Iklan
My Journal

Koreksi Untuk Transportasi Publik

Saya ingat dulu di ketika mahasiswa, di kampus ada gerakan yang mencoba membuat mahasiswa untuk tidak lagi membawa kendaraan pribadinya. Kampanye tersebut mengarahkan mahasiswa untuk membiasakan diri menaiki angkutan transportasi umum. Saya sendiri untuk seminggu ini akan bolak-balik ke kantor menggunakan transportasi publik karena sedang memperpanjang STNK. Saya menemukan beberapa poin yang membuat orang malas naik kendaraan umum, dalam hal ini angkot, di Bandung. Berikut beberapa hal yang menurut saya perlu dibenahi agar orang mau menggunakan transportasi publik.

Keamanan

Ketika saya naik angkot, hal yang paling menjadi prioritas saya adalah keamanan. Keamanan ini mulai dari sisi menjaga diri dari copet (semua barang berharga saya jaga erat-erat), keamanan terhadap perampokan, dan yang paling saya khawatirkan adalah keamanan berkendara. Supir angkot selalu nyetir ugal-ugalan, nyodok sana-sini, bisa membahayakan pengguna jalan lain maupun penumpang yang ada di dalamnya. Lalu kualitas kendaraannya juga sudah terlihat sangat tua. Kendaraan tua yang kita tidak tahu dimaintain atau tidak, ditambah dengan jumlah kapasitas penumpang yang melebihi batas (kapasitasnya saya baca di stiker di dalam angkot maksimal 10 orang, kenyataannya satu angkot bisa diisi 15 orang), ditambah lagi gaya nyetir ugal-ugalan, maka dari situ buat orang yang menghargai keselamatan diri seperti saya, angkot merupakan alternatif yang mengkhawatirkan untuk berkendara.

Ketidakpastian Waktu

Saya tipikal orang yang sering mengoptimalkan waktu dan menghitung jarak tempuh agar bisa seefisien mungkin di jalan. Untuk itu, menggunakan angkot yang tidak jelas estimasi berangkat dan sampainya membuat saya merasa tidak nyaman kehilangan kendali akan waktu. Konstrainnya adalah angkot bisa ngetem selama yang dia mau, bisa naik dan turunin penumpang dimanapun dia mau, dan hal ini dibiarkan begitu saja oleh penegak hukum sehingga menjadi kebiasaan buruk. Tidak ada sistem yang membuat angkot harus menaati peraturan. Saya kemarin mengalami angkot ngetem di pinggir jalan protokol, dengan durasi sampai dengan 15 menit, lalu ada mobil polisi lewat angkotnya didiemin aja. Jarak tempuh kantor ke rumah yang biasanya saya lewati hanya kurang lebih 10 menit, kini bisa jadi 10-45 menit suka-suka supir angkotnya aja.

Kenyamanan

Memang dari sisi kenyamanan, tidak akan pernah ada transportasi publik yang bisa menyaingi kenyamanan kendaraan pribadi. Akan tetapi, tentunya harus ada standar tertentu agar kondisi menggunakan transportasi dibuat lebih menghargai manusia yang menggunakan jasanya. Misalkan itu angkot, jangan dipaksain ber-15 satu angkot, itu melebihi kapasitas maksimum juga membuat penggunanya merasa tidak nyaman. Oke lah kenyamanan itu bukanlah hal yang utama, tapi kalau transportasi publik tidak dibuat nyaman, siapa yang mau menggunakannya? Bayangin aja 45 menit suruh naik mobil tua yang kayak udah mau lepas onderdilnya, selama itu juga berdesakan dengan banyak orang, di dalam kendaraan yang tidak ber-AC, dan supirnya ugal-ugalan, gak heran banyak orang yang ogah naik transportasi publik dan milih untuk cicil kredit motor aja.

Tidak Jelas

Di sini, posisi publik sebagai pengguna jasa layanan umum ini tidak jelas. Konsumer itu membayar dan ada hak-hak yang harusnya dilindungi selama menggunakan jasa dan layanan tersebut. Sekarang ini kita tidak pernah tau itu angkot punya siapa, kalau supirnya ugal-ugalan komplain ke siapa, kalau mobilnya udah kayak mau meledak harus ngadu ke siapa, dan lain sebagainya. Uber aja yang jelas ada customer service dan pelayanan yang memperhatikan kepentingan konsumer saja masih dihadang oleh pemerintah, lah ini mobil-mobil yang kayak zombie berkeliaran tanpa kendali kok tidak ditertibkan? Tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja supir yang ugal-ugalan, yang tidak menjaga keselamatan dan keamanan penumpangnya, yang sepanjang rute melanggar aturan lalu lintas, menaikan dan menurunkan penumpang dimana saja, dan lain-lain.


Tentu perubahan ini membutuhkan proses panjang karena terkait dengan mengubah culture di jalan. Supir-supirnya harus diedukasi, kendaraannya harus diperbaharui, infrastrukturnya dibenahi, dan lain-lain. Peran pemerintah, penegak hukum, dan pihak-pihak terkait sangat vital agar bisa terus konsisten memperbaiki dan menjaga konsistensi dari aturan yang perlu ditegakan. Saya yakin kok, kalau transportasi publik itu semanya aman, tepat waktu, nyaman, dan jelas, pasti orang-orang akan beralih ke transportasi publik. Lagian mengingat tingkat kemacetan yang semakin parah serta harga BBM yang akan naik, kalau bisa naik transportasi publik sih orang pasti pilih transportasi publik.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: