Iklan
My Journal

Beri Indonesia Waktu

 

Saya sebenernya belakangan jarang sempet update blog karena sedang banyak deadline dan kerjaan numpuk, tapi untuk tulisan kali ini, saya merasa tidak sabar untuk segera dipost. Bahkan saya menulis ini jam 3 pagi karena saya masih terbayang-bayang hasil percakapan saya malam tadi. Sesuatu yang saya rasa penting untuk saya ingat dan saya share ke teman-teman semua.

Kamis malam, saya diundang ke sebuah acara gathering developer Android. Seperti meetup biasanya, saya berusaha untuk kenalan dengan sebanyak-banyaknya orang yang hadir di sana. Lalu saya berkenalan dengan salah satu sponsor acara tersebut yakni Oomph (saya mungkin tidak akan cerita tentang Oomphnya, jadi silahkan googling sendiri). Saya berbincang dengan CEO dari perusahaan tersebut yang usianya sudah jauh di atas saya dan bukan warga negara Indonesia. Awalnya saya ngobrol terkait teknis, mulai dari proses registrasi di Oomph, benefit, hingga ke engine untuk develop. Ketika obrolan sudah semakin panjang, saya iseng menanyakan dia asalnya dari negara mana. Beliau menjawab ia asli dari Singapore, tapi sudah 20 tahun menetap di Indonesia. Wow. Saya tentu amazed dan mencecar dia dengan bertubi-tubi pertanyaan.

Pertanyaan inti yang saya tanyakan adalah, “why Indonesia?” Kenapa dia mau tinggal di Indonesia yang lalu lintasnya gak jelas, pemerintahnya korup, ekonomi berantakan, kekerasan dan kejahatan di mana-mana, di saat Singapura merupakan negara yang sudah tertib, aman, bersih, dan tentu gaji di sana lebih besar. Beliau mengakui kondisi yang ada di Indonesia, beliau bahkan setuju bahwa korupsi adalah hal paling dasar yang bener-bener ngerusak Indonesia. Dia juga menyadari gaji di Indonesia jauh di bandingkan gaji di Singapore, lalu lintas di Indonesia (terutama Jakarta dan Bandung) tidak jelas penataaannya. Namun di beliau berkata, oke kalau mau liat dari sisi ekonomi, gaji di Singapore gede, tarolah 5000 SGD perbulan. Untuk tempat tinggal aja mungkin udah 2000 SGD sendiri perbulan, belum makan, transport, dll. Biaya hidup di sana sangat tinggi, jadi 5000 SGD perbulan aja belum tentu kita punya saving. Lalu klo dari kondisi lalu lintas, dia sudah di Indonesia dari 98 dimana belum ada tol padalarang. Dia sering bolak-balik jkt-bdg 4 jam, kini 1,5 jam sudah bisa sampai. Di Indonesia hidup lebih tenang, murah, tapi berkualitas.

Tentu pertanyaan pamungkas saya adalah, ini sekarang banyak pemuda dari Indonesia yang sudah amat pesimis karena melihat pemerintahnya yang korup, orang Indonesia sendiri sudah gak kuat ngeliat korupsi yang sudah amat mengakar. Melihat aksi pejabat di istana, di DPR, di kepolisian, dan dimana-mana yang tindak-tanduknya semakin menyedihkan, semangat nasionalisme bangsa kita semakin tergerus dan akhirnya memutuskan untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Indonesia. Lalu beliau menjawab (saya perlu ingatkan bahwa dia BUKAN orang Indonesia), tolong beri Indonesia waktu. Kita gak mungkin bisa ngelihat negara ini bersih dengan instan, jadi tolong bersabar sedikit dan beri Indonesia waktu. Dia menyaksikan dari tahun 98 ketika terjadi kerusuhan hingga saat ini sudah ada KPK, PPATK, dan lain sebagainya, Indonesia itu membaik. Mungkin butuh 2 generasi (sekitar 60 tahun) untuk benar-benar menghapuskan korupsi dan membuat Indonesia menjadi negara yang maju. Dia mengambil contoh Hongkong yang pada tahun 50an kondisinya jauh lebih korup dari Indonesia. Tapi kondisi Indonesia yang baik tidak akan tercapai jika kita, generasi muda, generasi penerusnya, tidak bisa sedikit bersabar dan malah meninggalkan Indonesia. Dia berkata, “you’re still young. You are the one who will see your country changes.” Sebenernya ada sedikit cerita yang mendukung statement tersebut dari sisi financial dan ekonomi, tapi nanti saya post di tulisan yang berbeda 🙂

Pesan beliau kepada Saya adalah yang Indonesia saat ini butuhkan adalah harapan. Dia dengan jelas menyebutkan HOPE. Saya coba menangkap makna harapan ini dengan contoh kondisi ketika saya bener-bener pesimis membaca berita negatif atau orang dengan kelakuan barbar yang membuat kita merasa semakin skeptis, kita perlu untuk terus memiliki harapan bahwa ini pasti akan berlalu. Jadi kalau kita mau bicara kongkrit, apasih yang bisa kita lakukan untuk memberikan harapan? Kalau menurut saya, lakukan yang terbaik di apapun bidang kalian dan buatlah Indonesia bangga dengan apa yang kalian lakukan sehingga ketika seseorang sudah mulai putus semangat dan kehilangan harapan, dia bisa melihat bahwa Indonesia masih punya generasi penerus yang bisa membawa tanah air ini ke titik yang lebih baik. Jadi, bagi teman-teman yang sudah sangat skeptis dan pesimis tentang nasib negeri ini, tolong berikan Indonesia waktu. Lalu berikan harapan bagi masyarakat kita bahwa Indonesia masih punya generasi penerus yang siap memegang tongkat maraton bangsa ini.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1117 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Comment on Beri Indonesia Waktu

  1. A really great testimony here, Adam. we, Indonesia children, need to rise our patience for the good of our country in the future. A salutation I give for the Singaporean you had conversation with.

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Wajib Pajak? Why Not | All Things Is Logical

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: