My Journal

Efek Corona Virus Terhadap Ekonomi Kreatif di Indonesia

Selasa kemarin, saya diundang untuk ikut rapat dengan Mas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mas Tama, untuk membahas terkait dengan situasi krisis Covid-19 di Indonesia. Sekarang kita sudah hampir 2 minggu semenjak Indonesia masuk kondisi darurat dan merekomendasikan masyarakat di Indonesia untuk #diRumahAja atau Work From Home. Indonesia sedang berhadapan dengan musuh besar, yakni Ekonomi dan Kesehatan. Penyebaran Covid-19 yang sangat cepat serta efeknya yang cukup mematikan membuat Indonesia masuk ke dalam fase krisis. Dan hal itu yang menjadi topik meeting dengan Mas Tama dan juga pelaku-pelaku ekonomi kreatif yang lain.

Untuk tahu lebih detil pembahasannya, bisa cek di podcast saya Ardisaz Show

Hadir di rapat tersebut perwakilan dari industri Musik, industri Film, industri Animasi, industri Penerbitan seperti komik dan penulis buku, dan lain sebagainya. Sebelum membahas ke industri yang lain, saya mau sharing dulu apa imbas Covid19 ke industri game.

Ada dua hal yang akan terkena imbas dari adanya Covid19 yakni Work From Home (WFH) untuk mengurangi kecepatan penyebaran virus Corona dan impact dari sisi bisnis yang mempengaruhi cashflow perusahaan. Kalau dari sisi WFH, saya yakin teman-teman game developer tidak akan mengalami dampak yang terlalu besar. Saya sendiri di Arsanesia sudah biasa remote working dan menerapkan SOP yang memudahkan remote working. Jadi tidak perlu adaptasi terlalu besar untuk switch ke full WFH. Mungkin di tulisan berikutnya saya akan share tips WFH agar bisa lebih efektif.

Kalau dari sisi bisnis, apakah cashflow game developer di Indonesia terganggu? Jawabannya tergantung dari model bisnisnya. Secara umum, model bisnis game developer di Indonesia dibagi jadi 3 yakni yang membuat game sendiri (IP Creator), yang mengerjakan bagian game (Outsourcing), dan yang mengerjakan serious game (Service). Bagi yang membuat IP sendiri, sebenernya covid ini bisa jadi peluang karena demand akan game menjadi lebih tinggi. Sales game Arsa Kids meningkat karena banyak orang tua yang WFH dan anaknya juga butuh kegiatan yang edukatif dan menyenangkan. Baik dari game Learn With Pippo maupun Pippo Brain Training mengalami kenaikan yang cukup baik. Tapi untuk mereka yang lini bisnisinya service, project yang biasanya membuat gamification untuk internal training company, project marketing yang dijadikan gimmick untuk launch suatu produk, pasti akan terdampak.

Lalu kalau di industri lain, industri musik sudah pasti kena imbas yang sangat besar. Mereka yang cashflow utamanya dari manggung, baik itu manggung di kafe, pernikahan, sampai ke event musik besar, harus langsung mengalami kemarau panjang karena tidak ada lagi arena untuk crowd hadir. Yang di industri film, bioskop-bioskop tutup sehingga film-film akan tidak bisa dijual kepublik. Lalu produksi pun harus dilockdown karena tidak boleh berkumpul dikeramaian sedangkan di set shooting pasti ada puluhan hingga ratusan kru. Industri kuliner paling kena dampaknya nih, karena omset mereka turun hingga 90% dan hanya punya cashflow untuk bertahan mungkin 1-2 bulan lagi. Mal-mal tutup, pengunjung berkurang, supply chain terhambat, sedangkan overhead cost mereka besar dan tidak bisa disubtitusi dengan work from home. Kemudian salah satu yang kena dampak sangat besar adalah industri seni rupa. Mereka kehilangan platform untuk memamerkan karyanya yang harus fisikal dirasakan pengalamannya hingga kehilangan calon pemberi dana maupun kolektor seni yang semuanya sedang ngerem pengeluaran. Ada mbak Dee lestari yang sharing concernya terhadap toko-toko buku yang mungkin harus tutup. Walaupun sebagai penulis, WFH itu bukan sesuatu yang asing.

Hadir juga di rapat William-nya Tokopedia yang sharing insight bahwa trafic meningkat tapi banyakan transaksi panic buying. Transaksi yang dulunya banyak menggerakan roda UMKM seperti fashion local di Indonesia semakin berkurang. Hal ini tentu menjadi ancaman juga bagi para pengrajin lokal kita.

Kesimpulannya bahwa krisis bukan lagi di depan mata, tapi sudah berada di tengah-tengah kita. Tugas kita bersama adalah membantu agar krisis ini bisa segera berakhir, sehingga kita bisa segera recovery dan normalisasi kondisi ekonomi. Dari meeting tersebut, para pelaku ekonomi kreatif dari 17 sub sektor ekonomi kreatif berusaha mencari cara agar bisa mempercepat masa krisis ini berakhir dengan berbagai cara. Semoga bisa ditemukan solusi terbaik agar kesehatan di Indonesia bisa segera pulih dan ekonomi negara kita bisa membaik.

About Adam Ardisasmita (1208 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: