Iklan
My Journal

Investment Night, Bagaimana Investor Memandang Startup

gambar diambil dari http://www.cityofnb.ca

Saat ini ikatan alumni informatika ITB (IAIF) sedang aktif bergerak semenjak pemilihan ketua IAIF yang pertama, terutama dari divisi kewirausahaan. Di divisi kewirausahaan ada bagian yang mengoordiniri investor, semacam investor hub. Acara perdana dari divisi kewirausahaan adalah investment night yang tujuannya untuk mengenalkan para pengusaha di IAIF tentang dunia investasi di bidang IT. Acara ini dilangsungkan di Comma Jakarta Selatan, tempat yang menurut saya cukup menarik karena merupakan sebuah share workspace. Pada acara ini, hadir dua pembicara dari dunia investasi yakni Pak Andi Budiman dari Ideousource dan perwakilan dari GEPI.

Sesi pertama, Pak Andi bercerita tentang apa yang dipandang oleh investor ketika ingin funding suatu startup. Hal yang paling utama ditanya adalah “Emang kamu butuh apa?” Ada startup yang sebenernya dia bukan butuh uang, tapi butuh client, tapi butuh network, tapi butuh user, dan lain sebagainya. Jadi pastikan benar-benar bahwa yang kita butuhkan adalah suntikan dana, entah untuk akselerasi bisnis ataupun untuk modal perusahaan. Lalu dia membagi startup digital jadi empat tipe, ada yang jualan konten (seperti game studio), jualan media (seperti detik.com), jualan barang (ecommerce), dan jualan service. Lalu untuk mendapatkan funding sendiri sebenernya caranya banyak mulai dari dateng ke bank, minta ke orang tua atau teman, datang ke venture capital seperti Idoesource, atau private equity. Dari startup itu yang dicari bukan potensi keuntungan, tapi resiko yang diinvest. Ada tiga hal utama yang dilihat untuk mengukur resiko itu, mulai dari apakah foundernya proven memiliki kapasitas untuk mewujudkan idenya, apakah mereka mengerti market yang mereka tuju, dan adakah fundamental capability yang biasa ditunjukan melalui bukti. Kalau cuma ide, itu murah. Harus ada proven value dari suatu startup jika benar-benar ingin diinvest.

Pak Andi sempat membahas contoh investasinya di bidang properti, lalu saya tertarik bertanya, kalau di bidang properti lebih untung, kenapa mau invest di bidang digital? Kenapa tidak di bidang properti saja? Beliau lalu menjawab pertanyaan saya dengan sebuah hitungan, data, dan persentasi yang menunjukan bahwa ke depan, industri digital akan jauh lebih menguntungak dari dunia properti. Lalu ada yang bertanya, mengingat ekosistem digital di Indonesia belum tumbuh, bahagimana venture capital exit? Di Indonesia perusahaan IT belum ada yang bisa IPO. Untuk itulah VC seperti ideosource itu melakukan investasi dari sekarang, mumpung belum jadi pasarnya. Kalau sudah jadi, mereka akan jadi yang pionir dan tinggal menuai hasilnya saja. Selain itu, justru mereka ingin mendrive ekosistem di Indonesia agar bisa segera mature. Yang pasti, kalau usaha di dunia konten, pasar Indonesia masih merupakan pasar yang kurang hangat untuk saat ini. Untuk itu, porto ideosource di bidang konten (game) diarahkan untuk masuk market luar.

Selanjutnya sesi dari GEPI. GEPI sendiri berbeda dengan venture capital karena isinya adalah angel investor, mereka yang sudah amat sangat sukses dan gak tau lagi uangnya mau dipakai apa, jadinya mereka berkumpul di GEPI untuk membantu iklim wirausaha di Indonesia. Dari GEPI ini, lebih banyak dipaparkan teknis seperti cara pitching, cara membuat presentasi, dan lain sebagainya. Slidenya cukup panjang karena itu materi untuk beberapa hari tapi harus dikompres jadi hanya 30 menit. Akhirnya banyak yang di skip dan slidenya saja dikirim ke kami. Hehehe

Acara ini barulah awal, ke depannya akan ada target startup yang membutuhkan funding dari IAIF bisa dengan mudah mendapatkan akses di sini dan alumni yang ingin invest juga bisa melalui divisi ini. Semoga program ini bisa berlangsung dan bermanfaat buat startup-startup di Indonesia.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Trackback / Pingback

  1. Perbedaan Pola Pikir Antara Venture Capital Dengan Studio Game | Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: