Iklan
My Journal

Kenapa Indonesia Butuh IGDX?

Bagi yang sering ketemu dengan saya, pasti sering denger bahwa market game Indonesia itu sangat besar (1 milyar USD) namun yang masuk ke dalam kantong game developer di Indonesia kurang 0,4%. Lalu sekarang eSport sedang sangat populer di Indonesia, terutama mobile eSport seperti game Mobile Legend, PUBG Mobile, Free Fire, dan lain sebagainya. Kemudian melihat trend game eSport yang naik daun ini, muncul pertanyaan baru. Kenapa tidak ada game eSport dari Indonesia? Jawaban yang paling mudah untuk disampaikan adalah industri game developer kita masih belum sampai ke tahap itu. Sebagai bandingan sederhananya saja, tahun 90an, Korea sudah bisa bikin game online multiplayer di saat di tahun tersebut industri game developer kita belum tumbuh. Bahkan mungkin hari ini, di tahun 2019, game developer lokal yang bisa membuat game dengan skala seperti Ragnarok Online belum ada.

Misal pertanyaannya kenapa kok bisa belum ada? Tulisan saya yang sebelumnya mengenai landscape industri game Indonesia mungkin bisa membahas lebih dalam. Singkatnya memang ekosistem game kita belum mature. Anggota dari ekosistem game industry ini ada mulai dari sisi talent, studio game (baik yang indie maupun triple A), publisher game, investor, pemerintah, universitas, komunitas, event, dan lain sebagainya. Saya melihat perbandingan dengan beberapa negara maju seperti Amerika, Jerman, Korea, Inggris, dan Jepang, apa yang membedakan kita dengan mereka adalah ekosistemnya yang lebih dewasa. Dan mendewasakan ekosistem ini memang butuh waktu, tidak bisa instant. Bayangkan ekosistem biota laut, tidak bisa serta merta kita berharap banyak ikan yang bisa ditangkap untuk dimakan. Harus menanam benih tanaman dulu, menyiapakn ikan-ikan kecil, memastikan sirkulasi airnya baik, memastikan tidak ada hama, dan harus menjaga ekosistem itu dengan baik hingga akhirnya bisa tumbuh menjadi rantai ekosistem yang seimbang dan bisa menghasilkan. Dan kata kuncinya, negara-negara maju tersebut mulai terlebih dahulu dari Indonesia untuk membangun ekosistemnya dan kita tidak bisa mengambil jalan pintas untuk bisa mencapai posisi yang sama dengan mereka, butuh waktu.

Tapi apakah dengan kita bisa mengejar jika hanya menunggu waktu? Tentu tidak. Bahkan mungkin kalau hanya menunggu, kita akan semakin tertinggal. Untuk itulah perlu ada suatu dorongan dan insentif untuk mengakselerasi ekositem game developer lokal kita agar bisa terus tumbuh di dalam ekosistem yang sehat. Harus ada yang mengintervensi dan memacu ekosistem lokal kita agar industri game developer kita bisa lebih maju. Kita perlu menghadirkan dan menanam bibit-bibit yang diperlukan di dalam ekosistem. Dan Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) merupakan salah satu bagian dari ekosistem yang harus ada agar industri game developer kita bisa maju.

Apa itu IGDX? IGDX merupakan sebuah conference untuk developer game di Indonesia agar bisa saling mengenal, berjejaring, berdiskusi, belajar, dan berbagi pengalaman. Semangat IGDX adalah semangat komunal bottom up dimana sesama game developer di Indonesia harus bisa tumbuh bersama-sama. Iklim positif yang dibentuk agar tidak hanya talent dan skill game developer lokal kita bisa tumbuh, tapi juga semangat kebersamaan bahwa kita sadar kita tertinggal dari negara lain dan kita harus do something untuk bisa mengejar mereka, bahkan kalau bisa lebih sukses. Indonesia punya modal yang sangat kuat sekali. Kita punya jumlah penduduk yang sangat besar, punya market share lokal yang besar, dan yang paling paham tentang market lokal kita adalah game developer lokal kita sendiri. Seharusnya, kita bisa menciptakan game yang bisa bersaing dengan game-game dari luar. Lalu jika kita ingin mengejar pasar global pun, kita punya advantage dari sisi living cost kita yang rendah serta nilai tukar dolar yang tinggi sehingga kita bisa membuat game dengan cost lebih murah dan mendapatkan revenue dari luar negeri dengan mata uang yang lebih kuat.

Bagaimana IGDX mencoba solving hal tersebut? Jawabannya adalah dengan menjadi sebuah event untuk game developer di seluruh Indonesia bisa berkumpul dan belajar dari kesuksesan game developer lokal kita. Tak hanya itu, game developer lokal yang sudah sukses pun bisa meningkatkan kapasitas diri mereka dengan belajar dari game developer luar yang sudah sukses. Jadi ada dua area untuk improvment. Area dimana game developer kita belajar dari game developer terbaik di Indonesia juga area untuk game developer kita belajar dari kesuksesan game developer di luar Indonesia. Dan dengan belajar bersama-sama inilah kita bisa menjadi katalis untuk menumbuhkan ekosistem game di Indonesia, terutama dari meningkatkan jumlah talent game developer di Indonesia, meningkatkan jumlah studio game lokal di Indonesia, dan meningkatkan kualtias game buatan Indonesia untuk bisa bersaing baik itu di lokal maupun di pasar global.

Kenapa IGDX berbayar? IGDX mencoba membawa semangat dari Game Developer Gathering yang dulu rutin tahunan dilakukan hingga akhir tahun 2015. Namun apabila GDG itu gratis, IGDX kenapa berbayar? Jawabannya adalah sustainability. GDG dijalankan dengan niat mulia dari para volunteer game developer di Indonesia untuk mengelola acara dari tahap planning hingga eksekusi. Tapi lama-kelamaan, tentu ada batas dari seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan mengingat tiap volunteer memiliki tanggung jawab di studio masing-masing. Kalau berkacara dari event-event game besar di luar sana, mereka sudah dipegang oleh asosiasi game yang mature dan bekerja sama dengan EO yang profesional. Dan tidak ada EO yang mau mengadakan acara jika tidak memberikan profitability buat mereka. Berbeda dengan game dev yang volunteer, EO pasti ingin acara yang profitable dan sustain. Itu mengapa acara-acara seperti Gamescom, GDC, GStar, Tokyo Game show, PAX, dan acara-acara game dev lain semuanya berbayar dengan tiket yang tidak murah. Untuk itulah acara IGDX ini dimulai dengan niat untuk jadi event besar yang sustain dan bisa memberikan dampak positif bagi iklim game developer di Indonesia.

Untuk di awal ini, IGDX diurus oleh volunteer-volunteer berdedikasi dari game developer di Indonesia. Mostly mereka pernah juga menjadi volunteer di GDG-GDG sebelumnya dan ingin berkontribusi sekali lagi demi melakukan jump-start bagi acara IGDX dengan harapan tahun ini IGDX bisa sukses dan tahun depan bisa dikelola oleh orang yang benar-benar profesional. Jadi partnership IGDX dengan EO profesional bisa mirip seperti dengan Asosiasi Game di jerman (GAME) dengan EO (koelnmesse). Atau jika ternyata belum cukup besar untuk itu, IGDX bisa berkolaborasi dengan pemerintah untuk membuat acara tahunan hingga nanti cukup besar untuk bisa running sendiri. Seperti GStar yang didukung pemerintah Korea hingga cukup besar dan bisa diberikan ke asosiasi game di Korea. Atau di Indonesia, Bekraf yang mendukung acara consumer event Bekraf Game Prime yang mungkin suatu saat sudah cukup besar hingga bisa dikembalikan ke industri game.

Untuk IGDX tahun ini, waktu persiapannya sangat sebentar yakni kurang dari 1 tahun dan juga panitia semuanya part time, bahkan mungkin quarter time, karena mereka semua punya prioritas mengurus studio game masing-masing. Tidak ada satupun dari panitia yang dibayar, tapi mereka semua mencurahkan energi dan perhatian mereka untuk mengahdirkan acara yang dibutuhkan oleh ekosistem game developer lokal kita. Mungkin tentu persiapan dan penyelanggaran akan jauh dari mimpi kami yang besar, tapi ini adalah first step. Dream big, start small, act now. Yang penting harus dimulai dulu dengan segala keterbatasannya. Harapannya, tahun depan harus lebih baik lagi.

Saya sangat bersyukur sampai hari ini, banyak sekali potongan puzzle yang sudah semakin berwujud. Kami berhasil mengundang Gilbran Imami, orang asli Indonesia yang bekerja di KOE Tecmo di Jepang dan membuat karakter di game Dynasty Warrior untuk sharing pengalamannya kepada game developer lokal. Ada juga dari Ubisoft Singapore yang bersedia sharing pengalamannya dari yang dulunya game developer Indie hingga sekarang memanage project dengan skala jutaan dolar. Ada juga game developer yang jauh-jauh terbang dari Jerman untuk sharing tentang skill programmingnya dan juga berbagi tentang serious game, yakni memanfaatkan data dan budaya untuk membuat game. Lalu ada juga game favorit saya, Cat Quest, yang ternyata developernya dari Singapore dan bersedia sharing ke Indonesia. Lalu yang dari lokal pun berbondong-bondong menyempatkan waktunya untuk sharing tips suksesnya seperti kisah sukses Valthirian Arc yang dapat revenue milyaran dalam tiga bulan pertamanya, ada game developer keren kita dari Mojiken, Gambir, Digital Happiness, Lentera Nusantara, dan banyak lainnya yang akan ikut berbagi di IGDX. Lalu support dari pemerintah pun juga sangat besar. Kementerian Komunikasi dan Informasi yang dari bertahun-tahun yang lalu selalu mendukung acara GDG, kini turut memberikan dukungan yang sangat besar bagi IGDX. Lalu Binus Bandung juga dengan tangan terbuka dan hangat menyambut kedatangan kami untuk hosting acara di Binus Bandung. Dari Goethe Institut juga turut menyediakan pembicara dan menerbangkannya dari Jerman, demikian juga dari Epic Games yang menerbangkan technical evangelist handal dari Unreal Engine untuk berbagi. Ini jadi harapan cerah untuk mengisi kekosongan dan mempercepat pertumbuhan industri game di Indonesia. Mohon dukungan dari teman-teman semua untuk acara ini yah. Untuk tahu lebih detil acaranya, bisa berkunjung ke website official IGDX yakni di igdxconf.com. semoga IGDX bisa menjadi jalan agar tantangan meningkatkan market cap local kita ataupun memiliki game eSport lokal di Indonesia 🙂

* rundown kegiatan dan list pembicara di bawah ini

Iklan
About Adam Ardisasmita (1147 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: