My Journal

Ketika Dokter Terpaksa Turun ke Jalan

1450040_10151883538155889_1181581521_n-1

Dokter merupakan sebuah profesi yang sangat penting dan berbeda dengan profesi lainnya. Profesi dokter tidak hanya sekedar karir atau sumber mencari nafkah, tapi merupakan kegiatan mulia yang berkaitan dengan nyawa dan kesehatan seseorang. Hal ini ditunjukan juga dari sumpah seorang dokter yang mendedikasikan diri dan waktunya untuk mengabdi. Para dokter ini kuliah dengan berat untuk waktu yang lama, lalu harus menjalani koas, dan juga pendidikan spesialis yang biayanya tidak murah, yang pada akhirnya perjuangan tersebut akan dinikmati oleh masyarakat luas.

Di Indonesia, profesi sebagai dokter merupakan profesi yang prestisius. Sebagian besar orang tua mendorong anaknya untuk menjadi dokter dengan alasan yang bermacam-macam, mulai dari yang kesan dokter yang keren dan cerdas hingga jaminan kesejahteraan. Jika memang si anak punya minat untuk menjadi dokter sih bagus, dia akan menjadi dokter yang hebat, tapi klo tidak, justru bahaya, karena profesi dokter itu merupakan pengabdian. Bayangkan seorang dokter bisa dipanggil ke RS kapan saja untuk sesuatu yang gawat darurat, bisa jaga sampai tengah malam, bisa menangani kasus yang sangat sulit di tengah fasilitas medis kita yang masih rendah, bisa ditempatkan di daerah-daerah terpencil yang gajinya jauh dari sejahtera, dan parahnya lagi, saat ini dokter rawan dikriminalisasi.

Banyak sekali kasus dimana dokter kita ini dijadikan korban. Mulai dari kasus politik, dimana para calon pejabat seenak udel menjanjikan kesehatan gratis tapi tidak memikirkan sistem, sarana, dan fasilitas kesehatan. Uang yang tadinya dijanjikan untuk kesehatan, ujung2nya dikorup sehingga yang sampai langsung ke fasilitas kesehatan tidak memadai. Alhasil, ketika fasilitas kesehatan tidak mampu melayani, yang jadi korban adalah para dokter. Dianggap matre, dianggap tidak mau memberikan pelayanan terbaik, dan sebagainya. Lalu tak lama, ada lagi kasus dimana ada pasien yang tidak menghargai dokter sampai menyiram kopi. Di media massa santer dikatakan bahwa dokter tersebut main HP dan tidak memberikan pelayanan yang optimal. Media massa ramai menyudutkan dokter, hingga pada akhirnya fakta terkuak sebaliknya. Si dokter mengeluarkan HP untuk menangkap bukti perkataan pasien yang kurang santun. Banyak sekali kasus lainnya dimana posisi dokter disudutkan oleh kesalahan pihak lain. Selama ini, dokter diam. Mereka tidak punya energi untuk mengurusi hirup pikuk media, hukum, dan politik. Mereka hanya bisa mengadu kepada pemerintah tentang kondisi ini, yang nampaknya responnya kurang tanggap. Kemudian, ada satu kasus yang membuat para dokter ini harus menegur masyarakat, media, dan pemerintah dimana profesi dokter sudah terlalu dikorbankan, yakni kasus dimana ada seorang dokter yang dipenjara karena dianggap tidak memberikan pelayanan dengan baik.

Untuk kasus ini, sebenernya agak sulit bagi saya menemukan mana yang benar mana yang salah. Kalau cuma baca dari media massa, kok ya rasanya sulit untuk mempercayai mereka yang sering kali hanya mengambil sepatah dua patah kata yang paling hot, dengan judul kontroversial, sehingga membentuk opini yang tidak netral. Akhirnya saya mencoba menunggu perkembangan kasus ini, melihat talkshow demi talkshow dimana saya bisa mendengar langsung narasumbernya bicara, dan sebagainya. Yang saya tangkap, dari sisi kontra dokter, mereka menyoroti ada kelemahan sistem dan SOP dalam proses penanganan medis. Lalu dari yang sisi pro dokter, tindakan yang dilakukan oleh si dokter tersebut sudah benar dan sesuai prosedur. Berhubung saya tidak tahu prosedurnya apa, tapi yang saya tangkap kurang lebih begini. Ada suatu penyakit langka, yang harus ditangani secara cepat (yang tidak kelihatan kegajalanya). Prosedurnya, si dokter harus minta persetujuan keluarga pasien untuk bisa mengoperasi. Pas saya lihat di talkshow, ada keluarga korban yang mengaku diberikan sebuah kertas untuk ditandatangani (sepertinya untuk izin operasi) yang si ibu ini tanpa membaca surat tersebut langsung tandatangan. Setelah sang dokter berusaha menyelamatkan si pasien, ternyata apa daya, pasien tersebut tidak bisa diselamatkan (walaupun bayinya selamat). Klo dari salah satu keluhan keluarga kepada dokter yang saya baca, ada statement dimana keluarga tidak diberitahu akan proses operasi tersebut. Bahkan dilanjutkan bahwa tidak ada dokter anastesi di ruangan. Nah klo ini saya tidak bisa mengonfirmasi, yang bisa saya pastikan adalah si dokter ini sudah lulus dari sidang etika dimana prosedur yang dilakukan oleh dokter sudah benar. Tapi masih ada pasal-pasal yang terkait pelanggaran prosedur yang diajukan dipengadilan yang menjerat mereka. Ini yang bener gimana saya juga kurang tahu.

Memang, kondisi birokrasi kesehatan, management fasilitas medis, hingga kultur dokter di Indonesia kita masih lemah secara sistemik (terutama RS negeri). Saya punya saudara, yang sudah lama sakit dan dirawat oleh dokter ahli di Indonesia, tapi tidak kunjung sembuh. Lalu dibawa ke Singapore, katanya ada penanganan yang salah di Indonesia dan langsung dirawat dan akhirnya sembuh. Sodara saya menjelaskan, ada kelemahan dari sistem di Indonesia. Di Singapore, ketika dia datang dan menjelaskan penyakitnya, dokter tersebut langsung membentuk tim yang terdiri dari beberapa spesialis di bidang lainnya sehingga bisa langsung bekerja sama mencari tahu apa penyebab penyakit tersebut sedangkan klo di Indonesia kerja sama antar dokter itu kurang intens. Dan lagi, budaya di Indonesia masih budaya senioritas dan gak enakan sama yang lebih tua, sehingga kolaborasi seperti itu sulit dilakukan. Tapi semakin hari, semakin banyak fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan yang prima.

Lepas dari itu, dokter-dokter di Indonesia kini ingin menyuarakan aspirasi mereka. Dokter sudah terlalu lama dikriminalisasi, tidak diapresiasi, dan menjadi korban. Para dokter itu melakukan hari solidaritas, dimana mereka melakukan aksi demonstrasi selama satu hari. Demo adalah alat yang secara hukum boleh digunakan oleh siapapun untuk menyuarakan aspirasinya dan dokterpun berhak menggunakan alat tersebut. Mereka terpaksa demo agar tidak diplintir media dan agar masalah mereka didengar secara serius oleh pemerintah. Sehari tanpa dokter, ini merupakan hari yang serius. Bisa dilihat banyak sekali pasien yang terlantar, yang pada kenyataannya mereka membutuhkan dokter. Tapi kalau dokter tidak dihargai, kalau dokter yang sudah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa seseorang lalu gagal dan harus dipenjara, dan dokter dijadikan objek politik, tentu tidak ada yang mau menjadi dokter. Tidak akan ada dokter yang berani melakukan tindakan terhadap kondisi darurat dan beresiko karena takut dituntut pasien. Inilah momen kita, masyarakat, untuk bisa melihat dan menghargai seorang dokter. Kita harus juga menyadari fasilitas medis kita memang masih kurang, birokrasi kita masih lemah, dan uang kesehatan yang sekian banyak ini dirampas oleh koruptor. Dokter dan fasilitas kesehatan di Indonesia memang belum sempurna, tapi untuk bisa optimal, butuh kerjasama dari berbagai pihak. Satu hari tanpa dokter ini semoga bisa mengetuk kita semua untuk semakin memperhatikan dunia kesehatan di Indonesia. Dan yang pasti, nyawa kita bukan di tangan dokter. Dokter hanya membantu. Hidup mati seseorang Tuhan yang menentukan.

About Adam Ardisasmita (1163 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: