Iklan
My Journal

Mengincar Kuantitas Makalah Secara Instan

Tulisan ini menanggapi gasak-gusuk pemerintah Indonesia terhadap kemajuan negara tetangga, Malaysia. Di detik.com ada uraian tentang pemerintah yang malu dengan malaysia terkait standar minimum rumah masyarakat Indonesia. Di Malaysia, tipe 36 katanya sudah sangat minimal sekali. Tapi di Indonesia masih banyak tipe di bawah itu. Hasilnya pemerintah ingin mengetatkan aturan tentang aturan pembangunan rumah. Yang terbaru adalah surat edaran dari Dikti terkait dengan syarat kelulusan mahasiswa S1, S2, dan S3 di Indonesia. Berikut suratnya:

Surat edaran Dikti

Ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi. Yang pertama dan yang paling mengganggu saya adalah alasan dibalik dibuatnya surat ini. Saya kira, Malaysia boleh lah dijadikan patokan atau acuan untuk membuat kita termotivasi, tapi saya rasa terlalu emosional jika itu yang dijadikan alasan utama. Harusnya alasan utamanya adalah ingin meningkatkan kualitas pendidikan, menambah kuantitas karya anak bangsa, dan sebagainya. Faktor “malaysia” harusnya menjadi satu faktor sampingan yang mendukung alasan utama dan tidak perlu distate di dalam surat tersebut.

Yang kedua adalah menurut dosen Arsitektur ITB, surat tersebut cacat secara hukum. Berikut kutipan tulisan beliau

Dalam sistem hukum di RI, produk hukum yang bersifat mengikat, mewajibkan, adalah UU dengan turunannya berupa Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri; serta Peraturan Daerah. Surat Dirjen itu tidak memiliki dasar hukum karena itu tidak bisa digunakan untuk membatalkan kelulusan wisudawan hanya gara-gara belum melakukan publikasi ilmiah.

Jadi sebenarnya untuk apa surat tersebut? hanya jadi anjuran? atau hanya bentuk spontanitas semata begitu pemerintah kita tahu jumlah jurnal ilmiah kita dan malaysia? Saya juga tidak paham dengan maksud tujuan dari surat yang terkesan impulsif ini.

Yang ketiga, kalau memang pemerintah serius ingin meningkatkan kulitas lulusan universitasnya, saya rasa jangan hanya outputnya saja yang “malu” sama Malaysia. Jumlah jurnal Malaysia bisa banyak karena apa? coba ditilik lagi. Gaji dosen di sana jauh lebih tinggi daripada di Indonesia, di Malaysia mahasiswa tidak perlu keluar uang untuk melakukan penelitian karena semau ditanggung lab (yg disubsidi pemerintahnya), peralatan dan fasilitas laboratorium dan pendidikan di Malaysia jauh lebih lengkap daripada di Indonesia. Harusnya kalau pemerintah malu jurnal kita kalah, harusnya malu juga gaji dosen kita masih rendah, malu juga kita tidak ada dana untuk mahasiswa melakukan penelitan, malu juga kita tidak memperbaharui lab kita dengan alat2 yang layak. Jadi harus seimbang, jangan cuma output, tapi prosesnya juga harus diperbaiki. Tidak bisa pemerintah menuntut peningkatan kualitas pendidikan tapi tidak difasilitasi.

Saya pribadi sebenarnya mendukung mahasiswa menjadi produktif, tapi tentu tidak dengan cara yang impulsif dan lepas tangan dari pemerintah seperti ini. Kenapa saya bilang impulsif? Karena dengan fasilitas minim, jurnal yang mampu menerbitkan sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah lulusan mahasiswa, dosen yang berkualitas untuk mendampingi mahasiswa masih sedikit, tapi sudah menargetkan Agustus 2012 harus sudah dipublish jurnalnya. Yang ada mahasiswa S1 baru lulus 6-7 tahun. 4 tahun untuk kuliah, 2 tahun untuk review jurnal, koreksi jurnal, menunggu di waiting list majalah untuk di publish, dan sebagainya. Belum kalau yang jurnal internasional. Jadi saran saya, kalau ingin menargetkan mahasiswa aktif mempublish jurnalnya, taruhlah target jangka panjang. Misalkan 2020 semua lulusan sudah bisa mempublish jurnal, maka 2012 harus ada perbaikan fasilitas, kemudian 2015 sudah ada infrastruktur yang lengkap untuk melakukan publishing, baru 2020 ditargetkan untuk bisa seluruh mahasiswa di Indonesia membuat tulisan yang bisa dipublish. Jadi secara proses juga harus diperhatikan, jangan hanya mengincar kuantitas paper secara instan.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: