My Journal

Strategi Pendanaan Untuk Studio Game Baru

Halo gengs, kali ini saya mau sharing tentang strategi pendanaan yang digunakan Arsanesia ketika awal berdiri. Situasi di Indonesia ini mungkin agak sulit kalau dibandingkan di negara-negara maju yang sumber financing sudah tersedia dimana-mana. Kayak di Jerman, pemerintah pusatnya punya budget 50jt euro pertahun buat hibah, dan pemerintah daerahnya punya start from 20rb euro perproject sebagai hibah. Atau kalau di US, akses ke venture capital yang aktif mencari startup untuk game juga ada banyak sekali jadi lebih mudah bagi studio game di sana untuk mendapatkan pendanaan. Nah gimana dengan di Indonesia?

Dulu di Indonesia ada program pendanaan yang menurut saya bermanfaat sekali yakni Bantuan Insentif Pemerintah. Hibah sebesar 200jt untuk studio game mengembangkan produknya. Terus juga dulu ada Gelora yang mungkin angkanya lebih kecil yah sekitar 40jt. Tapi sekarang kedua program itu sudah tidak ada lagi. Kemudian kalau bicara VC lokal, sulit sekali mencari yang mau invest ke industri game. Ini ayam dan telur sih, VC nya tidak tertarik, studio game nya juga tidak menarik. Tapi kan harus dimulai dulu nih biar ekosistemnya jalan. Nah dengan kondisi yang ada sekarang, gimana caranya?

Dulu modal utama Arsanesia adalah lomba. Yup, kita studio game yang spesialis bounty hunter. Ikut lomba sana-sini dan hadiah lombanya jadi modal untuk ngerunning company. Ya dulu kita sih tim cuma berlima dan kantor cuma ngontrak garasi, jadi burn rate nya juga gak gede-gede amat. Yang penting bisa dapet uang dari lomba untuk ngelanjutin game yang menang lomba itu jadi produk. Tapi kan namanya belajar, gak mungkin dong newbie kayak kita game pertama nya langsung sukses. Beres game nya kita rilis, tentu pemasukannya belum cukup. Waktu itu kita rilis temple rush prambanan yang gak ngasih revenue hahaha

Arsanesia resmi bergabung ke dalam DNC family

Klo gamenya belum menghasilkan gimana? kan gan tiap bulan ada lomba. Dan gak semua lomba kayak Nokia yang hadiah juaranya gede-gede jadi bisa dipake runway 3-6 bulan. Kita kepikiran untuk fundraising. Dulu itu jaman 2010 lagi heboh-hebohnya startup tuh. Makanya lagi banyak event pitching session, networking sama VC, dan lain-lain. Gak terhitung berapa banyak event pitching yang kita ikutin dan meeting sama VC, dan gak ada yang deal. Rata-rata karena mereka gak tahu marketnya, sama kayak Arsanesia juga dulu kita juga gak ngerti marketnya hahaha Dan yang paling penting adalah Arsanesia gak punya produk yang ada track record bagus. Jadinya VC itu bukan opsi yang bisa kita pakai. Tapi kita masih mau bikin game nih, butuh dapur ngebul, gimana caranya?

Cara yang paling mudah untuk studio game baru yang belum punya track record adalah outsourcing. Kita secara teknis bisa bikin game, bagus. Tapi bikin game yang menghasilkan uang itu udah another level sendiri. Nah kalau gitu, kita bikinin game buat orang aja. Ini lebih mudah karena spesifikasinya jelas, kita tinggal bikin sesuai yang diminta sama client, lalu jadi deh game nya dan kita pasti dibayar. Dulu waktu awal-awal, Arsanesia banyak “digendong” Nokia. Nokia kan clientnya banyak banget. Dan client2nya itu, melihat kesuksesan Angry Bird dkk saat itu, pada pengen punya game juga. Nah sama Nokia client-client itu diarahin ke Arsanesia. Bahkan beberapa project Nokia yang bayarin clientnya itu. Jujur ini jadi periode pembelajaran yang paling berharga. Kita belajar project management, kita belajar budgeting, kita belajar komunikasi, kita belajar networking, kita belajar production, dan lain-lain. Dengan cara ini, Arsanesia bisa sustain hidup dan punya tabungan untuk dipakai bikin game sendiri. Di sela-sela ngerjain project client, kita ngerilis game kayak Slapillar, Roly Poly Penguin, dan lain-lain. Tapi itu pun ternyata project2 yang kita bikin belum ada yang sukses.

Setelah punya track record yang cukup, angin berhembus ke arah kita. Ada sebuah VC yang passionate terhadap industri game yang ingin fokus invest ke ekosistem game. Namanya Discovery Nusantara Capital (DNC). Dipertemukan di Bekraf Gameprime (yang sekarang juga udah gak ada lagi), akhirnya terjadi diskusi panjang dan kami berdua bisa menemukan kecocokan. Arsanesia per tahun 2017 resmi mendapatkan funding dari VC. Dengan funding tersebut, Arsanesia sukses bikin game Summer Town, Arsa Kids, dan kolaborasi dengan Juki untuk bikin game.

Launching Roly Poly Penguin Disupport Nokia

Kalau ngeliat dari cerita di atas, Nokia, BIP, Gelora, Gameprime, dan lomba-lomba skala hadiah besar udah gak ada. Terus buat temen-temen di sini sekarang, opsinya tinggal outsourcing kah? Jawabannya tidak. Ada satu hal yang sekarang terbuka dan dulu di jaman saya gak ada. Yakni publishing deal. Ini something yang kayaknya baru terbuka di Indonesia sekitar 5-6 tahun yang lalu, terutama didorong dengan program pemerintah yang membawa gamedev ke luar negeri kayak Archipelageek. Di sini saya jadi mengenal klo ada publishing deal yakni publisher akan membeli hak jual game kamu dengan memberikan sejumlah uang di depan, biasa disebut minimum guarantee. Dan nominalnya pun cukup oke, ada yang puluhan hingga ratusan ribu USD. Tentu untuk di Indonesia, itu angka yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah game. Jadi ini kesempatan baru bagi temen-temen yang mencari sumber pendanaan. Kalau keluar negeri mahal, di Indonesia ada event IGDX yang akan mengundang publisher dari luar negeri untuk mencari game di Indoensia.

So, bagi temen-temen yang sekarang lagi mencari pendanaan awal. Yang paling terjangkau adalah jadi studio outsourcing. Lalu kalau punya ide game atau prototype, bisa cari publisher untuk mendapatkan minimum guarantee. Dan semoga dengan game game lokal makin bagus, studio game juga makin mature, makin banyak VC yang berminat masuk ke industri game. Di luar sana, VC di game ini udah sama aktifnya kayak VC di startup loh. Liat aja data di bawah ini. Investment di game udah jutaan dan miliaran dollar juga. Dan harapan saya juga program grant dari pemerintah bisa muncul lagi yah.

List investment di game yang terjadi di tahun 2022
About Adam Ardisasmita (1277 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: