Iklan
My Journal

Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 3. Generasi Kami Imun Akan Indoktrinasi, Intimidasi, Dan Pengkondisian

Era informasi membuat generasi kami menerima berbagai input dari berbagai kultur budaya. Salah satu pengaruh budaya terkental yang dirasakan adalah budaya barat, terutama jiwa sekulerisme. Yaitu ketika kami, generasi yang besar di lingkungan yang penuh dengan arus informasi, menjadi bergaya hidup individualis, materialis, dan hedonis. Hal tersebut melunturkan sedikit banyak jiwa nasionalisme dan juga nilai-nilai luhur tradisi bangsa kita.

Pada PLO ini, banyak sekali nilai-nilai yang berusaha dipaparkan kepada para mahasiswa untuk menjadi bahan referensi, pertimbangan, dan pembuka paradigma. Diharapkan PLO ini dapat membangkitkan kembali rasa kebanggaan sebagai warga negara Indonesia, rasa memiliki sesama bangsa, rasa keperdulian terhadap masyarakat, dan yang terpenting memberikan kami visi yang jelas tentang peran kami sebagai mahasiswa. PLO ini mencoba mengarahkan kami kepada definisi jati diri mahasiswa sejati.

Metode yang digunakan pun beragam-ragam. Baik menggunakan games, seminar, mentoring, pengkondisian, dan lain-lain. Untuk games, seminar, dan mentoring tidak akan banyak saya komentari, karena beberapa hal masih mampu menyampaikan maksud dan tujuan dari PLO ini. Yang menarik untuk dibahas adalah metode penanaman nilai melalui pengkondisian yang disetting, disertai intimidasi dari pendidik (panitia PLO), dan penanaman nilai melalui proses doktrinasi satu arah. Hal tersebut seperti halnya yang terjadi pada hari ke dua PLO, di mana di akhir sesi para peserta dibariskan. Kemudian dikondisikan oleh komandan lapangan agar situasi menjadi tegang melalui suara dengan nada yang tinggi. Panitia-panitia berdiri melingkari barisan peserta. Lalu dikondisi yang sudah terkondisikan tersebut, sang komandan berniat menanamkan nilai kebersamaan di jiwa peserta PLO. Yaitu dengan mengkritisi barisan yang tidak rapih dan mengomentari ketidak lengkapan jumlah peserta. Panitia di luar barisan masih tetap membangun suasana tegang dengan melakukan interupsi dan pernyataan yang memojokan ketidak kompakan kami. Bahkan komandan lapangan menantang kekompakan kami. Hingga akhirnya sesi tersebut berakhir.

Namun di akhir sesi, saya berbincang-bincang dengan teman-teman saya yang lain. Saya penasaran dengan nilai apakah yang akhirnya tertanam dari sesi tadi. Ternyata bukannya nilai kekompakan dan semangat yang saya lihat, tapi justru kekesalan dan kejengkelan yang saya dapatkan. Banyak yang merasa bahwa pengkondisian seperti itu, intimidasi, dan juga doktrin satu arah tersebut belum efektif untuk mengompakan angkatan. Banyak yang akhirnya malah kehilangan respek dengan panitia bahkan seluruh acara. Tidak heran peserta yang hadir keesokan harinya lebih sedikit dari hari sebelumnya. Rupanya proses pembelajaran melalui pengkondisian seperti itu kurang cocok untuk sebagian besar dari generasi kami.

Dari kekecawaan dan kekesalan teman-teman lainnya, saya memperoleh beberapa poin yang menarik yang bisa dijadikan solusi. Ternyata bagi kebanyakan dari kami, proses penanaman nilai dan pembelajaran akan lebih mudah diterima melalui proses pendekatan persuasif dan kondisi yang natural. Seperti ketika mentoring, atau bisa juga melalui acara makan-makan santai sembari sharing bersama panitia mengenai nilai-nilai tersebut. Kemudian gaya komunikasi di lapangan yang seolah-olah membangun “jarak” antara peserta dan panitia justru membuat peserta kehilangan respek dan rasa hormat dengan panitia. Cara yang paling tepat justru dengan memberikan apresiasi, penghargaan, dan perhatian terhadap peserta. Dengan berusaha menyatu dengan peserta dan menghargai mereka, ternyata hal tersebut membuat peserta menjadi lebih menghargai panitia dan juga acara. Jika bai

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Comments on Saya Memetik Pelajaran Dari PLO: 3. Generasi Kami Imun Akan Indoktrinasi, Intimidasi, Dan Pengkondisian

  1. hay ikutan komen boleh yah?hehe.
    tulisan yang bagus..:)

    sebenernya saya hampir setipe sih sama kamu, males deh kalo udah masalah agitasi dan tensi mulai naik..

    waktu sma dulu sempet protes kenapa harus ada metode seperti itu,
    mendapat jawaban dari seorang senior dan kalo dipikir ada benernya juga, hal-hal kayak gitu sebenernya ngelatih kita juga untuk berpikir benar di kondisi yang gak diharapkan kan?
    misalnya nanti pas kita kerja, belum tentu si bos orangnya persuasif, atau natural seperti yang kamu bilang, tapi kadang juga kita mesti bisa berpikir jernih dan bertindak si saat2 terjepit..

    mm..CMIIW yah..itu sih pandangan gw doank..
    haha..
    tapi satu yang pasti sih, sebenernya segala hal yang udah Tuhan kasih ke kita, mau itu susah, nyebelin, sedih, pasti ada manfaatnya kok tergantung gimana cara kita memandangnya..:)

    Suka

  2. Hehehe.. gpp kok, kita berbagi informasi dan berdiskusi santai saja. Saya juga menulis ini juga hasil dari opini dan pandangan subjektif saya semata. Jadi mohon koreksinya jika ada yang tidak tepat.

    Iya, memang bagus untuk melatih mental dengan kondisi penuh tekanan seperti itu. Saya juga di SMA pernah mendapatkan hal yang serupa dan memang saya juga belajar dari sistem tersebut. Tapi nampaknya, tiap orang memiliki tipe dan karakteristik yang berbeda-beda. Apalagi sekarang seorang anak menjadi lebih kritis dan lebih berpikiran terbuka. Kalau memang ingin melakukan simulasi suasana dengan tensi tinggi, bagaimana jika jauh sebelum itu disamakan persepsi dulu antara pemateri dan peserta. Agar proses simulasi tersebut bisa memberikan manfaat yang jauh lebih banyak lagi jika kedua belah pihak sama-sama saling mengerti. Kemudian kondisi tensi tersebut mungkin lebih baik jika memang sesuatu yang prinsipil, kalau karena alasan yang agak dibuat-buat lalu menaikan tensi, sepertinya peserta akan merasakan “kejanggalan” dan malah jadi membentengi diri dari nilai yang ingin dicapai.

    thx for comment ^^
    *suka paragraf terakhirnya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: