My Journal

Indigo Game Startup Inkubator, Inkubasi Khusus Game Developer Yang Penuh Fasilitas

Satu Lagi Komponen Penting Bagi Ekosistem Industri Game Hadir di Indonesia yakni inkubator. Indigo Game Startup Inkubator atau biasa disebut IGSI menjadi pelengkap yang sangat penting sekali bagi tumbuhnya industri pengembang game di dalam negeri. Mengapa penting? Saya akan coba flashback sedikit ke perjalanan saya dulu belajar ekosistem game di Jerman.

Goethe Institut pernah mengajak saya berkeliling kota-kota yang memiliki ekosistem game yang cukup aktif seperti Berlin dan Munich. Walaupun kota game di Jerman dideklarasikan di Cologne, saya cuma pernah ke Cologne untuk ke Gamescom dan tidak sempat keliling studio atau ekosistem yang ada di dalamnya. Tapi saya asumsikan memiliki kematangan yang sama dengan Berlin dan Munich sih harusnya.

Di salah satu trip, saya diajak ke sebuah co-office di Berlin yang namanya Saftladen dan co-working space di Munich yang namanya WERK. Di situ saya melihat ada beberapa studio yang skalanya kecil (kurang dari empat orang) tapi kualitas game yang dikembangkan sangat bagus. Semua asetnya polish, game-nya stabil, dan menyenangkan untuk dimainkan. Bahkan ada juga mahasiswa yang bikin game VR yang sangat eksperimental tapi well executed. Game nya 1 vs 4 gitu, ada satu yang jadi monster raksasa dan empat orang yang jadi manusia pakai helikopter, tank, pesawat, dan lain-lain untuk ngelawan monster. Bener-bener production yang manis dan rasanya gak mungkin minim budget ngerjainnya.

Ada dua hal yang perlu digaris bawahi, skill untuk mampu mengembangkannya dan budget untuk developmentnya. Dua hal tersebut yang menjadi privilege dari negara-negara yang ekosistem gamenya sudah matang. Ambil contoh nih. Ada mahasiswa dari Jerman. Ambil jurusan game. Pas masa kerja praktik, dia bisa apply ke perusahaan game besar kayak Ubisoft, Gameloft, Rockstar, dan lain-lain yang ada di negara mereka atau masih di Eropa. Lalu beres KP, mau ngejain skripsi bikin game, mereka bisa apply ke funding provinsi, atau funding negara, atau funding eropa. Atau mau bikin project game pas lulus kuliah pun bisa akses ke funding tersebut. Terus nih, misalnya bikin startup. Setahun ngerjain nih projectnya. Terus pas launch, projectnya gagal. Jadi pengangguran. Di sana ada safety net dari pemerintah buat pengangguran dapet gaji selama setahun sampai dia dapet kerja lagi.

Klo di Indonesia, jurusan game pun gak banyak. Udah gitu pas di kampus mau intern, studio game di indonesia cuma sedikit. Yang buka lowongan dikit. Skala projectnya pun masih jauh dari triple A. Jadi ilmu yang didapat juga paling mentok segitu-segitu aja. Yang kedua funding. Belum ada funding dari kota atau provinsi untuk industri game. Tapi ada funding di level negara, dari Kemenparekraf, untuk industri game. Cuma kalau kita terjun bikin game, terus bangkrut, belum ada safety net nya. Ada sih, kartu pra-kerja. Tapi kayaknya beda approach nya dengan di Jerman sih.

Kesimpulannya, sisi talent dan funding memang masih jadi tantangan buat temen-temen yang mau terjun ke industri game. Kabar gembira buat kita semua, Telkom, Agate dan AGI punya program untuk menjawab tantangan ini. Namanya adalah Indigo Game Startup Incubator. Apa sih IGSI itu dan kenapa IGSI itu menarik?

Ada tiga hal nih

  1. Dapet mentor dan kurikulum berstandar industri game (at least di level Indonesia)
  2. Dapet fasilitas kerja, kantor, dan gaji selama inkubasi (inkubator mana coba yang ikut programnya digaji hahaha)
  3. Daaann bakalan bisa dapet funding gede, up to 2 Miliar

Lebih detilnya ada di sini yah game.indigo.id

Saat ini udah ada dua batch berjalan dan sekarang lagi buka batch 3 klo gak salah. Ini menurut saya opportunity untuk meningkatkan kapasitas talenta tim kita, mendapat akses ke funding, dan yang paling penting dapet mentor dan partner publishing. Udah gitu ikut inkubator ini GRATIS dan gak dipungut apapun, kecuali komitmen dan semangat temen-temen semua. Ini kalau bisa berjalan secara sustain terus-terusan, makin banyak game developer lahir, pasti akan semakin cepat kita mengejar ketertinggalan.

Paling yang sedikit berbeda adalah karena situasi pandemi, terpaksa proses inkubasi ini harus dijalankan secara remote. Kabar gembiranya, hal ini membuat IGSI jadi lebih aksesibel untuk seluruh game developer di Indonesia tanpa perlu khawatir untuk relokasi ke Bandung, tempat inkubasi ini dilakukan. Tunggu apa lagi, segera dapatkan funding dan talent dari IGSI di batch 3 ini 🙂

About Adam Ardisasmita (1181 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: