Iklan
My Journal

Merobohkan Keangkuhan Kalimat “All You Can Eat”

Tujuh belas Orang dalam satu hari berhasil merubuhkan kalimat makan sepuasnya di sebuah restoran Jepang di Jalan Dago. Niatan ini diawali dengan persiapan yang matang dan terencana. Berbagai peralatan pengisi waktu telah dipersiapkan, mulai dari Laptop untuk nonton DVD, laptop untuk main WE, kartu, novel, komik, sampai kabel rol. Jam 10.00 WIB kami sudah siap dengan segala peralatan kami dan langsung menyerbu lokasi. Datang di pagi hari nampaknya membuat sang pemilik restoran senang, karena kedatangan omset yang berlimpah di jam tidak sibuk. Kami disambut hangat dan dipersilahkan menempati ruang VIP dengan terbuka. Ruang VIP tersebut sangatlah eksklusif, satu ruangan hanya ada dua meja dan empat pemasakan. Di ruang tertutup itu juga memiliki halaman belakang seperti taman. Para pramusaji yang hangat menyalakan kompor dan menyiapkan tempat bagi kami. Kami pun memulai dengan makanan pembuka, nasi goreng, salad, kwetiau, dll. Setelah kompor hangat, air mendidih, dan minum telah dipesan, kami merambah ke tempat daging dan makanan-makanan lain berada. Satu persatu dari kami mengalokasikan daging dari pendingin ke dalam kompor yang berakhir di perut kami. Begitu terus sampai siang hari. Suatu kesalahan terbesar dari pemilik restauran adalah, menempatkan kami di ruang VIP. Akibatnya adalah kami menjadi liar di dalam sana. Semua alat hiburan dikeluarkan dengan segera. Alhasil ruangan eksklusif tersebut berubah menjadi tempat bermain WE, tempat menonton DVD, tempat bermain internet, dll. Tentu selama aktifitas itu pun kami bolak-balik mengambil makanan sebagai cemilan.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya kami sepakat untuk memulai ronde ke dua. Kurang lebih pukul 14.00 WIB kami sudah merasa lapar dan siap untuk menjarah lemari pendingin yang penuh dengan daging tersebut kembali. Namun nampaknya kehangatan yang tadi pagi diberikan kepada kami sudah pudar. Muka-muka sinis dan tak senang dari para karyawan sudah tersirat. Tapi kami pun tidak peduli dan melanjutkan invasi kami. Dengan “tahu malunya” kami meminta petugas untuk menyalakan kompor kami lagi. Namun tidak kunjung datang petugas untuk menyalakan kompor kami. Sampai kami harus mendatangi petugas tersebut dan menunggunya hingga mendatangi meja kami dan menyalakan kompor. Kami minta ke empat meja dinyalakan lagi kompornya, namun pak petugas yang baik itu hanya menyalakan satu saja. Alhasil kami pun menyalakan sendiri kompor kami. Kami bolak-balik mengambil daging lagi. Lalu tiba-tiba, stok daging tidak dikeluarkan lagi. Nampaknya mereka bergerak cepat dengan tidak mengisi ulang stok daging yang ada. Tapi tak masalah, masih ada makanan yang bisa dimakan. Setiap kami mengambil makanan, mata-mata tajam menatap kami. Seakan ingin mengusir kami, namun tamu adalah raja, tidak bisa sembarangan diusir. Kehabisan daging tidak menyurutkan niat kami untuk terus bersantap ria. Terasa suasana semakin dingin, kami pun merasa semakin tidak nyaman. Sampai akhirnya kompor kami sudah sangat gosong dan kami meminta untuk diganti, lalu mas penjaganya berkata bahwa sudah tidak ada lagi karena sudah mau tutup karena ingin mempersiapkan untuk makan malam. Tadinya kami ingin berkata bahwa kami ingin makan malam sekalian, tapi rasanya melihat muka yang sudah seperti itu membuat kami tidak enak untuk berkata demikian. Alhasil jam 16.00 WIB kami meninggalkan kesan yang mendalam bagi restoran tersebut.

Semoga saja mereka tidak kapok dengan konsep “all you can eat”nya. Yang pasti kami sudah membuktikan kalau kalimat makan sepuasnya milik rumah makan tersebut hanyalah kalimat semu. Karena kami belum puas tapi sudah tidak diperbolehkan makan lagi. Silahkan buktikan sendiri…

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

6 Comments on Merobohkan Keangkuhan Kalimat “All You Can Eat”

  1. Ah, disaz. ketidakmaluanmu dan kawan-kawanmu membuatku bangga, hahaha…

    oia, blogmu aku link, ya!

    Suka

  2. hoi dam
    hehehe
    17 org jdinya sapa aja yg ikut?
    gw mw ikut tp ada acara e..
    hahaha…gila kpn2 cri tpt dgn tema ‘all you can eat’ lagi hoi !!

    Suka

  3. hahaha…kalian memang tidak salah, tapi kalian parah! 😀

    btw, aku 2004 lho dam, bukan 2005. Salah tuh di linkya 🙂

    Suka

  4. Navan,, hehehe,, senang dibanggakan navan, jadi tersanjung. oke, aku link juga ya!

    ucan,, banyak can, adit,agna,mecil,lawin,onye,dany,bayuta,iid, dkk dah. banyak pokoknya.. sip sip… tar kita hancurkan tempat lain! hehehe

    Hehe abis sayang mas, mahal2 masa cuma bentar makannya. Mending dipuas2in aja! hehehe oh ya.. salah hitung,, tak ganti nih

    Suka

  5. mental sperti ini yg bikin bangsa kita kacau…udh rakus tak tahu malu lagi…ckckckck

    Suka

  6. sumpah keren banget…..hahhahaha…..

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Makan Masakan Jepang Sepuasnya di Hanamasa | Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: