My Journal

Vaksin Telah Tiba

Dari Maret sampai hari ini kita hidup dalam ketakutan bisa terkena Covid. Bahkan udah super hati-hati aja, masih gak bisa kita pungkiri bakal ada resiko dari interaksi sesederhana ngambil makanan dari abang gofood. Apalagi kalau harus ada kebutuhan keluar rumah. Ibaratnya, tiap buka pintu rumah, kita lagi lari di tengah hujan peluru. Yang tiap pulang, klo gak ketembak, ya kita beruntung aja berhasil menghindar. Tapi mau sampai kapan kan yah kondisi hidup kayak gini berlanjut.

Aku sih sebenernya seneng-seneng aja yah dengan work from home. Punya banyak waktu di rumah sama keluarga, bisa lebih fleksibel setup meeting, dan gak perlu commute-commute. Tapi kasian sama anak ku yang harusnya di umur segini ke sekolah dan main sama temen-temen. Butuh jalan-jalan, beraktivitas di luar rumah, dan eksplorasi. Jadi sebenernya pengen juga pandemi ini segera berakhir supaya bisa kembali berkegiatan di luar rumah.

Akhirnya, kabar baik dan harapan datang. Vaksin telah tiba. Tuh sebenernya kalau semua negara mengerahkan effortnya untuk satu goal yang sama, pasti masalah yang dulunya butuh waktu lama, bisa terselesaikan dengan cepat. Banyak sekali negara yang berhasil melahirkan vaksin dan memproduksinya untuk digunakan oleh berbagai negara lainnya. Saya gak mau komentar tentang vaksin merk apa yang bagus karena ilmunya gak di situ. Data dan update terbarunya hadir hampir tiap hari, unless emang kerjaan kita memantau informasi itu tiap hari dari sumber yang jelas dan punya ilmu untuk membaca informasi itu, kayaknya opini kita hanya akan menambah noice. Kalau saya, saya percayakan kepada orang-orang yang expert, yakni BPOM dan IDI. Klo BPOM bilang oke, dokter bilang oke, saya percaya.

Satu-satunya cara agar Indonesia bebas covid adalah 70% penduduk kita harus punya imunitas. Caranya cuma dua, satu pernah terkena Covid dan cukup beruntung untuk bisa pulih dari Covid, atau vaksin. Jadi buat yang usianya masuk ke dalam usia yang aman divaksin, pastikan untuk begitu ada kesempatan, langsung vaksin yah. Aku agak sedih sih kalau baca komen di sosmed terkait gerakan anti vaksin. Tapi semoga itu hanya anti vaksin ke merk tertentu aja yah. Saya gak peduli mereka mau benci ke satu merk dan memuja-muja merk lain, yang penting mau divaksin. Yang masalah itu kalau ada yang gak mau di vaksin. Karena ketika mereka gak divaksin, ya Indonesia akan begini terus. Saya sih berharap ada regulasi yang cukup tegas yah terkait vaksin ini. Setegas kayak kalau mau ke arab aja, mau umroh atau haji, harus vaksin meningitis dulu kan. Nanti aku sih yakin, visa baru akan dikasih buat orang-orang yang sudah vaksin. Karena negara lain gak mau dong ada orang asing bawa virus ke negaranya.

Semoga proses vaksinasi ini berjalan lancar. Pengadaannya lancar, distribusinya lancar, dan kita juga bisa produksi vaksin kita sendiri gara-gara ada transfer knowledge dengan negara yang sudah mampu membuat vaksin. Dan ingat. Walaupun sudah vaksin pun, gak bisa serta merta kita langsung melupakan protokol kesehatan. Baru bisa bernapas agak lega kalau 70% udah divaksin juga. Jadi sambil menunggu itu, kita tetap harus menjaga protokol kesehatan yah.

About Adam Ardisasmita (1246 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: