Iklan
My Journal

Inovasi Tidak Dinilai Dari Jumlah Fitur Saja

Sebagai penikmat produk-produk Apple, saya sangat senang melihat lini produk baru iPhone yakni iPhone 6. Tidak hanya saya, pasar pun terlihat super excited mengingat Apple baru saja memecahkan rekor baru yakni preorder iPhone 6 dalam satu hari mencapai 4jt pemesan, dua kali lipat lebih banyak dari iPhone 5. Artinya masyarakat sudah tidak sabar ingin menikmati inovasi baru dari Apple di dalam genggaman tangan mereka walaupun bisa dibilang harga produk-produk Apple sangatlah mahal.

Meskipun begitu, tidak banyak juga yang mencibir iPhone 6 ini karena melihat Apple hanya menambahkan fitur yang sudah ada di device lain seperti Android. Fitur big screen dan NFC sudah ada semenjak tahun 2012 di berbagai device milik Samsung, LG, Nokia, dan lain-lain. Banyak orang yang melihat ini mempertanyakan, mana sisi inovasi dari Apple? Apalagi buat yang belum pernah menyentuh device Apple dan hanya membandingkan spec, pasti iPhone kalah jauh dari sisi head to head dengan device lainnya.

Yang jelas, kalau ditanya iPhone vs Android lebih bagus mana itu selera yah. Bagi saya bentuk personalisasinya ada di yang satu bisa banyak dicostumize seperti menggunakan widget dan 3rd party apps, sedangkan yang satu punya standar tertutup demi memaksimalkan performa. Bagi saya sendiri, mau itu bisa dicostumize ataupun tidak, sebuah perangkat harus memiliki teknologi dengan costumer experience yang bagus. Kelebihan Apple dibanding produk lain adalah buat mereka walaupun teknologinya sudah ada, tapi belum mencapai standar costumer experience milik mereka, maka mereka tidak akan mengimplementasi teknologi tersebut.

Saya akan coba jabarkan beberapa contoh dari penerapan teknologi berbasis costumer experience ini. Contoh paling mudahnya adalah teknologi NFC. Tahun 2011 sudah banyak device yang menerapkan teknologi NFC. Bahkan Tugas Akhir saya di tahun 2012 saja meneliti NFC di device Nokia. Artinya teknologinya sudah ada. Kemudian Nokia dan Android menerapkan teknologi tersebut di pasar untuk melakukan pairing, file sharing, dan ada yang ingin mencoba menggunakannya untuk payment juga. Namun dari penelitian saya waktu itu, salah satu kesimpulan yang saya dapatkan adalah respond pembacaan teknologi NFC saat itu masih cukup lama (di atas 1 detik) sedangkan untuk payment sendiri masih belum cukup secure. Sayapun bisa langsung relate kenapa di tahun 2012, 2013, dan akhirnya hingga kini Apple belum mau mengadopsi NFC.

Apple secara bertahap pertama meluncurkan aplikasi passbook untuk membantu kita mengorganisir kartu kredit, voucher, tiket, dan lain-lain. Saya langsung membantin ini arahnya bakal ke mobile payment nih. Tapi masalah keamanan gimana? Pakai PIN gitu? Lalu tak lama setelah itu, apple meluncurkan Touch ID, sebuah metode keamanan yang menggunakan sidik jari. Pas momen ini, saya sudah memprediksi bahwa habis ini pasti Apple akan meluncurkan NFC. Dan benar saja, setelah iPhone 5S muncul dengan Touch IDnya, iPhone 6 muncul dengan NFCnya. Ini membuktikan bahwa teknologinya sudah ada bukan berarti harus dipakai semuanya, tapi harus disiapkan environmetnya dan sesuai dengan standar Costumer Experience yang tinggi.

Tim Cook dalam suatu wawancara baru-baru ini juga mengatakan, Apple bisa saja dari tahun-tahun sebelumnya meluncurkan iPhone layar besar. Tapi waktu itu belum ada teknologi yang bisa mendukung costumer experience yang baik dalam layar besar seperti kualitas layar dan yang paling penting adalah kapasitas batre. Kini iPhone 6 plus memiliki resolusi layar yang super tajam dan kapasitas batre yang jauh lebih kuat. Ini saya pikir berlaku juga ke teknologi-teknologi yang lain yang saat ini belum diterapkan oleh Apple. Percuma masang teknologi yang orang belum siap pakainya, implementasi fitur yang membuat device kita jadi tidak smooth, dan demi bersaing spec dengan perangkat lain harus mengorbankan costumer experience.

Ini adalah alasan kenapa Apple selalu jadi game changer. Saya yakin, NFC Payment gak akan bisa mainstream selama Apple belum punya itu. Menurut saya inilah yang dinamakan inovasi dari sebuah produk. Bukan dilihat dari berapa banyak fitur yang dimiliki oleh suatu perangkat, tapi bagaimana bisa memberikan fitur terbaik dengan costumer experience yang bagus. Mindset seperti ini yang menurut saya perlu untuk kita jadikan inspirasi dalam membuat produk. Jangan hanya fokus ke berapa banyak teknologi baru yang bisa kita tanamkan ke perangkat kita, tapi fokuslah ke experience dari user kita ketika menggunakan produk yang kita buat.

Ini ada artikel di Quora yang membahas topik ini dengan baik. 

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: