Iklan
My Journal

Belajar dari Kesuksesan Developer Game Korea

David yang pakai baju biru

David yang pakai baju biru

Minggu lalu, Saya berkesempatan untuk bertemu dengan Seoul Business Agency yang datang ke Indonesia membawa sekitar 10 pemilik studio game di Korea. Tujuan utama mereka datang ke Indonesia (waktu itu diterima oleh Asosiasi Game Indonesia) adalah untuk belajar dan melihat landscape industri game di Indonesia dan di Asia Tenggara seperti apa. Sayangnya di susunan acara tidak ada presentasi balik dari Korea yang menceritakan bagaimana industri game mereka hingga bisa sangat maju seperti sekarang ini. Satu isu yang cukup merepotkan adalah orang Korea yang datang ke Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris (pakai translator Inggris-Korea). Ketika sesi kenalan dari studio game Korea, ada satu yang sangat mahir bahasa Inggris, tapi sisanya ngomong Anyonghaseyo. Hehehe

Ketika presentasi selesai, di sesi makan siang saya langsung ngincer orang Korea yang bisa bahasa Inggris itu buat diajak ngobrol. Pikir saya, enak aja mereka dateng ke Indonesia dapet data tentang Indonesia tapi kita gak dapet ilmu apa-apa dari mereka. Jadilah saya berkenalan dengan David (sepertinya bukan nama aslinya, saya gak bisa baca kartu namanya soalnya bahasa korea -_-). David adalah Co-Founder dan CEO dari perusahaan yang bernama Vanilla Breeze. David bercerita bahwa perusahaan mereka memiliki karyawan sekitar 30-an orang, sedang mengerjakan lima buah game mobile. Dia menunjukan demo gamenya (karena belum publish) kepada Saya, dan, WOW, kualitasnya oke paraahhh,, well polished, dan bahasa korea. Hahaha… Ini yang menarik, pasar lokal game di Korea sangat besar.

Saya akan cerita sedikit terkait ekositem di sana. Korea Selatan memiliki jumlah penduduk sekitar 50 Juta penduduk dan penetrasi smartphone di sana sudah mencapai 90%, berbeda dengan Indonesia yang jumlah penduduknya 250 juta dan penetrasi smartphonenya baru 20-an %. Pasar Korea sangat menjanjikan untuk industri game. Channel distribusi mereka tidak hanya dari market milik platform (seperti iTunes, Google Play, dll), tapi vendor hardware memiliki market sendiri (seperti Samsung dan LG), operator telepon punya market juga (klo di Indonesia misalkan telkomsel atau indosat), dan yang paling menjadi game changer adalah market di Kakao Talk. Kenapa channel distribusi penting? Karena sebagus apapun kita punya produk, kalau tidak visible di mata calon pengguna, tetap saja tidak akan ada yang memainkan. Dengan banyaknya channel distribusi yang punya jalur yang luas, game lokal bisa dengan mudah menembus pasar lokalnya sendiri. Selain itu, kendala bahasa (terutama huruf yang bukan romawi) membuat game-game Korea lebih disukai oleh masyarakatnya.

Untuk mengetahui Industri Game di Korea, saya bertanya tentang kondisi studio game David, mereka bertigapuluh orang ngegarap lima game yang cantik, berapa lama proses developmentnya? Ternyata game-game mereka dikembangkan selama hampir 1,5 tahun lebih. Wow, lama banget, terus cost productionnya dari mana itu buat 30an orang selama 1,5 tahun lebih? Ternyata mereka bisa sangat mudah mendapatkan investor atau sponsor untuk mengembangkan game. Industri di sana sudah sangat matang sehingga putaran bisnis menjadi lancar. Bahkan, Saya ditunjukan sebuah game yang mendapatkan revenue 500.000 dolar perhari. Iya, itu berarti 5.000.000.000 rupiah sehari. Penasaran dong gamenya kayak apa. Klo liat gameplaynya sederhana banget, cuma 2D platformer, actionnya jump and slide, tapi itu social itemnya banyak banget. Saya gak ngerti apa aja soalnya itu full bahasa Korea, tapi gak nyangka game sesimpel itu bisa dapet duit milyaran perhari. Wow…

Dari data AGI, Indonesia punya 80-an entitas di Industri game (publisher, developer, media, etc). Pas saya tanya ke David ada berapa studio game di Korea, dia ampe bingung karena banyak banget. Studio game aja paling ada 200-an lebih, mulai dari yang kecil (berdua bertiga) sampe yang ribuan karyawan. Setelah saya cerita kondisi di Indonesia, mereka komentar, “wah, itu sama banget kayak kondisi Korea 10 tahun yang lalu loh.” Artinya, kita ketinggalan 10 tahun nih dari Korea, bisa jadi kita kejer lebih cepet tapi bisa jadi kita akan lebih tertinggal. Satu kunci keberhasilan Korea yang menurut saya menjadi poin utama adalah support pemerintah dan usaha untuk mengintegrasikan industri kreatif mereka. Sepertinya klo Indonesia berharap sama pemerintah yang sekarang ini, malah capek hati sendiri. Jadi yang bisa kita lakukan untuk mengejar ketertinggalan kita adalah mengintegrasikan industri kreatif kita dan terus mendukung karya lokal.

Semoga informasi mengenai industri game di korea ini bermanfaat bagi kita. Mari kita belajar dari kelebihan mereka dan kita terapkan yang sesuai dengan kondisi di Indonesai saat ini 🙂

Iklan
About Adam Ardisasmita (1112 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Comments on Belajar dari Kesuksesan Developer Game Korea

  1. pantas saja ya karena sudah semuanya canggih korea bahkan 90% masyarakatnya sudah meggunakan SmartpHone..

    Suka

  2. Iya, korea memang sudah maju teknologinya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: