Iklan
My Journal

Mahasiswa ITB Tidak Berniat Mengusir Jokowi

Aksi Mahasiswa ITB

Aksi Mahasiswa ITB

Kamis ini sosial media dan forum-forum diskusi ramai membahas kasus demonstrasi mahasiswa ITB yang mengusir Jokowi datang ke tanah ganesa. Fakta di lapangan pun terjadi serupa dengan yang beredar di dunia maya, ratusan mahasiswa ITB membangun barikade di gerbang ganesa, membentangkan spanduk, hingga menghalang-halangi mobil rombongan Jokowi yang ingin masuk ke kampus. Sontak kejadian ini menimbulkan kontra dari banyak sekali pihak karena hal itu salah dari berbagai sisi, bahkan banyak yang menyebut itu merupakan sikap primitif dan phobia lebay. Saya bukan simpatisan PDIP maupun pendukung Jokowi. Tapi melihat fakta lapangan seperti itu, saya sendiri miris menyaksikan aksi mahasiswa di kampus saya yang menurut saya kurang intelek. Sebenernya kemarin saya sudah gatel pengen komen di blog, tapi saya selalu ingat etika jurnalistik dimana kita harus mencari sumber sebanyak2nya dan harus berimbang agar tidak cacat informasi. Akhirnya saya urungkan niat saya yang ingin berkomentar melalui tulisan dan mulai mencari fakta data yang lebih valid lagi. Setelah saya rasa informasi sudah berimbang, saya baru akan mencoba membahas kasus “pengusiran Jokowi” kemarin. (sumber saya dapat dari himpunan saya dulu HMIF, twitter KM ITB, twitter Boulevard ITB, postingan blog dosen ITB, dan media-media online).

Jokowi datang ke ITB atas undangan dari ITB untuk penandatanganan MoU kerja sama antara pemprov DKI dengan ITB. Kedatangannya merupakan kapasitasnya sebagai gubernur DKI yang juga merupakan invitasi dari pihak ITB. Berhubung beliau datang ke kampus, sekalian lah diminta untuk mengisi kelas umum di ITB yang berjudul Studium Generale dimana nama-nama besar kerap kali mengisi kelas tersebut. Sebenernya udangan ini sudah pernah diberikan jauh-jauh hari, tapi entah mengapa beliau baru bisa hadir kemarin. Sayangnya, timing tersebut dianggap tidak pas oleh mahasiswa ITB yang melihat ada unsur politis dari kedatangan gubernur DKI yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai presiden. Poin ini lah yang dijadikan nyawa dari gerakan KM ITB untuk memberikan aksi dan suaranya ketika sang gubernur tersebut datang. Khawatir ajang ini dijadikan arena untuk kampanye capres, KM ITB menginisiasi untuk membuat aksi. Aksi apakah yang direncanakan oleh KM ITB? Apakah aksi pengusiran Jokowi?

Surat edaran dari KM ITB menyikapi kedatangan Jokowi

Surat edaran dari KM ITB MAJALAH GANESHA (diklarifikasi oleh senator HMIF) menyikapi kedatangan Jokowi

Aksi yang akan dilakukan oleh KM ITB adalah mencegah forum Studium Generale menjadi arena kampanye. Mereka ingin memastikan tidak ada atribut partai yang muncul di ruangan, tidak ada pembicaraan tentang pencapresan yang dilontarkan di forum tersebut, dan ingin membuat statement bahwa “walaupun jokowi dateng ke ITB, tapi kami mahasiswa tidak menyatakan sikap untuk mendukung beliau.” Mungkin mahasiswa ini khawatir media akan membuat tulisan yang menyebutkan “ITB mendukung program-program Jokowi.” Jadi rencananya adalah mereka ingin membuat aksi teatrikal di depan kampus yang menunjukan bahwa ITB tidak memberikan dukungan kepada Jokowi sebagai presiden dan ITB akan tetap netral dari kecenderungan memihak satupun calon presiden. Lalu ketika Jokowi nanti mengisi studium generale, mereka akan memastikan tidak ada pembicaraan tentang pencapresan dan murni hanya membahas masalah tata kota. Mereka berkoordinasi dengan moderator agar men-cut semua pertanyaan atau pernyataan yang menjurus ke arah pencapresan. Begitu niat awalnya. Lalu apa yang terjadi di lapangan? Masa membludak, tidak terkendali, sehingga terjadi “kerusuhan” di gerbang depan yang malah membuat statement publik menjadi “pengusiran jokowi.” Jokowi tidak jadi tampil di Studium Generale karena merasa tidak diterima oleh mahasiswa dan tidak ingin melahirkan polemik. Padahal, mahasiswa yang sudah standby di kelas Studium Generale untuk mendengarkan pemikiran DKI 1 ini jauh lebih banyak dari oknum yang di gerbang depan tersebut. Tapi tindakan Jokowi ini bisa dibilang sudah tepat, paling di mobil pas jalan pulang dia ketawa-ketawa sendiri keheranan ada apa dengan mahasiswa ini, orang dia yang diundang tapi dia sendiri diusir. Yang paling kesel siapa? Alumni dan yang paling parah adalah dosen serta pak rektor. Malu dong, dia yang ngundang tapi anaknya sendiri yang “ngusir.”

klarifikasi dari KM ITB part 1

klarifikasi dari KM ITB part 1

klarifikasi dari KM ITB part 2

klarifikasi dari KM ITB part 2

Mengapa bisa jadi “pengusiran” dan tindakan primitif begitu di kampus? Banyak faktornya. Yang pertama jelas bahwa KM ITB blunder, mereka merencanakan statement making mereka dilakukan oleh 40 orang, nyatanya ratusan orang yg hadir di depan. Apakah itu mahasiswa ITB? Apakah itu bayaran? yang pasti tidak ada di teklap mereka untuk mengorganisir ratusan orang. Lalu, apa buktinya kalau ada oknum? KM ITB hanya membuat spanduk dengan tulisan “mencegah politisasi kampus” namun nyatanya ada spanduk dari oknum liar yang berbunyi “Jokowi ingkar janji” yang tidak sesuai dengan substansi aksi KM ITB. Lalu faktor lainnya adalah minimnya waktu persiapan yang diperlukan untuk aksi tersebut. Aksi ini bisa dibilang minim persiapan yang matang sehingga koordinasi dan sosialisasi kurang maksimal. Hal ini yang menyebabkan massa di lapangan menjadi kurang terkoordinir hingga terjadi indiden “pengusiran” itu. Walaupun di lapangan, ketika mulai rusuh dan dorong-dorongan, komandan lapangan dari aksi tersebtu sempat memarahi massa kampus yang barbar dan meminta mereka untuk tertib. Alhasil setelah itu, aksi berlangung tertib hingga Jokowi masuk ke ruang mengajar (walaupun tidak jadi). Sayang nasi sudah jadi bubur, opini sudah terlanjur digiring, sekarang mahasiswa ITB jadi bahan ketawaan alumni, dosen, mungkin juga bahan candaan bagi partai-partai oposisi PDIP dan pembenci Jokowi. Bagusnya, KM ITB sudah membuat klarifikasi tentang hal itu. Tapi pertanyaannya, apakah media berniat mengangkat klarifikasi tersebut? Berita mahasiswa ITB mengusir jokowi jauh lebih seksi dibandingkan aksi mahasiswa ITB tidak sesuai teklap. Jadi yang sabar-sabar aja kalau nemu banyak sekali artikel, opini, dan suara-suara sumbang menyudutkan KM ITB.

Lepas dari kasus yang keluar kendali ini. Sebenernya ada dua hal yang ingin saya soroti tentang nafas dari aksi pembuatan statement dari mahasiswa ITB ini. Yang pertama, emangnya Capres gak boleh ya kampanye di kampus? Bahkan di surat edaran, disebutkan “menolak siapapun yang punya kepentingan politisasi untuk masuk kampus.” Saya rasa kampus adalah panggung akademis terbaik untuk menguliti habis-habisan para capres dari sisi akademis. Arena seperti inilah yang nanti bisa menunjukan kepada dunia bedanya capres pintar dengan capres dangdut. Kalau bukan di panggung akademis, di mana lagi? Di TV? TV udah ada yang punya, mana bisa adu argumen cerdas di TV :p Jadi harusnya kampus lah panggung gagasan termegah bagi para capres itu untuk diuji dari berbagai sudut akademis. Kalau perlu, semua capres tiap minggu diundang ke kampus untuk ditelanjangi visi dan misinya. Bawa semua atribut partainya, bawa semua draft tentang Indonesia 5 tahun versi masing-masing capres, bongkar habis semua program-program mereka. Itu baru namanya cerdas dan mencerdaskan.

Yang kedua, kapasitas jokowi dateng tidak dalam keperluan safari politik. Saya rasa pembuatan statement seperti itu terlalu prematur karena teman-teman mahasiswa sudah menuduh Jokowi akan berkampanye sebelum dia berbicara apapun. Seharusnya aksinya cukup dilakukan di dalam forum dan kawal betul diskusi di forum agar tidak berbau kampanye. Karangan bunga bahwa kampus telah dipolitisasi dan spanduk yang menolak politisasi kampus menurut saya terlalu gegabah dan tidak cerdas. Wajar media dan masyarakat menjadi lebih simpatik ke Jokowi karena itu adalah fitnah. Sama saja dengan stereotype amerika yang melihat ada orang arab mau masuk ke negaranya. Statement itu perlu dibuat hanya jika Jokowi memanfaatkan momen tersebut untuk kampanye. Tapi kalau tidak, tolong pandang beliau sebagai manusia akademis yang ingin berbagi ilmu tentang tata kota dan infrastruktur Jakarta kepada mahasiswa. Menurut saya banyak kata-kata yang lebih pas untuk diletakan di spanduk dibandingkan tuduhan politisasi kampus yang sangat offensif . Tekankan saja pernyataan sikap kalau KM ITB tidak memberikan dukungan kepada Jokowi dan tetap netral misal “walaupun Pakde Jokowi ngisi kuliah, bukan berarti KM ITB mendukung beliau,” “monggo ngajar di ITB asal jangan bawa-bawa atribut partai yah Pak,” “ngasih materi OK, kampanye colongan ojo yo Pak,” dan banyak statement lainnya yang menurut saya lebih tepat daripada tuduhan “Turut Berduka Cita karena Politisasi Kampus” yang seakan-akan kedatangan Jokowi = politisasi kampus.

Rencana awal dari Kongres KM ITB

Rencana awal dari Kongres KM ITB

Edaran dari kabinet KM ITB

Edaran dari kabinet KM ITB

Mungkin segitu saja tulisan dan pandangan singkat saya mengomentari kasus “pengusiran Jokowi.” Semoga bisa menambah pelajaran dan wawasan bagi kita semua, terutama kepada mahasiswa ITB yang saat ini sedang mengemban pendidikannya. Jangan jadikan kasus ini sebagai pukulan moral bagi kalian, tapi jadikanlah ini pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati lagi dalam membuat statement serta lebih matang lagi dalam mempersiapkan aksi. Banyak hal positif yang bisa ditarik dan dijadikan pembelajaran dari kasus kemarin. Satu hal positif yang menurut saya baik adalah kesadaran berpolitik di kampus sudah semakin tinggi (semoga :p). Saya sih sebenernya skeptis waktu pagi-pagi dengar info mahasiswa ITB mau aksi, ah paling cuma belasan orang yang ikut aksi. Tapi fakta bahwa bisa ada ratusan orang berkumpul (entah itu mahasiswa ITB atau bukan, orang bayaran atau bukan), udah kemajuan yang baik dinamisasi kampus kita. Pesan terakhir saya, sekarang posisi kalian sedang di bawah, ayo berpikir kreatif bagaimana caranya untuk menjawab cibiran serta harapan masyarakat di luar terhadap mahasiswa ITB. Sekian dan terima kasih 🙂

N.B klo ada informasi yang saya sampaikan salah, mohon diklarifikasi.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

56 Comments on Mahasiswa ITB Tidak Berniat Mengusir Jokowi

  1. Jadi gara2 antek yang kurang ajar yah ama gara2 miss communication? Waduh, saya minta maaf kepada mahasiswa ITB telah menyebut mereka sebagai kera dan lainnya. Saya tarik lagi perkataan saya. Semoga antek2 tersebut ditangkap dan ga akan ada lagi yang namanya miss communication.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sebenernya ada peraturan KPU mas yg melarang berkampanye di lembaga pendidikan gitu. Kurang tau klo mengundang debat visi misi itu termasuk atau egk.

    Suka

    • Kalau tidak salah, tim turun tangan anies baswedan pernah mengadakan acara “mengadili anies.” di suatu kampus (koreksi, acara tersebut tidak diadakan di kampus). Saya rasa sih kalau tujuannya untuk mengupas capres di panggung akademis akan sangat disayangkan kalau tidak bisa terlaksana. 🙂

      Suka

    • maaf mas, tapi emangnya jokowi udah terdaftar sebagai capres di KPU? klo belum, maka kedatangan beliau gak termasuk kampanye capres trims.

      Suka

      • Pendaftaran capres belum dibuka sampai detik kemarin. Tapi safari politik sudah terjadi dan dilakukan oleh banyak politisi yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai capres/cawapres.

        Suka

  3. Terus acara Gamais nya gimana tuh yg bulan Mei ^_^

    Suka

  4. Sekedar meluruskan bahwa Anies Baswedan diadili bukan di kampus, melainkan di The Energy Building, SCBD, Jakarta.

    Suka

    • Terima kasih atas klarifikasinya. Saya juga mendapat kabar dari timses Anies Baswedan bahwa acara tersebut adalah inisiatif dari tim turun tangan, bukan mahasiswa.

      Suka

  5. Paramartha // 20/04/2014 pukul 8:45 am // Balas

    ga ratusan orang kok yang dateng, teman saya sesama alumni ada di TKP dan jumlah masa yang hadir tidak seperti yang diberitakan. ini hanya aksi berlebihan dari media. keadaan tidak sekeos itu. jadi rasanya tidak perlu dibahas terlalu jauh dan tidak perlu ditanggapi terlalu serius.

    Suka

    • Di teklap direncanakan massa berjumlah 40 orang (untuk melakukan barikade dan aksi teatrikal). Namun melihat keramaian ini, massa bertambah (baik untuk menonton maupun ikut bergabung bersama aksi ini) sehingga komandan lapangan menjadi kesulitan dalam mengontrol massa yang hadir tanpa briefing ini. Mengenai jumlah persisnya berapa, yang demo berapa, yang nonton berapa, saya sendiri tidak mendapatkan data pasti.

      Suka

  6. Artikel yang bagus, setelah saya membacanya ternyata tidak segampang yang dipikirkan ya. banyak sekali yang masih awam dengan kasus seperti ini, dan harusnya masyarakat lebih tahu lagi.
    saya senang membacanya, terima kasih.

    Suka

  7. Lucu juga ya. “Hanya punya waktu yang singkat untuk persiapan…”. Di lapangan, dengan waktu yang singkat itu…. “massa membludak, di luar perkiraan. direncakan 40 orang yang datang ratusan orang… ”

    Pekerjaan yang brilian dari pengumpul massa-nya. Dalam waktu singkat berhasil menarik minat ratusan orang. Atau… apakah nama jokowi memang sedemikian dibenci di sana sehingga dalam waktu yang singkat itu ratusan massa tersedot untuk menyatukan tekad sama-sama memblokir jokowi?

    Atau.. memang ada penunggang gelap yang ikut2-an mengirim massa?

    Hanya Tuhan yang tau… bangsa dan alamamater gak tau itu…

    Disukai oleh 1 orang

  8. Menarik, saya suka tulisannya karena dua hal:
    pertama, sisi jurnalistik, saya sangat setuju bahwa sebuah polemik itu harus dikaji lewat dua sisi yang berimbang. 🙂
    Dan yang kedua, masalah ‘audisi’ capres di dalam kampus dengan penjabaran visi misi capres dalam kampus saya setuju sekali. Di kampus saya, IPB pernah mengadakan dialog kebangsaan dengan mengundang sejumlah tokoh yang beberapa diantara mereka maju sebagai capres. Apakah nanti mereka akan kampanye, menurut saya itu soal lain, topik utama yang dibicarakan adalah soal kebangsaan, so kalo menurut saya justru bagus.

    Jika ada capres malah kampanye padahal ‘dilarang’, maka itu akan jadi nilai minus di mata kita (kalangan akademisi di kampus) bagi capres itu sendiri. 🙂

    Suka

    • Saya juga sependapat dengan model dialog kebangsaan seperti di IPB. Saat ini mahasiswa (terutama ITB) banyak yang sudah skeptis dengan dunia politik. Kegiatan seperti itu baik untuk mencerdaskan mahasiswa agar tidak buta politik

      Suka

  9. McClarious // 21/04/2014 pukul 7:26 am // Balas

    Please, dari awal berita muncul juga saya ga percaya, ada media yang menyebarkan berita penolakan Jokowi di ITB, tetapi foto nya ada spanduk “Jokowi dapat dukungan dari kami”, itu semua olah media, makanya berita yang tidak nyata pun dibuat-buat. Saya juga percaya mahasiswa ITB itu pada punya pola berfikir yang cerdas, jadi mustahil aja mereka melakukan orasi seperti itu…Masuk ITB itu susah ya, calon mahasiswa diseleksi dari berapa puluh ribu orang menjadi beberapa orang pilihan yang emang punya skill mumpuni (unless nyogok)

    Ya intinya ga percaya deh, media selalu membuat-buat cerita yang fiktif, ya logis mereka emang butuh berita, mereka butuh makan, tapi ga harus ngerusak nama baik ITB gini kan? :/

    Suka

    • Sebenernya kalau dari sisi fakta yang diangkat media ke permukaan tidak salah karena memang begitu yang terlihat di lapangan. Sayangnya, media tidak melakukan penggalian fakta dan data lebih dalam lagi sebelum membuat kesimpulan dari beritanya. Jadi ya memang pemberitaan tersebut adalah konsekuensi logis dari aksi yang diusung KM ITB tanpa persiapan yang sangat matang.

      Suka

  10. Didik Fotunadi // 21/04/2014 pukul 7:34 am // Balas

    Bung Ardisaz,
    Membaca sepintas, paket persiapan aksinya memang tidak kuat, selain perlu pasukan teklap bayangan (yang gak ada dipermukaan), plan B harus ada di tangan, bahkan plan C … dimana plan B hanya team inti yang pegang .. dan Plan C hanya orang kunci yang paham (danlap, presiden KM, dan orang-orang kunci)…
    Kalau baca persiapan yang dijelaskan dan apa yang terjadi di lapangan, hal itu sudah menjadi hal yang memang bahkan 90% pasti terjadi …
    Kaderisasi bagaimana mempersiapkan aksi dengan perangkat yang kuat perlu dipahami …
    semoga kejadian kemarin menjadi pembelajaran yang berarti
    terus berjuang

    Suka

  11. Halo,

    Saya cuma mau bersikap jokowi, dan memberikan pemikiran lain soal hal ini:

    Bagaimana jika kejadian kemarin memang di tunggangi, bukan oleh pihak yg beroposisi dengan jokowi, justru dari pihak yang mendukung jokowi, dengan tujuan mengangkat nama jokowi, dimana “sandiwara” pengusiran jokowi, justru membuat masrakat menjadi lebih simpati terdap jokowi. Sehingga berita-berita yg sifatnya menyudutkan seperti ini justru nantinya akan meningkatkan elektibelitas jokowi, karena rasa simpati masyarakat.

    Ini semua hanya pemikiran lain saja, bisa jadi saya salah, tapi bisa jadi juga sebaliknya.

    Jadi saya setuju dengan tulusan di atas, soal jangan takut politisi masuk kampus, jika perlu telanjangi mereka secara akademis, untuk melihat kecerdasan mereka sebagai seorang politisi.

    Suka

    • rizkiharit // 21/04/2014 pukul 9:11 am // Balas

      Jadi, datang salah, diusir pun salah. Super sekali!

      Suka

      • Betul, jauhkan cara berpikir “lempar batu sembunyi tangan”. enggan mengakui kesalahan dengan melempar balik berbasis teori konspirasi.
        Sepertinya kenal banget alias familiar ya yang biasa menggunakan teori ini…hehehe

        Suka

    • Saya tidak berani berasumsi 🙂 Kemungkinan itu pasti ada, tapi selama belum ada fakta dan data yang kuat, kita tidak pernah tahu yang mana yang benar.

      Suka

      • Seorang jurnalis saja sebaiknya tidak beasumsi selama belum ada fakta yang jelas. Maka Kegiatan atas dasar Asumsi segelintir anggota KM ITB ini membuat blunder dan sekarang jadi merembet ke mana-mana dan merepotkan unit mahasiswa lainnya (SBM, Gamais).

        Sisi positifnya mungkin membuat mahasiswa ITB, khususnya para aktifis di himpunan supaya lebih aware dengan kegiatan dan agenda2 KM ITB, karena kegiatan KM yang ternyata berdampak pada kegiatan himpunan yang sudah susah payah di rancang.

        Suka

  12. ardhi perkasa // 21/04/2014 pukul 10:00 am // Balas

    dikirain pada pinter-pinter ya anak ITB.. gak taunya..

    Suka

  13. Adam, sepakat sama Kak Iqbal yang berpendapat kalo tulisan ini yang paling netral. sayang memang jadinya seperti malah blunder buat KM ITB. padahal KM ITB salah satu yang dianggap paling bisa bertindak “cerdas” loh kalo mau aksi di kalangan student board lainnya. peristiwa ini bisa jadi pelajaran ya buat student board di kampus lain. politik memang seperti bola panas. siapa aja bisa menggiring ke arah yang dia mau. tergantung siapa yang gerakin.

    sebenernya pengen komen untuk statement yang pertama dari dua statement akhir. GUWEH SETUJU BANGET!! harusnya, semua kampus di seluruh Indonesia berusaha mengundang semua capres yang akan maju dan dikulitin habis-habisan semua master plannya mulai dari ekonomi sampe hubungan luar negeri dan sikap-sikap terhadap berbagai masalah yang sampe dua periode berjalan masih jadi PR. kita bahas habis mereka mau pake rumus formula yang kaya apa sih. kalo semua kampurs nolak capres masuk dan dikulitin, ya siap-siap lahir satu dan bahkan lebih lagi generasi intelek yang apatis dan ga mau tau negaranya. sayang. penduduk yang mengenyam S1 aja ga sampe 20% dari total penduduk. padahal yang minoritas itu yang akan menggerakkan semua lini pimpinan bangsa.

    harusnya peraturan KPU itu, dilarang atribut partai dan kampanye masuk ke instansi pemerintahan buat mengamankan suara incumbent. kampus? harusnya sih ga masalah, kalo mahasiswanya beneran berpendidikan sih ga akan kepengaruh sama partai dan tokohnya yang “dangdut” kaya bahasa kamu di atas. Dan gw sependapat banget. berantaslah acara dangdut ga jelas yang berujung pada kampanye norak dan menghasilkan tokoh-tokoh “dangdut” lainnya.

    Suka

    • Sayangnya kita sudah bukan mahasiswa, jadi sudah tidak pada tempatnya untuk membuat aksi seperti itu di kampus 🙂 Mungkin bisa disodorkan idenya ke adik2 yang masih di bangku kuliah, siapa tau ada kampus yang berminat.

      Suka

  14. terimakasih untuk tulisan ini. Jujur saja, berita tentang pengusiran jokowi oleh mahasiwa tersebut sempat membuat saya ‘ilfil’. Kok bisa-bisanya mereka yang notabene pintar2 melakukan hal yang kurang kerjaan. Apalagi saya selalu kagum dengan orang2 yg bisa menjadi mahasiswa di institut ini. Well, setelah membaca tulisan ini, saya langsung hilangkan pemikiran jelek tadi. Sayang sekali klarifikasi ini tidak di blow up ke tv ya….

    Suka

    • Saya sendiri kesulitan memilah media massa yang netral dan objektif mengingat pemilik media massa banyak yang memiliki kepentingan masing-masing 😦

      Suka

  15. Yang saya sayangkan dengan artikel ini justru jadi terlihat KM ITB tidak memperhitungkan aksinya “dipolitisir” baik oleh “massa” yg tidak “dikenal” ataupun “media” (kedua aspek ini harusnya sudah diperhitungkan di plan A, B, atau plan2 lainnya). Yang terekspos kan jadi bukan pesan yg dibuat awal. Kayaknya harus lebih banyak belajar bikin aksi kayak pendahulu2nya yg benar2 tidak mau dipolitisir dan lebih matang baik di perencanaan maupun di lapangan.
    (Alumni yg sering melihat seniornya berdemo dengan baik)

    Suka

  16. boedivania // 21/04/2014 pukul 9:09 pm // Balas

    Bodonya mahasiswa..
    Yang merasa sok pinter..

    Suka

  17. kecewa dengan ITB….
    lain kali berfikirlah sebelum berbuat, walaupun rencananya hanya 40orang. kalau emang ngaku mahasiswa, tentu demo-nya berbeda dengan para buruh. diskusi dong. jangan main usir

    tertarik dengan tulisan “bapak undang anak yang usir” kasihan jokowi….
    padahal ingin kerjasama

    Suka

  18. Salam kenal, Adam. Saya senang membaca artikel kamu dan info mengenai klarifikasi dari KM ITB. Selain itu saya senang juga melihat perkembangan yang terjadi sama teman-teman kita yang lebih muda di ITB. Buat saya, saya cukup bangga dengan permintaan maaf dan usaha mereka untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dibandingkan cuci tangan saja.

