Iklan
My Journal

Kekuatan dari Bertanya

gambar diambil dari http://www.learning2xl.com

Ada satu fenomena yang saat ini sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia yakni malu bertanya. Padahal udah ada pribahasa malu bertanya sesat di jalan. Entah mengapa, mental ini terbangun semenjak dini. Bahkan di institusi pendidikan yang harusnya mengarahkan anak menjadi kritis pun banyak kejadian yang semakin menjatuhkan mental bertanya pada anak. Kalau anak bertanya, si guru harusnya tidak boleh menyalahkan atau menghina pertanyaan karena dianggap tidak berbobot. Guru juga harus tegas ketika ada anak yang mengetawakan pertanyaan anak yang lainnya. Budaya kritis dan bertanya itu harus dibangun dan penting sekali. Kadang kita juga malu bertanya karena takut dianggap bodoh, masak pertanyaan kayak gitu ditanyain, padahal ketika kita menanyakan hal itu, banyak juga tuh teman saya yang terbantu dengan pertanyaan itu. Gak usah gitu deh, minimal kita jadi terbantu kan? Saya akan sedikit membahas manfaat dari bertanya itu sendiri.

Saya dari kecil sudah diajarkan untuk berpikir kritis dan logis. Bertanya di kelas sudah jadi makanan sehari-hari saya, entah karena saya tidak tahu, saya merasa kurang paham materinya, atau sekedar menyampaikan pemikiran saya. Tak hanya di kelas, di acara kaderisasi himpunan, di acara hearing, di seminar-seminar, dan di berbagai kesempatan. Manfaat yang pertama dari bertanya adalah kita jadi menjadi lebih paham terhadap suatu hal. Andaikata suatu knowledge merupakan kertas yang bolong-bolong, kita bisa menanyakan bagian yang bolong kita sehingga bagian tersebut menjadi utuh. Misalkan sedang dijelaskan mengenai Object Oriented Programming dan saya masih kurang mengerti tentang konsep inheritance, maka saya bisa menanyakan konsep inheritance yang akan dijelaskan dengan sangat detil sehingga knowledge yang akan saya dapatkan menjadi lengkap. Bisa jadi ada orang lain yang mengerti tentang konsep inheritance tapi masih kurang paham dengan konsep yang lain tapi karena malu bertanya, akhirnya ia akan pulang dari kelas dengan pengetahuan yang tidak lengkap. Masalahnya, “lubang” tersebut akan terakumulasi dari satu kelas ke kelas yang lain sehingga kalau diakumulasi akan menjadi sangat banyak sekali. Biasanya orang-orang akan secara instant mengisi bagian yang bolong itu h-sekian dari ujian. Ohya satu lagi, kalau kita bertanya, biasanya penjelasan dari pertanyaan itu akan lebih lengket di otak kita sehingga ketika problem itu keluar, kita akan mudah meretrieve informasi itu.

Lalu terkait dengan bertanya ini, saya jadi memiliki mindset untuk bertanya sesering mungkin dan sebanyak mungkin dalam setiap acara. Saya usahakan ketika ada pembicara, saya mencatat dengan serius dan mempersiapkan apa yang kira-kira bisa ditanyakan dari materi tersebut. Hal itu membantu saya untuk menyerap materi yang disampaikan dengan lebih baik lagi dan membuat saya menjadi lebih kritis terhadap materi tersebut. Rasa kritis ini yang penting buat saya agar bisa terus mengembangkan kemampuan diri saya sendiri, mempertajam otak dalam membedah situasi, dan membuat kita mampu mengeluarkan potensi terdalam dari otak kita. Bahkan saya pernah berada di sebuah event, dimana setelah si pembicara selesai bicara dan masuk sesi tanya jawab, saya sudah reflek untuk mengangkat tangan padahal belum menemukan apa2 untuk ditanya -_- akhirnya otak saya secara ngebut mencoba mencari pertanyaan dan ketika mic sampai di saya, ada aja pertanyaan yang bisa saya ajukan (dan pertanyaannya berbobot juga). Jadi selain bertanya bisa melengkapi knowledge kita, bertanya juga bisa membuat otak kita jadi lebih tajam.

Selanjutnya adalah efek tak langsung dari bertanya. Wah ini menurut saya manfaat yang unik dan cukup menarik walaupun tidak selamanya terjadi. Dengan bertanya, biasanya saya jadi lebih diingat atau dikenal oleh pembicaranya, sehingga ketika saya ingin berkenalan dengan si pembicara pun jadi lebih mudah. Lalu dengan bertanya, kita juga bisa direkognisi oleh orang-orang di sekitar kita (tapi jangan jadikan ini tujuan utama bertanya yah, biar jadi terkenal -_-). Apa maksudnya rekognisi ini? Saya pernah suatu ketiak bertanya dan mempernalkan diri bahwa saya Adam, seorang game Developer, lalu selesai acara, ada wartawan MetroTV yang menghampiri saya dan meminta saya jadi narasumber sebagai salah seorang developer. Atau yang lebih seru lagi, saya pernah dengan bertanya, bisa mendapat hadiah. Kalau dihitung, udah banyak sekali hadiah yang saya koleksi dari bertanya karena sedikit sekali orang yang berani bertanya, pernah dapet kaos, dapet buku, dan lain sebagainya.

Pesan saya buat semua, wajib hukumnya bertanya kalau kita tidak tahu atau ada “lubang” di knowledge kita agar tidak terakumulasi. Dianjurkan untuk sering bertanya agar melatih ketajaman otak kita untuk bisa berpikir lebih kritis dan tajam. Dan sangat tidak dianjurkan bertanya agar bisa dikenal orang atau menyombongkan kemampuan kita (kadang ada yg nanya hanya biar keliatan pinter), bertanyalah dengan rendah hati dan humble, dengan niat belajar, kalo yang namanya “hadiah” dari bertanya ya itu cuma bonus aja. Kalau dapet syukur, enggak juga gpp 🙂 hehe So, jadikan reflek untuk bertanya ketika ada kesempatan 😀

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: