My Journal

Ini Alasan Kenapa Game Developer Di Indonesia Bakal Tumbuh Exponensial Dalam 10 Tahun Ke Depan

Tahun 2013, Saya ingat datang ke sebuah event networking di Megaxus bersama rombongan game developer dari Korea. Di kala itu, salah satu speaker dari Korea ada yang bertanya, “berapa ratio front end game dev dengan back end game dev di studio kawan-kawan?” Jujur aja yah, di era itu kita tahunya kalau main game ya Angry Bird, Fruit Ninja, yang semuanya offline. Dari situ udah keliatan sebuah gap yang cukup jauh dimana mereka sudah memikirkan fitur social, analitik, dan behaviour player untuk membuat game-nya lebih engaging, terutama untuk market mobile. Di saat di Indonesia belum ada tuh yang kepikiran untuk bikin game online. Tapi terjawab 10 tahun kemudian, Korea menjadi salah satu raja untuk market game global, terutama untuk game-game online mereka. Di saat di Indonesia juga kita masih dalam fase bertumbuh, yang pertumbuhannya belum signifiikan dari 10 tahun yang lalu.

Tapi melihat kondisi hari ini, saya sangat optimis dengan potensi yang akan terjadi di Indonesia. Tantangan terbesar yang dialami oleh gamedev di Indonesia ini dari sisi talent density dan juga experience dari studio game nya. Mungkin kalau bicara individual, orang indo mah skill nya jago-jago. Tapi klo kita bicara berapa banyak game Indonesia yang sukses? Seberapa sukses game mereka kalau dicompare dengan game-game dari luar? Tentu kita masih jauh sekali. Bahkan masalah talent ini jauh lebih pelik dibandingkan masalah funding yah. Oke sih funding yang mengguyur deras itu ngebantu nurture talent. Tap tentu ada batasan berapa banyak funding yang bisa terserap dan seberapa besar chance funding tersebut membuahkan hasil yang baik juga?

Cuma ketika kemarin dateng ke event Networking nya AGi dengan Xsolla di hotel Ayana, ada sebuah hal yang positif yang saya amati. Di dalam event yang menurut saya cukup rame, ada 100 developer game dalam satu ruangan, saya bisa melihat ada developer yang sudah >10 tahun pengalaman, ada yang lima tahun, ada yang baru 1-2 tahun, dan ada yang baru banget. Di event itu, kita semua belajar. Meja-meja bundar yang tersebar itu menjadi ajang diskusi, tanya jawab, berjejaring, yang menurut saya jadi medium yang bagus banget untuk bisa terjadinya sharing knowledge.Jadi event-event ini membuat saya tersadar bahwa tidak hanya yang veteran bisa survive bahkan grow, yang intermediate pun masih bisa find their way, dan yang baru-baru terus bermunculan. Secara kuantitas, talent kita bertambah. Dan kegiatan seperti ini jadi jembatan agar kualitasnya juga meningkat.

Memang acara seperti mentorshipnya IGDX, inkubasinya GameSeed, maupun program mentoring MVP nya Indie Game Group Indonesia, berperan besar untuk memastikan developer di semua fase memiliki mentor untuk membantu mereka. Fasilitas ini yang dulu tidak saya rasakan dan yang saya yakin bisa menjadi booster pertumbuhan industri game di Indonesia dalam jangka panjang.

Lalu satu lagi formula yang menurut saya sangat unik dan mungkin di South East Asia cuma ada di Indonesia. Budaya ngariung, budaya gotong royong, dan nongkrong-nongkrong. Ini ada developer dari negara lain di SEA yang bilang ke saya, mereka iri ngeliat indie scene di Indonesia. Keliatan sangat kompak dan punya semangat maju bersama. Kalau ada temen gamedev nya yang rilis game, semua ikut promosiin. Kalau ada kesempatan sharing, semua bersedia sharing. Ini yang menurut saya sangat spesial dari Indonesia.

Bahkan nih yah, ada game Arsanesia yang saat ini sedang kami godok yang mengangkat genre X. Lalu saya tahu, ada temen gamedev lain yang sangat jago di genre X. Dan saya tahu dia sedang bikin game dengan genre X juga. Ketika saya minta waktunya untuk ngasih sharing development genre X ke tim Arsanesia. Gak ada tuh kesan ingin menutup-nutupi dan tidak ingin sharing ilmu. Selama dua jam lebih gamedev tersebut buka semua teknik yang dia pelajari dan gunakan di game-nya. Ini kan gila yah. Di industri lain, ini udah masuknya kompetitor. Tapi di Indonesia, kita saling menguatkan.

Itu alasan kenapa saya yakin 10 tahun ke depan, kalau pertumbuhan gamedev di berbagai skala usaha bisa terbangun secara konstan, dan di tiap lini ini bisa mengurangi waktu gagal nya dengan belajar dari mentor di berbagai program yang ada, perkembangan industri kita ke depan bakal exponensial sih 🙂

avatar Adam Ardisasmita
About Adam Ardisasmita (1384 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan komentar