    Buat saya cukup tergelitik dengan kata “Netral” yang disebutkan di sini. Saya memang bukan aktifis politik yang getol di kampus (kalo nongkrong2 mah iyah XD). Menurut saya yang fatal di sini adalah,

    Tidak adanya penjelasan tentang apa itu “Netral” yang sebenarnya sedang diperjuangkan di sana.

    Menurut saya, kita juga perlu berkaca pada diri sendiri sebagai alumni/dosen/rektor dari ITB. Semoga persepsi kita masih sama dalam segala tujuan untuk memperjuangkan nama baik kampus dan bisa menyalurkan persepsi itu kepada adik-adik kita di kampus. Details akan menjadi sempurna untuk mensupport suatu data apabila kita mengerti akar masalahnya, sehingga kita tidak mudah terayun oleh opini orang lain ataupun kondisi yang ada.

    Sekali lagi, Thanks Adam buat sharingnya. Tetep semangat bloggingnya yah ^^

    Suka

    • Salam kenal juga.
      Terkait netral itu sendiri (serta instilah politisasi kampus), saya rasa konsep itu yang teman-teman kita mahasiswa masih belum memahami dengan baik. Saya sempat berdiskusi dengan salah satu anggota kongres KM ITB terkait definisi politisasi kampus menurut mereka, ternyata definisi itu sendiri tidak disepakati apa dan tidak dicerdaskan juga ke massa kampus dengan asumsi massa kampus sudah cerdas. Sekilas yang saya tangkap, yang mereka khawatirkan adalah opini yang terbangun akan menjadi “ITB mendukung jokowi,” “mahasiswa ITB menyambut antusias jokowi,” “ITB menganggap program Jokowi luar biasa,” dan lain sebagainya. Ketika mendengar itu, dipikiran saya yang mempolitisasi kampus jadinya bukan Jokowinya, tapi media massanya. Kita sama-sama tahu bahwa media massa sudah tidak ada yang netral saat ini, akan tetapi mahasiswa berusaha agar kampus tetap netral dan tidak dicap mengendorse salah satu capres/partai.

      Itu kira-kira yang saya tangkap 🙂

      Suka

      • Ahh, yah. Terima kasih sudah menanyakan pada Kongres juga, Dam. Hehe =D. Kalau boleh titip salam sama teman-teman KM ITB, sebaiknya sebelum mengeluarkan kata “Netral” akan lebih baik tinjau terlebih dahulu apakah semua mahasiswa ITB sendiri sudah “Netral” atau belum. Kalau kita mampu mengatakan suatu makanan enak adalah saat kita sudah pernah mencobanya secara objektif. Saya rasa demikian juga dengan bagaimana kita menanggapi media massa yang kita anggap tidak “Netral, mungkin karena kita sendiri sebenarnya sudah tidak “Netral”. Mungkin bisa dicontohkan dengan KM ITB yang sudah berani berasumsi bahwa massa kampus itu sudah “cerdas”. Akan lebih baik kita melepaskan semua asumsi sebelum mengeluarkan opini tentang sesuatu hal, sebelum menarik perhatian pihak lain untuk mengambil opini tersendiri mereka.

        Overall, thanks buat replynya, Adam. Sorry cuma bisa cuap2 di sini. Hahaha ^^. Titip salam perjuangan buat di sana =D

        Suka

  19. PISA KENDRO // 22/04/2014 pukul 12:09 am // Balas

    Penjelasan Ardisaz membuat saya pribadi sebagai rakyat jelata menjadi mengerti sikap mahasiswa ITB yang sebenarnya dalam menyikapi Jokowi masuk kampus. Namun nyatanya yang sudah terjadi adalah bentuk yang berbeda, secara fakta dan visual memang di lapangan terjadi pengusiran. Ini adalah kesalahan, dan kesalahan ini harus diperbaiki…

    Namun bukan berarti perbaikan itu HANYA dilakukan pada saat bulan Mei nanti di mana pak Hatta Rajasa dan pak Anis Matta datang. Masalahnya adalah perbaikan itu justru akan menjadi benang kusut karena adanya luka di mana Jokowi diusir.

    Harusnya pihak mahasiswa ITB harus menemui Jokowi ke Balaikota DKI Jakarta untuk meminta maap, sekaligus mengundang pak Jokowi ke kampus ITB kembali untuk mengisi kuliah umum atau semacamnya.

    Inilah perbaikan atas kesalahan yang sempurna sehingga mahasiswa ITB tidak dicap kampus sarang capres lain atau bahkan kampus sarang partai PKS, yang itu semua sudah terdengar di kuping saya sebagai rakyat jelata.

    Semoga inputan ini bisa disampaikan ke KM ITB, ini semata2 agar kampus kalian tercinta dapat bermain cantik…. Tidak mendapatkan cemoohan sepanjang sejarah ITB ke depan…

    Terima kasih,

    Pisa Kendro
    FB: Pisa Kendro
    Email : pisakendro@hotmail.com

    Suka

  20. Salam kenal…

    Saya teringat 22 tahun lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di jalan Ganesha 10, disambut dengan spanduk besar “SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK INDONESIA”…
    Mahasiswa baru ITB selalu didoktrin dengan hal itu menjadikan sindrom Megalomania.
    Semoga adanya kejadian ini sedikit membuat kita semua civitas akademika ITB untuk merefleksikan kembali doktrin yang bisa menjadi bumerang bagi kita semua.

    Yang sudah terjadi tidak bisa dihapus dan ditulis ulang. Biarlah menjadi ajang pendewasaan bagi adik2 KM ITB, dan menjadi pelajaran bagi yang tua2 tentang bagaimana menginspirasi yang muda2.
    Tentang kedepannya akan lebih hebat lagi kalau KM ITB bisa membuat pernyataan minta maaf secara terbuka di media, berjabat tangan dengan pak Jokowi dan menyatakan kenetralannya terhadap politik. Undanglah semua capres untuk beradu visi, argumen, kritik, dan rencana bersama secara intelek dan seimbang.

    Netralitas yang sebenar-benarnya akan mengangkat kembali wajah ITB yang akhir-akhir ini jadi tertawaan banyak pihak.

    Kampusku rumahku
    Kampusku negeriku
    Kampusku kebebasanku
    Kampusku wahana kami
    Disana kami dibina
    Menjadi manusia dewasa….

    Salam damai…

    Suka

    • Salam kenal juga,
      Iya saya setuju. Semoga kejadian kemarin bisa menjadi pelajaran dan pengalaman yang tak ternilai harganya untuk teman-teman kita para mahasiswa 🙂

      Suka

  21. Wah tulisan bagus seperti ini kalau saya share boleh kan? 😀
    Lama-lama panas juga baca berita yang isinya udah “dipelintir”.

    Suka

    • Silahkan saja 🙂
      Berhubung media juga semakin komersil (harus mendapatkan pageview yang tinggi) serta beberapa media punya kepentingan masing-masing, judul kontroversial menjadi senjata mereka sehari-hari. Mau gimana lagi

      Suka

  22. nice info, dan saya sepakat dengan statetement “Saya rasa kampus adalah panggung akademis terbaik untuk menguliti habis-habisan para capres dari sisi akademis”. Great idea bro…

    Suka

  23. Apa Gamais dan SBM tidak saling share atau minimal cerita kepada KM-ITB (dimana di dlm nya mungkin terdapat link pertemanan antar anggota KM) tentang rencana mereka mengundang narasumber yg dilalahnya mau mencalonkan jadi presiden? Terkesan seperti tidak ada kesatuan antar masyarakat kampus ITB (dalam hal ini mahasiswanya). Jokowi ditolak, tp yg lain diundang.. *just my shallow opinion* *pandangan alumni muda*

    Suka

  24. Salam kenal mas. Saya rasa untuk postingan blog mas yang ini inspiratif, memberikan pencerahan atas kondisi kenyataan yang sebenarnya dibanding dengan persepsi akan pemberitaan media-media terkait peristiwa ini. Dan tentunya netral menurut persepsi saya.

    Semoga ke depannya saya bisa baca-baca postingan mas teranyar yang lebih aktual 🙂

    Suka

  25. yang jadi masalah itu, undangan nya dari tahun 2013,dan datang sekarang di saat pemilu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: