salim

    Suka

  3. mantap, sangat menginspirasi ๐Ÿ˜€

    Suka

  4. Abrahamkrisnanda, hihi klo emang gak tertarik mah PRS jg gpp kok. Klo tertarik materinya, harus ambil nih

    Syntasium, sama-sama, semoga bermanfaat

    Made Raka, sukses yah, semoga bermanfaat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: