Iklan
My Journal

Komunitas yang membentuk kita

Ada kata-kata yang berbunyi, jika kita berteman dengan penjual abu, kita akan terkena abunya. Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan terkena wanginya pula. (CMIIW)

Itu yang saya temukan di kehidupan sehari-hari saya. Komunitas. Ketika kita sering berinteraksi dengan suatu komunitas, besar kemungkinannya kita akan mengikuti komunitas tersebut. Sangat sulit jika kita menjadi minoritas di komunitas tersebut. Dalam pergaulan sehari-hari, sangat terasa efek dari komunitas tersebut. Sebagai contoh, ketika kita berada di komunitas yang malas belajar, pasti kita akan tertulas malas pula. Kalaupun kita berusaha untuk belajar, lingkungan kita akan berusaha membuat kita untuk tidak belajar. Sekeras apapun usaha kita, ibarat batu, apabila terus-menerus ditetesi air, pasti akan berlubang juga. Sehingga akhirnya kita akan tertular malas. Mungkin efeknya tidak terlalu terasa, tapi sedikit demi sedikit pasti akan mengalami proses perubahan.

Pengalaman saya mengenai komunitas sebagai contohnya adalah komunitas semasa SMA. Saya berada di komunitas yang homogen dalam waktu yang cukup lama, 3 tahun. Sistem sekolah yang berasrama membuat saya menjadi semakin lama berada dalam komunitas tersebut. Di komunitas terdapat budaya disiplin, budaya mandiri, budaya religius, budaya belajar, budaya menghormati orang lain, dan yang paling terasa adalah budaya kekeluargaan. Keberadaan saya di dalam komunitas tersebut membuat saya secara bertahap mengikuti pola yang sudah ditanamkan. Secara sadar maupun tak sadar, banyak kepribadian dan pola pikir saya yang berubah. Cara pandang yang tertanam di dalam pikiran saya.

Berbeda dengan teman saya yang terjerumus ke komunitas yang buruk. Komunitas yang membuatnya jauh dari norma-norma yang berlaku. Komunitas yang membuatnya tersesat ke jurang kenistaan.

Penting sekali bagi kita untuk menemukan komunitas yang positif, kominitas yang memiliki visi yang baik, komunitas yang mampu membentuk diri kita menjadi pribadi yang baik. Yang tersulit dalam menjalani hidup adalah, kebebasan untuk memilih. Karena kita harus memilih suatu komunitas. Jika pilihan kita itu buruk, maka kita akan ikut terdampar di dalamnya. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu jika kita sudah menemukan komunitas yang baik, sering-seringlah berada di komunitas tersebut. Agar tetap kuat dan mampu menahan godaan-godaan duniawi.

gambar dari: http://icanhascheezburger.com/2007/05/18/in-ur-yardz/

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: