My Journal

Kenapa Game Cyberpunk 2077 Banyak Bugnya?

Cyberpunk 2077 adalah salah satu game yang paling diantisipasi oleh banyak gamers di dunia. CD Projekt Red memiliki game sebelumnya yang sangat sukses yakni The Witcher 3. Game The Witcher 3 sangat berhasil memberikan experience yang immersive dengan open world RPG dan story yang sangat menggugah. Tapi Cyberpunk mendapatkan cukup banyak isu menjelang rilisnya. Isu yang paling keras adalah rilis yang delay berkali-kali. Lalu setelah akhirnya rilis, ternyata bug nya banyak sekali. Saking mengganggunya bug tersebut, Sony dan Xbox sampai memberikan fasilitas full refund bagi yang sudah mengunduh game tersebut secara digital.

Mengapa hal ini bisa terjadi kepada studio game sekelas CDPR yang sudah berhasil deliver game dengan skala besar sebelumnya? Pada tulisan kali ini, saya coba menganilisis beberapa kemungkinan yang membuat game tersebut tidak bisa rilis dengan mulus.

Bikin Game Itu Susah, Validasi Fun

Pertama dan yang terpenting, bikin game itu memang susah, terutama di bagian game design. Terkadang kita ingin menambahkan inovasi baru dari sebuah gameplay, tapi kita tidak bisa menebak apakah hal tersebut akan memberikan efek fun yang kohesif di dalam gamenya atau tidak. Satu-satunya cara untuk memvalidasi itu adalah dengan membuat prototype. Dan prototyping ini adalah ongkos tersendiri yang harus dikeluarkan dengan tidak murah.

Apalagi permasalahannya, kadang satu mekanik yang terisolasi sendiri sudah fun, ketika diintegrasi ke dalam keseluruhan game, bisa jadi tidak terasa kohesif. Sehingga ada mekanik yang harus dibuang atau diganti. Penggantian ini dari sisi design mungkin tidak terlalu sulit, tapi efek kedalam kode yang harus diubah dan konten yang harus disiapkan membuat development phase jadi bertambah panjang. Belum terkadang ada domino efek dimana mengeluarkan atau menggantu satu mekanik, bisa memberikan chain of effect bug ke fitur lainnya. Hal ini yang membuat sangat sulit bagi game developer untuk bisa merilis game yang zero bug.

Mengambil Resiko Perubahan Mekanik

Yang kedua adalah faktor resiko. Andaikata CDPR merilis The Witcher 4, mungkin game tersebut juga akan jadi game yang mendapat reception besar dari gamers. Tapi mereka memilih jalur yang lebih wow, yakni membuat IP baru dengan tema baru, dan bahkan genre game yang baru. Kalau The Witcher series merupakan game action RPG, Cyberpunk merupakan game First Person Shooter.

Hal ini memberikan cukup banyak perubahan dan teknologi baru yang mereka perlu akusisi. Pace game yang tadinya lambat, harus dibuat jadi cepat. Battle yang tadinya banyak pakai melee, harus dibuat lebih mengakomodir senjata jarak jauh. World yang modern membuat banyak gadget dan tools modern yang memberikan efek lebih massive. Contohnya kalau dulu transportasi hanya pakai kuda, yang mana mekaniknya sama seperti berjalan, tapi lebih kencang. Kalau sekarang ada mobil. Menambahkan fitur mobil di dalam game itu udah PR tersendiri. Mulai dari fitur kontrol mobilnya, mengatur akselerasi, hingga membuat world yang ramah mobil.

Andai kata CDPR main aman dengan tidak mengganti genre game barunya dengan tema FPS, mungkin itu akan jauh lebih mudah diluncurkan karena tinggal iterasi dari The Witcher. Mereka udah bikin 3x game open world action RPG, tentu game ke-4 akan lebih termanage. Tapi kita harus acungkan jempol untuk keberanian tim CDPR memilih genre yang berbeda.

Banyak Target Platform

Timing CDPR ini bisa dibilang agak menyulitkan. Waktu rilis The Witcher 3, mungkin mereka hanya perlu fokus ke tiga platform saja yakni PC, PS, dan Xbox. Tapi sekarang ketika mereka mau rilis Cyberpunk, mereka juga harus memikirkan platform lain seperti Cloud Gaming dan next gen console. Next gen console nya pun ada dua, XBox Series X dan PS5. Jadi mereka harus menyiapkan gamenya, di saat rilis, harus bisa kompatibel untuk semua platform yang ada.

Porting ini permasalahan yang gak mudah. Karena kadang ada isu-isu ajaib yang hanya muncul di satu platform tertentu. Misal bisa tiba-tiba ada isu yang muncul hanya di PS4 Slim, tapi gak ada di tempat lain. Kalau sudah begitu, tentu akan dilematis sekali apakah mau fokus ngejer bug major yang terjadi di semua platform, atau bug major yang hanya ada di PS4 Slim? Tentunya mereka pasti akan fokus ke bug yang lebih besar dampaknya. Jadi wajar kalau PS4 Slim menjadi platform yang paling tidak nyaman untuk memainkan Cyberpunk. Andai mereka hanya fokus ke PS5, Xbox yang baru, dan PC, pasti akan lebih mudah bagi CDPR untuk merilis game yang lebih stabil.

Pandemi Efek

Yang terakhir adalah pandemi efek. Pandemi ini pasti akan berpengaruh ke produktivitas. Kecepatan komunikasi menjadi satu masalah besar yang harus ditangani ketika timnya bekerja secara remote. Masalah yang dulu solusinya bisa tinggal jalan 5 meter ke meja departement 3D modeller dalam waktu 5 menit kelar, sekarang harus dijadikan meeting online yang mungkin satu jam belum kelar. Artinya ada inefisiensi yang terjadi dalam proses membuat keputusan yang pasti akumulatif terhadap kemampuan developer untuk menyelesaikan gamenya.

Belum lagi kendala dari sisi infrastruktur. Project game yang besar itu tentu punya sistem management aset yang sudah matang di internal kantor mereka. Sehingga ketika 3D artist membuat environment bertera-tera giga, lead nya bisa langsung review kerjaannya, acc, dan forward itu ke tim engineer untuk diimplementasi. Saya gak tahu seberapa kencang internet di poland, tapi yang jelas kalau kerja dari rumah dengan bandwidth internet rumahan, proses yang harusnya mungkin bisa terjadi dengan instant, perlu ada upload dulu dari 3D artist, download dulu dari lead nya, lalu klo udah acc, engineernya perlu download lagi.

Belum lagi gangguan-gangguan non teknis di rumah kayak situasi kerja yang gak kondusif, kesehatan mental yang terganggung, dan lain sebagainya.

Berkenalan dengan tim CDPR pada acara Gamescom 2019 di Cologne, Jerman

Itu tadi adalah beberapa anlisis singkat yang membuat saya menyimpulkan bahwa permasalahan yang menjadi penyebab Cyberpunk didera banyak bug major adalah resiko besar yang mereka ambil dan juga timing yang tidak berpihak pada mereka karena berada di masa transisi next gen dan juga pandemi. Semoga tim di CDPR walopun harus crunch untuk menyelesaikan PR mereka, bisa tetap semangat yah!

About Adam Ardisasmita (1227 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: