Menjaga Netralitas dan Menghindari Conflit Of Interest
Helo gengs, hari ini saya ingin menceritakan pengalaman saya ketika sedang bertugas di Asosiasi Game Indonesia (AGI). Kebetulan di tahun ini, pengurus AGI banyak yang juga merupakan member AGI juga. Kayak Cipto, ketua AGI, itu Agate nya member AGI, Arya, program manager AGI, itu Toge Productions juga member, begitu pun saya yang jadi wakil ketua Arsanesianya juga member AGI. Situasi ini mungkin agak berbeda ketika di periode sebelumnya, yang ketua AGI nya Naren, dimana perusahaannya dia, Dicoding, bukan game developer maupun game publisher.
Punya pengurus AGI yang juga merupakan pelaku itu sebenernya ada untung dan ruginya. Kalau dari sisi positif nya, ketika harus bekerja sama dengan pihak lain, semisal pemerintah, akan lebih mudah memberikan insight tentang bagaimana video game itu dibuat dan dipasarkan dari A sampai Z. Karena kita juga pelaku, jadi bisa juga memberikan point of view sebagai pelaku. Tapi ini juga jadi poin negatif. Jangan sampai point of view yang kita sampaikan itu tidak merepresent pelaku industri yang lain, apalagi sampai lebih menguntungkan diri kita sendiri.
Kalau kita sedang diminta untuk berbicara sebagai pengurus AGI, semua kalimat yang keluar itu harus mencerminkan anggota AGI. Misal nih, studio karena sudah sustain, merasa bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah program untuk bisa scale up. Buat studio saya, program pemerintah yang sifatnya hibah dengan nominal semisal 20 juta rupiah gak ada apa-apanya. Tapi sebagai pengurus AGI, saya gak boleh bilang ke pemerintah, ah 20jt mah kecil, itu buat studio saya sebulan juga habis, hapus aja program itu. Padahal ada studio game yang baru memulai yang buat mereka, 20jt itu sangat berarti. Jadi topi AGI ini memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan seluruh skala dari pelaku industri game. Kita udah gak bisa lagi bilang program X bagus atau jelek karena bagi studio kita itu bagus atau jelek.
Lalu yang paling penting adalah menjaga conflict of interest di berbagai program yang dimana studio kita juga jadi subjek dari program itu. Misal nih, program yang mengirimkan delegasi dari Indonesia ke luar negeri kayak ke Gamescom atau ke GDC. Itu ketika rapat awal untuk menentukan kita mau ke event apa saja, kenapa event yang satu lebih bagus dari yang lain, itu kita selalu membawa data track record event tersebut dan hasil survey dari pelaku industri. Jadi gak pernah nih AGI ngusulin ke event X karena saya pengen ke situ. Harus based on survey pelaku industri dan data track recordnya. Misal dari tiga tahun terakhir data hasil dari Gamescom selalu bagus, maka event itu yang kita prioritaskan.
Terus yang paling penting, once udah mulai open call dan akan melakukan kurasi, saya langsung leave dari seluruh grup atau diskusi yang membahas program tersebut. Karena saya menghindari terjadinya conflict of interest apapun. Yang mengkurasi pun harus dari perwakilan industri yang netral. Mereka yang paham medan, sesuai dengan context kegiatannya, dan mampu bersikap objektif. Itulah mengapa walaupun saya pengurus di AGI, jabatannya wakil ketua, tapi saya sering banget gak lolos program-program AGI. Tokyo Game Show tahun lalu saya gak lolos, Gamescom tahun ini saya gak lolos, bahkan IGDX, program yang dulu saya juga yang menginisiasi, saya juga gak lolos IGDX Academy. Dan buat saya itu fine dan fair. Malah happy karena artinya semakin hari, semakin banyak game dev yang bagus-bagus. Soalnya dulu awal-awal program kayak Gamescom itu yah, susah banget nyari 10 studio game yang bagus dan mampu membayar 50% dari biaya transport/akomodasinya. Jadinya ya kalau dulu yang berangkat kesannya yang itu-itu aja. Orang yang mampu cuma segitu. Kalau sekarang, sudah makin banyak yang mampu berangkat dan memiliki produk yang berkualitas.
Jadi pesan saya, karena tahun depan juga sudah akan munas, siapapun yang jadi ketua AGI, titipan saya adalah agar kode etik dan juga netralitas ini bisa terus terjaga. Saya paling gak suka kalau ada kongkalikong atau kongsi-kongsi atau nepotisme. Kalau di AGI ada program yang siapapun pihak yang terlibat mau main kotor, itu biasanya emosi saya langsung naik. Saya masih bisa toleransi kalau ada program yang tidak sempurna, ada eksekusi yang kurang maksimal, atau kesalahan-kesalahan apapun yah. Tapi kalau ada yang coba main kotor, itu saya gak akan beri ruang sih. Ini pun Cipto juga selalu melakukan hal yang sama. Gak pernah ada keputusan AGI yang memihak ke perusahaan dia, bahkan saya pernah melihat keputusan yang Cipto ambil yang kayaknya merugikan perusahaan dia. Tapi karena dia sedang pakai topi AGI, itu yang harus dia ambil. Itu yang mungkin membuat nama AGI di mata partner-partner AGI cukup baik. Mereka bisa melihat bahwa pengurus AGI ini tulus bekerja dari hati untu ngebantu industri. Orang-orang yang ada di dalamnya pun punya track record bahwa sebelum mereka punya jabatan pun, sudah berkontribusi untuk industri game. Semoga spirit ini tetap terjaga sampai kapanpun yah.
Tinggalkan komentar