Iklan
My Journal

Menuju Kedewasaan Berdemokrasi

Gerakan Pungut Sampah di Bandung *foto diambil dari instagram ridwan kamil

Gerakan Pungut Sampah di Bandung *foto diambil dari instagram ridwan kamil

Indonesia bisa dibilang masih tertatih dalam menjalankan demokrasi. Sistem negara dimana rakyat berperan penuh mengendalikan arah gerak pemerintahan ini masih belum optimal. Wajar saja, kita 31 tahun (1967-1998) hidup di era yang memaksa kita untuk diam dan patuh terhadap pemerintah sehingga kebebasan belumlah menjadi hal yang wajar bagi kita. Dari semenjak zaman orde baru runtuh hingga masa reformasi, kita baru berjalan 16 tahun. Waktu yang masih sangat belia sekali bagi sebuah negara untuk mengubah pola pikir rakyatnya. Lebih mending kalau kita mulai era reformasi ini dari titik Indonesia merdeka, ibarat bayi yang masih polos. Ini kita bangkit dari orde baru dengan menyisakan banyak sekali warisan sistem birokrasi maupun penguasa-penguasa yang bermindset masa lalu sehingga sulit bagi kita untuk bisa dengan cepat bangkit dan berlari. Bandingkan dengan Korea Selatan yang sempat hancur lebur di tahun 1950 akibat perang saudara tapi kini bisa menjadi negara yang sangat maju karena dibangun dengan baik.

Enam belas tahun ke belakang, rakyat sudah bisa diberikan kekuatan untuk bersuara dan kebebasan untuk memilih, mengawasi, dan mengevaluasi segala aktivitas pemerintah. Di waktu itu, suara rakyat diwakili dengan suara partai. Partai dianggap mengakomodir segala keinginan masyarakat dengan ideologi yang dibawa. Awalnya, muncul banyak sekali partai dengan berbagai ide yang ingin diusung. Dipermulaan munculnya partai-partai tersebut, kita semua berpikir ini adalah sebuah fasilitas yang baik untuk bisa menjaga agar Indonesia bisa berjalan sebagaimana ideologi dan visi hebat yang diusung dari masing-masing partai. Tapi sayangnya, setelah kita berganti presiden hingga empat kali (Habibie, Gusdur, Megawati, dan SBY dua kepengurusan), keberadaan partai semakin tidak merepresentasikan suara rakyat. Malah banyak kader partai yang mengkhianati amanah dari rakyatnya, menjadikan jabatannya di pemerintahan sebagai ladang uang untuk kekayaannya sendiri.

Saat ini bisa dibilang demokrasi kita masih merupakan demokrasi semu. Kita seolah-olah memilih sendiri pemimpin yang kita sukai, baik itu untuk memimpin di tingkat kota, provinsi, bahkan hingga nasional. Pada kenyataannya, kita memilih orang-orang yang disiapkan oleh partai. Mereka adalah orang-orang yang bisa naik ke kasta yang cukup tinggi di partainya agar bisa dijadikan kandidat. Ongkos politik internal partai saja sudah tinggi, belum ongkos politik untuk bersaing antar partai, tentu itu melahirkan hutang yang sangat besar, baik itu hutang jasa maupun materi sehingga dia bisa menduduki tahtanya saat ini. Tidak bisa sembarang ada orang baik yang masyarakat senangi dan percayai untuk jadi pemimpin, bisa sekonyong-konyong diangkat menjadi pemimpin tanpa mengikuti sistem dan cara main di masing-masing partai.

Dengan fakta yang ada saat ini, masyarakat sudah apatis dan skeptis terhadap partai. Tidak ada partai yang bersih, tidak ada partai yang bebas korupsi, dan terbukti partai yang saat ini ada berjuang untuk kekuasaan dan kemenangan, bukan lagi representasi dari suara rakyat. Liat senayan, gedung semegah itu isinya bangku kosong. Hanya sedikit sekali orang baik yang bisa berjuang masuk ke dalam partai hingga bisa dicalonkan oleh partainya menjadi pejabat. Bahkan lebih absurdnya lagi, partai-partai sekarang banyak menarik artis untuk mendulang suara, agar bisa menang. Iya, kemenangan sekarang adalah target utama dari partai, bukan lagi memperjuangkan suara rakyatnya. Inilah yang membuat generasi muda kita menjadi pesimis terhadap negeri ini, sistemnya kotor, orang-orangnya kotor, dan jika mereka yang pintar, baik, dan muda ini berusaha masuk, kalau tidak didepak oleh derasnya perilaku jahat, ia akan terseret arus dan terbawa ke dalamnya. Makanya jangan heran kalau mahasiswa pintar yang lulus cumlaude dari kampusnya ditawari untuk masuk politik, mereka pasti menolak mentah-mentah.

Untungnya harapan itu masih ada, sistem yang kotor, orang-orang yang kotor, partai yang kotor, tidak menghalangi sebagian kecil dari kita untuk mendobrak hal itu dengan kebaruan. Segelintir orang ini adalah mereka yang rasa cintanya terhadap negeri ini mengalahkan semua rasa takut untuk terjun ke dunia yang hitam ini. Tanpa berada di pemerintahan, mereka-mereka ini sudah berjuang memperbaiki negeri ini. Saya sudah sering bahas bagaimana Ridwan Kamil membangun bandung dari komunitas-komunitas seperti Indonesia berkebun, bagaimana Anies Baswedan memperbaiki pendidikan di Indonesia dengan gerakan Indonesia Mengajar, dan banyak lainnya. Kita melihat ini ada orang baik, kita ingin mereka memimpin di negeri ini, tapi bagaimana caranya? Orang baiknya maupun belum tentu punya fasilitas untuk bisa maju. Di sini kita harus berterima kasih kepada partai yang mau memajukan orang-orang tersebut di saat partainya sendiri pasti juga punya kader yang sedang mereka siapkan. PKS dan Gerindra mengangkat Ridwan Kamil yang bukan kadernya menjadi walikota Bandung, PDIP juga mengangkat Risma yang juga merupakan bukan kadernya untuk menjadi pemimpin di Surabaya, dan yang menurut saya paling dewasa dari sisi demokrasi adalah partai Demokrat yang mengadakan konvensi sehingga siapapun orang baik di indonesia bisa mengajukan diri sebagai presiden. Walaupun sayangnya, suara partai Demokrat jatuh karena kader-kadernya yang koruspi sehingga orang-orang baik di konvensi tersebut seperti Anies Baswedan dan Dahlan Iskan gagal melangkah lebih jauh. Fenomena ini adalah salah satu bentuk kedewasaan demokrasi yang perlahan tapi pasti mulai terlihat.

Ketika orang baik sudah bisa diberikan kesempatan untuk maju, ketika partai sudah mau mendengar aspirasi masyarakat dan memfasilitasi keinginan rakyatnya, maka perlahan generasi muda yang skeptis itu tersadar bahwa Indonesia masih punya harapan. Orang-orang baik kini bisa jadi pemimpin, orang-orang baik itu kini sedang membersihkan sistem di Indonesia yang kotor, setelah itu, kita semua nanti bisa turut berkontribusi memajukan bangsa ini. Selama ini kita hanya bisa menyumbang komentar dan angan, tapi ke depan kita bisa secara langsung menyumbangkan energi dan pikiran kita untuk negeri ini tanpa perlu takut terjebak oleh sistem yang kotor atau dijebak oleh orang yang kotor. Ini bukan hanya harapan, ini adalah fakta. Di Bandung, anak-anak muda berbondong-bondong mendukung berbagai program dari Walikotanya, mulai dari gerakan sejuta biopori, gerakan pungut sampah, dan lain sebagainya. Di Jakarta, anak-anak muda di bidang IT turut serta berpartisipasi membantu Jokowi dan Ahok dengan aplikasi-aplikasi inovatif seperti Aplikasi untuk memonitor pintu air, aplikasi untuk eGov, dan banyak lainnya. Ini adalah tren positif dimana saat ini rakyat bisa secara langsung mendukung tidak hanya dengan coblosan, tapi juga dengan badan dan pikiran mereka.

Tren dimana rakyat bergerak tanpa embel-embel atau atribut partai ini menurut saya adalah sebuah tren yang baik. Mereka yang tanpa atribut ini menurut saya jauh lebih murni suaranya, lebih ikhlas gerakannya, dan lebih kongkrit karyanya. Mereka bergerak bukan karena uang, tapi karena ketulusan dan harapan, sehingga siapapun yang mereka dukung tidak akan punya hutang materi, yang ada adalah hutang moral. Pemimpin yang dipilih oleh rakyat tanpa atribut ini tidak perlu korupsi sana ini untuk bayar hutang, tidak perlu nurut diatur-atur oleh mafia karena tidak ada balas budi apa-apa, dan sepenuhnya tunduk kepada rakyat yang memilihnya. Kekuatan rakyat inilah yang menjadi inti demokrasi yang sesungguhnya, konsep turun tangan jugalah yang menjadi kekuatan terbesar dari Indonesia. Saya cukup takjub melihat beberapa kampanye di pemilu kali ini dimana masyarakat bergerak tanpa menggunakan atribut partai apapun. Golongan putih yang semenjak dulu apatis pun kini menjadi bergairah. Menurut saya tidak ada yang bisa dibanggakan dengan menunjukan berapa banyak kader partai yang ia miliki dengan cara menuh-menuhin stadion, jauh lebih penting melihat berapa banyak masyarakat tanpa atribut yang mau mendukungnya.

Selain tren partisipasi masyarakat dan fasilitas bagi orang baik untuk bisa masuk ke ruang kemudi negara ini yang perlu terus ditingkatkan, ada satu hal lagi yang perlu kita sama-sama dewasakan dari perilaku berdemokrasi di Indonesia ini. Hal itu adalah kemampuan untuk memberikan toleransi terhadap perbedaan pandangan serta keikhlasan untuk mendukung siapapun yang terlipih melalui konstitusi. Kita perlu terus mendukung semua orang baik di Indonesia yang ingin maju, apapun partainya, apapun etnisnya, apapun status sosialnya, selama dia adalah orang yang berintegritas, cerdas, dan baik. Kalo kasusnya ada dua orang baik yang maju, pilih lah yang gagasannya paling sesuai dengan kita. Kalau ada yang berbeda, hargai perbedaan itu. Masyarakat kita itu gampang banget di adu, beda capres berantem, beda tim bola berantem, beda SMA berantem, dan lain-lain. Tinggal ini saja nih yang menurut saya masih menjadi PR besar bangsa ini, mental kita yang masih emosian dan kurang bisa menghargai perbedaan harus terus dikurangi dari waktu ke waktu.

Pemilu tinggal hitungan belasan hari lagi, mari kita jaga demokrasi di Indonesia yang masih berjalan merangkak ini. Kita bimbing warga negara kita untuk bisa memilih dengan cerdas, bukan memilih karena variabel absurd seperti black campaign. Kita harus terus ingatkan rekan kita agar bisa terus menghargai perbedaan pandangan bahwa ada orang yang senang dengan satu gagasan, ada juga yang senang dengan gagasan yang lain. Selama dua-duanya baik, kita harus terus hargai perbedaan itu. Harapannya semoga orang baik bisa semakin banyak berada di kemudi Indonesia, menjadi pemimpin di negara ini, dan memperbaiki sistem yang kotor di Indonesia agar seluruh masyarakat bisa berpartisipasi aktif membangun bangsa ini. Bayangkan kalau 250 juta penduduk di Indonesia punya semangat yang sama dan masing-masing mampu berkontribusi, kita akan bisa dengan cepat menjadi negara maju.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: