My Journal

Dream Theater Live in Jakarta Concert

Dream Theater live in Jakarta

Sabtu 21 April 2012 adalah hari yang bersejarah. Setelah 25 tahun penantian, akhirnya Dream Theater melakukan konsernya di Indonesia. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu suka nonton konser secara langsung karena saya lebih senang nonton di kasur sambil tidur-tiduran dan santai, tidak yang berdesak-desakan seperti di konser begitu. Tapi ada tiga band yang menjadi perkecualian saya (saat ini), yaitu Muse, Coldplay, dan Dream Theater. Tinggal Coldplay yang belum main ke Indonesia, tapi Muse dan Dream Theater sudah saya ceklis :). Khusus untuk mereka, saya rela pesen tiket jauh-jauh hari, desek-desekan, dan antri panjang. Hehehe Nah, untuk konser DT ini, saya sudah beli tiketnya semenjak presale pertama (sekitar akhir tahun kemaren kalau tidak salah). Pemesanan presale ini pun untung-untungan. Kita harus kirim email ke promotor dan nanti akan dibalas oleh mereka. Saya dan teman-teman saya pada ngirim email, tapi hanya satu orang teman saya yang dibalas. Langsung lah saya memesan jatah tiket (1 orang 4 tiket) ke Adit yang berhasil dibalas emailnya. Saya, Adit, Affan, dan Ranti yang langsung menggunakan 4 tiket tersebut.

Beberapa bulan menjelang konser, sayang sekali Affan harus terpaksa tidak bisa hadir karena sakit dan sempat diopname. Kondisi tubuhnya rasanya tidak fit kalau harus datang konser, apalagi festival. Akhirnya tiket Affan dijual lagi ke Ibnu. Tapi Affan udah mesen video rekaman aksi DT dan kemaren sudah saya rekamin khusus buat Affan, satu lagu opening, root of all evil, dan solo drum Mike Mangini.

Terkait konsernya sendiri, saya merasa tidak senang dengan EO acara tersebut. Saya membandingkan dengan Java Musikindo ketika mengundang muse, rasanya EO DT agak kurang baik. Pertama, dari pemilihan venue, MEIS-Ancol menurut saya agak kurang enak. Lokasinya masih setengah jadi, gate ke ruang pertunjukannya hanya satu dan itu pun tangga (berbahaya sekali berdesak-desakan di tangga begitu), lalu tidak ada line antrian yang jelas untuk masuk ke gate sehingga orang-orang pada berdesakan, petugas dari panitia pun tidak terlihat mengarahkan. Tak hanya itu, tidak ada pemeriksaan tas (untuk benda tajam, senjata api, dan benda-benda berbahaya lainnya). Berbeda sekali dengan konser MUSE dimana ada banyak sekali gate, informasi pengunjung terlihat jelas saya harus antri dimana, petugas dan panitia ada dimana-dimana, keamanan standby selalu, semua rapi dan terkoordinir. Di konser DT ini, open gate jam 18.20, saya baru bisa masuk ke dalam satu jam kemudian. Harus didorong sana-sini, naik tangga, jalurnya tidak jelas, dst. Huff..

Big Screen

Segala kekesalan dan kepenatan mengantri gak jelas begitu mulai terbayar ketika saya dan teman-teman sudah berada di lokasi dan dihibur oleh opening act dari andy mckee, seorang guitar drifter (kalau mau lihat aksinya di youtube bisa dicek di sini). Awalnya saya dan teman-teman berada di agak depan dari panggung. Tapi ternyata ketika sudah mulai ramai dan pada berdiri, saya yang notabene tidak terlalu jangkung merasa pandangan saya terhalangi oleh banyak orang berbadan besar. Akhirnya saya mundur ke belakang dimana saya bisa lebih melihat panggung dan pemainnya dengan jelas. Lalu saya perhatikan sekeliling, ternyata beragam juga yah yang datang ke konser DT. Bahkan ibu-ibu aja ada :p Hehehe… Tak lama setelah opening act, sebelum DT muncul, terlihat kembali ketidakmatangan dari panitia. Ceritanya si layar di depan panggung itu mau diturunin, tapi kok nuruninnya agak janggal dan riweh gitu. Harusnya mah ketika sudah ada penonton, hal seperti itu tidak lagi terlihat di atas. sekitar 10-15 menit persiapan, jam 21.10 musik intro mulai dimainkan dan lampu-lampu efek serta video opening dimulai. Tak lama, masuklah para personil DT ke panggung yang diiringi sorakan para penonton. Ah, puas rasanya bisa melihat langsung para dewa musik tersebut di atas panggung.

Terkait konsernya sendiri, saya agak blunder dengan playlist lagu mereka. rata-rata 2 lagu lama – 1 lagu baru – 2 lagu lama – 1 lagu baru begitu seterusnya. Masalahnya semenjak album systematic chaos, saya sudah tidak mengikuti perkembangan DT lagi. Akhirnya 2 album DT terlewat oleh saya. Jadi setiap mainin lagu yang mereka sedang promosikan albumnya, A Dramatic turn of Event, saya dan teman saya yang sama nasibnya kayak saya hanya bisa bengong :p. hehehe. Lalu kekecewaan kembali hadir kepada panitia malam ini. Bassnya John Myung tidak terdengar sepanjang acara. Nampaknya dia juga sempat kesal, tapi the show must go on. Sayang sekali, band sekaliber ini tidak disupport dengan sound yang sempurna dari panitia. Namun, yang menjadi daya tarik lain dari konser ini adalah tata cahayanya. Luar biasa. Lagu DT yang patah-patah ini terlihat sinkron iramanya dengan lampu yang mengiringi. Bener-bener mata kita dimanjakan oleh tata cahaya konser ini, salute salute.

Lighting yang memanjakan mata

Kemudian di konser ini, Mike Mangini sempat diberikan kesempatan untuk solo dan membuktikan kepada fans DT di Indonesia kalau dia pantas menggantikan Mike Portnoy. Luar biasa, skillnya bener-bener di atas manusia. Bahkan kalau saya perhatikan, mungkin sedikit di atas Mike Portnoy. Lalu dari segi attitude, orangnya sangat low profile namun kalau lagi gebuk drum sangat beringas. Menarik sekali. hehehe… Tapi memang DT tanpa Portnoy itu tidak lengkap. Biasa kalau konser, yang stand out dan paling atraktif itu Mike Portnoy dan Jordan Rudes. Sekarang tanpa portnoy, Rudes kayak agak kurang atraktif. Tapi tetep penampilan DT super enerjik dan sangat menghayati. Sepanjang konser, penonton gak henti-hentinya memberikan crowd yang luar biasa (saya salute sama crowd para fans DT ini). Setelah konser, Rudes, Petrucci, dan LaBrie ngetweet betapa mereka kagum, senang, dan terharu dengan crowd di Indonesia :’). James LaBrie bilang “Hey Jakarta fans, We loved playing for you. The reception was unreal, very inspiring. Can’t wait to Raaaaaaaaaaaaawk it again with all of u.”, John Petrucci bilang “Thanks to all of our Indonesian fans for making our first trip to Jakarta such a huge success!”, dan Jordan Rudes ngetweet “Thank you Indonesia! We had a fantastic time playing for you. One of the best DT concert experiences ever!!! Great crowd!”. Ahhh super bangga sama fans DT di Indonesia 🙂 Bahkan malem itu Dream Theater trending topic di Twitter :’)

Crowd yang super sekali malam itu

Overall saya puas dengan penampilan DT tapi kecewa dengan panitia. Ada sedikit kekecewaan juga karena Take The Time, Under the Glass Moon, Metropolist pt2, As i Am, Erotomania, dan Hollow year tidak dimainkan. Tapi apa daya, album mereka ada banyak, gak mungkin mainin semuanya. Yang penting pull me under dan spirit carries on udah dimainin. Semoga DT dateng lagi deh nanti ke Jakarta 🙂 amin amin amin.

About Adam Ardisasmita (1209 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: