Iklan
My Journal

Evolusi Metode Belajar

gambar diambil dari http://www.infed.org

Ada pepatah yang bilang kalau belajar itu tidak mengenal usia, dari lahir hingga akhir umurnya. Banyak orang yang beranggapan proses belajar dimulai dari masuk sekolah (TK) sampai nanti lulus kuliah. Tapi sebenernya belajar itu gak sebatas itu dan gak hanya di bangku sekolah aja. Tapi memang kita banyak mendapat pendidikan baik itu hardskill maupun softskill di bangku sekolah.

Mungkin saya gak akan cerita metode belajar waktu saya TK atau SD yah (karena lupa dan waktu SD juga tidak segitunya metode belajar saya). Tapi saya akan sedikit membahas bagaimana saya belajar mulai dari SMP. Di SMP, prestasi saya ya bisa dibilang lumayan lah. Seenggaknya dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMP gelar rangking 1 selalu di tangan. Walau pas UN gagal dapet nilai tertinggi, ya tapi udah bersyukurlah bisa juara di kelas. Waktu SMP, metode belajar saya tidak ada yang terlalus spesial, tapi konsisten. Konsisten itu maksudnya adalah waktu SMP saya belajar hampir setiap hari apalagi kalau menjelang ujian. Pulang sekolah biasa jam 4, sempet main PS, main komputer, nonton kartun, semuanya sampai jam 6. Abis magrib, TV di rumah pasti mati, komputer gak boleh dipake, dan malam digunakan untuk belajar, entah ngulang pelajaran hari itu atau belajar untuk besoknya. Biasa lama belajar efektif itu mulai dari jam 7 malam sampai jam 9an non-stop. Abis itu, kadang suka dikasih izin sama Ibu buat main lagi barang setengah jam sampai satu jam. Terus kalau dari teknik belajarnya, saya tipe orang yang sangat visual. Jadi kalau cuma baca buku, rasanya kurang bisa nyampe di otak. Alhasil saya diajarin sama ibu teknik mind mapping dan berkali-kali ditekanin untuk memahami konsep, jangan menghapalkan materi. Akhirnya hasilnya pun cukup memuaskan setiap kali ujian.

Next, saya Alhamdulillah keterima masuk ke MAN Insan Cendekia. Wah, ini bener-bener pelik untuk bisa masuk ke situ (apalagi sekarang, harus bener2 top 3 dari suatu SMP baru bisa masuk situ). Di IC ini agak gila sih, mulai dari persaingan di kelas, kecepatan guru mengajar di kelas, tingkat kesulitan soal yang diberikan ketika ujian, dan berbagai metode belajar lainnya, semuanya sangat tinggi standarnya. Kalau di SMP, saya masih bisa berbangga diri dengan peringkat 1, klo di IC boro-boro peringkat 1, masuk 10 besar aja susah, ujian banyak remedialnya, dan sering ikut pelajaran tambahan -_-. Hahahaha… tapi justru di sini tantangannya, kita bersaing, belajar, dan bertemu dengan orang-orang yang amat sangat pintar dengan berbagai metode belajarnya masing-masing. Berhubung di sini modelnya asrama, satu kamar isinya 4 orang, kerasa banget metode belajar tiap orang yang unik-unik. Saya masih tetap dengan konsep mind mapping saya, terutama dengan model visualisasi. Saya ingat sekali, punya satu bundel kertas isinya gambar2 berbagai kingdom hewan dan bagian2 tubuhnya yang saya rangkum ulang dari rangkuman guru. Hahaha… Tapi itu gak cukup kalo di IC, masih harus banyak belajar tambahan, belajar bareng temen, saling berbagi metode belajar dan sebagainya. Bahkan yang paling berkesan, ada teman sekamar saya yang metode belajarnya adalah dengan membuat lagu ๐Ÿ˜€ Dia klo ada pelajaran gitu yang mau diujikan, pasti materinya dia buat jadi lirik lagu dan dijadikan lagu. Hehehe luar biasa ๐Ÿ™‚

Nah selanjutnya masuk ITB nih. Sebenernya buat masuk ITB sendiri juga sebuah tantangan nih. Saya sempat keteteran selama di IC, jadi untuk masuk ITB perlu ada treatment khusus untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Akhirnya saya sempat les di Genius Club di Bandung demi mempersiapkan diri ujian masuk ITB. Setelah sukses mengulang semua materi, akhirnya sukses juga masuk ITB. Klo di ITB, metode belajarnya sangat jauh berbeda dengan jaman dulu di SMP ataupun SMA. Di ITB tiap mata kuliah beda treatmentnya untuk masing-masing kuliah. Ada kuliah yang tugasnya amat sangat banyak sekali hingga menyita waktu sangat banyak, ada juga kuliah yang asalkan hadir di kelas saja sudah cukup untuk bisa mempelajarinya. Untuk menyikapi hal tersebut, kita harus pandai2 menilai dan membuat prioritas untuk masing-masing mata kuliah. Itu berarti pas ngambil mata kuliah juga harus research dulu, kira-kira effort untuk mempelajari mata kuliah tersebut sesulit apa. Kalau kita ambil satu semester semuanya mata kuliah hardcore, tentu gak akan maksimal hasilnya. Dengan memilah-milih matkul dengan cerdas, mempelajari cara terbaik, efektif, dan efisien untuk memplejari mata kuliah tersebut (termasuk mempelajari gaya mengajar dosennya), alhamdulillah bisa lulus dari ITB dengan predikat cumlaude.

Sekarang, saya sudah lulus dan sudah bekerja dan ternyata proses belajar tidak berhenti di situ saja. Dengan pola belajar dan mind set yang sudah terbangun mulai dari SD, SMP, SMA, hingga bangku kuliah, tantangan untuk belajar di dunia kerja menjadi tidak terlalu terasa. Di dunia kerja, terutama kalau berencana bikin perusahaan sendiri, proses belajarnya akan jauh lebih ekstrem. Contohnya, saya bisa belajar tentang marketing, bisa loncat ke dunia finance, bisa masuk ke bahasa pemrograman tertentu, bisa membedah framework baru, dan bisa belajar kemana saja. Modalnya adalah google, teman, dan buku yang kita harus cari dan gali secara mandiri. Itu kenapa, penting banget buat kita untuk bisa menemukan metode belajar yang paling efektif untuk kita dan berusaha untuk secara kontinu mengembangkan metode belajar kita agar nanti pas udah lulus dari pendidikan formal, kita sudah memiliki mind set serta metode belajar yang optimal sehingga di bidang apapun nanti kita terjun, kita akan mampu beradaptasi dengan cepat.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Comment on Evolusi Metode Belajar

  1. Nice, makasih ya udah share metode belajarnya ๐Ÿ˜€

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Skill Mencari Keyword Untuk Googling – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: