Iklan
My Journal

Ekosistem Baru untuk Game Developer dari XL dan TMG

IMG_3726

Yoichi Aso, Founder Digibox

Sekitar akhir 2012, saya sempat berbincang-bicang dengan beberapa penyedia platform browser games (game yang dimainkan dari browser di perangkat mobile). Saya sempat bertemu dengan beberapa rekan dari The Mobile Gamer (TMG), MatchMove, dan satu platform x (yang saya tidak berani bilang karena sepertinya belum di launch). TMG dan MaMo merupakan perusahaan dari Singapore, sedangkan dari Indonesia sendiri belum ada platform seperti itu (ada sih, si platform x yang belum buka kartu ini :p). Intinya, mereka sama-sama menawarkan sebuah potensi pasar yang sangat besar, yakni pasar middle-low, pengguna fiture phone, yang jumlahnya ternyata amat sangat besar sekali (melebihi pengguna smartphone). Saya sempat mempertimbangkan pasar tersebut, meminta beberapa data ke satu perusahaan platform tersebut, namun tidak kunjung diberikan. Akhirnya 2012 berakhir dan saya juga sambil lalu melihat pasar tersebut.

Baru di awal 2013 ini, saya melihat sebuah langkah besar dari salah satu pemilik platform ini, yakni TMG (kalau tidak tahu TMG, dia itu kayak Zynganya Facebook di Mig33). TMG bekerja sama dengan XL untuk membangun ekosistem. Nah ini dia kuncinya, ekosistem. Ekosistem itu sangat penting jika kita ingin mengembangkan sebuah platform. Tanpa ekosistem, tentu berat bagi masing-masing pihak, baik itu developer, operator, penyedia platform, dan lain-lain, untuk bisa menjadi sukses. Namun dengan ekosistem, kita bisa saling membantu untuk menyukseskan satu sama lain. XL menurut saya adalah salah satu operator di Indonesia yang sangat reaktif terhadap teknologi dan care dengan developer. Jadi saya rasa kombinasi antara XL dan TMG merupakan paduan yang cukup menarik untuk bisa mengembangkan sebuah ekosistem baru. Acara launching ekosistem yang diberi judul XL Developer Network ini dibuka oleh pihak XL dengan berbagai fakta dan data (saya tidak mencatat, hehe mungkin nanti diupload sama XL), lalu dari perwakilan TMG menceritakan pertumbuhan TMG yang saat ini sudah memiliki tiga juta user, 400rb user aktif, dan 1,2jt user dari Indonesia, kemudian ada juga developer yang sudah berhasil di platform tersebut dari nijibox, perusahaan dari jepang yang fokus di social media games. Sebelum acara, saya sempat mengobrol panjang lebar dengan founder nijibox (namanya Yoichi Aso) mengenai performa social games untuk browser games, pasar di jepang, dan perfroma gamenya di pasar Indonesia. Mungkin dilain waktu saya share obrolan menarik dengan Yoichi tersebut. Tapi dari acara tersebut, intinya adalah XL dan TMG berniat untuk merangkul developer agar bisa sama-sama sukses dan besar mengembangkan ekosistem ini. Dari XL dan TMG sendiri, ke depannya akan melakukan roadshow untuk workshop di empat kota (Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya) dan pada bulan Maret akan mengadakan kompetisi GameHack bagi para developer. Saya rasa ini adalah sebuah opportunity yang bisa dicoba oleh beberapa developer mengingat pasar di Indonesia sangat besar DAN sedih rasanya kalau pasar di negeri sendiri yang menguasai adalah perusahaan asing.

Kemudian saya juga sempat mengobrol dengan beberapa developer lokal seperti Nightspade dan Agate dan juga testimoni dari Nijibox, menanyakan area browser game ini seperti apa. Overall, mereka sepakat social game adalah ruang pengembangan yang sangat baik sekali. Banyak game-game yang sudah sukses besar dengan mengadopsi social gaming. Lalu untuk browser games, ada tiga isu yang harus diperhatikan dengan baik karena agak berbeda dengan perancangan native games.

  1. Perancangan game design harus lebih mendalam. Social game membuat kita harus bisa melakukan balancing dengan baik dan membuat Game Design Document dengan baik juga. Jenis item yang beragam, efek dari item, efek dari aksi, hingga level/character development dengan angka2 statistik yang baik sehingga pengguna bisa berlama-lama dan kembali lagi ke game tersebut. Game juga harus sering diupdate agar konten baru bisa terus mengurangi kebosanan pengguna. Oh ya, di browser game, kita tidak bisa memasukan terlalu banyak animasi (karena selain akan memotong pasar, tentu akan makan data juga).
  2. Perawatan server. Game dengan tipe seperti ini membuat kita harus menyiapkan server untuk diakses oleh pengguna. Itu berarti kita harus siap sedia jika tiba-tiba terjadi lonjakan pengguna yang sangat drastis atau trafic yang tinggi. Lalu pikirkan juga cost yang diperlukan untuk merawat server tersebut.
  3. Dan yang terakhir adalah isu terkait community development. Game-game browser app seperti ini membutuhkan engagement yang sangat dekat dengan user-usernya. Biasanya ada fanpage FB atau web yang isinya forum tempat sesama pengguna bertukar informasi, trik, dan tips agar bisa memainkan gamesnya dengan optimal. Kita harus memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan apa yang diinginkan user dan apa yang dikeluhkan user, lalu kita juga harus menjawab semua pertanyaan user baik di forum maupun dengan penambahan update game.

Itu adalah sedikit banyak isu-isu yang perlu kita garis bawahi ketika ingin mengembangkan browser games dari mereka yang sudah mengerjakan tipe game seperti ini sebelumnya. Jadi teman-teman bisa mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan sebelum mencoba platform yang disediakan oleh TMG ini. Selamat mencoba 🙂

 

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: